
Tsuha bukanlah tipe orang yang suka mengurus urusan orang lain.
Ia mendengarkan keluh kesah Arthur setelah perginya semua anggota Guild dari kamarnya.
"Aku, ingin segera membebaskan Archie. Apapun caranya"
Archie, kembali kedalam tubuh Arthur dan itu, membuat Tsuha sedikit tenang karena kejadian tadi yang telah menimpanya.
Suara jangkrik penanda malam mulai berbunyi.
Arthur melepas pakaiannya dengan membelakangi Tsuha.
Tsuha melihat bekas luka besetan besar di perut sisi kiri Arthur. Ia langsung membuang mukanya dan tidur membelakangi Arthur yang sedang kebingungan mencari handuknya.
"Ha! Ini dia!"
Arthur menemukan handuknya dan langsung pergi ke kamar mandi.
Tsuha, membuka matanya dan melihat bayangan Arthur yang masuk kedalam kamar mandi.
Ia duduk dan memejamkan matanya.
"Sialan! Apa yang sedang Ku pikirkan?!"
Ingatan Tsuha tentang insiden enam tahun lalu teringat kembali setiap kali Ia melihat Arthur dan berbicara dengan Archie.
Berada disekitar Arthur, hanya akan membuat kenangan buruk Tsuha kembali secara perlahan.
Kenangan buruk, tak selalu menunjuk pada perlakuan yang jahat. Namun, insiden dimana mulanya Tsuha harus kehilangan segalanya secara perlahan.
Ia membuka matanya dan melihat kedua telapak tangannya yang tak berhenti bergetar sejak tadi.
"Apa yang harus Aku lakukan?"
Ia, ingin Arthur kembali seperti semula. Ia, Ingin bisa berada didekat Arthur seperti dulu. Ia, ingin merasakan perhatian dari orang tuanya seperti yang Ibunya lakukan pada Arthur.
"Andai Aku bisa mengulang waktu....." lirihan Tsuha
Tsuha, bukanlah sosok titisan yang bisa diberi anugerah sebesar itu. Ia hanyalah karakter yang dibuat untuk menjadi seorang pendukung bagi Arthur. TIDAK LEBIH.
Tsuha ingin mengulang waktu, itu adalah sebuah permohonan yang sia-sia.
"BUAHAHAHHAHAHAHA!" Luciel, menertawakan lirihan Tsuha
"Lucu sekali! Didunia ini, tak ada yang bisa memutar waktu. Termasuk Sang Cahaya pun. Makhluk didunia ini hanya diberi satu kesempatan untuk hidup. Gunakan kesempatanmu itu sebaik-baiknya. Lawanlah arus takdirmu itu. Kau memohon sesuatu yang tak bisa dikabulkan! Titisan itu adalah penolak takdir. Jadi, pantas bila mereka bisa terlahir kembali" Luciel masih menertawakan Tsuha dari pohon tempat Ia melihat Issac sore tadi.
...****************...
Tsuha tak ingin Arthur takut padanya. Ia berusaha untuk membantu Arthur. Namun, yang terjadi, hanyalah sebuah tindakan yang membuat Arthur salah paham dengan setiap hal yang Ia lakukan.
"Hei Tsuha,...."
Tsuha, hanya salah paham dan tak mengerti dengan apa yang sebenarnya dipikiran oleh Arthur.
Arthur, membuka pintu sambil memanggil nama Tsuha. Ia melihat Tsuha yang tak berhenti mengaruk telinga kanan bagian belakangnya dengan perlahan
Rambut Arthur yang biru hampir keputihan masih basah karena air, menetes di lantai yang beralaskan kayu.
"Tsuha!" Ia memanggil dua kali karena Ia pikir Tsuha tak mendengarkan panggilannya.
Arthur mulai kesal pada Tsuha.
"Ada apa?!" Tsuha, tidak sengaja mengeluarkan ekspresi dan nada suara kesalnya pada Arthur.
"IYEEHHH...." Arthur meringis dan masuk kembali ke kamar mandi.
Sebenarnya, Arthur butuh bantuan setelah berdebat dengan Archie perihal sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dalam sebuah ketikan Novel.
Tsuha menghela napas karena merasa Ia sangat bodoh bila berada disekitar Arthur.
Ia berdiri dan berjalan kearah kamar mandi. Kemudian, Ia mengetuk kamar mandi itu.
"Hei! Kalau butuh sesuatu, katakan" Tsuha berusaha memahami apa yang terjadi dengan Arthur.
Ia tak sengaja menarungkan kedua alisnya.
Arthur, adalah satu-satunya orang yang tak bisa ditebak oleh Tsuha. Sebab, Arthur dimata Tsuha adalah sosok orang yang tidak jelas dan terlalu kekanak-kanakan. Walau, terkadang Ia merasa kalau Arthur memang salah satu orang yang cerdas namun, kecerdasannya itu tertutupi dengan sifat koyol Arthur yang lebih bodoh dari Tsuki.
Arthur membuka pintu sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Besetan luka lainnya, terlihat dimata Tsuha saat Arthur mengosok rambutnya.
"Gak jadi, Kupikir-pikir itu adalah pertanyaan yang memalukan" Ucap Arthur sambil melewati Tsuha
Arthur, merasa kalau Tsuha sedang melihat kepala bagian kirinya diatas telinga.
Ia berhenti untuk memastikannya.
"Apa, Kau tertarik dengan bekas luka ini? Apa Kau kaget karena berfikir kalau Aku akan selalu aman bila didalam Istana?"
Alis Tsuha yang ditarungkan tadi, hilang perlahan setelah mendengar pertanyaan Arthur.
"Luka apa itu?" Tsuha membuang mukanya saat mananyakannya.
Arthur berjalan ke kasurnya sambil mencari pakaiannya untuk tidur.
"Haha! Sudah ku duga kalau Kau penasaran dengan ini!" Arthur melihat kearah Tsuha sambil meringis.
"Aku juga tak ingat, bagaimana luka ini dan ini ada di tubuhku" Arthur, menunjuk kepala bagian kirinya dan pingangg kirinya.
"Hah?"
Archie, sudah menduga atas jawaban Arthur itu.
Arthur berjongkok sambil mengambil pakaiannya di lemari.
"Itu benar! Aku gak bohong. Ya, walau begitu, setidaknya orang tuaku menceritakan kalau kedua luka ini kudapatkan karena ada seseorang yang menculikku"
DEGH!
"Itu.... adalah kebohongan"
Mata Tsuha, bergetar saat mendengar Arthur bercerita dengan nada yang menunjukkan kalau Dia senang saat menceritakan itu. Apa karena tidak ada yang bertanya tentang hal itu padanya?
".....Di usiaku yang ke 10 tahun. Eummm, berarti enam tahun yang lalu. Karena hal itu, Aku kehilangan ingatanku dari usiaku yang ke enam tahun. Tapi, walau Aku kehilangan ingatanku, Aku masih bisa mengingat sihir-sihir yang telah Aku pelajari. Bukankah Aku sangat hebat?"
Arthur, mengenakan pakaiannya saat melanjutkan ceritanya.
Wajah Tsuha, benar-benar murung.
"Siapa, orang yang mengajarimu sihir-sihir itu?" Ia menutup matanya saat menanyakan itu pada Arthur.
Bagi Arthur, itu bukan pertanyaan penting.
"Ayah dan kakakku. Lalu, ditambahi guru Ciel"
Arthur hanya ingat dengan Ayah dan Kakaknya yang sering mengajari sihir padanya sejak usianya menginjak empat tahun.
"Tak ada seorang guru dari Shinrin ataupun anak dari pelayan?"
Arthur berdiri setelah mendengar pertanyaan aneh itu dari Tsuha. Ia melihat kearah Tsuha yang bahkan tak mengangkat padangannya.
"Kau, kenapa? Apa ada yang salah dengan perkataanku?" Arthur tidak pernah melihat Tsuha seperti itu.
Air mata Tsuha mengenang dimatanya dan menetes begitu saja mengenai alas kayu kamarnya.
Arthur, melihat air itu menetes dilantai.
"Kau menangis?" Ia tak bisa mempercayai bila seorang Tsuha menangis.
Tsuha mengangkat tangannya dan "Grep!" Ia menarik kera baju kaos Arthur.
"Tsuha.... bicara lah sesuatu. Apa Kau kerasukan roh Iblis?" Arthur kebingungan melihat ekspresi Tsuha yang mengerutkan keningnya dan mulut Tsuha yang sangat turun seperti menahan sesuatu.
"Setidaknya, Ingatlah dengan Guru Nox yang mengajarimu sihir penyembuhan dan sihir pedang, termasuk sihir teleport padamu" Tsuha meremas kera Arthur dengan kuat.
Ia tak bisa memendamnya dan merahasiakannya secara terus-terusan pada Arthur. Ia tak ingin menyimpan rasa bersalahnya lama-lama.
Arthur benar-benar tak tau maksud Tsuha. Ia mengangkat kedua alisnya.
"Aku minta maaf padamu, Pangeran Aosora" Ini adalah pertama kalinya, bagi Arthur mendengar Tsuha memanggil namanya.
"Aku.... Aku minta ma..maaf padamu...." Mata Tsuha menitikkan air matanya.
Arthur termengun ditempat karena Ia bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Hei.... Katakan sesuatu" Archie merasa iba melihat wajah Tsuha dari mata Arthur.
"Aku harus ngomong apa Blis?!!!" Arthur sendiri bingung.
"Karena Aku..... Kau.... Kau harus kehilangan semuanya. Kau... terluka karenaku, Kau harus kehilangan ingatanmu.... Harusnya, Aku tak pantas Kau sebut sebagai Rivalmu.....ataupun, Partner mu"
Mendengar itu, Arthur langsung membelalakan matanya. Ia merasa telah dibohongi oleh Tsuha.
"Sejak kapan, Kau mengenaliku?" Arthur mengangkat pandangannya ke langit-langit kamarnya.
Tsuha membelalakan matanya mendengar pertanyaan itu dari Arthur. Nada bicara Arthur memang sopan. Namun, ditelinga Tsuha, nada suara Arthur terdengar datar.
Ia, melepaskan kera baju Arthur dan mundur perlahan.
"Sejak hampir sebelas tahun yang lalu...."
Arthur melihat pandangan mata Tsuha yang sangat berbeda dari sebelumnya. Mata Tsuha terbaca kalau Dia ketakutan.
"Apa Kau mengenalku saat Aku di ASJ?"
"Bila iya, maka akan pantas baginya menyuruhku untuk menjauhi Tsuki dan Nao"