
Langit merah jambu membentang dihadapan Arthur yang sedang tidur-tiduran ditaman bunga.
"Arthur.... Kau.... dimana Nak?" Suara wanita memanggil Arthur.
Arthur langsung duduk dari tempatnya.
"Aku disini bu....."
Wanita berambut biru gelap dengan mata secerah langit siang, tersenyum pada Arthur.
Wanita itu, adalah Aosora Emelly atau Ibu Arthur.
Emelly duduk disamping Arthur sambil meletakkan sekelopak bunga teratai ungu didekat Arthur.
"Arthur, Ibu sangat menyayangimu. Jangan jauh-jauh dari Ibu" Ia memeluk dalam Arthur dan mengusap kepal Arthur.
Entah kenapa, Hati Arthur terasa seperti teriris. Ia merindukan akan sesuatu. Namun, Ia tak bisa mengingatnya.
Kedua Tangan Arthur, ingin sekali membalas pelukan hangat Ibunya itu. Namun, Ia melepaskan pelukan Ibunya itu.
"Ayo pulang Nak. Kau pasti belum makankan? Arthurku, Kurus sekali" Emelly memegang pipi kiri Arthur.
Tangan Emelly terasa dingin dipipi Arthur. Arthur, memegang tangan Ibunya seraya bertanya, "Ibu, tangan Ibu dingin. Apa Ibu sakit?" Ia mengkhawatirkan Ibunya.
Emelly berdiri dan menarik kedua tangan Arthur agar berdiri.
"Ibu baik-baik saja. Ibu hanya habis MENGAMBIL BUNGA DARI HUTAN"
Arthur kembali tersenyum pada Ibunya.
Arthur mulai merasa ada yang menganjal dengam Ibunya.
Ia melepas tangan Ibunya yang dingim.
"Bunga apa yang Ibu ambil?"
"Bunga kesukaan Ibu. Teratai. Bukankah warna Bunganya cantik? Apa Kau menyukainya Arthur?"
Emelly menyukai bunga Lily Spyder merah. Arthur tau itu dengan pasti.
Ia langsung mundur beberapa langkah saat menyadari kalau itu bukan Ibunya.
Arthur ingat sesuatu yang Ia lupakan Kalau, Keluarganya sudah mati dibantai.
"Apa ini mimpi?"
Arthur tersenyum.
"Ibu, dimana Ayah dan Kak Ram?"
"Mereka? ada didalam. Sedang makan bersama"
Mereka yang asli, pasti akan menunggu Arthur baru akan makan bersama. Arthur, sangat mengenal keluarganya.
"Begitukah? Ibu,.... bolehkah, Aku memelukmu? Aku.... sangat merindukanmu.... Rasanya, seperti Aku baru pulang dari tempat yang jauh"
Air mata Arthur menetes dihadapan sosok yang meniru Ibunya itu.
"Mendekatlah...." Ia merentangkan tangannya pada Arthur.
Wajah Arthur terlihat murung, namun Ia tetap tersenyum melihat wajah Ibunya itu.
Bibir Arthur, terus berdenyut.
"Grep!" Ibunya, kembali memeluk hangat Arthur.
Arthur, mengepalkan kedua tangannya tepat diatas pusarnya.
"Ibu, Apa Ibu membenciku?"
"Ibu, selalu menyanyangimu"
Arthur menutup matanya kemudian, "Pedang Mana"
"CRAAATTTTTTT!!!! BKUKH!!"
Pedang mana Arthur, keluar dan langsung menembus bagian bawah tulang rusuk sosok yang meniru ibunya.
Sosok itu, terbatuk dan memuncratkan darahnya dipipi Arthur.
"Bruk!" Peniru itu, terjatuh didepan Arthur.
Ia melihat Arthur dengan mata yang gemetar.
"Nak..... Apa yang Kau lakukan?"
Darah, merembes hingga membuat baju putihnya menjadi merah.
"Ke... kenapa? Kenapa Kau meniru wujud Ibuku? Siapa dirimu?" Arthur, tidak mundur sedikit pun.
Matanya, terus berair karena Ia ditipu oleh seseorang dengan wujud Ibunya.
"Aku! IBUMU!"
"Kau bukan Ibuku"
Peniru itu berdiri dan sekitarnya tiba-tiba berkabut.
Hawa dingin dirasakan oleh sekujur tubuh Arthur.
"WUUUTSH!" Sepasang mata, dengan berbeda warna tiba-tiba muncul dihadapan Arthur.
"Kau, hebat sekali" Dia bersuara laki-laki dengan rambut hitam yang kini, telah menutup kedua matanya.
Ia menyeringai pada Arthur. Ia, mirip sekali dengan.....
"Nao?"
Sosok itu, semakin menunjukkan taringnya.
"Siapa Kau?"
Arthur menatap wajah Pria itu.
"Kau sendiri siapa? Seenaknya masuk dialam bawa sadarku"
"Ini bukan tempatmu, Arthur"
"Katakan padaku, siapa dirimu? Kau bukan Nao kan?"
Arthur, melihat sayap gelap dibelakang Pria itu.
"Kita pernah bertemu di event itu. Aku ingat denganmu. Siapa Kau sebenarnya?" Arthur menunjuk pria itu.
Pria itu menghilangkan sayapnya dan Ia berubah menyerupai Naver (Ayah Arthur).
Rambutnya yang hitam kini, berubah menjadi biru langit.
Ia menaikkan poni rambutnya kebelakang dan sepasang mata biru langit dengan bulu mata yang lentik melihat ke Arthur.
Ia benar-benar mirip dengan Naver.
"Kau bertanya siapa Aku? Apa Kau sudah mengenal dirimu sendiri?" Nada suaranya berubah.
Arthur membuang mukanya.
"Berhentilah menggunakan wujud Ayahku"
Pria itu kembali menyeringai pada Arthur dan mendekat kearah Arthur.
"Selamat ulang tahun yang ke 17" Pria itu, tiba-tiba mengucapkan selamat pada Arthur.
Mata Arthur terbelalak dan langsung melihatnya.
"PFFFT! APA KAU BERHARAP AYAHMU MENGATAKANNYA?!!"
Mata biru langit yang memandang rendah itu, dengan nada yang mengejek.
Benar-benar menghancurkan hati kecil Arthur.
"BUAHAHAAHA.... Apa Kau ini masih bocah? Umurmu sudah berapa tahun? Bersikaplah dewasa! Kenali dirimu sendiri dengan baik! Siapa Aku? Apa tujuanku hidup? Kenapa Aku hidup kembali? Kau belum mengenal dirimu Aosora Arthur"
"PERLUKAH AKU MEMPERTEMUKANMU DENGAN SANG CAHAYA?"
Arthur tak tau apa yang dimaksud pria itu. Yang jelas, Pria itu tau tentang dirinya.
Namun, Kenapa Dia ingin mempertemukan Arthur dengan Sang Cahaya?
Arthur mengepalkan tangan kanannya dan mengalirkan mananya ke telapak tangan kanannya lalu, "BATTTTZZZZZ! WOSH!!!!"
Arthur melesatkan pukulannya kearah Pria itu, namun Pria itu menghilang dari pandangannya.
Arthur mengambil kuda-kudanya dan melihat sekitarnya yang tiba-tiba menjadi tempat putih yang luas.
"Kretekkkk" Suara retakan terdengar ditelinga Arthur
"Praakkkkkk!!! Bwossshhhhhh!!!!!" Lubang hitam besar, tiba-tiba muncul dibawah Arthur dan karena lubang besar itu, Arthur terperosok tanpa Arah.
Rasanya, tubuh Arthur seperti terjatuh dan melayang.
"BZZZZT!!!!" Enam cahaya terlihat mengelilingi Arthur dan melesat dengan cepat.
"Apa yang sedang terjadi?!"
Dada Arthur merasakan sesak. Seperti, oksigen disekitarnya mulai menipis.
"Aosora Arthur..... ZZZTTTTTT!"
Telinga Arthur tiba-tiba mendengung dengan kencang.
Ia menutup telinganya sangking sakitnya menahan dengungan itu.
".....Salah satu dari.....NGGGUUUUUUUUNGGGGGGGGGG!!!!!!!"
"HENTIKANNNN!!!!!" Arthur berteriak dengan kencang karena aura yang sangat mengitimidasi itu serta, karena suara yang sangat keras.
Arthur mendarat pada sesuatu, namun tempatnya berdiri, berpindah-pindah.
"BRUK!" Ia berlutut sambil menutup kedua telingannya.
"Terimalah......"
"TAKDIRMU, SEBAGAI SEORANG......."
"WUSHHHHTTTTTTTZZZZZZZ!!!!" Angin kencang menerpa tubuh Arthur hingga Ia terjatuh dan tempat sepi yang tenang, menyambut Arthur.
Hanya ada air dan langit yang membentang luas dihadapannya.
Sekujur tubuh Arthur, lemas tak berdaya akibat serangan dalam dari Pria itu.
"Tep!" Pria itu, tiba-tiba muncul dihadapan Arthur.
Setiap pijakannya, membuat Air yang Ia injak menimbulkan gelombang.
Ia berjongkok dihadapan Arthur yang terkapar diatas Air itu.
"Aku adalah Ruri, Musuh terbesar para Titisan"
Kedua mata Arthur berair.
"Aku tak peduli siapa Dia.... Aku, ingin pulang"
Ruri membalik tubuh Arthur.
Ia, masih mengunakan wujud Naver.
"Aku, bisa meniru semua wujud orang yang telah mati dihadapanku. Termasuk, Ayah dan Ibumu"
Arthur membelalakan matanya mendengar hal itu.
Ruri memegang teratai ungu ditangan kanannya dan meletakan teratai itu diatas dada kiri Arthur.
"Terimalah Takdirmu sebagai Titisan terakhir dan, Apakah Kau akan tetap menjadi temanku?"
DEGH!
Sesuatu yang berat, seperti sedang menimpa tubuh Arthur.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Tunggu di Chapter berikutnya ya....