
Arthur dipindahkan ditempat introgasi dan ruangan itu telah dilapisi oleh sihir kejujuran.
Arthur dan Archie tidak tau akan hal itu.
Yang tau dengan sihir itu hanyalah para Kapten dan Raja Linus sendiri.
Arthur, Nox, Kepala Akademi dan Tsuha (yang harusnya tak terlibat) harus di Introgasi oleh mereka diruangan itu.
Nox adalah mantan Kapten dari Guild yang dipimpin oleh Baal dan yang pasti, Ia tau dengan sihir itu.
Mereka mengintrograsi satu persatu diwaktu yang berbeda.
Arthur masuk pertama diruangan itu.
Hawa ruangan itu memang berbeda.
Linus dan Kapten yang lain ikut masuk didalam ruangan itu.
Ini adalah tugas Kapten Guild Penyidik(Marsyal) dan Kapten Guild pemberantas Iblis (Nel).
Marsyal duduk berhadapan dengan Arthur dan meja kayu yang menjadi pembatas mereka.
"Pangeran Arthur, akan Saya mulai introgasinya. Anda tau kenapa Anda disini?" Marsyal mulai menanyakan pertanyaan pertama.
"Karena ada Iblis bernama Archie didalam diriku"
"Itu benar. Katakan dengan jujur, Apa anda yang membunuh keluarga Anda?"
"Tidak. Ayah dan ibuku sudah tewas saat Aku terpental diloteng"
Arthur benar-benar santai menjawabnya.
Marsyal mulai menulisnya.
"Apa Anda tau siapa pembunuhnya?"
Marsyal menatap Arthur.
Arthur mengeleng.
"Aku tidak tahu siapa yang membunuh mereka. Tapi, Aku ingat dengan wajah dan Auranya"
Orang-orang didalam ruangan itu langsung melihat ke Arthur.
"Tolong, Deskripsikan ciri-cirinya" minta Marsyal.
Arthur berhenti berbicara dan melihat Linus.
"Nggak papa..... katakan saja...." Lirih Linus
Arthur kembali melihat Marsyal.
"Dia laki laki bermata hitam pekat. Dia seperti orang mati dengan bau siluman. Dia selalu menyeringai dan seringaiannya mirip dengan orang bersayap itu"
"Orang bersayap?" Maryal mengerutkan keningnya.
Ia melirik kebelakangnya kemudian kembali melihat Arthur.
"Lalu, dipipi kanannya ada goresan panjang yang masih basah. Mungkin orang itu dilukai oleh Kak Ram"
Arthur mempraktekkan seperti apa betuk lukanya itu di pipi kanan dengan salah satu tangannya yang diborgol.
"Jelaskan bagaimana kejadian saat itu terjadi"
...****************...
16 hari yang lalu saat pembantaian keluarga Aosora.
Sosok pria dengan rambut biru muda yang lebih tua dari warna langit siang berdiri disamping sosok pria yang lebih tua dengannya dan memiliki warna rambut yang lebih muda dari warna langit itu berdiri diloteng untuk melihat malam yang mendung.
Mereka adalah Aosora Bram dan Aosora Naver.
Angin malam menyapu rambut mereka.
Pakaian yang identik dengan warna biru itu sesekali bergerak karena angin itu.
"Minggu lagi, usiamu 20 tahun. Ram... sudah saatnya untukmu mencari calon. Apa Kau tak ingin melihat ayahmu ini meneteskan air mata karena bahagia ?"
Aosora Naver adalah type orang tua yang menganggap anak-anaknya seperti teman dan terkadang Aosora Naver bertindak kekanak-kanakan dihadapan Bram.
Ia suka menjahili anak-anaknya.
"Ah...hahaha..." Bram tertawa mendengarkan ucapan Naver.
"Ayah, Aku tak ingin menjadi penerusmu kalau Kau terus memaksaku untuk mencari wanita"
Bram mengelus punggung ayahnya itu.
"Ck, carilah sesekali pasangan yang cocok denganmu. Apa Kau tidak malu dengan Baal yang sudah memiliki tunangan? Jangan pacaran terus sama pedang-pedangmu itu" Ujar Naver yang bercanda pada Putra pertamanya itu.
"Ah.... Baik-baik... Kalau begitu ayah saja yang memilihkan yang cocok untukku"
Tep
Tangan wanita memegang tangan kanan Bram.
Rambut dan mata wanita itu berwarna Biru hampir kehitaman karena Ia masih keturunan Manusia dan malaikat.
Bram melihatnya sambil tersenyum, Dia adalah Ibunya Bram dan Arthur. Namanya Aosora Emilly.
"Bagaimana dengan Angel? Dia anak yang baik bukan? Ibu rasa.... Dia punya perasaan untukmu"
Ibunya bergabung dalam obrolan dua lelaki itu.
Bram mengangkat kedua alisnya dan menutup kedua matanya sambil memegang dagunya.
"Itu tidak mungkin. Angel adalah sahabatku. Dan.... Dia sudah ada yang menyukainya...." Bram melihat ibunya sambil merangkul ibunya.
"Emmm? Benarkah? Apa temanmu di Meganstria yang menyukainya?" Naver bertanya pada Bram sambil melihat prajurit yang berjaga di bawah dengan gerak-gerik yang aneh.
Bram mengangguk.
"Angel itu, tipe gadis yang tak ingin disebut wanita. Tapi, Ia selalu berpakaian layaknya gadis dan dia perutnya juga memiliki pack. Bisa bahaya kalau Kau ketahuan akan mencari selir. Tapi, bukankah Kau suka tipe seperti itu daripada Putri kerajaan yang feminim?" Tanya Ibunya yang setengah tertawa.
Bram langsung melihat Ibunya yang tertawa itu.
Dipikiran Bram memang benar, Ia sendiri pernah melihat pack Angel itu. Ia teringat saat Angel yang pernah membantingnya, karena tak sengaja memakan bekal siangnya saat di akademi.
Ia mengeleng.
"Itu tidak benar! Angel memang yang terbaik dan..."
"Dan~~ dan apa?" Kedua orang tuanya menunjukkan senyuman jahil mereka.
Bram melihat mereka dan menyipitkan matanya.
"ARGGGH!!! Entahlah! Aku mau ke Arthur!" Bram mengacak acak rambut birunya itu sampai berantakan kemudian meninggalkan mereka.
"Putra Mahkota itu harus tegas loh... apalagi sama..." Naver mengoda putra pertamanya itu yang berjalan kearah pintu.
Bram melihat mereka dengan tatapan tajam dan kedua orang tuanya melihat kearah lain sambil terkekeh.
Bram keluar dari loteng itu dan membiarkan kedua orangtuanya menertawakan Dia.
Wajah Bram benar-benar memerah karena malu.
"Wushhh......"
Tiba-tiba hawa disekitar Bram langsung berubah menjadi dingin.
Dari luar jendela kabut dingin mulai masuk kedalam ruangan Istana lantai dua itu.
"Kabut? Apa ini sihir beracun?
"GDUBRAK!!!
Pelayan dan Prajurit yang berdiri didepan Kamar Arthur jauh didepan Bram tiba-tiba pingsan.
Bram langsung membelalakan matanya dan ini memang kabut beracun.
Kerajaan Aosora diserang oleh musuh.
"JANGANNNN!!!!!! PYARRRRRR!!!! EMILLY!!!!!" Suara teriakan Ibu dan Ayahnya.
Bram sangat terkejut dan Ia langsung berlari kembali menuju loteng itu.
Ia tidak bisa teleport, ini semacam penghalang yang bisa membuat Bram tidak bisa mengeluarkan sihirnya.
Dari bawah celah pintu, Bram melihat darah yang mengalir.
"Ayah! Ibu! Cklek cklek!!" Bram berusaha membuka pintu loteng itu yang tak bisa dibuka. Itu, seperti ada sesuatu yang berat menghalangi jalan pintu untuk terbuka.
"Bram! Lindungi Arthur!! BRUAKKKKK!!!!!" Naver berteriak tegas dan didalam sana terdengar seperti dentuman barang berat yang terjatuh dari langit.
Tanpa banyak bicara, Bram langsung berlari kekamar Arthur.
"Arthur! Buka pintunya!" Bram memanggil Arthur dengan keras dari luar.
Ia sangat takut bila adiknya celaka.
Kabut itu, tidak hanya beracun tapi kabut itu juga adalah sihir penghambat yang membuat orang orang disana tak bisa mengeluarkan sihir mereka.
"Iya Kak?! Cklek!" Arthur menjawab panggilan Bram dan langsung membuka pintu itu.
Saat pintu itu terbuka, Arthur melihat sosok bayangan hitam yang membawa kayu pemukul dibelakang Bram dan akan memukulkannya pada Bram.
"KAK BRAM! AWAS!!!! PRAKKKKK!!!!!"
Bruk!!
Kepala Bram terkena pukulan itu dengan sangat keras hingga Ia terjatuh.
Pandangan Bram benar-benar langsung menghitam dan telinganya berdengung dengan kencang diwaktu yang cukup lama.
"GREEET!!!!" leher Arthur ditarik dan dicekik oleh Pria itu yang menyeringai kepadanya.
Arthur berusaha melepaskan cekikannya yang membuat Arthur sesak dan panas dikerongkongannya.
"Leppas...." Arthur berusaha menendang dada pria itu.
Tapi, cekikannya semakin kuat.
"Aku.... Ingin hidup..."
Wajah Arthur benar-benar mulai membiru karena tak bisa bernapas.
"Berikan Hinoken itu padaku"
Bram mengosok matanya yang gelap Ia pikir akan buta karena pukulan itu.
Saat pandangan Bram mulai kembali itu cukup buram.
Ia melihat Arthur yang dicekik oleh Pria itu.
Bram mengeluarkan pedang mananya dan langsung "Wosh!!! Crat!!!!" Ia menebaskan pedang mananya itu ditangan kiri sosok yang mencekik leher Arthur. "Bruk!" Arthur terjatuh.
Tangan kiri sosok itu terpotong tapi tangannya masih mencekik Arthur.
"HOOOAAA!!!!!" Arthur sangat terkejut melihat tangan tertebas tepat didepan matanya.
"ARRGGGHHHHHH!!!! BRUK!!" Sosok itu berteriak dan langsung menjatuhkan Arthur yang Ia cekik. Ia mundur beberapa langkah.
Tangan kirinya masih mencekik Arthur.
"Duaghhh!!!! PYARRRR!!!! BRUAKKKK!!!!" Bram menendang pria itu tepat didadanya hingga Pria itu jatuh dari lantai dua menembus kaca.
Bram langsung berjongkok ke Arthur yang terjatuh.
"Kau nggak apa-apa ?" Bram menanyakan kondisi Arthur dan melepas tangan kiri pria itu yang tertinggal.
Dileher Arthur, terlihat tanda bekas cekikan yang berwarna maron.
"Kak! Kepala Kakak berdarah!" Tegas Arthur yang khawatir dengan Bram.
Bram memegang kening Arthur.
"Jangan khawatirkan Kakak. Masuk dulu dikamar" Bram berdiri dan langsung masuk dikamar Arthur.
Bram menutup pintu kamar itu.
"Kak kunci pintunya"
"Percuma. Sosok itu bisa menggunakan sihir teleport. Pegang ini" Bram memberikan hinoken yang berwarna merah pada Arthur.
Arthur memegangnya dan warna hinoken itu langsung berubah menjadi biru.
Bram kaget melihat perubahan warna hinoke itu unuk pertama kalinya.
Namun, saat ini bukanlah eaktu yang cocok untuk terkejut.
"Arthur. Bersembunyilah dan sembunyikan ini juga" Bram memegang kedua tangan Arthur dan Ia sangat waspada.
"Kakak juga sembunyi!"
Bram mendorong Arthur dan memaksa Arthur bersembunyi didalam Lemari panjang.
Arthur masuk didalam lemari panjang itu sambil memeluk hinoken itu yang berwarna biru muda.
"Jaga Hinoken ini seperti nyawamu. Kakak akan kembali untuk menyelamatkanmu"
Bram memeluk Arthur dengan dalam.
Bau darah Bram tercium oleh hidung Arthur.
"Berjanjilah" Lirih Arthur.
"Janji. Kakak pasti akan datang. Jangan bersuara. oke...?" Bram melepas pelukannya dan melihat mata Adiknya yang biru gelap dan tak pernah melihat cahaya dari mata itu.
Arthur tersenyum dan mengangguk.
Bram langsung menutupi Arthur dengan pakaian Arthur yang digantung rapi dilemari itu kemudian menutup ya perlahan.
Arthur berdoa didalam lemari itu.
"Drap!"
Ia mendengar langkah kaki berlari keluar kamarnya.
Arthur keluar dari lemarinya dan melihat kamarnya yang lampunya dimatikan dan sepi.