
Tahun 1086 usia Arthur esok akan mengijak 10 tahun dan Bram telah menyelesaikan sekolahnya yang telah Ia tempuh selama 8 tahun dengan predikat A+ dan kini berkelas S setelah bergabung dengan Guild Kesatria pedang Meganstria sebagai wakil Guild bersama dengan dua temannya. Yakni, Angel dan Dylean.
Mereka bertiga, berencana untuk mengejutkan Arthur dihari ulang tahunnya. Dan Bram telah mendapatkan dukungan dari orang tuanya. Kemudian, Naver berbicara bertiga dengan Tsuha dan Nox untuk membuat kejutan untuk Arthur.
Sayangnya, Nox tidak bisa hadir diperayaan kecil-kecilan Arthur, karena Ia harus menghadiri pengangkatannya sebagai Kapten dari Guild Pemberantas Iblis dan untuk dipindahkan tugaskan di Shinrin dengan masa uji kontrak selama Lima tahun.
...****************...
Pagi hari yang cerah dan suara burung pipit yang saling bersiuran, menemani awal hari Arthur di usianya yang ke 10 tahun.
"HAP! KIRI!....KIRI!....KIRI!" Seruan para Prajurit yang tengah latih berbaris.
Arthur hanya duduk didepan jendela kamarnya, sambil memandang para prajurit yang berlatih itu. Seekor kupu-kupu, terbang didepan Arthur dan mata Arthur mengikuti arah kupu-kupu itu, hingga ke angkasa.
"Bila Aku memiliki sayap, akankah Aku memiliki sebuah kebebasan?" Batin Arthur sambil menatap langit cerah itu.
"Kreeek...." Pintu Kamar Arthur terbuka tanpa suara ketukan.
Arthur dengan santai melihat kearah belakangnya.
"Selamat Pagi, Pangeran Aosora. Saya Ciel, Guru penganti Anda" Seorang Pria berambut hitam dengan tinggi sekitar 175 cm dan berkaca mata, serta Ia memakai Syal biru yang melilit dilehernya meletakkan telapak tangan kanannya didada kirinya sambil sedikit membungkuk di hadapan Arthur.
Arthur mengkernyitkan keningnya dan berdiri.
"Apa Kau tak memiliki etika?" Arthur sangat tidak suka dengan orang yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu.
Pria itu, tersenyum pada Arthur dan berdiri dengan tegap.
"Oh, Apa Anda Pangeran Aosora? " Tanya balik Pria itu.
"Tentu saja! Apa Aku tak terlihat seperti seorang Pangeran?!" Arthur memanyunkan bibirnya sambil mengatakan hal itu.
"Ah~ Kupikir, Anda seorang Titisan" Jawab Pria itu.
Untuk pertama kalinya, Arthur mendengar kata Titisan.
"Titisan? Apa itu?" Arthur mudah sekali penasaran. Ia langsung mendatangi Pria itu, yang mengaku sebagai penganti Nox.
"Apa Anda bisa berjanji sesuatu pada Saya?" Pria itu melepas kaca matanya dan mengantung kaca mata itu, di saku dada kirinya. Matanya, tidak terlihat seperti mata asli.
"Tentu" Arthur mengangguk tanpa banyak pikir.
"Kalau begitu, jawablah semua pertanyaan Saya. Tanpa harus bertanya balik pada Saya" Ucapnya sambil tersenyum.
Pria itu merentangkan kedua tangannya. Butiran mana halus dan berwarna biru terang terlihat dimata Arthur. Hawa auranya yang dingin, Arthur benar-benar takjub melihatnya.
Pria itu, memainkkan tangan kanannya begitu indah. Dan, butiran mana halus itu, membentuk lingkaran sihir tujuh lapis tepat didepan Arthur dengan warna mana yang berbeda. Serta, disetiap tengah lingkaran mana itu, terdapat bunga teratai dengan warna yang sama seperti warna setiap lingkaran sihir itu.
"WOH~" Mata Arthur sangat berbinar melihatnya. Ia tak pernah melihat sihir seperti itu, apa lagi sampai tujuh lapis. Sudah dipastikan, Guru baru ini (Ciel) adalah orang yang lebih kuat dari Naver.
"Apa didada Anda tanda yang sama seperti tengah lingkaran sihir ini?" Mendengar pertanyaan Ciel, wajah berbinar Arthur langsung menghilang.
"Kenapa?"
"Jangan lupa janji Anda kepada Saya~" Ingat Ciel.
"Kalau begitu, jawablah semua pertanyaan Saya. Tanpa harus bertanya balik pada Saya"
"....***TANPA HARUS BERTANYA BALIK..."
"....BERTANYA BALIK...."
"....BALIK***...."
Ciel, sudah menyelidiki tentang diri Arthur.
"AAARRRRGGGGHHHHH!!!! KAU CURANG!!!!" Arthur mengacak-acak rambutnya kemudian Ia melompat dan menunjuk Ciel sangking geramnya.
"Hahaha,... Sekarang, jawablah wahai Pangeran kecil~" Ucapnya bernada sambil mengusap rambut Arthur.
Arthur memanyukan bibirnya "Ya!" dan menjawab dengan tegas, serta memberi ekspresi malas pada Ciel.
"Untuk ap, UGH!" Arthur hampir bertanya dan langsung membuka kemeja putih kebiruannya.
Tanda seperti teratai berwarna ungu seukuran telapak tangan anak-anak terlihat dimata Ciel dan teratai itu, terlihat sedikit mengeluarkan akar yang akan merembet ke dada kanannya, serta lehernya.
"Hemmmm" Tangan Ciel mengelus halus dada kiri Arthur.
"!!" Arthur sedikit terkejut karena tangan Ciel agak dingin.
Ciel terlihat tersenyum tipis dan kembali berdiri dengan tegak.
"Baiklah~ Saya rasa, ini sudah cukup. Sekarang, Apa Anda mau bertanya sesuatu tentang titisan?"
Arthur mengangguk.
Ciel, duduk diemperan jendela sambil menaikkan kaki kanannya keatas.
"Titisan itu, adalah orang spesial yang tak bisa mati sebelum menuntaskan tugasnya"
"Tak bisa mati?"
Ciel mengangguk sambil memberi sebuah buku dengan sampul hitam dan berhiaskan tujuh batu yang berbeda warna (Hitam pekat, merah terang, hijau zamrud, kuning keemasan, putih bersih, Biru langit, dan ungu gelap) pada Arthur.
Arthur menerima buku itu.
"Jiwa mereka, tercipta dari Kristal suci Sang Cahaya dan Kristal titisan itu, hampir mirip seperti Kristal suci Malaikat Agung" Jelas Ciel.
Arthur membolak-balik buku itu dan berusaha membukanya. Buku itu, tak bisa terbuka.
"Bagaimana cara membukanya?" Arthur mengembalikan buku itu kepada Ciel.
Ciel hanya mengusapnya. Dan "Wosh!" buku itu, langsung terbuka seperti terkena hembusan angin.
Arthur menyipitkan matanya untuk membaca tulisan itu. Hanya ada tulisan balok dan gambar aneh didalamnya. Itu, adalah huruf kuno.
"Bagaimana membacanya?" Arthur benar-benar banyak bertanya pada guru barunya itu.
"Pfft! Haha;;><, Saya lupa kalau Anda tak bisa membaca huruf kuno. Baiklah, Saya akan mengajarkan Anda dari mengenal huruf kuno. Dan, untuk selama itu.... Bukunya Saya ambil lagi" Ciel menujuk buku itu dan "BWOSH!" Buku itu, langsung menghilang dari tangan Arthur.
"HOH! Bagaimana bisa seperti itu?! Guru! Ajari Aku sihir itu!" Tegas Arthur.
"Ya~ kalau Anda berhasil belajar huruf kuno, mengenal sejarah Arden, termasuk para titisan dan, 12 Ah... 13 Malaikat Agung" Ia menyeringai dan dua taringnya terlihat lebih panjang dari taring orang biasa sambil menyipitkan kedua matanya.
Arthur mengagaruk tengkuknya.
"Apa Anda tidak bisa mengajarkan sihir itu pada Saya?" Arthur berfikir demikian karena Ciel akan mengajarkan ilmu materi diawal pertemuan Mereka ini.
Ciel, memakai kaca matanya kembali.
"Tentu, suatu hari nanti. Pasti" Jawabnya
...****************...
Ciel, pamit pergi setelah Ia mengenalkan dirinya pada Arthur. Dan saat ini, Arthur berjalan bersama Tsuha.
Arthur tak memiliki kecurigaan sedikitpun dan Ia malah membantu Tsuha membawa sekeranjang kue dan tikar.
"Kau tau, hari ini... Kita dapat guru baru. Dia hebat loh~. Ah... Aku sangat tak sabar untuk besok. Kau harus jadi rivalku, disetiap mapel. Paham!" Tegas Arthur sambil menunjukkan Ibu jarinya.
"Tentu, Saya pasti berusaha untuk sejajar dengan Anda dalam hal ilmu pendidikan"
"Hah?! Jangan sejajarlah! Kau itu, harus didepanku! Didepanku!"
Tsuha dan Arthur terkekeh bersamaan.
"Pangeran selalu bersemangat. Yah, dari segi manapun, Aku sudah pasti tak akan bisa mengalahkannya"
Bagi Tsuha, Arthur seperti sebuah api yang tak pernah padam. Dan Tsuha telah memutuskan untuk tak lagi mengirikan kehidupan Arthur. Dan Ia, sudah Ikhlas bila Ibunya memberi perhatian lebih pada Arthur. Itu, karena pekerjaan Ibunya sebagai pelayan pribadi Arthur.