
Glashya, Ibu Tsuha mendatangi Naver dalam kondisi khawatir.
Ia menundukkan kepalanya dihadapan Naver dan Emilly.
"Mulai besok, kembalilah ke Shinrin. Kami akan membayar semua kompensasi sesuai kontrak kerjamu"
Glashya sudah menduganya.
"Ini bukan salah anak-anak. Insiden ini, 100% adalah kesalahan Istana Aosora akan penjagaannya kurang ketat. Aku, memutus kontrak kerjamu untuk kebaikan putramu juga. Tak hanya Arthur. Tsuha pun, menjadi incaran bangsa Iblis. Oleh karena itu, menjauhkan Tsuha dari Aosora adalah hal terbaik untuk saat ini" Jelas Naver.
Emilly, sama seperti Naver. Mereka berdua telah berunding dan menurut Mereka berdua "Daripada ingatan Tsuha di hilangkan juga, lebih baik, Tsuha dijauhkan dari Aosora untuk sementara waktu" Harapan Mereka, setidaknya Tsuha bisa mengingat kenangan masa kecilnya bersama Arthur.
"Pintu Aosora, akan selalu terbuka untuk keluargamu, Glashya" Ucap halus suara Emilly yang lembut.
...****************...
Tsuha terbangun dari tidurnya. Ingatan mengenai kejadian yang Ia alami bersama Arthur terus memutar dikepalanya.
Ia takut untuk mendengar suara gemerisik semak diluar jendelanya. Dari balik jendela, Tsuha merasa seperti diperhatikan seseorang. Ilusinya menghantui malam Tsuha pada hari itu.
"CKLAK!!" Pintu kamar Tsuha terbuka.
Tsuha berbinar melihat Ibunya datang ke arahnya.
"IB...."
"PLAKKKKK!" Suara tamparan, menggema diruangan itu yang sunyi.
Mata Tsuha terbelalak dan Ia membeku ditempat seraya memegang pipinya yang panas.
"Apa yang telah Kau lakukan pada Pangeran Arthur?"
Air mata Tsuha menetes. Ia tidak pernah ditampar oleh Ibu dan Ayahnya selama ini. Hati kecil Tsuha, hancur berkeping-keping.
"Grep! Lepas baju itu!" Glashya, menarik pakaian yang Arthur berikan pada Tsuha.
"Orang seperti Kita, tak pantas memakai baju semewah ini" Ia melepaskan setiap kancing baju itu dengan kasar.
"Ibu, menamparku"
"Tsuha. Jawab Ibu! Kenapa Kau pakai pakaian ini!?"
Glashya memegang wajah Tsuha dan menatap mata Tsuha yang berlinang air mata.
"JAWAB IBU!!!"
Bentakan suara Glashya, membuat sekujur tubuh Tsuha gemetaran. Ia hampir tak pernah dibentak oleh Glashya seumur hidupnya.
"Teman.... Pangeran, memberikan ini karena Ia temanku" Jawab Lirih Tsuha dengan suara yang bergetar.
"NYUUUUT!!!" Pipi Tsuha dicengkeram oleh Glashya hingga memerah.
Rasa sakit dan nyilu dirasakan bersamaan oleh Tsuha.
"Sadari batasanmu. Kau tak lebih dari anak pelayan. Jangan membuat Ibu malu"
Glashya kecewa pada Tsuha. Ia menyesal
"Harusnya, Ibu mengajak Tsuki saja daripada Kamu. Kenapa, sejak kelahiranmu, selalu membawa beban bagi Ayah dan Ibu?!"
"Aku, tak pernah meminta untuk dilahirkan"
Dunia serasa terlalu besar untuk Tsuha.
"Ibu disini bukan hanya untuk menjadi pelayan. Disini, Ibu juga mengawasi! Ibu mohon, Sadari posisimu. Mulai besok, Kita akan kembali ke Shinrin dan tak ada tempat untukmu di Aosora"
"Apa ini yang diinginkan Pangeran Arthur?"
"Aku ingin minta maaf pada Pangeran" Tsuha tak ingin pergi begitu saja tanpa pamit pada Arthur. Dan Ia, ingin meminta maaf atas segala kesalahannya.
"Kumohon Tsuha, jadilah anak yang menuruti semua perintah ibu. Perlukah Ibu bersujud dihadapanmu agar Kau menuruti semua ucapan Ibu?"
"Tidak. Bukan ini yang ku inginkan"
Tsuha diam ditempat. Ia, ingin melempar semua benda yang ada disekitarnya.
"Aku.... Hiks, Ingin... minta maaf pada Ibu dan Pangeran...." Air mata Tsuha membeludak keluar.
Glashya, mendekap tubuh mungil putranya. Glashya sangat menyayangi Tsuha melebih dari apapun.
"Maafkan Ibu juga ya nak. Selalu memaksamu untuk menuruti semua kemauan Ibu. Ibu, menyayangi Tsuha dan Tsuki. Ibu juga, tak ingin kehilangan kedua anak Ibu"
Glashya, mengusap kening Tsuha yang diperban.
...****************...
Glashya mulai mengemasi semua barang Ia dan Tsuha.
Sepanjang hari, Tsuha hanya diam dan beberapa kali terkejut saat melihat prajurit, serta mendengar suara tangkisan pedang dari pelatihan prajurit.
Glashya prihatin akan kondisi Tsuha saat ini, wajah Tsuha terlihat pucat dan ketakutan.
"Nak, apa Kamu bisa bantu Ibu membawakan tas yang berisi pakaianmu ke kereta kuda?" Glashya memberikan Tsuha kesempatan untuk berkeliling yang terakhir kalinya di Istana ini.
Tsuha berdiri tanpa banyak bicara dan langsung mengambil tas pakaiannya.
"Kereta kudanya dimana?" Ia berdiri didepan pintu yang terbuka.
"Di sebelah taman bunga Ratu Aosora"
Tsuha langsung keluar dari kamarnya. Ia sebenarnya takut untuk keluar.
DRAP!
"PANGERAN!!!!! ANDA MASIH BELUM SEHAT!!!!" Suara teriakan pelayan dan derapan Kaki Prajurit, terasa Deja vu bagi Tsuha.
Tsuha berhenti tepat didepan lorong asal suara Pelayan dan prajurit itu.
Seperti yang sudah Ia duga. Arthur berlari tanpa alas kaki dan masih mengenakan piama tidurnya.
"BRUAKKKK!!!!!!"
Arthur sempat melompat dan sengaja jatuh diatas tubuh Tsuha.
"Ah! Kenapa Kau menghalangi jalanku?!" Arthur berbaring diatas pungung Tsuha.
"Minggir" Tsuha membalik tubuhnya dan langsung berdiri tanpa melihat wajah Arthur.
Tubuh Arthur tergelinding dan dibantu oleh Prajurit dan Pelayan untuk berdiri.
"Anda baik-baik saja Pangeran?" Pelayan itu, memeriksa perban yang melilit dipinggang dan kepala Arthur.
"AKH! Aku baik-baik saja!!! Kalian menyingkirlah!"
Arthur mendorong pelayan barunya itu dan berjalan melewati Tsuha begitu saja.
"Apa Kau marah padaku?" Suara Tsuha terdengar ditelinga Arthur saat Ia melewatinya.
Arthur berhenti ditempat dan melihat kearah Tsuha.
"Marah? Apa Kita pernah bertemu?" Tanya Arthur dengan mimik penuh tanya.
DEGH!
"Apa yang terjadi dengan Dia? Lupa ingatan?"
"Lupakan saja" Ucap Tsuha sambil mengambil tasnya yang terjatuh dan meninggalkan Arthur.
Prajurit itu adalah Davind, Ia kasihan pada Tsuha saat Arthur bertanya seperti itu.
"Tuan Davind. Dia aneh sekali. Dan lihatlah, kepalanya yang diperban itu. Apa Dia anak pengurus istana? Aku tak pernah melihat Dia" Arthur mengosok kepalanya yang mulai nyut-nyutan.
Davind memegang bahu Arthur yang sesikunya.
"Anda juga dalam keadaan kepala diperban. Ayo kembali ke kamar Anda. Hari ini, Guru Anda Ciel akan datang pukul 09.00. Jadi, Anda harus bersiap" Ucap Davind dengan halus.
Mata Arthur memperhatikan Tsuha yang sudah jauh.
"Ah, apa temanku juga datang hari ini?! Siapa namanya?!"
Arthur mendengar dari Bram kalau Ia akan kedatangan teman belajar yang sesusianya dari kalangan bangsa Malaikat.
"Juna, Dia anak dari Kepala Guild Penyidik Aosora. Anda harus baik-baik dengannya" Davind menggiring Arthur untuk kembali ke kamarnya dan sesekali melihat ke arah Tsuha dibelakangnya.
"Yeah! Aku tak sabar untuk bertemu dengannya. Apa Dia bisa teleport?"
Arthur benar-benar tak mengingat Tsuha dan Nox.
...****************...
Malam hari setelah perginya Glashya dari tempat Naver, Nox kembali sambil membawa oleh-oleh untuk hadiah ulang tahun Arthur.
Kondisi Istana Aosora yang biasanya ramai, tiba-tiba menjadi sepi. Nox langsung menuju ruangan Naver tanpa permisi.
"Baginda. Tumben Istana Aosora sepi?" Tanya Nox dengan nada yang santai dan meletakkan oleh-oleh itu diatas meja kerja Naver.
Naver mengambil oleh-oleh itu dan membukanya.
"Tadi, Arthur dan Tsuha diculik oleh Iblis" Jawab santai Naver sambil memakan kue kering dari Nox.
"HAH?!"
Naver melihat Nox sambil melahap kue itu.
"Dia yang menyelamatkan Arthur dan Tsuha. Andai saja tak ada Dia. Pasti, Tsuha dan Arthur sudah mati dihutan itu"
Nox benar-benar menepuk jidatnya.
"Kenapa Kau bisa sesantai ini?" Nox merebut kue kering itu dari tangan Naver dan memakannya.
Naver menghela napas dan berdiri.
"Aku adalah Raja. Aku tak bisa menunjukkan emosiku dengan sembarangan. Aku adalah seorang ayah. Sikap santaiku ini, hanya menutupi kegelisaanku. Tolonglah Nox, bantu Aku memikirkan sesuatu. Tsuha juga menjadi incaran Iblis itu. Apa yang harus Aku lakukan?" Naver meremas kemeja Nox.
Mengapa Iblis itu mengincar Tsuha?
"Suruh Dia kembali ke Shinrin. Aku akan membantumu menjaga Dia di Shinrin. Lalu, bagaimana dengan kondisi Arthur?" Nox melepas tangan Naver yang meremas kemejanya.
Hampir setengah jam telah berlalu. Naver menceritakan semua kejadian itu, pada Nox. Dan Nox, mulai paham dengan kondisinya.
"Intinya, Dia membuat Arthur kehilangan ingatannya lagi dan ini sangat keterlaluan. Dia menghilangkanmu juga di ingatan Arthur. Aku, sangat minta maaf padamu Nox. Kau sudah sangat berjasa untuk Arthur. Dan Aku malah mendapatkan ini. Aku sudah bingung harus melakukan apa lagi" Naver meremas dasi pakaiannya hingga terlepas.
"Bila itu adalah hal yang terbaik untuk Arthur, maka lakukanlah" Itu adalah perkataan yang diucapkan Nox pada saat itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai teman-teman, Makasi ya udah setia dan menemani Author sampai saat ini.
Terus semangat membaca ya, jangan lupa tinggalkan jejak ³3³