
TEP!
Arthur telah berteleport di barisan belakang para pemuda yang bertarung dengan Arnold. Ia melihat kearah sekitarnya yang lagi-lagi banyak sekali para pejuang yang gugur.
Diantara mereka, ada dua orang yang membantu pejuang yang terluka untuk mengeringkan luka mereka dengan sihir penyembuhan.
Nel muncul dihadapan Arthur dan diikuti oleh beberapa anggota pemberantas iblis yang baru datang lainnya. "Pangeran Arthur. Mohon kembali-lah. Area ini, berbahaya untuk Anda" Nel mengulurkan tangan kanannya pada Arthur yang sedang melihat Arnold bertarung dengan pejuang yang lainnya.
Arthur melipat kedua tangannya didada. "Jangan mengurusiku. Urusi saja urusan kalian yang belum selesai. Aku hanya ingin melihat pertarungan ini dari sini. Aku tidak akan pindah dari sini bila kalian bisa menangani Iblis itu" Ucap Arthur dengan nada ketus.
Nel langsung meringis dan diiringi dengan berdenyutnya mata kanannya. "Bocah ini, tidak seramah yang diceritakan Guru Nox. Dia sombong sekali".
Nel langsung membuang wajahnya. "Apa boleh buat. Diantara kalian, apakah tak ada yang melihat Zack?" Nel membalik tubuhnya dan membelakangi Arthur.
Bara dan Lucy yang berada di samping kanan-kiri Nel berkata tidak dengan tegas. Zack masih belum terlihat setelah memanggil bala bantuan. Ada kemungkinan, bila Zack langsung membantu melawan Arnold.
"Apa kalian berdua rela mati untuk Shinrin?" Pertanyaan itu, wajib ditanyakan kepada pejuang yang akan bertarung dengan musuh yang kuat.
"Demi Shinrin dan Pasukan Pemberantas Iblis. Saya bersedia mengorbankan nyawa saya" Keduanya menjawab secara bersamaan. Arthur dibelakang mereka yang mendengar hal tersebut, langsung menanyunkan bibirnya dan mengangkat alis kanannya. "Pasukan Pemberantas Iblis? PFFT, adanya kalian-lah yang akan diberantas oleh Arnold" Batinnya yang menertawakan mereka.
DRAP!
Mereka langsung maju bersamaan untuk membantu pasukan lainnya yang bertarung. Arthur melihat langit Shinrin yang kini telah menjelang malam hari. Bulan dan bintang tidak sedikitpun menunjukkan cahayanya. Mereka bertarung dengan mengandalkan api yang dikeluarkan oleh Arnold dan membakar rumah serta pinggiran hutan yang pohon dan semak-belukarnya mengering.
"Aku ingin menyingkirkan awan-awan itu. Aku ingin menatap langit malam yang penuh bintang. Pembunuhan dan kebencian yang terlahir karena dendam tak akan pernah berakhir di Tanah Arden. Apa yang harus kulakukan untuk mengakhiri segalanya?"
Mata biru Arthur, terlihat berwarna hitam digelapnya malam. Ia melihat Arnold yang berpindah dan menebas orang didekatnya. Kepala, tangan, dan kaki tak dipedulikan oleh Arnold. Ia menebas dengan tangannya yang ringan.
"Segala hal yang baik harus berakhir pada satu titik”
Arthur mengulurkan tangan kanannya kearah Arnold yang terdiam di tempat untuk bernapas. Jauh di depan Arthur, di sana ada seorang wanita yang berdiri dan menutupi pandangannya untuk melesatkan serangan pada Arnold.
"Cyclamen Nisqa Flecha"
Cahaya biru keluar dari tangan kanan Arthur dan membentuk sesuatu yang memiliki panjang tak lebih dari 45 cm. Sesuatu yang panjang itu, sekilas terlihat seperti anak panah namun, sebenarnya itu adalah sebuah bunga dengan ujung seperti sayap kupu-kupu dengan ujung yang runcing.
"BURN!"
PATTZZZZ!
Sihir itu melesat secepat kilat menuju Arnold. JLEB!. Namun sayangnya, panah itu harus melewati tengkuk wanita itu hingga menembus lehernya dan melesat ke arah Arnold tanpa berkurang kecepatannya. "JLEB!" Sihir panah itu, menembus dada kanan Arnold hingga melubanginya.
Anak panah yang dilesatkan oleh Arthur menembus dada kanan Arnold dan menancap di batang pohon besar yang berada dibelakang Arnold dan berjarak 6 meter dari posisi Arnold berdiri.
"BAMMMM!!!!"
Sihir itu meledak dan menghasilkan suara yang keras. Semua orang yang sedang bertarung terkejut melihat ledakan api biru itu.
"Ah, tak ku sangka bila panahnya melesat dengan cepat. Aku harus pergi sebelum mereka menyadarinya" Arthur membalik tubuhnya dan perlahan menjauh dari area itu dengan menghilangkan hawa kehadirannya.
Tubuh perempuan itu langsung jatuh ke tanah. Darah milik wanita itu, menggenang dengan cepat. Arnold melihat dada kanannya yang berzirah berlubang.
Ia melihat kearah depannya yang terdapat seorang anak kecil sedang berjalan mengendap-endap menjauh dari sana.
"Ini, perbuatan dia?"
Arnold tidak sadar bila itu adalah Arthur. Ia kembali berfokus pada orang-orang yang menyerangnya dengan brutal dan hampir membuat Arnold kewalahan.
"TRANKKKKK!!!! JLEBBB!!!"
Arnold terpojok setelah mendapatkan kejutan dari Arthur dan menerima tusukan dari empat sisi.
"WOSH!"
Arnold berteleport ketempat Glashya berada. Dan tak disangka, disana telah ada Razel yang baru berteleport sambil membawa Tsuha.
Sial, kenapa dia membawa Tsuha. Akan menjadi sia-sia pengorbanan Glashya bila seperti ini.
Sebenarnya, beberapa saat yang lalu. Di tempat pengungsian.
Tsuha mendatangi Razel setelah mendengar cerita dari Naver bila ibunya terluka saat menolongnya dari Arnold yang berniat menyerangnya. Mendengar hal tersebut, Tsuha meminta Razel untuk mengajaknya untuk membawa ibunya pergi dari area tersebut. Disini, Tsuha menawarkan dirinya sebagai Relawan untuk menyembuhkan orang yang terluka. Di zaman ini, orang yang mampu menyembuhkan luka orang lain tak sebanyak di zaman Tsuha dan Arthur yang berusia 17&16. Tenaga medis, sangat diperlukan. Walau Tsuha masih dikatakan anak-anak, Naver merekomendasikannya untuk membawa Tsuha kesana. Naver memiliki tujuan lain, yaitu untuk membuat Arthur kembali ke pengungsian dengan paksa.
Oleh karena itu, Razel membawanya karena mendapatkan perintah dari Naver. Naver bersedia bertangung jawab penuh atas keselamat Tsuha (sebab, disana ada Arthur. Ia yakin bila Arthur tidak akan membiarkan Tsuha sendirian).
Melihat Arnold berada dihadapannya, Razel langsung mengeluarkan pedang mananya berwarna hitam dan langsung melesatkannya kearah wajah Arnold.
"TRASH!"
Serangan Razel hanya membuat pipi Arnold tergores. Arnold terkejut melihat pedang mana Razel yang berbeda dari pedang mana orang-orang disekitarnya.
Arnold melompat kebelakang untuk mengambil napas. Ia menatap mata Razel yang bercahaya di malam hari. "Kau keturunan siluman?" Pertanyaan itu, tiba-tiba terucap oleh bibir Arnold kepada Razel.
DEGH!
Razel membelalakan matanya, kemudian mengkatupkan bibirnya dengan rapat. Razel juga mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Arnold mengenali rasa yang tak asing di goresan pedang Razel. "Ini, sensasi rasa gatal. Dia pengguna sihir gelap" Arnold mengusap darah yang langsung membeku di pipinya.
Dari kejauhan, beberapa orang berlari kearah Arnold sambil mengangkat pedangnya untuk melesatkan serangan mereka. "Ini benar-benar membosankan".
Arnold melihat kearah sekitarnya. WOSH! KRAK! TRANGGGGGG!. Sihir perlindungan yang berbentuk kubah berwarna merah terang terbentuk mengelilingi Arnold dan melindungi dirinya dari serangan orang-orang itu.
Arnold melihat kebodohan orang-orang yang berusaha memukul-mukulkan pedang mana mereka pada sihir perlindungan terkuat milik kerajaan Akaiakuma itu. Arnold harus segera mengambil cicin di jari manis Linus dan mendapatkan wadah baru untuk jiwanya.
Ia tak bisa membuang-buang waktunya lagi. Ia juga melihat Tsuha yang sedang menyembuhkan luka tusukan di perut dan dipaha kiri ibunya. Di dalam benak Arnold, Ia masih ingin mempertahankan Tsuha sebagai wadah yang cocok untuknya.