The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Isi Bab 2 Novel Marsyal



Pada akhirnya, Tsuha harus menerima para Serigala sihir itu dengan paksa. Dan Mereka, selalu mengikuti Tsuha kemana-mana termasuk dikamar mandi dan di tempat tidurnya.


Tsuha selalu menunggu kesempatan untuk menunjukkan pada yang lain kalau Serigala sihir itu bisa berbicara.


Tsuha selalu mengajak mereka berbicara setiap saat.


Arthur dan Archie yang melihatnya merasa kasihan karena mereka pikir Tsuha tidak memiliki teman.


Di malam hari, Arthur kesulitan untuk tidur.


Ia kembali membaca kelanjutan Novel milik Marsyal.


Ketiga Serigala sihir itu mengendus aroma Novel itu dan langsung melihat Ke Arthur bersamaan.


"Tsuha. Apa Kau ingin membaca novel buatan Kapten Marsyal ini ? Buku ini cukup seru untuk kita baca. Disini juga menceritakan tentang kehidupan Titisan Elf"


Enam teliga Serigala itu bergerak bersamaan.


Mereka mendekat Ke Arthur sambil mengoyang-goyangkan ekor mereka.


"Aku tidak tertarik dengan Titisan. Aku hanya ingin mereka menjauh dariku" Tsuha terlihat depresi.


"Kalian, Serigala sihir mau berteman denganku ? Jangan dekati Tsuha. Dia itu bukan orang yang baik" Arthur tersenyum sambil mengaruk telinga bagian belakang dua serigala sihir disana.


Dua serigala sihir yang digaruk oleh Arthur mengoyangkan ekornya, tanda mereka menyukainya.


Satu Srigala sihir yang memiliki tubuh tegap melihat kearah Tsuha yang melihatnya.


Tsuha mengalihkan pandangannya.


Serigala sihir itu mendekat kearah Tsuha dan menjilat wajah Tsuha.


Tsuha hanya diam dan Ia menelungkupkan tubuhnya.


Serigala sihir itu, memiliki panjang yang hampir 2m dengan bobot yang mencapai 70 kg itu, naik dikasur Tsuha, kemudian menginjak injaknya dan tidur disampingnya.


Tsuha menghela napas.


Arthur membacakan Novel itu pada dua serigala sihir yang duduk dibawahnya.


"....Kemudian, datanglah satu sosok yang bisa meniru wujud orang lain dan sosok itu, bisa mengubah keistimewaannya. Dia sangat dekat dengan ku dan teman serumahku, Liam. Kami tidak menyadarinya. Kalau Dia adalah seorang laki-laki. Aku sempat menyukainya karena Ia memiliki tubuh layaknya seorang wanita dan Dia begitu cantik dengan wajah Elf. Aku menyukainya bukan hanya karena wajahnya, Tapi, Karena Dia memiliki karakter yang baik"


Arthur sedikit terkejut saat membacanya. Tapi, Ia juga tertawa karena si tokoh 'Aku' menyukai wanita yang ternyata dia laki-laki.


"Wanita itu, dekat sekali dengan Putra Mahkota karena, Dia adalah Guru pribadinya. Dia begitu hebat saat memainkan sihirnya. Aku mulai menyukainnya. Namun, saat rasa cinta itu memuncak, Aku dibutakan olehnya dan Aku mengusir temanku itu karena Aku melihat temanku yang hampir memperkos*nya"


Arthur tertawa saat membacanya karena Ia tau kalau keduanya itu sama-sama memiliki pedang.


Tsuha mendengarkan semua hal yang dibacakan oleh Arthur.


"Aku mengusir temanku itu. Aku membenci temanku itu karena Pria yang menyamar menjadi seorang wanita. Dia memfitnah temanku itu. Andai Aku mendengarkan ucapan temanku itu sejak awal. Mungkin semua hal itu tidak akan terjadi"


"Ini adalah awal dari kebencian sesama Titisan"


Bab kedua yang dibaca Arthur usai sampai disana.


Arthur membalik bab berikutnya.


Bab berikutnya, berjudul 'Terbunuhnya, Putri pertama Titisan Iblis"


Arthur melihat kearah Tsuha.


Ia tau kalau Tsuha belum tidur.


"Tsuha. Apa Kau tau makna dari pangkasan novel yang ku baca ini ?"


Tsuha melihat ke Arthur.


"Bodoh. Orang pintar akan menjadi bodoh karena dibutakan oleh cinta. Rasa yang abstrak seperti cinta itu, bisa membuatmu kehilangan orang yang sangat Kau percayai hanya karena satu masalah kecil. Menurutku, cinta itu seperti pewarna yang diteteskan pada air dalam gelas. Setetes saja pewarna itu, bisa mengubah warna Air dalam gelas. Sekarang, Kau pasti sudah pernah merasakan rasa abstrak seperti itu. Antara suka, gelisah, ingin memiliki, berat, berbunga-bunga. Katakan dengan jujur ! Kau sudah pernah merasakannyakan ?! " Tanya Tsuha dengan nada yang sedikit kesal karena Ia diajak bicara.


"Ahahahaha" Arthur tertawa garing.


"Ayo jawab. Jangan hanya cengengesan saja"


Tsuha memaksa Arthur untuk menjawab jujur.


Archie ingin mendengar jawaban Arthur.


"Ah.... Apa rasanya seperti membaca serial buku yang ingin Kau baca ? dan seperti membaca buku yang sangat Kau sukai tapi bukunya sudah tamat ?..." Lirih tanyanya.


"Hah ?"


"Serius ?" Archie agak kaget mendengarnya.


"Ya, Aku merasakan perasaan suka saat mendapatkan buku baru. Lalu karena bukunya sangat seru, Aku tidak sadar membacanya seharian sampai habis dan itu rasanya berat serta menganjal. Kemudian, karena serial keduanya baru rilis dan Aku melihat orang lain sudah memilikinya, Aku juga ingin sepertinya, memiliki buku itu. Setelah Aku mendapatkannya, hatiku sangat berbunga-bunga dan lanjut membacanya"


Mereka semua melihat ke arah Arthur bersamaan.


"Ah, sudahlah.... Lalu, bagaimana dengan kelanjutannya ?" Tsuha lelah untuk menjelaskannya pada Arthur.


"Bab duanya udah habis. Mau ku bacakan bab 3 ?"


Salah satu serigala sihir menguap.


"Cklek !" Pintu kamar mereka dibuka oleh Razel.


Razel memiliki karakteristik bermata cokelat tua dan berambut hitam. Kemudian, Razel memiliki tinggi yang sama seperti Tsuha namun, lebih tinggi 0.5 cm (173.5 cm).


Razel datang dan Ia terlihat menggunakan celemek.


"Pangeran Arthur dan Tsuha. Bolehkah Kita berbincang diluar? Ajaklah Serigala sihir itu. Dan bawa seragam kalian" Ajak Razel.


Serigala sihir itu melihat Razel dan langsung berjalan keluar saat pintu itu dibuka.


Razel sedikit terkejut melihat Tiga ekor Serigala sihir bisa dengan mudah akrab dengan dua anggota barunya itu.


Sebelum ada mereka berdua, Serigala sihir itu adalah milik Kanza, Anggota Tim Guild ini yang terbunuh saat mendekati Aokuma kurang lebih empat tahun yang lalu.


Terbunuhnya Kanza sangat misterius, karena wajah Kanza meleleh seperti lilin yang terkena terkena api.


Itu sangat disayangkan karena, Kanza adalah satu-satunya Anggota pemberantas Iblis yang bisa berinteraksi dengan para kawanan Serigala sihir. Dan tiga serigala sihir itu, membawa kembali jasad Kanza ke Markas pemberantas Iblis.


Razel cukup senang karena Serigala sihir itu bisa keluar dari kurungannya.


Arthur meletakkan novelnya dibawa bantalnya.


Itu, merupakan kebiasaan Arthur.


Tsuha keluar dan diikuti oleh Arthur dibelakangnya.


"Kau. Jangan berjalan dibelakangku. Berjalanlah disamping atau didepanku ! Kalau ada apa-apa denganmu, Aku tidak akan tau!" Tegas Tsuha yang berhenti dari jalannya.


"Eh ?! Baik!" Arthur mempercepat jalannya didepan Tsuha.


Wajah Tsuha kembali datar.


Banyak sekali hal yang tidak disukai oleh Tsuha dan banyak sekali hal yang membuat Tsuha merasa kasihan pada Arthur.


Salah satunya, Sifat Arthur yang menganggap kalau semua orang yang Ia temui adalah orang baik.


Tsuha yang sudah merasakan kebaikan Arthur itu, sedikit prihatin padanya.


Tsuha sejak dulu memiliki sifat yang mudah curiga dan sangat mewaspadai apapun disekitarnya.


Tsuha yang memiliki sifat seperti itu sering sekali salah paham disetiap perilaku atau karakter orang disekitarnya.


Tapi, karena sifatnya yang seperti itu, Dia sangat mudah menemukan musuh dikeramaian hanya dengan melihat kebiasaan atau cara berjalan dan postur tubuh musuhnya. Serta, Ia mudah dibenci oleh orang lain.


Razel bisa melakukan semua pekerjaan yang harusnya dilakukan oleh seorang wanita, walaupun begitu, Dia jauh dari kata banci. Razel yang beralis tebal 100 persen berjiwa laki-laki.


Ia duduk dikursi jahitnya dan mengeluarkan kelas rangking D untuk Arthur dan Tsuha.


Kelas rangking disini, paling rendah adalah kelas E, kemudian disini kelas rangking D adalah kelas rangking yang diberikan untuk anggota baru Guild seperti Tsuha dan Arthur.


Lalu, kelas rank tertinggi adalah L atau legendaris yang hanya dimiliki oleh para Titisan.


"Anu wakil Razel, sebenarnya Aku sudah memiliki kelas rank"


Arthur sudah mendapatkan kelas ranknya sejak dua tahun yang lalu dan kelas rank Arthur selalu naik setiap semesternya.


"Berapa Rankmu sebelumnya ?"


Tsuha melihat ke Arthur saat menanyakannya.


"B+" Jawab Arthur.


Tsuha menelan ludah saat mendengar kelas Rank Arthur.


"B+? itu cukup sulit bagi pemula untuk mencapainya. Apa Anda mau saya menyampaikan ini pada Kapten agar menganti kelas rank anda ?" Tanya Razel.


"Eh, tidak perlu wakil. Itu hanyalah sebuah huruf. Aku akan segera mendapatkannya lagi. Dan, Aku juga ingin balapan kelas rank dengan Tsuha" Arthur meringis sambil melihat Tsuha.


"Hah?" Tsuha tak percaya saat mendengarnya.


Razel tertawa mendengar hal sederhana itu yang keluar dari mulut Arthur.


"Dia ini, memang cucu Alex" Ucap Archie