The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Perjalanan ke Aosora [Penyelesaian]



Rombongan Arthur tiba-tiba di serang oleh sosok misterius. Akibatnya, kereta rombongan Arthur rusak parah.


Dera mengikat pergelangan kaki kirinya yang keseleo setelah tertindih pintu kereta kuda. Sebelumya, Tsuha berkata pada Arthur untuk terus berjalan ke utara dan melintasi sungai yang terhubung dengan laut lepas yang langsung menuju Meganstria.


Dera memiliki pilihan lain setelah melihat rentetan masalah yang terjadi di sekitar Arthur. "Pangeran, jangan berjalan sendirian. Kita bantu Tsuha, kemudian kita akan menunggu kedatangan dari rombongan Tuan Verza" Dera merasa ada yang tidak beres dengan hawa hutan disekitarnya. Ditambah lagi, Dera melihat kabut merah yang turun.


Dera melihat langit malam yang bulannya gerhana.


"Ini buruk. Kami tidak akan sampai di Aosora tepat waktu. Apa keterlambatan kami, akan memanggilkan bala bantuan?" Dera menarik pedang besinya dan bersiaga untuk menyerang.


Archie setuju dengan ucapan Dera. Ini bisa saja jebakan musuh yang digunakan untuk memisahkan Arthur dengan rombongannya.


"Arthur, tetaplah berdekatan dengan sisa orang yang ada dipihakmu dan bantu-lah Tsuha" Ucap Archie di dalam tubuh Arthur.


Archie sendiri tidak tau apa yang tengah terjadi. Walau begitu, ia bisa merasakan ke anehan di dalam hutan ini.


Arthur mengeluarkan pedang mananya yang berwarna biru. Dalam batin Arthur, ia merasa sangat sedih. "....Mereka berada dalam bahaya karena aku. Mengapa aku selalu menjadi bencana untuk orang sekitarku? Apa ini alasan orang tuaku melarangku untuk keluar? Mereka tidak ingin aku menyakiti orang lain?"


JUMP! TRASSSSHHH!!!


Arthur melompat ke arah kubah akar yang diciptakan oleh Tsuha kemudian, ia membela kubah itu dengan pedang mananya. Dera sudah bersiap. "SYUUUUUT! JLEEB!" Pedang besi yang di gunakan oleh Dera berhasil menusuk kepala kusir itu.


"BRUK!" Tubuh kusir itu terjatuh di tanah dalam keadaan terbakar.


Api biru itu, adalah api sihir yang tidak bisa di padamkan dengan air atau kain. Api itu tidak akan menyebar kesekitarnya. Api itu, hanya membakar objek yang ditujukan padanya.


Mengapa api biru itu membakar dua kusir Arthur? Bila Arthur adalah targetnya, mengapa tidak langsung ditujukan kepada Arthur.


Ia menyeringai dengan lebar. Sosok berambut hitam yang membakar dua kusir itu dengan sihirnya. "Tinggal menghitung hari. Kemudian, aku akan pergi dari sini untuk menjalankan alur yang kau buat, Alder" Ucap sosok itu yang menujukkan serigaiannya dengan gigi taringnya yang lebih panjang.


...****************...


"DRAP! TRASHHHHHSSS! CRAT!"


Nox menebas kepala kusir itu yang berbalik menyerang ke arahnya.


Daeva meninggalkan Nox dan Ia melihat sekumpulan Iblis yang berjalan ke arah utara sedang mengepung Naver dan dua orang lainnya yang merupakan perwakilan dari markas penelitian dan keamanan Kemasyarakatan.


Daeva turun tangan untuk mengalahkan iblis-iblis itu yang tiba-tiba muncul di tempat yang tidak seharusnya.


DAGHHH!!!


Kaki kanan Daeva langsung menendang bebearapa iblis di sana tanpa diketahui oleh Verza dan dua orang lainnya.


"Siapa yang menyuruh kalian?" Daeva menarik kera salah satu dari iblis itu.


Iblis yang di serang balik oleh Daeva melohat wajah Daeva dengan jelas.


"Tuan. Bukankah Anda yang menyuruh kami? Aosora Arthur ada di depan sana. Kita akan membunuhnya sebelum dia menjadi Putra Mahkota Aosora" Iblis itu memegang pipinya yang sakit karena tendangan Daeva.


Mata Daeva terbelalak. Ia termangun di tempat. "Apa maksudnya ini?" Dunia Daeva serasa berputar-putar. "Apa yang sedang terjadi?" Tubuh Daeva serasa menciut.


"Jangan bilang ini ulah dia" Daeva teringat dengan sosok bermasalah di masa lalunya.


"GRRRT!" Daeva kembali menarik kera pakaian iblis di hadapannya itu.


"Bawa mundur teman-temanmu. Di depan sana, Shinrin dan Aosora sudah menyiapkan pasukan untuk mengepung kalian" Daeva membohongi para iblis itu agar mundur dan kembali ke Akaiakuma.


Iblis itu membelalakan matanya. "Tidak mungkin. Baiklah, saya akan memberitahu yang lain untuk mundur. Tolong, Anda juga harus berhati-hati Tuan Daeva. Saya dengar kabar bila Iblis bertanduk satu akan bangkit secara utuh dan Akaiakuma dalam bahaya" Iblis itu membungkuk pada Daeva kemudian ia membunyikan peluit tiga kali kode mereka untuk mundur.


Daeva kembali menaiki dahan pohon. Ia melompat antar dahan dan mencari Arthur. "Ruri sialan. Dia sudah berjalan selangkah di depanku. Apa yang harus aku lakukan? Para titisan, tidak ada yang percaya dengan ucapanku. Bila aku mendatangi mereka, mereka hanya akan membuang tatapannya dan menganggapku bodoh. Cih! Mengingat hal itu. Benar-benar membuat segalanya menjadi kacau" Daeva tiba-tiba berhenti di atas dahan pohon yang ia pijak.


"Daeva Nerezza, perluka aku memanggilmu titisan yang tak dianggap?"


Daeva melihat ke arah belakang tempat ia berdiri.


Sosok bersayap, telah duduk di dahan yang dilewati oleh Daeva.


"RURI!" Daeva mengkernyitkan keningnya dan mengeluarkan belati dari sabuk yang diikatkan di paha kirinya.


"PFFT!" Sosok bersayap gelap yang di panggil Ruri itu menertawakan Daeva. "Kau sangat payah Nerezza. Apa hanya Kau saja titisan yang tidak mampu mengeluarkan sihirnya di hutan yang penuh sihir ini?" Tanya Ruri sambil membuka poni yang menutup matanya. Daeva melihat iris Ruri yang biru dengan pupil merah.


Daeva mengepalkan tangan kanannya. "Apa yang kau inginkan Ruri!? Apakah tidak cukup dirimu yang telah merusak namaku?" Tanya Daeva yang kini menatap tajam sosok di depannya.


Sosok itu terkekeh sambil memegang apel di tangannya. Ia melemparkannya ke arah Daeva. Daeva menangkap apel sihir itu.


"Apa aku harus mengingatkan apa tugasmu sebagai Titisan yang di percaya oleh sang cahaya? Ya. Tak perlu ku ingatkan, tentunya kau sudah paham dengan yang ku maksud" Sosok itu menyeringai pada Daeva.


"Membunuh Aosora Arthur atau menjadikan dia bidak utamaku. Kau paham artinya kan? Ku tunggu hingga kenaikannya menjadi Putra Mahkota. Bwosh" Sosok itu menghilang seperti angin.


Daeva melihat kedua telapak tangannya yang gemetar. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin. "SRUKKK!" Daeva berjongkok sambil memegang kepalanya dan rambutnya terlihat sangat acak.


"Apa yang harus aku lakukan? Bila aku membunuh Arthur, maka aku-aku sama saja membunuh para titisan dan menghancurkan Negri ini. Arthur adalah kunci untuk para Titisan. Aosora Alex, kau membuat perjanjian yang bodoh dan berimbas pada semua orang di Negri Arden. BRAK!" Daeva menghantamkan tangan kanannya pada batang pohon di sebelahnya.


...****************...


Nao bertemu dengan Verza dan dua orang lainnya. "Kepala Verza! Dimana kereta kuda kalian?!" Nao melihat salah satu dari dua perwkilan itu sedang membalut lengan kanan Verza dengan perban.


Nao membelalakan matanya. "Apa yang terjadi?" Ia bergegas mencari obat pereda nyeri di sakunya dan langsung memberikannya kepada Verza.


Verza melihat Nao dan menerima obat yang diberikan oleh Nao. "Ada Iblis yang menyerang dan kenapa kau kemari? Dimana Pangeran Aosora?" Tanya Verza sambil membuka botol air minumnya untuk meminum obat pemberian Nao.


Nao melihat ke langit. "Pangeran Aosora dan lainnya aman. Mereka kemungkinan besar sedang menunggu kita. Anda dan yang lain teruslah berjalan ke utara. Dimana Guru Nox berada?" Tanya Nao sambil mengambil bungkus obat yang Verza buang sembarangan dan memasukkannya ke dalam sakunya kembali.


"Ada di belakang. Bisakah kau membantu Nox untuk kami? Kami akan segera menemui Pangeran Aosora dan tolong salah satu dari kalian berdua bantu dia untuk menuju ke Nox" Pinta Verza sambil berdiri dan merapikan pakaiannya yang lusut.


Nao mengangkat tangannya "Tidak perlu. Kalian, bantu saja Kepala Verza dan bantu Arthur untuk melanjutkan perjalananya. Aku akan membantu Guru Nox. Tolong berhati-hatilah. Drap!" Nao berlari menuju Nox berada.


...****************...


Seperti yang di ucapkan oleh Nao kepada Verza. Arthur, Dera, dan Tsuha menata kembali barang bawaan Arthur yang berantakan. Tsuha mendatangi jasad kusir itu dan tidak menemukan satu jejak orang yang membuat sihir itu yang tertinggal.


Ini adalah kasus yang tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa. Tsuha sendiri, tidak pernah melihat sihir semacam ini. "Kak Dera, apa kau pernah melihat kasus yang setara dengan hal ini selama empat tahun kau mengabdi pada Shinrin?" Tanya Tsuha sambil melihat ke arah Dera yang mengikat dua tas bawaan Arthur.


"Tidak. Ini pertama kali aku melihatnya. Bila ada kasus yang sama seperti ini, harusnya Guild Penyidik mengetahui sesuatu" Jawab Dera.


Wajah Arthur telihat sangat pucat. Dua orang mati di hadapannya di hari yang sama. "Itu adalah sihir kiriman. Ini salah satu sihir pelepasan yang memiliki tigkatan sihir kelas terlarang" Jelas Arthur sambil melihat ke arah Tsuha.


"Apa kau pernah melihat kasus seperti ini?"


"Kakek buyutku adalah penggunanya. Dia yang menciptakan sihir itu. Yang ku tau, harusnya hanya dia yang bisa menggunakannya. Sebab, dia tidak pernah menurunkan sihir itu kepada anaknya" Jelas Arthur sambil mendatangi Tsuha dan melihat jasad itu dengan seksama.


Mata jasad itu sudah menghilang dan jasadnya dalam kondisi mulut yang terngagah. "Ini memang sihir yang sama seperti sihir yang di ciptakan kakek buyutku. Namun, perlu diketahui. Bila keluarga Aosora, tidak ada yang tau bagaimana cara mengeluarkan sihir ini" Arthur menutup jasad itu dengan salah satu kemejanya yang ia bawa.


Tsuha melihat wajah Arthur yang tidak menunjukkan senyumannya sama sekali. Arthur terlihat berbeda. Biasanya ia adalah sosok yang riang dan selalu berteriak dimanapun.


Tsuha membuang pandangannya. Ia terlalu lama menatap Arthur.


"Perlukah kita mengubur jasadnya?" Tanya Tsuha sambil mengosok tengkuknya.


Arthur berdiri dan melirik Dera yang sibuk menata barangnya. "Tidak perlu, tidak lama lagi jasadnya akan mendingin kemudian akan hancur seperti abu" Jawab Arthur yang melihat kemeja putihnya yang ia gunakan untuk menutup jasad itu perlahan kecokelatan karena panas jasad itu.


Tsuha langsung melihat Arthur yang pergi begitu saja. "Dia tau banyak. Berapa buku yang sudah ia baca selama ini?"