
Pukul 19.00, acara peresmian Arthur dimulai. Suara tepuk tangan terdengar meriah saat Linus menuntun Arthur menuju singgahsana Aosora.
Sosok yang dipercaya religius, telah bersiap untuk meletakkan mahkota Putra Mahkota pada kepala Arthur. "Tolong, ucapkan sumpah Anda" Ucap pria itu sambil menahan mahkota di atas kepala Arthur dan tangan kanan Arthur menyentuh hinoken.
"Saya Aosora Arthur, putra kedua dari Raja ke tiga Aosora Naver menerima perngantian sementara untuk mengisi kekosongan Aosora menjadi Putra Mahkota Aosora. Saya bersumpah dihadapan orang-orang yang menjadi saksi, dihadapan Hinoken, dan di bawah mahkota Aosora, bahwa akan menjaga, melindungi, dan melakukan segalanya untuk Aosora segenap jiwa dan raga saya" Ucap Arthur sambil menekuk lututnya di sana.
Tsuha melihat Arthur yang menutup matanya. "Apa ini memang yang kau inginkan, Putra Mahkota?"
DEGH!
Dada kiri Arthur tiba-tiba sakit seperti teriris dan terkena benda panas saat mahkota penerus Aosora diturunkan di kepalanya. Arthur menahannya.
DEGH!
Pandangan Arthur mulai bergelombang.
Suara tepuk tangan terdengar meriah seketika. Namun, tiba-tiba suara itu menjadi hening seketika. Mata Arthur terbelalak melihat sekelilingnya yang gelap.
"Aosora.... Aiden..." Suara wanita memanggilnya.
"Pat!" Linus menepuk punggung Arthur. Pandangan Arthur kembali. Ia melihat Linus yang tersenyum padanya. "Selamat ya, jangan main-main dengan posisimu saat ini" Ucap Linus sambil mengangguk.
"Jari manis kiriku nyeri. Mungkin karena kehadiran Paman Linus" Batin Arthur sambil membalas senyuman Linus.
"Sekarang, persilahkan mereka untuk menyantap hidangan yang ada"
Arthur mengangguk dan langsung mengatakan dihadapan tamu untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan.
"Lalu, ada enam tamu yang menunggumu disana"
Arthur melihat enam tamu yang dimaksud oleh Linus. Mereka adalah bangsawan besar empat kerajaan yang menjalin kerja sama dengan Aosora.
"Mereka semua memiliki gadis yang usianya tak jauh darimu. Temui mereka dulu. Ini akan menguntungkan bagi Aosora bila kau menemukan salah seorang yang cocok denganmu" Ucap Linus sambil menepuk punggung Arthur.
Arthur melongo. "Archie! Apa maksudnya itu?!"
["Mereka menawarkan putri mereka untukmu. Ini biasa untuk kalangan orang yang memiliki pangkat tinggi"]
"*Apa aku boleh menolaknya?"
["Pikirkan dulu. Bila kalian menjalani pertunangan, ini akan memiliki dampak untuk Aosora dan keluarga yang kau terima*"]
Arthur menghela napas ringan. "Apa Kak Bram menolak semua pertunangan di depannya juga??" Ia berjalan menemui enam orang dewasa yang sudah menunggunya.
Salah seorang dari mereka langsung menjabat tangan Arthur. "Putra Mahkota, ini suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan Anda secara langsung. Saya Raja Narai ke 26, senang bisa bertemu dengan Anda"
Arthur membelalakan matanya. Ia tidak menyangka bisa menjabat tangan seorang raja selain Linus. Arthur langsung menekuk lututnya dan membungkuk perlahan.
"Ini, suatu kehormatan bagi saya pula bisa bertemu dengan Anda secara langsung" Ucap Arthur kemudian ia berdiri.
Orang lainnya mengulurkan tangannya pada Arthur, "Saya Marquess dari wilayah Meganstria..." Dan yang lainnya memperkenalkan diri mereka kemudian kembali di tempat duduk mereka yang berada di satu meja yang sama.
"Bila berkenan, bolehkah Anda bercerita kepada kami bagaimana tipe wanita yang Anda sukai? Atau apakah Anda telah meletakkan hati Anda kepada perempuan yang sangat beruntung itu?"
"Obrolan macam apa ini?" Arthur tidak tau harus menjawab apa.
"Kita buat santai saja. Ini obrolan sesama lelaki dewasa. Jangan malu-malu dengan kami. Anggap kami sepantaran denganmu. Kami ini, masih muda loh~" Ucap Raja Narai.
"Pfft, Anda sudah berkepala lima. Astaga~..." Lirih mereka dan tertawa bersama.
"Ya, umur itu tidak penting. Yang pentin itu, kita masih bisa berteman seperti ini, itu sudah bagus" Mereka berenam memiliki hubungan pertemanan yang dekat.
"Jadi, Putra Mahkota Aosora. Perempuan seperti apa yang anda sukai?" Pandangan mereka tertuju pada Arthur.
"A..." Arthur menundukkan pandangannya.
"Perempuan yang mau bergantung pada saya dan bersedia berjalan di sebelah saya melewati masalah bersama" Jawab Arthur.
Mereka berenam saling melihat. "Tep! Tipe kita semua sama. Kami tidak menyangka akan bertemu dengan pemuda seperti Anda" Ucap Raja Narai sambil menepuk-nepuk perlahan punggung Arthur.
"Kalau begitu, secara fisik perempuan seperti apa yang Anda sukai?"
"Apa maksud dari kata secara fisik itu Archieeeeee!!" Arthur ingin kabur dari tempat itu segera.
...****************...
Tsuha kini memantau bersama Nox. Mereka berkeliling untuk memastikan tak ada penyusup yang bersembunyi diantara orang yang berhasil masuk ke dalam istana.
Ha nashi dan Azuma melihat mereka berdua yang telah berkeliling sebanyak tiga kali dalam waktu 20 menit.
"Kalau seperti ini, bukankah mereka yang akan terlihat seperti tamu yang mencurigakan?" Tanya Azuma.
"Itu sudah tugas mereka. Apa kau tak ingin mencoba menemui Putra Mahkota Aosora untuk terakhir kalinya?" Tanya Ha nashi.
"Iya, puncaknya malam ini kan? Kurang berapa jam lagi?"
Azuma berubah di wujud Elfnya. "Berarti, kurang satu jam lagi sebelum penyerangan kita mulai. Apa dia sudah paham dengan ucapanmu kemarin malam?"
"Dia lebih paham dari yang kita kira. Dia akan keluar sebelum pukul 10.50" Jawab Ha nashi.
Disisi lain, Nox meninggalkan Tsuha sendirian untuk melanjutkan berkelilingnya. Tsuha menyusuri Istana Aosora yang membuatnya teringat dengan kejadian masa lalunya.
"Aku tidak menyukai Hanx bu. Tolong mengertilah"
"PLAKKK!!" Suara tamparan cukup keras terdengar dari balik taman yang dilewati Tsuha.
"Dasar jal*ng! Kau mulai berani membantahku?! INGATLAH! KALAU TAK ADA KAMI! KAU TIDAK AKAN HIDUP ANGEL! CUKUP TURUTI UCAPAN KAMI!!!"
Mendengar nama Angel, Tsuha langsung memeriksanya dengan sembunyi. Ia melihat Angel yang menundukkan kepalanya sambil memegang pipinya.
"Aku mohon. Kalian boleh mengatur semua tentang aku, tapi jangan dengan orang yang ku sukai juga! Aku... aku juga ingin bahagia seperti teman-teman disekitarku!" Suara Angel bergetar. Ia tidak mengangkat pandangannya sedikitpun.
"Bahagia?! SEMUA ITU BUTUH UANG ANGEL! DAN APA-APAAN DENGAN RAMBUT TERURAI SEPERTI INI!!" Ibu angkat Angel menjambrak keras rambut Angel.
"Padahal, dia bisa melawannya" Batin Tsuha sambil melangkah pergi dari tempat itu.
"KAU TIDAK BERGUNA ANGEL! PANTAS SAJA ORANG TUA KANDUNGMU MENINGGALKANMU!" Teriak ibu angkat Angel.
"Robek saja pakaiannya. Dan biarkan dia mengumbar tubuhnya agar dikasihani oleh orang sekitarnya" Suara ayah angkat Angel dibelakang ibunya.
Tsuha membelalakan matanya dan ia tidak sadar telah berjalan ke arah mereka. Tsuha menarik kera jas pakaian ayah Angel dan, "DAGH!!!" Tsuha memukul wajah pria itu dengan keras.
Darah bercucuran dari mulut dan hidung pria itu.
"Ah, apa yang telah ku lakukan?" Tsuha melepas kera jas pria itu kemudian mundur beberapa langkah disebelah Angel. Ia melihat sarung tangannya yang terdapat darah dari pria itu.
"HUAHHH!!! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Ibu Angel langsung mendatangi suaminya yang terjatuh.
Angel melihat sisi kirinya. Tsuha sedang melihatnya dengan raut sedih. Ia melihat bibir Angel yang berdarah. Mungkin itu karena tamparan dari ibunya.
"Sakit?" Tanya lirih Tsuha pada Angel.
Hati Angel terasa teriris mendengar pertanyaan sederhana itu dari Tsuha. Ia mengangguk dan mengusap air matanya. Wajah Angel dan rambutnya sangat berantakan.
"Bangs*t! Kau siapa baj*ngan!" Teriak ibunya Angel.
Tsuha melihat ke arah ibunya Angel. "Saya rekan Kapten Penyidik yang menjaga area ini. Anda telah membuat keributan disini, oleh karena itu silahkan Anda berdua kembali masuk menuju ruangan hidangan" Ucap Tsuha dengan nada sopan.
"Tapi! Kenapa Kau memukul suamiku?! KATAKAN SIAPA NAMAMU! AKU AKAN MELAPORKANMU KEPADA PUTRA MAHKOTA AOSORA!!"
"Saya spontan melakukannya. Saya kira, Anda masih ingat dengan bocah berusia 9 tahun yang suami Anda banting. Nama saya Estelle Tsuha dari rombongan Pendampingan Putra Mahkota Aosora dari Shinrin" Jawabnya.
Wanita itu, langsung terdiam melihat Tsuha.
"Anda bisa melaporkan saya melalui ketua rombongan 1, Kylezt Nox. Beliau sedang berada di kamar mandi. Permisi" Ucap Tsuha sambil membungkuk kemudian memegang lengan Angel dan membawanya menjauh dari tempat itu.
Tsuha mengantarkan Angel ke toilet lain. Ia menunggunya dibalik pintu kamar mandi. "Kenapa kau datang Tsuha?" Tanya Angel dari balik pintu.
"Aku tak sengaja melihatnya"
"Bukankah, kau paling menghindari ikut campur dengan masalah orang lain?" Angel membuka pintu toilet dan melihat Tsuha yang membelakanginya.
"Grep!" Ia memeluk Tsuha dari belakang. "Berengs*k! Kenapa kau datang? Berhentilah membuatku berharap" Angel menangis di punggung Tsuha.
Tsuha tak tau apa yang harus ia lakukan bila ada perempuan yang menangis. Tsuha melihat langit malam yang mulai berawan. "Kak, apa mereka masih selalu begitu kepadamu?"
"Apa pedulimu!?" Tegas Angel yang semakin erat memeluk Tsuha.
"Kau marah padaku?"
"Tentu saja!" Tegas Angel.
"Memangnya, apa salahku?"
"Kau! Membiarkanku pergi begitu saja!" Tegas Angel sekali lagi.
Tsuha melepas pelukan erat Angel. Ia memegang tangan Angel dan melihat wajah Angel dari dekat.
"Kau jelek sekali" Ucap Tsuha sambil melihat wajah Angel yang bengkak.
"Biarin!" Tegas Angel sambil mendorong wajah Tsuha yang melihatnya.
Tsuha melihat Angel dari sela jari Angel. "Maafkan aku" Ucap Tsuha sambil menurunkan tangan Angel yang menutup wajahnya.
Angel menundukkan padangannya "Sialan! Kenapa kau tampan sekali" Angel ingin sekali memukul wajah Tsuha. Namun, rasa sedihnya, menghilang setelah melihat wajah itu.
Tsuha tersenyum tipis setelah mendengarnya. Ia legah.