
Tsuha diculik untuk kedua kalinya dihari yang sama tepat dihadapan Arthur. Tubuh Arthur terasa remuk.
"Apa Aku memanggil Ayah saja?" Batin Arthur sambil berdiri dengan kaki yang bergetar.
"Tidak! Bagaimana bila Tsuha terbunuh oleh iblis itu sebelum Ayah datang?"
Arthur dilema.
Ia tak bisa memutuskannya diwaktu yang singkat ini. Pada Akhirnya, Ia lebih memilih mendatangi Iblis itu daripada memanggil bantuan.
Arthur menjadi bodoh karena kebaikkannya.
...****************...
"BRUK!" Tsuha jatuh disuatu tempat yang dikelilingi oleh pohon kering.
Iblis yang berjubah dan membawanya pergi, telah menghilang. Dihadapannya kini, tinggallah sosok Iblis dengan zirah prajurit yang berlubang dibagian perutnya.
"Kau datang sendiri, benar-benar anak yang baik" Ucap Iblis itu.
Tubuh Tsuha bergetar, Ia mulai berkeringat dingin. Jantungnya memompa dengan cepat. Napasnya tersengal-sengal bagai oksigen yang menjauh darinya. Pandangan Tsuha menjadi kabur dan perutnya, serasa ingin memuntahkan semua isi perutnya. Tsuha juga merasa seperti dirinya dilahap oleh sesuatu yang menakutkan.
Tsuha mengalami post-traumatic stres disorder
* post-traumatic stres disorder Gangguan stres pascatrauma yang dapat muncul pada seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis atau berada di situasi berbahaya yang mengancam nyawa.
"Grep!" Rambut hitam kecoklatan Tsuha, dijambak oleh Iblis itu.
"Siapa namamu?"
Tsuha tak bisa mengeluarkan suaranya. Ia terlalu ketakutan.
"Wosh! DAGH! BRUAKKKKKKKK!"
Kilatan cahaya melesat dengan cepat dan menghantam tubuh Iblis itu hingga terpental jauh dan mematahkan dahan pohon yang Ia hantam.
"Tep! Bruk!"
Kilatan cahaya itu, adalah Arthur yang menggunakan sihirnya yang lain. Dan Ia terjatuh setelah menghantamkan kakinya tepat pada leher Iblis itu.
Dari hidung Arthur keluar darah akibat menggunakan mananya dalam jumlah yang banyak. Arthur kembali bangkit perlahan saat melihat Iblis itu membetulkan tangannya yang terbalik, seperti boneka yang tangannya bisa diputar 360⁰.
Ia melihat wajah Tsuha yang sangat ketakutan dengan tubuh yang bergetar.
"Tep!" Arthur memegang kedua bahu Tsuha untuk menyadarkannya.
"Tenanglah, ada Aku disini. Ayo, segera pergi dari hutan ini bersama"
Mata Tsuha terbelalak saat melihat Iblis itu berdiri dibelakang Arthur.
Arthur lengah.
"Tep!"
Iblis itu, memegang bahu kanan Arthur dan, "SWINGGGGGG!!!!! BRUAKKKKKK!" Arthur dilempar seperti melempar boneka oleh Iblis itu.
Langit dan warna dedaunan yang hijau gelap, seperti berputar dikepala Arthur. Putaran itu berhenti setelah tubuh Arthur terhantam pohon.
Iblis itu, tidak buang-buang waktu lagi. Ia menarik pedang besinya dengan tangan kirinya dan mengarahkannya tepat dihadapan kepala Tsuha.
Tsuha ingin berdiri. Namun, saraf motoriknya tidak bisa merespon otak.
"TIDAK! TIDAK! TIDAK! SIAPAPUN! TOLONG TSUHA! DIA SATU-SATUNYA TEMAN YANG MAU MENERIMAKU!" Pandangan mata Arthur kabur. Namun, Ia masih bisa melihat dan mendengarkan semuanya.
"Aku sangat membenci bangsamu. Setelah kematianmu, Aku akan membunuh semua keluargamu tanpa tersisa. Bangsamu adalah ancaman untuk Kerajaanku, AkaiAkuma."
SYUUUT!
Pedang itu, mengarah pada kepala Tsuha.
Jantungnya, berdegup dengan kencang. "Aku, akan mati sebelum sempat mendengar Ibuku mengatakan kalau Ia menyayangiku. Aku, tak akan bisa melihat wajah Tsuki dan Nao lagi" Ia menutup matanya.
"JLEB! CRAT!!!" Pedang besi menembus perut kiri Arthur yang berpindah disaat terakhir. Dan darah Arthur, membasahi wajah Tsuha.
Tsuha tak bisa berkata-kata.
Lagi-lagi, Ia dilindungi oleh Arthur.
"Syuuuut..." Sebuah tanduk berwarna biru muda keabu-abuan keluar dari atas telinga kanan dibelakang kepalanya.
DEGH!
Iblis itu terbelalak.
Arthur mengepalkan tangan kanannya dan mengalirinya dengan mana.
"TANKKKKKK!" Perut Iblis berzirah itu dipukul dengan keras.
"PRUAKKKK!!!!" Baju besi yang digunakan oleh Iblis itu, hancur berantakan.
Arthur memukulnya tanpa ampun. Ia langsung melesatkan tandangan cepatnya ke rahang kiri Iblis itu hingga Iblis tersebut melesat jauh.
Rahang Iblis itu, ternganga dan tidak bisa kembali seperti asal.
"BZZZT!"
Arthur tiba-tiba muncul dihadapan Iblis itu. Sosok Arthur, terlihat lebih tinggi dan mencekik leher Iblis itu.
Tsuha tak tau apa yang sedang terjadi. Pakaian miliknya, yang dikenakan Arthur terlihat ketat dan kecil.
...****************...
Iblis itu memegang tangan Arthur dengan erat.
"Arnold, siapa yang membuatmu terbangkit?"
Suara Arthur terdengar dingin dari biasanya. Ia, mengelilingi sekitar mereka berdua dengan sihir dan membuat Tsuha tak bisa mendengar perbincangan mereka.
Mulut iblis itu masih terbuka dan terus meneteskan air liurnya.
"Apa Kau tak bisa menjawab pertanyaanku? Padahal, Aku sudah membuka mulutmu lebar-lebar. Perlukah Aku membelanya menjadi dua?"
"Anga'! nga'!" Iblis itu tak bisa mengelengkan kepalanya yang tercekik.
"Kenapa Kau kemari? Apa Kau masih mengejarku sampai sekarang?"
Arthur mendekatkan matanya pada mata Iblis itu.
"Apa kutukanku tidak membuatmu bergidik?"
["Aku, hanya ingin mengembalikan Hinoken pada Tuan Hanashi!. Aosora! Bukan tempat yang aman untuk Hinoken. Akan ada banyak musuh yang mengincarnya!. Cincin guru juga, dicuri oleh Shinrin!"] Tegas telepati Iblis itu.
Sebenarnya, Apa hubungan Arthur dengan Iblis itu?.
"BRUK!!" Arthur melepaskan Iblis itu dan sedikit melirik kearah Tsuha yang masih melihat kearahnya.
["Dia adalah anak yang bisa mengancam tatanan Akaiakuma. Aku tak ingin Akaiakuma hancur ditangan mereka"].
Arthur benar-benar marah pada Iblis itu.
"Kau, tak berubah sedikitpun. Darah yang mengalir dinadimu adalah penyebabnya. Sifat ayahmu, turun padamu"
DEGH!
Andai Iblis itu menggunakan tubuh aslinya, jantungnya pasti akan berdetak dengan kencang mendengar ucapan itu.
"Oleh karena itu, akan pantas bila Kau dibunuh oleh anakmu dan Aosora Alex. Bila Kau mengizinkan, Aku bersedia membunuhmu tanpa rasa sakit"
Pedang sihir berwarna biru laut yang terang dan jernih, serta memiliki pola batik terarai berakar sepanjang pedang sihir yang memiliki panjang keseluruhan 100 cm itu, membuat mata Iblis itu terbelalak.
Itu adalah Hinoken.
Benda itu harusnya ada pada Aosora Naver.
...****************...
DEGH!
Hinoken, menghilang dari sarung pedang yang dibawa oleh Naver.
Ia langsung berdiri dan memanggil nama Arthur.
"ARTHUR! KAU DIMANA?!"
Naver berlari keluar dari ruang pribadinya. Prajurit-prajurit bergegas mencari Arthur yang menghilang tiba-tiba. Aosora Emilly pingsan setelah mendengar Arthur dan Tsuha menghilang.
Bram berlari menuju tempat piknik kecil Mereka yang ada dibelakang taman Ibunya didekat hutan sihir.
Tempat piknik itu, masih rapi dan ada apel hitam yang tergeletak disana. Hari itu, Agleer Baal hadir juga untuk mengejutkan Arthur.
Baal mengambil buah itu. Ia sangat tak asing dengan apel tersebut.
"Ini, buah sihir. Buah yang digunakan untuk menunjukkan apakah Dia iblis atau tidak" Jelas Baal pada Bram.
Mata Bram terbelalak. Bagaimana buah ini bisa disini?
"BRAM! PAGERNYA ADA YANG NGANCURIN!" Tegas seorang gadis dengan atasan singlet dan celana mini.
Seketika Bram berdiri dan menyeru pada prajurit-prajurit dibelakangnya.
"KATAKAN PADA BAGINDA AOSORA NAVER KALAU ARTHUR MEMASUKI HUTAN!" Tegasnya.
"SISANYA! BANTU AKU MENCARI ARTHUR!!!"
Bram tidak tau kalai Naver sudah memasuki hutan terlebih dulu sebelum di beritahu oleh Bram.
Naver menutup mata dan telinga Tsuha saat Arthur memotong urat nadi Iblis didepannya.