The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Hanya Untuk Balas Budi



"Orang sepertimu, tau apa dengan dunia kami?" Mereka melewati Arthur begitu saja.


"Kau yang hidup dalam serba kecukupan, mendingan diam saja" Lanjut remaja itu.


"Orang sepertimu yang selalu memandang orang lain tanpa melihat sudut pandang mereka, tau apa dengan kehidupan orang yang kau katakan dalam serba kecukupan?!" Arthur merasa kesal. Ia selalu mendengar ucapan itu berulang kali.


...****************...


"Harta yang melimpah tapi belum tentu akan bahagia dengan kurangnya perhatian orang tua mereka. Orang tua yang harus bekerja untuk anak mereka, untuk mencukupi makan anak-anaknya. Mereka tidak sadar bagaimana hati anak mereka. Jangan hanya melihat dari depannya saja. Sialan! Kau juga harus tau apa yang dialami oleh seseorang yang hidup di serba kecukupan dengan keadaan kedua orang tuanya yang berkerja! Kau! Membuatku muak!"


"Selalu"


"Selalu!"


"SELALU SAJA! Kenapa orang-orang beranggapan hidupku sangat enak dan mudah?!"


"Kau! Kau tidak pernah berada di posisiku yang di dilarang dan kejar-kejar dimana-mana! Kau pikir! Aku orang yang bahagia karena hal itu?!" Arthur mencengkram kera remaja itu dan menariknya kedepan wajahnya hingga kening Arthur dan kening remaja itu saling bersentuh.


"Kalau ada seorang anak yang hidupnya bahagia di serba kecukupan dari hasil kedua orang tuanya yang selalu bekerja dan hanya sekali dalam seminggu bisa bertemu dengan anaknya, TUNJUKKAN PADAKU!" Arthur menarik pakaian remaja itu dengan erat.


Dada Arthur sangat sesak. Air mata Arthur jatuh begitu saja.


"Jangan memandang kehidupan orang lain yang memiliki harta itu sama. Tak sedikit dari mereka yang harus hidup dengan perhatian orang lain (perhatian penggurus anak)"


Tsuha membelalakan matanya mendengar ucapan Arthur.


"Kita ini sama, dimana ada di kelebihan, disana pasti ada kekurangan. Ku harap kau mengerti dengan ucapanku" Arthur merogo sakunya yang terdapat lima koin emas ia letakkan pada saku remaja itu.


"Maaf, aku sudah menarik-narik pakaianmu. Ini pasti akan melar. Srook!" Arthur menarik ingusnya yang hampir keluar.


"Aku tidak peduli dengan ucapanmu. Sampai kapanpun itu, kau juga tidak akan mengerti dengan posisi kami" Remaja itu merapikan pakaiannya yang lecek dan membawa teman-temannya pergi.


"Cih! Suatu hari nanti, kalian pasti akan memohon dan bersujud padaku" Luxe kembali tiduran di rumput dan tidak menghiraukan Arthur yang mendekatinya.


Tsuha menarik bahu Nao untuk berbisik sesuatu, Nao melirik Tsuha. "Apanya yang sama denganku. Jelas-jelas parahan dia" Lirih Tsuha sambil melihat Arthur yang berusaha berbicara dengan Luxe yang terus-terusan dihiraukan.


Mereka berlima mulai makan malam.


Luxe terlihat tidak selera menyantap makanan masakan Verza. Nao duduk di sebelah Luxe yang sedang fokus pada Arthur dan tidak pada makanannya.


"Kenapa kau melihati Arthur seperti itu?"


Nao sedikit risih dengan cara Luxe memandang Arthur yang sulit di jelaskan bagaimana ekspresinya. Tatapan mata Luxe, seperi orang kasihan, benci, dan ahk agak sulit menjelaskannya.


Luxe menjaga jarak dengan Nao.


"Kau ini, dari bangsa apa? Kenapa auramu terasa tak asing? Apa kita pernah bertemu?"


Luxe mengalihkan topik pembicaraan. Nao mengetahuinya dan ia hanya akan ikut alur yang dimainkan oleh Luxe.


"Aku hanya keturunan dari sepasang petani berbangsa Manusia. Bila auraku tak asing, mungkin kita pernah bertemu di masa lalu" Jawab Nao.


Luxe mengkernyitkan keningnya.


Nao menganggu beberapa kali. Ucapan Luxe memang benar. Nao tersenyum mendengarnya. "Hei, menurutmu ada berapa Titisan itu ada berapa?"


"Enam orang. Itu sudah jelas. Sebab, Titisan iblis terlahir kembar" Jawab jelas Luxe.


Metode pembelajaran Shinrin dengan Aosora berbeda. Hal ini, membuat keyakinan mereka berbeda-beda pula.


Nao mengambil ranting kering dan membunuh semut-semut hitam yang ada di sana.


"Titisan itu ada tujuh orang. Titisan terakhir adalah Titisan setelah Darnette Dean"


Luxe melihat ke arah wajah Nao.


"Titisan itu, bukan perwakilan dari perbangsa. Ia adalah keturunan campuran yang terpilih secara acak karena kepercayaan Sang Cahaya pada orang itu. Dia yang terlahir dengan tubuh namun tubuhnya di ambil kembali oleh Sang Cahaya. Ia yang terlahir karena doa dari dua orang titisan yang memiliki pandangan yang berbeda. Luxe, kau adalah satu-satunya orang yang paham dengan ucapanku. Sekarang aku ada satu pertanyaan untukmu"


Nao berbisik pada Luxe. Luxe membelalakan matanya saat mendengar bisikkan Nao.


Sekitar Luxe tiba-tiba terasa sepi. Bahkan suara jangkrik pun, tidak terdengar di telinga Luxe.


"...., saat kau tau dan akan menjawab pertanyaan itu, kau tidak akan bertemu denganku lagi, Kyzelt Nao" Ucap Nao sambil tersenyum dan menyipitkan matanya.


Luxe melihat Nao yang kembali menyantap makanannya.


Sebenarnya, apa yang Nao bisikan kepada Luxe?


...****************...


Arthur kembali berkemas dan bersiap melakukan perjalanan menuju Penginapan Lourency yang berjarak 5 KM dari posisi mereka berada.


"Ajak aku"


Luxe menawarkan dirinya untuk ikut dalam rombongan Arthur.


Arthur merasa tidak enak. Ia khawatir Luxe akan macam-macam melihat apa yang telah terjadi pada Luxe.


Tsuha merasa kurang senang dengan kehadiran Luxe.


"Aku hanya ingin berterimakasih dengan makanan yang kalian berikan. Aku hanya akan bersama kalian hingga kegiatan Pangeran Aosora selesai sebelum pengangkatannya. Aku bisa melindungi diriku sendiri, kalian anggap saja aku sebagai kendaraan kalian saja. Katakan padaku, kalian mau kemana? Aku sangat mengenal setiap cela Kerajaan Aosora" Luxe menyentuh dada kirinya kemudian mengulurkan tangannya pada Arthur.


Arthur melihat ke arah Verza. Ia adalah satu-satunya orang yang dianggap dewasa oleh Arthur.


"Saya terserah Anda Pangeran. Tugas saya disini, hanya melindungi Anda dan menjalankan semua perintah Anda" Jawab Verza sambil menutup matanya.


Arthur melihat ke arah Nao. "Itu akan menguntungkan untuk kita~ Kita tidak akan lelah" Jawab Nao bernada.


"Baiklah, tapi ingat kau tidak boleh macam-macam. Namamu?" Arthur mengulurkan tangannya pada Luxe.


Tsuha melihat ke arah Nao dan Verza. "Kenap di tidak bertanya padaku?" Tsuha menunjuk dirinya sendiri seperti orang bingung.


Nao menepuk pelan punggung Tsuha. "Karena Arthur tau kalau kau akan berkata tidak" Jawab Nao.


"Luxe. Hanya itu namaku. Kita seumuran. Jadi, jangan kaku padaku Amb- Pangeran" Luxe menjabat tangan Arthur.