
"Aku, bisa meniru semua wujud orang yang telah mati dihadapanku. Termasuk, Ayah dan Ibumu"
Arthur membelalakan matanya mendengar hal itu.
Ruri memegang teratai ungu ditangan kanannya dan meletakan teratai itu diatas dada kiri Arthur.
"Terimalah Takdirmu sebagai Titisan terakhir dan, Apakah Kau akan tetap menjadi temanku?"
DEGH!
Sesuatu yang berat, seperti sedang menimpa tubuh Arthur.
...****************...
Teratai itu, mulai menyatu dengan diri Arhur.
Dada kiri Arthur benar-benar memanas. Ia merasa sangat sesak.
Tangan kanannya, berusaha ia angkat untuk melepaskan teratai itu dari atas dadanya.
Namun, itu bukan teratai biasa. Tangan Arthur tembus saat akan mengambil teratai ungu itu.
Ruri menyeringai pada Arthur.
"Bagaimana? Apa.... ingin ku percepat saja?"
Ia memegang teratai itu dan menutupnya dengan tangan kanannya.
"BWOOOOSHHHHHHHH! ARRRRGGGGGGGHHHHHHHHH!!!!!!"
Cahaya Ungu keluar dari dada kiri Arthur dan Mananya meledak secara bersamaaan. Akibatnya, Arthur langsung berteriak dengan kencang.
Ia terbangun dari tidurnya.
Ia melihat markas pemberantas Iblis yang sudah porak-poranda.
Pecahan kaca, ada dimana-mana.
"Apa yang terjadi?"
Pandangan Arthur seperti di Zoom in dan Zoom out.
Ia melihat Razel yang muncul dari arah pintu dan mengulurkan tangannya pada Arthur.
"Arthur.... Kau baik-baik saja?"
Telinga Arthur masih mendengung. Ia tak bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Razel.
Ia berusaha memahami pergerakan bibir Razel.
Razel terus mendekat perlahan kearah Arthur.
Arthur berdiri dan.... "BRUK!" Ia terjatuh. Kakinya lemas dan pandangannya berkunang-kunang.
Kedua lututnya dan kedua telapak tangannya terkena pecahan kaca.
Ia merasakan rasa pedih ditelapak tangan dan lututnya itu.
Betapa terkejutnya Arthur saat melihat telapak tangan kirinya yang penuh dengan tanda seperti akar ungu yang menjalar.
Dari pecahan kaca itu juga, Arthur melihat wajahnya yang telah dipenuhi oleh tanda yang sama dengan tangan kirinya itu.
Mata kirinya sudah menghitam dengan kornea biru.
"Apa yang terjadi denganku?"
Razel, merasakan mananya seperti keluar dari tubuhnya dengan kuat.
"Apa ini karena tanda kutukan Pangeran Aosora itu?"
Ia menarik Arthur berdiri dan mendekapnya.
"Tenanglah. Kau.... akan baik-baik saja. Kau hanya demam" Razel memegang kepala bagian belakang Arthur.
Mulut Arthur berada dibahu kanan Razel.
Ia mendengar apa yang Razel katakan.
"Tenangkan dirimu"
Hati Arthur bergetar mendengar ucapan Razel.
"Wakil.... Aku takut.... Apa yang terjadi denganku? Ada apa dengan mataku?"
Mana Razel semakin kuat terhisap oleh Arthur.
Arthur masih belum menyadarinya.
"Jangan takut. Kau hanya demam. Kembalilah beristirahat sejenak. Aku akan memanggilkan Guru Nox untukmu...."
Ia mendudukkan Arthur di sofa tempat Arthur tertidur.
Razel, menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.
Arthur melihat wajah Razel yang memucat.
"Wakil, Apa Kau sak..."
"Syuuuuungggg!" Tubuh Razel tiba-tiba lemas dan Ia kehilangan keseimbangan didepan Arthur. "Bruk!" Razel, tak sadarkan diri. Kemudian, Ia jatuh menimpa tubuh Arthur.
Arthur membelalakan matanya.
"WAKIL!!!! APA YANG TERJADI DENGANMU?!!!!"
Val melesat kearah arah Arthur dan langsung melemparkan tendangannya tepat didada Arthur hingga Arthur, terhempas jauh dan merusak pembatas ruang sebelah yang terbuat dari triplex.
"BKHUK!" Arthur memegang dada Arthur yang sesak.
Ia terduduk dan melihat Val yang membawa Razel pergi dari markas itu.
"Apa yang barusan terjadi?" Mata Arthur bergetar melihat perlakuan Val barusan padanya.
"*Dimana Archie?"
"Apa.... Dia pergi meninggalkanku*?"
Arthur berdiri dan melihat Liebe, Shera, Lina dan tiga Serigala sihir berada dijarak 5m dihadapannya telah mengeluarkan pedang mana Mereka.
"Tunggu..... Kenapa Kalian mengeluarkan pedang mana Kalian? Apa Kita sedang diserang oleh musuh?"
Liebe menunjuk Arthur dengan pedang mana itu.
"Cepat nonaktifkan sihirmu Arthur. Jangan membuat kami menyerangmu karena Kau tak bisa mengontrolnya"
Arthur tak tau apa yang diucapkan oleh Liebe. Ia mengangkat kedua tangannya.
"Aku tak paham maksud Kalian. Aku...... WOSH!" Arthur belum usai menjelaskannya dan Liebe, tiba-tiba sudah ada dihadapannya.
"SYUUUNG!!!!!" Liebe menebaskan pedangnya di jarak yang cukup dekat dengan Arthur.
Arthur berlutut untuk menghindari serangan Liebe kemudian, Ia merangkak dan berguling dengan cepat untuk menghidari serangan Liebe.
"TIDAK BISAKAH KALIAN MENJELASKAN PADAKU APA YANG SEDANG TERJADI?!"
Liebe, mulai kehilangan konsentrasinya karena kehilangan mana dalam jumlah yang banyak.
"Kau! menyedot mana Kami! Cepat nonaktifkan!"
"Drap!!! Drap!!!" Arthur berlari menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
"Menyedot mana?! Aku tidak tau!! Aku tak tau Apa yang harus Aku lakuk... DEGH! BRUK!"
Tubuh Arthur terjatuh dan tubuhnya, tak bisa Ia gerakkan sesuai yang Ia inginkan.
"!!!!" Liebe dan yang lain terkejut melihatnya.
Mereka, tak ada yang berani mendekat ke Arthur.
"TEP! WOSH!" Tiba-tiba, muncul sosok berjubah Maron dan menyambar Arthur serta, membawanya berteleport menghilang dari anak tangga.
"Apa itu?" Liebe melihat teman-teman dibelakangnya untuk memastikan apa yang Ia lihat barusan.
"Rambutnya putih. Mungkin Archie? Tapi, badannya terlalu kecil untuk ukuran Archie" Jawab Shera.
...****************...
Arthur berada dikamarnya dan Ia melihat orang yang telah menolongnya itu. Dia adalah Daeva Nerezza.
Disini, Arthur tidak ingat siapa itu sosok didepannya. Sebab, Daeva, telah mengambil ingatan Arthur (Di bab ke 15).
Kedua mata Arthur terbelalak melihat Sosok Iblis dihadapannya.
Rambutnya putih, matanya merah mirip dengan Archie namun wajah dan bentuk tubuhnya berbeda 100%.
"Apa... Kau ayah Archie?"
Ini tidak pertama kalinya Arthur bertanya seperti ini.
"Dasar bodoh" Daeva menghela napas sambil melukai telapak tangan kanannya yang tak bersarung tangan.
Ia memegang kepala Arthur.
"WUSHHHH!!!!!!" Sihir Arthur menyerap dengan kuat mana milik Daeva yang tak terbatas.
"Apa yang Kau......Akh..." Arthur merasakan rasa panas yang mengalir di tubuhnya.
"ARGGGGGHHHHHH!!!!!" Ia berteriak dengan kencang merasakan sakit yang amat luar biasa disekujur tubuhnya.
Hidung Arthur mulai mengeluarkan darah.
Liebe dan yang lain termasuk Val langsung berlari ke kamar Arthur.
Saat sampai disana, Mereka dikejutkan dengan tubuh Daeva yang telah terlilit sihir pengikat berbentuk rantai dari tubuh Arthur.
"Iblis?.... Siapa Dia?"
"BAZZZT!!!Bruk!!!" Daeva mengibaskan tangannya kearah mereka berempat hingga mereka tak sadarkan diri setelah terkena sihir misterius dari Daeva dan Serigala sihir itu, tak bisa menggerakkan tubuhnya setelah mendapatkan efek dari serangan Daeva.
"Ap...pa... yang....Ka....u....lak...kuk....kan?..." Mata Arthur yang berair melihat lingkaran sihir yang cepat mengelilingi tubuh empat orang itu kemudian masuk kedalam tubuh Mereka.
"Diamlah. Jangan sampai hal ini terulang lagi padamu"
Daeva tak merasakan apapun walau mananya dikuras banyak oleh Arthur.
Mata kiri Arthur yang hitam, kornea biru langitnya, berubah menjadi merah karena mana yang Ia serap dari Daeva.
"Aku, Daeva Nerezza.... Menyegel sihirmu, Aosora Arthur dengan menggunakan darahku. Wosh!" Darah Daeva mengalir diwajah Arthur.
Darah itu, membentuk sebuah tulisan dan mengalir ke dada kiri Arthur.
"Kunci!" Ucap Daeva.
"BAZZZTZZZ!!!!!" Sihir Merah Daeva langsung menyelimuti Arthur.
FLASH BACK SEBELUM KEDATANGAN TSUHA USAI