
"CTASSH! WOSH! DUAGHHH! BRUAKKK!!!!"
Arnold bukan tandingan Glashya dan Arnold tidak main-main dalam menyerang Glashya walau dia seorang perempuan. Glashya terhempas dengan jauh akibat serangan Arnold. Saat ini, Arnold hanya menggunakan sihir pedang, teleport, dan keuletannya dalam bertarung jarak dekat.
Arnold masih belum menggunakan sihirnya 50%. Mengapa demikian? Sebab, Arnold menghargai perjuangan Glashya yang hanya bertarung dengan ketangkasan fisiknya.
Marsyal masih saja berdiri dan menonton pertarungan itu. Duel brutal semacam itu, akan berbahaya bila Marsyal tiba-tiba memasukinya. Ditambah lagi, Marsyal baru saja mengalami suatu hal yang janggal.
Arnold menodongkan pedang mana merahnya pada leher Glashya yang terlutut dihadapannya. "Menyerahlah. Bila ini dilanjutkan, kau bisa mati ditanganku. Aku menghargai dirimu sebagai seorang ibu dan aku tak ingin memisahkan mu dengan anak-anakmu".
Agak sulit mengatakan bila Arnold ini baik. Sedari awal, dilihat dari sudut pandang lawan Arnold. Perbuatan Arnold adalah sebuah ketamakkan. Dan mereka berpegangan teguh pada kalimat 'Tak ada seorang Iblis yang baik. Seorang Iblis yang baik, sudah dipastikan dia adalah sebuah kecacatan dan aib'. Dunia ini, tidak adil pada bangsa Iblis. Mereka hanya memandang dari satu sudut pandang saja. Yakni, tindakan yang diambil oleh Bangsa Iblis. Bukan, pada tujuan dari tindakan yang Iblis itu lakukan.
Para pemuda pasukan Shinrin telah sampai di lokasi bersama Linus.
Agleer Linus memerintahkan pasukan mudanya untuk langsung melakukan penyerangan pada Arnold. Para pemuda berseru "DEMI SHINRIN! HIDUP ATAUPUN MATI!" Para pemuda yang berjuang, termasuk Nel, telah rela mengorbankan jiwa raganya hanya untuk melindungi Shinrin.
"Aku takut mati. Namun, disini tugasku akan dipertanyakan. Aku adalah seorang Kapten Pasukan Pemberantas Iblis! Aku harus bisa bertahan untuk melindungi warga dan pasuk-kan-ku! Iblis di hadapan kami bukan sembarang Iblis. Sang Cahaya, panjangkan-lah usia-ku. Aku masih ingin melihat fajar di esok hari" Nel berdo'a di dalam lubuk hati-nya yang terdalam.
WOSH!
Arnold berteleport ke tempat yang lebih tinggi untuk melihat pasukan yang akan ia lawan. Pasukkan Shinrin yang akan Arnold lawan jumlahnya tak lebih dari 200 orang. Jumlah sebanyak itu, bisa saja Arnold remukkan secara bersamaan dengan sihir Gravitasi yang telah ia kuasai. Namun, niatnya berhenti saat melihat wajah Naver yang mengingatkannya pada Aosora Alex.
"Wajah dan aura itu, Aosora Alex?"
Aosora Alex adalah salah satu sosok yang tak akan Arnold lupakan. Ia sangat ingat dimana Hinoken yang di pegang oleh Alex menembus jantungnya. Membayangkan masa itu, Arnold yang kini tak bisa merasakan sakit, tiba-tiba mampu mengenali rasa ngilu yang menyesak-kan di dadanya.
Naver melihat wajah Arnold yang menggunakan jasad Iblis lain. "Jadi, itu De luce Arnold? Mengapa rambutnya tidak putih seperti yang di ceritakan di buku tulisan milik Kakek?" Naver bertanya lirih pada Linus di sebelahnya yang telah bersiap untuk melakukan penyerangan. Namun, Linus tak mendengarnya.
Marsyal melihat Naver disebelahnya. "Bila diizinkan, saya akan menjawab pertanyaan Raja Aosora" Ucap Marsyal dengan sopan dan menunduk-kan padangannya.
Naver melihat bet A dan nama Guild Penyidik di bawah lambang pohon Shinrin.
"Kau pasti Marsyal yang selalu di ceritakan oleh Nox. Aku telah mendengar betapa cerdasnya dirimu. Silahkan menjawab pertanyaanku tadi, ku hargai kesopanananmu" Balas Naver sambil tersenyum pada Marsyal.
Marsyal membalas senyuman Naver. "De luce Arnold yang ada di hadapan Anda, tidak menggunakan tubuh aslinya. Melainkan, yang ada di hadapan Anda adalah De luce Arnold dengan wajah jasad iblis lain"
DEGH!
Mendengar itu, Naver langsung membelalakan matanya dan langsung melihat Arnold yang menatapnya. Ia tak asing dengan hal itu. "Apa ini perbuatan Iblis itu?"
"WOSH!"
DEGH!
Arnold tiba-tiba berada di hadapan Naver. Mata yang merah dan aura Arnold yang mengintimidasi, membuat jantung Naver terguncang.
"JLEEBBB!!!! BKAKH!"
"DAGHHH!"
Dengan keras, ia menendang sisi kanan Naver hingga Naver melesat jauh dari hadapan Arnold. Ia terpaksa melakukan itu. Aosora Naver adalah orang penting yang harus di amankan saat ini.
"NEL! AMANKAN RAJA AOSORA!"
"BAGHHH!!!"
Marsyal, menghentakkan telapak tangan kanannya pada dada Arnold dengan keras. "BKHUK!" Darah keluar menyembur dari mulut Arnold.
"A-osora Al-lex, aku benar-benar akan membunuhmu disini" Aura Arnold yang menyesakkan didada, dirasakan oleh beberapa anggota pasukan disana.
WOSH!
Arnold berteleport menuju tempat Naver berada dan Ia melupakan tujuan utamanya pada Linus yang sebenarnya telah ada di hadapannya sebelah kiri Naver.
Marsyal melihat beberapa 2 detik lebih awal kedatangan Arnold. "NEL! DIBELAKANG MU!" Ia langsung berteriak tegas pada Nel.
Kanza dan beberapa anggota yang lainnya melesat dan berteleport ketempat Nel untuk melindungi Naver.
"TRANGGGGG!!!!! DAGH!!!!"
Arnold langsung melesatkan pedangnya saat muncul dan menendang pasukan lainnya untuk memberinya sela jalan dalam serangannya.
Nel membawa Naver berteleport menuju tempat pengevakuasian. Naver sangat terkejut dengan hal yang barusan terjadi padanya. Ia tidak menyangka hal ini akan terjadi begitu cepat.
Naver memegang dadanya yang berdebar.
"Raja Aosora, Anda tunggu-lah di sini. Saya mohon, jangan kembali ke tempat tadi" Nel sangat senang melihat Aosora Naver untuk yang kedua kalinya di hadapannya.
Aosora Naver adalah donatur yang membantu Nox untuk menyekolahkan Nel hingga kelulusannya. Ini adalah sebuah kehormatan bagi Nel karena telah membantu Naver untuk meloloskan diri dari Arnold.
Naver melihat wajah Nel. Ia mengingat wajah kecil Nel yang kucel saat baru pertama kali di bawa ke Kerajaan Aosora. "Nel, ini dirimu? Kau sudah setinggi ini?" Tinggi Nel dan tinggi Naver hampir sejajar.
Nel membungkuk dan meletakkan tangan kanannya di dada kirinya. "Suatu kehormatan bagi saya karena bisa bertemu dengan Anda untuk yang kedua kalinya" Ucap Nel dengan pernuh hormat.
Naver menepuk bahu Nel untuk berdiri dengan tegak. "Lain kali, ajak-lah teman-temanmu untuk ke Aosora. Aku akan mentraktir kalian makanan yang di namai seblak oleh mu".
Mendengar itu, Nel langsung mengangkat pandangannya dan meringis. "Ah, Banginda, saya hanya bercanda pada Guru Nox. Beliau selalu lucu saat marah. Saya suka melihat ekspresi marah yang dikeluarkan oleh Guru Nox. Apa lagi saat kumis tipisnya seperti seorang remaja laki-laki yang baru puber berdenyut. Itu terlihat sangat lucu bila Ia berambut panjang dan dikuncir kuda" Nel sedikit terkekeh sambil mengaruk keningnya perlahan.
"Haha, kau mengatakan gurumu yang hampir berkepala empat sebagai remaja yang baru puber, lalu kau yang berusia 19 tahun ini apa?" Naver membalas lawakan Nel yang sederhana.
"Ehehehe, nyatanya kumis Guru Nox lebih tipis dari kumis saya yang baru tumbuh" Jawab Nel dengan kekehan kecil sambil mengusap halus kumisnya dengan dua jari.