
"Apa Kau masih mengenalku, Pa~man?" bisik Nao pada Gabriel.
Gabriel membelalakan matanya "Tidak....mungkin...."
"Tep!" Marsyal memegang tangan kanan Nao dan berkata, "Jauhkan pedang itu. Dan, tolong antar Arthur kembali ke Markas Pemberantas Iblis. Mereka pasti kebinggungan sekarang"
Nao menjauhkan pedang besinya seperti yang dikatakan oleh Marsyal.
Ia memasukkannya kedalam sarung pedang besinya.
"Jadi, mau langsung kembali ke Markas atau main-main dulu?" Nao tersenyum pada Arthur.
Daeva melihat Nao dari atas. "Bocah itu, bocah yang menemukanku di ASJ. Kenapa Dia selalu disekitar Arthur? Apa yang Dia inginkan?" Batinnya.
Nao menarik kebelakang poninya yang menutupi matanya kemudian, Ia melihat kearah Daeva sambil menunjukkan seringaiannya pada Daeva. Lalu, melihat Arthur dan tersenyum.
Daeva, mengangkat alis kanannya. "Apa-apaan bocah itu?"
"Jangan main-main Nao. Lalu, sampaikan pada Wakil Razel untuk segera menemuiku dirumahku secara Pribadi" Marsyal mengingatkan Nao untuk tak bermain-main pada Arthur.
"Baik Kapten~ Aku akan bermain dengan Arthur setelah Aku menyampaikan pesan Anda" Nao memberi hormat pada Arthur sambil melirik Daeva diatas sana yang sedang melihatnya.
"Bagus"
Kemudian, Arthur berjalan kearah Nao dan memegang bahunya. "Kita teleport saja. Wosh!" Arthur membawa Nao berteport didepan markas pemberantas Iblis.
"Dasar bodoh! Kenapa tak teleport saja dari tadi?! Padahal, Kau bisa lolos dari elf itu bila Kau langsung berpindah tempat!" Daeva kembali kesal untuk yang sekian kalinya terhadap seorang Aosora Arthur.
...****************...
Beberapa menit yang lalu, seperti yang dikatakan oleh Marsyal. Seisi Markas Pemberantas Iblis, terkejut mendengar penjelasan Lina yang tengah menanggis dan Zack yang berusaha tenang saat menjelaskannya.
Mata Tsuha terbelalak.
"SIALAN! JANGAN BERCANDA!!!" Tubuh Archie ditahan oleh Liebe yang lebih kecil darinya.
Razel menyuruh Shera untuk membawa dan menenangkan Lina yang menangis.
"Zack, secara rinci Kau tak tau bagaimana Pangeran Aosora diculikkan?" Razel maju dan membelakangi Archie yang marah pada Zack.
"Maaf Wakil. Aku memang tak tau bagaimana Arthur di culik. Yang pasti, jangan salahkan Lina. Aku yang memberi strategi oleh Mereka. Aku tidak tau kalau yang diincar sebenarnya adalah Arthur. Sruuuk! Biar Aku yang menanggung ini. Aku akan langsung mencari Arthur setelah izin dari wakil" Zack bersujud dihadapan Razel dan yang lain.
Jantung Zack terus berdegup dengan kencang, Ia tak ingin mendengar jawaban Razel dengan cepat.
Razel berjongkok dan memegang kepala Zack.
"Kita adalah keluarga, mari mencarinya bersama. Jangan salahkan dirimu sendiri. Apakah Kau masih bersedia membantu wakil Kapten pemberantas Iblis ini, Zack?"
Mendengar ucapan Razel dengan suara yang halus itu, Zack langsung mengangkat kepalanya.
Mata Zack langsung berkaca-kaca. "Baik wakil Razel! Terima kasih..." Ia mengatakan itu sambil mengusap air matanya.
Razel berdiri dan menghadap pada anggotanya yang lain.
"Liebe, Kau carilah ke barat laut, Val cari ke hutan, Tsuha ke timur, dan Zack cari di area utara tempat Kalian mendapatkan misi tadi. Aku akan berbicara dengan Kapten Marsyal mengenai ini" Razel membagi wilayah pencarian Arthur dan Ia mengambil seragam jubahnya didekat pintu.
Archie tak dapat bagian. "Tunggu! Aku ingin membantu Kalian!" Archie tak bisa diam saja bila terjadi sesuatu dengan Arthur.
"Kau tetaplah disini. Tak ada yang tau tentang kemunculanmu selain anggota guild ini" Jelas singkat Razel sambil membuka pintu.
Bersamaan dengan itu, "WOSH!" Arthur dan Nao secara tiba-tiba muncul di depan Razel.
Razel membelalakan matanya saat melihat Arthur dihadapannya itu.
Ia mengkernyitkan keningnya kemudian melihat kearah Zack.
"Wakil! Maaf! telah membuat Anda khawatir!"
"!!! Suara itu!" Mereka secara bersamaan mengatakannya setelah mendengar suara Arthur dari balik pintu.
Mereka semua langsung keluar dari markas dan melihat Arthur.
Terutama Archie, Ia adalah sosok yang paling panik di markas selain Zack dan Lina. Ia mendatangi Arthur sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Arthur! Kata Lina!.."
"Bugh!" Archie menyela Zack dan langsung memukul punggung Arthur dengan telapak tangan kirinya.
"Khuk!"
Semua orang melihat Archie.
"Dasar Bodoh! Kau membuat Kami khawatir!!!" Archie menarik seragam Arthur hingga membuatnya terangkat.
"Ah! Turunkan Aku! Aku minta maaf! Untung saja ada Kapten Marsyal yang menolongku!" Tubuh Arthur diguncang-guncang oleh Archie sangking senangnya Ia bisa melihat Arthur kembali dengan selamat.
"Ogah!" Ia membawa Arthur masuk kedalam markas.
Zack merasa legah melihat kepulangan Arthur dengan selamat.
Ia memegang ibu jarinya yang telah Ia balut dengan kain.
Zack menyandarkan pungungnya di dinding marka sebab, pandangan Zack mulai mengkabur.
"Wakil, Anda dipanggil oleh Kapten Marsyal ke rumahnya secara pribadi" Nao menyampaikan ucapan Marsyal pada Razel.
"Iya, Aku akan langsung kesana. Zack, titip Mereka ya"
Razel melihat ibu jari Zack yang terbalut kain.
"Tentu wakil. Percayakan padak.... Bruk!" Zack pingsan akibat kehilangan darah yang cukup banyak untuk mengantikan wanita yang Ia kontrak itu.
"ZACK!" Razel langsung berjongkok dan membalik tubuh Zack.
Val mendatangi Zack dan membuka buntalan kain itu.
Darah Zack masih saja mengalir dengan luka kecil.
"Dia menjalin kontrak dengan siapa?! Kenapa darahnya keluar dengan banyak?!"
Nao mengulurkan tangannya pada Zack.
"Sihir penyembuhan, tingkat dua,... Woush!" Lingkaran sihir berwarna terang mengelilingi tubuh Zack.
Razel, Val, dan terkejut melihat sihir penyembuhan milik Nao yang berbeda dan memiliki diameter 1 meter.
"Serahkan padaku. Anda cepatlah ke Kapten Marsyal, jangan membuatnya menunggu" Nao berjongkok diatas Zack sambil mengusap rambut Zack.
Val merasa kalau Nao ini, bukan karakter yang baik. Ia menarik bandana rambut Zack untuk merapikan rambut Zack.
"Kalau begitu, Val dan Liebe perhatikan Zack. Dia terlalu memaksakan dirinya. Wosh!" Razel pergi menemui Marsyal setelah mengatakannya.
Nao meletakkan tangannya dilututnya sambil menunggu Sihir penyembuhannya selesai.
"Liebe, bisakah Kau meminta bantuan Shera untuk membuatkan air hangat untuk Zack?" Val ingin bicara berdua dengan Nao.
"Tentu~"
Tsuha masih dibelakang mereka dan Ia sangat penasaran dengan kejadian hari ini.
Nao melirik Tsuha, "Arthur diculik oleh seorang elf. Kau tak perlu khawatir Tsuha" Nao, bak tau segalanya. Ia menjawab pertanyaan Tsuha tanpa mendengar pertanyaan itu secara langsung dari mulut Tsuha.
"Aku tak khawatir. Lagipula, Aku tak ada hubungannya dengan Dia. Dan kepulangannya, sudah membuat semua orang disini legah. Aku bersyukur karena itu. Lalu, apa benar yang menculiknya adalah Seorang Elf bermata hijau?" Tsuha ikutan berjongkok dibelakang Nao.
Nao melihat Zack yang berwajah pucat.
"Dia Elf hijau. Kau akan segera bertemu dengannya. Kau tau, Aku hampir saja membunuhnya. Kalau saja, kapten Marsyal memperbolehkannya, Dia pasti akan benar-benar menjadi mayat saat ini" Nao menyeringai dan menghilangkan sihir penyembuhannya karena sudah selesai.
Tsuha melihat pungung Nao. "Kenapa Kau ingin membunuhnya?"
Val melihat kearah Nao yang masih menyeringai.
"Dia menculik Arthur, lalu apa lagi?"
Val semakin merasa tak nyaman berada di sekitar Nao.
"Bila Kau membunuhnya dan Dia memiliki keluarga, Bagaimana nasib Mereka?" Tsuha berfikir secara logis dan Nao langsung melihat kearah Tsuha.
Tsuha, tak bisa melihat raut Nao dengan jelas karena, wajahnya yang tertutup oleh rambutnya.
"Maafkan Aku, Apa Kau bisa memaafkan Aku lagi Tsuha?"
Wajah Tsuha terlihat murung.
"Tentu, jangan ulangi lagi" Jawab Tsuha sambil tersenyum pada Nao.
Nao membalas senyuman Tsuha, "Apa Kau masih mau berteman denganku?"
"Iya"
Val hanya ingin mengatakan tiga kata untuk Nao yaitu, "Aku tidak menyukainya"
"Dasar bodoh!"