The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Nao bagian 4 [Perubahan]



Jauh didalam hutan sihir. Sesosok bersayap hitam sedang bertengger di atas dahan pohon besar sedang memperhatikan Iblis yang berbicara dengan sekumpulan serigala sihir dibawah pohon tempat Ia berada.


"Sepertinya, akan ada sesuatu yang seru. WOUSHHHH! TEP!"


Sosok itu, berdiri menjatuhkan dirinya dari atas dahan pohon. Tubuh sosok itu, mengeluarkan asap gelap dan sosok itu, berubah menjadi serigala sihir ukuran dewasa.


Ia, mendekat kearah Serigala lainnya, seperti sedang berkomunikasi dengan serigala sihir yang lain.


Sosok itu, membuat sekelompok serigala sihir berpihak pada Iblis itu. Iblis itu, adalah De luce Arnold.


...****************...


Hari itu tiba-tiba menjadi gelap. Awan mendung berkumpul di sekitar hutan. Gabriel yang sedang melatih Tsuki dan Nao dipanggil oleh petani lain, untuk membantu mereka membetulkan aliran air sawah yang tiba-tiba macet.


"Eh? Aku sudah membetulkannya kemarin. Bagaimana mungkin itu akan rusak lagi?" Tanya Gabriel saat mendatangi petani itu.


Gabriel memang telah membetulkan aliran air tadi malam setelah hujan deras di Shinrin. Ia menggaruk tengkuknya karena kesal. Gabriel menghela napas sambil berkata "Pasti ulah babi hutan lagi. Sungguh sangat disayangkan Aku harus pergi ke pinggiran hutan untuk membetulkannya. Padahal, hari ini Aku sedang melatih anak-anakku"


Petani itu memegang bahu Gabriel dan mengosoknya dengan halus. "Mau bagaimana lagi? Diantara Kami, hanya Kau saja yang mampu menguasai sihir. Kami, memerlukan bantuanmu"


Pada akhirnya, Gabriel mendatangi anak-anaknya dan Nao sambil berkata "Nak, Maafkan Paman. Hari ini kita sampai di sini saja pelatihannya sebab, Paman harus membersihkan aliran air yang tersumbat untuk sawah". Mendengar itu Tsuki dan Nao tidak bisa berkata apa-apa. Karena Mereka berdua tahu kalau petani-petani di sini tidak bisa menggunakan sihir Mereka.


Di sisi lain, sedang Tsuha memperhatikan mereka dari kejauhan "apa yang harus aku lakukan?" Gumam Tsuha sambil menatap langit. "Aku bahkan tak bisa lebih kuat lagi untuk melindungi Pangeran Aosora Arthur. Apa aku bisa melindungi adikku?" hati kecil Tsuha benar-benar ngilu ya sedih, ia ingin menangis. Ia ingin melupakan Arthur. Namun, Hal itu tidak akan mungkin. Sebab, Tsuha masih diliputi oleh rasa bersalahnya.


Gabriel telah pergi meninggalkan Putra-putranya. Glashya juga, sedang bekerja dikebun buah bersam Ibunya Nao dan Ibu-ibu yang lain. Kehidupan Tsuha dan Tsuki, berubah perlahan.


Sore itu, Tsuha tak melihat Nao setelah kepergian Ayahnya. "Paman. Ada Nao?" Tsuha dan Tsuki mendatangi rumah Nao untuk mengajak Nao bermain lagi.


Ayah Nao berdiri sambil mengusap keringat dikeningnya dengan handuk yang mengalung dilehernya. "Tadi, Nao pergi bersama temannya. Katanya, ada seru. Paman pikir, Nao mengajak Kalian juga" Tsuha dan Tsuki saling melihat setelah mendengarnya. "Kemana Mereka pergi?" Tanya Tsuha pada Ayah Nao.


"Paman kurang tau. Mereka berdua, berjalan kearah timur. Coba, Kalian kesanalah".


Tsuha dan Tsuki, pergi dari sawah yang menanam umbi jenis kentang-kentangan itu. "Kita pulang saja" Tsuha memutuskan secara sepihak untuk tidak mencari Nao yang sedang bermain dengan temannya yang lain. Tsuki tidak mau. Ia masih ingin bermain dengan Nao.


"Nao tadi udah janjian sama Aku bakalan main layangan. Lagi pula, Nao tidak punya teman bermain selain Kita berdua" Tsuki berhenti di jalan saat mendengar kalau Tsuha berniat pulang.


Tsuha membalik tubuhnya dan melihat kearah Tsuki.


"Jangan keras kepala. Nao pasti punya teman selain Kita. Ayo pulang" Tsuha memaksa Tsuki untuk pulang. Ia mengulurkan tangannya pada Tsuki.


"Sialan! Kenapa Kau banyak berubah Tsuha! Kau dulu, tak sedingin ini padaku dan Nao! Dulu! Kau yang paling bingung saat gak ada Nao! SEMENJAK KAU KEMBALI BERSAMA IBU! KAU BENAR-BENAR BERUBAH!" Tsuki getam dengan Tsuha. Menurut Tsuki, Tsuha sudah berubah 180⁰ sejak terakhir kali Ia bertemu 6 tahun yang lalu sebelum Tsuha pergi ke Aosora.


Tsuha hanya menatap Tsuki. Ia tak peduli bila dikatakan telah berubah. Bukan hanya Tsuki yang mengatakannya. Kedua orang tuannya, mengatakan hal yang sama seperti Tsuki. "Lalu, Apa Aku harus selalu seperti dulu? Apa Aku tak memiliki hak atas diriku sendiri?". Tsuki tak paham maksud yang dikatakan oleh Tsuha.


Tsuha mendekatkan dirinya pada Tsuki yang lebih pendek 5 cm darinya. Tsuha memegang kepala adiknya dengan kedua tangannya. "Aku berharap, Kau tak seperti Aku. Jadilah yang lebih baik. Lakukan semua yang ingin Kau lakukan". Tsuha menurunkan tangannya setelah Ia mengatakan itu pada Tsuki.


Tsuki benar-benar tak paham dengan apa yang dimaksud oleh Tsuha. "DAGH!" Ia menghentakkan bahu Tsuha yang ada didepannya hingga Tsuha mundur beberapa langkah. "Apa yang Kau katakan!? Apa Kau seolah bersikap lebih dewasa dariku!? Kita sama-sama berusia 11 tahun! Jangan sok menjadi yang paling menderita disini!".


Tsuki, meninggalkan Tsuha begitu saja. Tsuha langsung menundukkan kepalanya. Di dalam benak Tsuha, Ia berkata "Bodoh! Apa yang barusan Aku katakan! Ini bukan di Aosora! Aku harus mulai meninggalkan semua kebiasaanku saat berada di Aosora. Aku.... Aku akan aman bila di Shinrin"


Keramaian disana dan suara-suara disana, membuat perut Tsuha tidak enak. Ia mual.


Napas Tsuha kembali sesak dan pandangan menjadi riuh. Seolah, oksigen disekitar Tsuha menipis. "Tenanglah, tak apa. Aku akan aman bila bersama Ayah dan ada Guru Nox yang menjagaku disini". Sekujur tubuh Tsuha bergetar dan mulai berkeringat dingin.


Tsuha masih belum penuh menghilangkan traumanya walau sudah menjalani Trauma Healing yang hampir selama dua bulan Ia jalani setelah kepulangannya dari Aosora.


Ia menguatkan dirinya untuk pulang kerumahnya dalam kondisi seperti itu.


Dengan pandangan yang samar, Ia melihat Tsuki dan Nao berjalan bersama mendatanginya sambil membawa sebuah kayu yang panjang dan sebuah jaring diujungnya. "Hei Tsuha. Mau ikut bersama Kami?" Poni model rambut Nao turun dan menutupi matanya.


Tsuha berusaha bersikap seperti biasa dan mengatur pola napasnya."Ada apa dengan rambutmu? Gaya baru?" Tanya Tsuha pada Nao sambil memegang dadanya yang sesak.


Nao meringis. "Tentu saja. Menurutku, model rambut seperti ini, akan keren" Nada bicara Nao yang biasanya naik turun, Kini berubah menjadi terarah.


"Apa Kau sakit?" Tsuha, sangat sensitif dengan perubahan kecil orang disekitarnya. Ia takut, Ia hampir cemas.


Nao menarik kembali rambutnya kebelakang. "Apa model itu, tidak cocok dengan wajahku?". Tsuki menerutkan keningnya karena Tsuha terlalu banyak bertanya hal-hal yang tak penting.


"Ayo! Katanya Kau mau menangkap ayam kepala lima didalam hutan? Tsuha, kalau Kau berniat melarang Kami, mendingan gak usah ikut" Sela Tsuki ditengah perbincangan Mereka.


Tsuha mulai menggaruk-nggaruk telinga kanan bagian belakangnya. "Apa Kalian sudah izin pada Ayah?". Tsuha tak berniat melarang mereka.


Keduanya terdiam sejenak. Kemudian, Nao meringis. "Kami, sudah mendapatkan Izin. Apa, Kau takut Tsuha?~". Untuk pertama kalinya, Nao mengeluarkan syara bernada.


"Ah" Tsuha mundur beberapa langkah. Ia tak bisa meninggalkan Mereka berdua begitu saja. "Didalam sana, ada banyak hewan buas. Ada baiknya kalau,..." Tsuha berhenti berbicara. Ia hampir melarang Tsuki dan Nao kesana.


"Tentu. Aku akan ikut bersama Kalian" Ucap Tsuha sambil menggosok belakang daun telingannya yang terluka akibat Ia garuk.