
Dimalam purnama yang sangat menerangi gelapnya malam.
Ha Nashi berjalan sendirian menuju tengah hutan sihir. Tepatnya, berada didanau pusat dari mata air sungai yang mengaliri Negri Arden.
Ha Nashi, menyembunyikan semuanya dari Kerajaan Akaiakuma dan menemui Ambareesh yang membakar Ikan tangkapannya disana.
Ha Nashi melihat angka 227 yang tertato dilengan kiri bagian atas Ambareesh.
"Ambareesh, Aku datang. Sesuai janjiku dimalam purnama dan membawa data Prajurit yang Kau cari. Belial Ken...."
Ha Nashi mengulurkan gulungan kertas pada Ambareesh.
...****************...
Ambareesh menerima gulungan itu dan memberi satu ikan bakar pada Ha Nashi.
"Ambareesh, Kau yakin akan melakukan ini ? Pangeran Arnold sangat mengagumimu sebagai gurunya"
Ha Nashi melihat tanduk Ambareesh yang baru dihilangkan.
"Aku sudah memikirkannya sejak lama. Menurutku, Arnold itu seperti penghambat saja"
DEGH!!!
Dada Arnold terasa sesak saat mendengarnya.
Ambareesh tau kalau Ha Nashi membawa Arnold bersamanya.
"Ambareesh, Kau tau apa yang Kau katakan itu ?"
Ha Nashi merasa tidak enak pada Arnold karena mengajaknya.
"Memang, Apa yang salah dengan ucapanku ? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya"
Mata biru laut Ambareesh yang tak bercahaya, menatap dingin wajah Ha Nashi.
!!!
"Ambareesh, Pangeran Arnold sangat ingin melihatmu. Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak belakangan ini"
"Apa peduliku ? Dia hanyalah seorang murid. Dan tugasku sudah selesai. Aku telah mengajarkan banyak sihir padanya. Apa lagi yang Dia butuhkan ?"
Ambareesh menjawabnya sambil melihat lembaran itu.
Ha Nashi melirik Arnold yang tak bersuara jauh dibelakangnya.
Arnold termangun ditempat dan Ia masih tak percaya dengan semua ucapan Ambareesh.
Ha Nashi yang mendengarkan pertanyaan Ambareesh, Ia tak bisa menjawabnya.
"Kenapa ? Apa ucapanku benar ?"
Ambareesh berdiri saat menanyakannya.
"Ucapanmu itu salah. Katakan yang sebenarnya. Kau tau kan kalau Aku mengajak Pangeran Arnold ?"
Ha Nashi merasa kalau Ambareesh sudah keterlaluan.
Ia mengkernyitkan keningnya pada Ambareesh.
Ambareesh yang lebih tinggi dari Ha Nashi mendekatkan mulutnya ditelinga Ha Nashi.
"Tolong mengertilah" Bisik Ambareesh.
Ha Nashi langsung membelalakan matanya.
"Ini, demi semuanya. Demi Tuan Ha Nashi, Demi Ayahku, Ayah angkatku, Kakak-kakakku, dan Guruku. Kumohon, Arnold hanya jalan pintas untukku mendekati sang raja. Aku sudah siap bila Arnold membenciku"
Saat itu, Ha Nashi merasa bersalah pada Ambareesh.
Ha Nashi, tidak mengerti beban apa yang sedang dipikul oleh pungung Ambareesh.
"Apa yang akan Kau lakukan Ambareesh ?"
"Aku akan memberi tahumu, setelah Aku menemui Kakakku untuk mencari adik perempuanku" Jawab lirih Ambareesh.
"Ambareesh, Kau bukanlah alat untuk memenuhi keinginan Kami. Pikirkan juga keinginanmu"
Ambareesh melirik Ha Nashi.
"Keinginanku ? Itu sudah hilang saat usiaku enam tahun. Kehadiranku, hanya untuk melayani keinginan penolongku. Anda adalah orang yang sangat ku hormati. Tolong mengertilah"
"Aku tidak peduli sepanjang apa jalan yang akan ku tempuh, seberapa banyak orang yang menghinaku , seberapa bencinya orang melihatku, seberapa banyaknya orang yang tidak menginginkan diriku tuk hidup dan, Aku tidak peduli dengan 579 nyawa yang telah ku renggut"
Ambareesh adalah seorang pembunuh.
Yang Ia tau, Ambareesh adalah Objek suatu percobaan ilegal yang memaksa bangsa lain untuk memiliki tanduk seperti bangsa Iblis agar bisa bertahan dan melawan kekuasaan Bangsa Iblis.
"Tap!"
Ha Nashi menepuk bahu kiri Ambaressh.
"Dasar bocah bodoh. Kau pikir, Aku tidak pernah memantaumu tiap malam hari yang selalu mengigau ketakutan ?"
Ambareesh membelalakan matanya.
Ia tidak sadar dengan gigauannya.
"Aku tidak tau hal apa yang telah Kau alami. Setidaknya, ceritakan padaku apa yang telah terjadi padamu"
Ha Nashi melirik Ambareesh yang selalu berekspresi datar.
"Aku sangat membenci seekor kucing bermata biru dan kuning dengan bulu putih. Apa Aku bisa kembali menyukai seekor kucing yang membuatku, kehilangan segalanya ?"
Ha Nashi tidak mengerti ucapan Ambareesh.
"Tuan Ha Nashi, Apa Kau akan membantuku setelah Kau mengetahui kalau aku adalah seorang mesin pembunuh sejak usiaku 8 tahun ?"
"Orang yang pertama kali kubunuh adalah seorang anak yang lebih tua dariku dan berbangsa Iblis. Dia memiliki tanduk yang tumbuh dimata kirinya. Aku membunuhnya karena, Aku dalam posisi terdesak. Bila Aku tak membunuhnya, Aku yang mati. Dan bila Aku yang menang melawan 59 anak, Aku akan hidup sebagai aset. Tak disangka, sang cahaya masih berada dipihakku. Aku membunuh 29 anak dari 59 yang telah bertarung dihari yang sama dalam durasi 140 menit" Cerita Ambareesh.
"Tanda Dilengan kiriku, 227 itu adalah nomor urutku sebagai objek penelitian dan Aku adalah aset tertinggi diantara banyaknya aset yang lainnya"
"Sekarang, Apa Aku masih pantas untuk mendapatkan keinginanku setelah membunuh 579 orang ?"
"Tuan Ha Nashi, tolong jawab pertanyaanku. Apa saat ini, Aku masih aset 227 yang hampir melupakan nama asliku ?"
Ambareesh melihat Ha Nashi tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Ha Nashi sendiri tidak bisa membaca apa yang ada dipikiran Ambareesh.
"Kau adalah Kau. Namamu adalah Ambareesh dan Kau bukanlah sebuah aset. Kau makhluk hidup seperti Kami. Kau memiliki emosional. Kau bisa tertawa dan tersenyum, mesin tidak bisa tertawa dan tersenyum sepertimu. Kau adalah guru dari seorang pangeran kedua Akaiakuma dan Kau juga kuanggap seperti adikku sendiri Ambareesh. Jangan ragu untuk menyampaikan apapun padaku"
Ambareesh terasa asing dengan rasa yang menimpanya.
Itu, tercampur aduk dan mata Ambareesh terasa pedih.
Dada Ambareesh serasa seperti ada yang ingin meluap keluar.
Ambareesh memegang dadanya.
"Tuan Ha Nashi, Apa Aku bisa mempercayaimu ? Kita saling mengenal belum ada satu tahun. Aku sangat tidak mempercayai orang-orang disekitarku"
Padahal, Ha Nashi adalah sosok yang menolongnya.
Kenapa Ambareesh mengatakan hal yang menyakiti hati Ha Nashi ?
Ambareesh melirik Ha Nashi dengan raut seriusnya. Begitu pun dengan Ha Nashi disampingnya.
"Kenapa ? Apa Aku tak layak untuk bisa Kau percayai ?" Balas Ha Nashi.
"Mereka saja yang mengenalku selama bertahun-tahun saja menghianatiku. Apa lagi dirimu yang baru Lima tahun mengenalku"
Ha Nashi membelalakan matanya.
"Apa yang harus kubuktikan agar Kau mempercayaiku ?"
Ambareesh masih melirik Ha Nashi.
"Untuk apa Kau membuktikannya ? Kau bisa membuat-buat bukti itu yang seolah kalau ucapanmu benar. Aku, sangat memahami hal ini. Dan Aku paling tidak percaya dengan sebuah bukti apabila tak kulihat langsung dengan mata kepalaku. Dan orang yang menganggap semua orang baik adalah Orang yang sangat bodoh"
So, bagaimana dengan Arthur ? T^T
Ha Nashi menyadari kenapa Ambareesh memiliki kepribadian yang sangat tertutup.
"Kau tak perlu menganggapku baik. Kau tak perlu menaruh kepercayaan yang sangat dalam padaku. Kita ini, saling membutuhkan. Setidaknya, Katakan padaku apa yang Kau butuhkan. Aku bisa membantumu mencari Belial Zen"
Ambareesh menurunkan pandangannya.
"Maaf, atas ucapanku yang keterlaluan. Aku, tak terbiasa dengan kehidupanku saat ini"
Ambareesh menutup kedua matanya dengan tangan kirinya.
"Ini... membuatku menderita, Apa Aku telah menyakiti hati Tuan Ha Nashi ? Aku benar-benar minta maaf. Aku, ingin sekali mendapatkan kebebasan dalam hidup. Apa Aku terlalu kejam Tuan Ha Nashi ?"
Emosional Ambareesh tiba-tiba berubah 180 drajat.
Arnold tak kuat mendengar ucapan Ambareesh Ia langsung pergi dengan sihir teleportnya meninggalkan Ambareesh dan Ha Nashi disana.
"Apa... Aku benar-benar membebani Guru Ambareesh ?"