
Pada akhirnya, Tsuha pergi ke hutan terlarang bersama Mereka. Jantungnya berdebar dengan kencang. Ia, memasuki hutan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
Suara gesekan ranting, membuat Tsuha teringat dengan kejadian enam bulan yang lalu bersama Arthur. Ia menatap langit yang rimbun akan pepohonan, membuat pandangannya berputar. Oksigen segar dari dalam hutan, seperti menghilang.
Pandangan Tsuha, hampir mengelap. Tangan Tsuha mulai meraba sesuatu didepannya. "Tep!" Nao memegang lengan Tsuha yang mulai meraba pepohonan didekatnya.
Tangan Tsuha terasa dingin dan Ia berkeringat. "Kau sakit Tsuha?" Mendengar itu, Tsuha cepat-cepat mengusap keringat disela antara bibir dan dihidungnya, serta dilekukkan dagunya.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing" Jawab Tsuha sambil memegang kedua bahu Nao. "Kau takut?" Nao bertanya seperti itu karena Tsuha tiba-tiba memegang kedua bahunya dan mendorong Nao untuk berjalan. Tsuki, membuang mukanya pada Tsuha.
"Ahahaha, tidak. Untuk apa Aku takut?" Balas tanya Tsuha seraya tertawa garing.
Nao mengangguk beberapa kali, tanda Ia paham. "Baiklah, Peganglah bahuku. Kalau ada apa-apa, Aku akan melindungimu" Mendengar itu, Tsuki langsung melihat Nao. Wajah Nao, menunjukkan seringaian yang menyeramkan untuk pertama kalinya.
Di pikiran Tsuki, Nao tak bisa menggunakan sihirnya, bagaimana cara Dia untuk melindungi Tsuha yang lebih belajar sihir duluan darinya?.
Tak lama dari perjalanan Mereka, Nao merunduk. Tsuki dan Tsuha ikutan merunduk.
"KRAAAAUUUKKK" Mereka, mendengar suara kunyahan.
Tangan Nao menunjuk sesuatu yang ada jauh didepannya. Tsuki, menyipitkan matanya untuk melihatnya. Sedangkan Tsuha, langsung terbelalak.
Mereka, melihat hewan sihir yang berbentuk aneh.
"Kucing berkepala ayam?" Tsuki bertanya lirih pada Nao. Itu, bukan kepala Ayam. "Itu, kepala serigala".
Kucing berkepala serigala. Kepalanya ada tiga. Bukan lima seperti yang dikatakan Mereka bedua. Dan kucing itu, sedang memakan serigala sihir yang ukurannya 7 lipat lebih besar darinya.
Tsuha segera menarik baju Tsuki. "Ayo pergi dari sini. Itu hewan sihir. Dia bahkan mampu memakan serigala sihir yang ukurannya berkali lipat dari ukuran tubuhnya. Bila ada apa-apa dengan Kita, Ayah tidak akan tau" Lirih Tsuha.
Tsuki berfikir seperti demikian. Namun, Ia tak suka diberi tahu oleh Tsuha. "Plash!" Ia menepis tangan Tsuha. "Aku. Akan menangkapnya bersama Na..o?"
Nao, menghilang dari tempat mereka merunduk. Tsuki dan Tsuha membelalakan kedua mata Mereka bersamaan. "Dimana Nao?" Hanya ada jaring panjang yang dibawa Nao dibelakang Tsuha.
Mereka berdua, langsung terdiam ditempat.
"Syuuut!!!!! Trash! Jleb!!!!"
Anak panah melesat kearah Tsuki. Tsuha sempat melihat anak panah itu. Ia menundukkan kepala Tsuki dan kepalanya.
Namun, anak panah itu, berhasil memotong rambut Tsuki Tsuha yang memiliki kuncir. Dan, menusuk batang pohon dibelakang Tsuha.
Tsuki, tak tau apa yang terjadi. "CEPAT! LARI DARI SINI!!!!" Tegas Tsuha sambil berdiri dan menarik lengan Tsuki.
Tsuki mengikuti Tsuha yang berlari sambil menarik tangannya dan beberapa kali, Ia melihat anak panah melesat kearahnya ditamengi oleh akar pohon yang tiba-tiba muncul dari arah samping-samping dia berlari.
Tsuki tidak tau kalau itu adalah kelebihan Tsuha.
Napas Tsuha menyesak. Dia harus bisa keluar dari sini bersama Tsuki dengan selamat. Ia sudah tidak memikirkan Nao. Tsuki, berbeda dengan Tsuha. Ia lebih mengkhawatirkan Nao yang tiba-tiba menghilang daripada nyawanya sendiri.
"Tsuha! Dimana Nao?!"
Tsuha, tak ingin gagal melindungi seseorang untuk yang kedua kalinya.
"TSUHA!!! JANGAN PURA-PURA TULI!!!!" Tsuki membentak pada Tsuha. Ia takut, Nao diserang seseorang disana.
"BERISIK!!!" Tsuha mengenggam tangan kanan Tsuki dengan erat. Ia melompati akar pohon dan Ia meluncur untuk mempercepat pergerakannya.
"DRAP!!!" Suara derapan kaki mulai terdengar dibelakang Tsuki. Tsuki melihat kearah belakang. Cahaya hijau, meluncur dengan cepat kearah mereka.
"Jump!" Tsuha melompat dan diikuti oleh Tsuki tanpa melepaskannya.
"Sial!" Tsuha mulai kehabisan napasnya. Dan pandangannya semakin mengkabur. Laju lari Tsuha mulai melambat. Namun, jantungnya terus berdetak dengan kencang. Perut Tsuha sakit. Ia ingin muntah.
Ia tak kuat untuk berlari lagi. "BRUK!!!" Tsuha terjatuh ditumpukan daun kering. Kakinya lemas dan bergetar. Tsuki panik karena tiba-tiba Tsuha terjatuh.
"Hei Tsuha!! Bangunlah!! Ayo! Kita hampir sampai!!!" Suara Tsuki terdengar samar ditelinga Tsuha. Tubuh Tsuha seakan ditekan sesuatu yang berat dan membuatnya tenggelam. Mata Tsuha hampir tertutup.
Tsuki, menguncang-guncang tubuh Tsuha dan membalik tubuh Tsuha. Sekujur tubuh Tsuha dingin. "Hei! Apa Kau sakit Tsuha!!? Ayo, bertahanlah sebentar lagi" Tubuh Tsuki yang lebih kecil dari Tsuha, berusaha membopongnya.
Tangan Tsuha, bergerak dan "KRAKKK!!! BRUAKKK!!! SYUUUUT!!!" Ia mengendalikan akar pohon disekitarnya, dan akar pohon itu, mengelilingi sekitar mereka dengan hingga sekitar mereka menjadi gelap.
Kubah akar itu, berdiameter 2,5 m dengan tingg sekitar 1,75 m.
Tsuki membelalakan matanya. "Apa, ini sihirmu?"
Isi kepala Tsuha sudah berantakan. Ia mendengar apa yang dikatakan oleh Tsuki. Namun, Ia tak bisa menjawabnya. Kesadaran Tsuha, melemah.
"KRAK!!! KRAKKKK!!!" Suara garukan dari luar kubah terdengar hingga didalam kubah. Tsuki memeluk tubuh Tsuha yang dingin. "12, 13, 14, 15,....." Tsuha terus berhitung, dengan tujuan agar Ia tak kehilangan kesadarannya.
Diluar kubah itu, Arnold memegang akar pohon yang melilit dengan rapi tanpa cela (rapi). "Luar biasa, Aku, semakin percaya pada ramalan Akaiakuma tentang kehancurannya yang diakibatkan oleh bangsamu"
"Kau, adalah wadah yang bagus dan antik"
Ratusan serigala sihir di sekitar Arnold melihat kearahnya. Dan seringaian lebar, ditunjukkan sosok berambut hitam dengan sayap hitam diatas dahan pohon yang besar memperhatikan Arnold.
Pria diatas dahan itu, melilitkan syal biru yang Ia kenakan. Hidungnya yang mancung dengan wajahnya yang mungil, terlihat bergerak seperti sedang mengendus sesuatu. "Alfarellza Ambareesh, Selamat atas kedatanganmu dan nikmati penyambutannya wuuussshhhh" Sosok itu, menghilang begitu saja saat angin berhembus dan mengerakkan ranting pohon hutan terlarang itu.
...****************...
Aosora Naver, turun dari kereta kudanya bersama Arthur. Mereka, melakukan kunjungan atas peresmian akreditasi Akademi Sihir Jelata (ASJ) dan pemerketatan perlindungan ASJ dari serangan Iblis. Disini, Arthur dilarang keras menunjukkan wajahnya didepan rakyat Shinrin. Hingga, Ia terpaksa menggunakan cadar hitam dengan kepala yang tertutupi tudung jubah.
Mengapa Arthur diperlakukan seperti itu?
Agleer Linus yang memaksanya. Sebab, kondisi Arthur tidak aman untuk keluar setelah insiden enam bulan yang lalu. Arthur juga, melakukan ini tanpa ada keterpaksaan. Ia ingin melihat tanah Shinrin. Tempat asal Ibunya, Aosora Emilly.
Shinrin memiliki cuaca yang lebih dingin dari Aosora.
Senyuman lebar nan ceria, terpampang dibalik cadar hitam yang dikenakan oleh Arthur saat mendengar sapaan orang-orang yang menyapa Ayahnya dengan penuh hormat.
Arthur, lebih suka berjalan dibelakang ayahnya dan Ia melihat Agleer Linus yang menyambut mereka.
Jari manis tangan kiri Arthur berdenyut. "Weesh!" Ciel tiba-tiba muncul disamping Arthur. Arthur melihat Ciel yang sempat mengalami kendala saat menuju kemari.
"Guru, Apa kudanya cedera parah?" Ia sempat mendengar kalau Kuda yang ditumpangi Ciel mengalami gangguan pada kaki.
"Kudanya sudah tenang Pangeran. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya" Ciel menunjukkan senyumannya dan dari senyumannya itu, Arthur melihat gigi taring Ciel yang lebih panjang dari ukuran normal.
"Baiklah, kalau kudanya dikasih obat, Aku ingin melihatnya" Arthur berjalan dengan tegap kearah Linus.
Ciel, berhenti ditempat (dibarisan prajurit). "Kuda itu, sudah mati. Anda, terlalu baik Pangeran" Lirih Ciel.
...****************...