
Arthur tidak tidur semalaman setelah terbangun dari demamnya. Ia hampir tertidur dan langsung melompat-lompat agar tidak mengantuk. Saat ia merasa bosan, ia langsung melakukan suatu hal yang baru.
Arthur mengisi kesehariannya dengan membantu anggota pemberantas iblis yang sedang merenovasi markas.
Val memperhatikan Arthur seharian. Arthur terlalu banyak bergerak dari biasanya.
"Dia kenapa?" Val bertanya pada Liebe yang sedang memasang kaca jendela.
"Siapa?" Liebe melihat ke arah mata Val tertuju.
"Oh, dia. Memangnya ada apa? Pangeran Arthur-kan selalu seperti itu. Dia orang yang semangat" Lanjut Liebe.
Val mengangkat salah satu alisnya kemudian melihat ke arah Liebe.
"Dia memang memiliki energi yang lebih. Tapi, dia terlalu banyak bergerak. Dia terlihat aneh. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu" Jelas Val.
"Ya, dia mungkin sedang bersemangat karena tiga hari lagi dia akan kembali ke Aosora" Sambung Liebe sambil merekatkan kaca jendela tersebut.
"Ya, mungkin saja begitu" Ucap Val sambil menghela napas dan menempelkan kepala sisi kanannya pada dinding markas.
"Ngomong-ngomong, dimana Tsuha? Dia tidak terlihat sejak pagi tadi" Lina tiba-tiba datang dan menanyakan keberadaan Tsuha yang tidak terlihat sejak sarapan tadi.
Val melihat ke arah Lina sambil menata rambutnya yang maju ke depan semua.
"Tsuha? Katanya dia mengunjungi Guru Nox dan Nao untuk berangkat bersama menemui Raja Linus" Jelas Val sambil merapikan kemejanya di depan Lina.
"Menemui Raja Linus? Apa dia kelas ranknya dinaikkan lagi?"
"Bukan. Dia dipanggil untuk bersumpah karena ikut dalam pengantaran Arthur ke Aosora" Jawab Val.
...****************...
DI TEMPAT TSUHA
Ia mendapatkan sebuah tas seragam dengan enam orang lainnya. Isi tas tersebut terdiri dari tas hitam, kemeja putih, celana hitam, body belt, dan sepatu hitam untuk acara formal. Kebutuhan mereka telah diukur dan disesuaikan oleh ukuran tubuh mereka.
Tsuha mengagakan mulutnya melihat atribut itu. Semua yang ada di tas-nya memiliki brand dan stampel tanda Shinrin. Sudah dipastikan, barang yang ada di tasnya itu adalah pesanan. Dan tidak mungkin hal ini dikerjakan dengan dadakan.
Nao duduk di sebelah Tsuha yang tengah sibuk memandangi isi tasnya untuk acara pengangkatan Arthur. "Hei, kalau ada Tsuki, dia pasti akan berteriak kesana kemari karena mendapatkan seragam yang lama ia impikan" Lirih Nao.
Tsuha menutup resleting tasnya dan melihat bet Nao yang sudah naik.
"Ya, tolong berjanjilah padaku untuk tidak bilang pada Tsuki bila Alex itu Pangeran Aosora" Ucap Tsuha sambil melihat ke arah Nox yang mengobrol dengan Pemimpin seluruh Guild Shinrin (Verza).
"Sampai kapan kau akan menyembunyikannya pada Tsuki?" Tanya Nao sambil melihat ke langit yang terik.
Tsuha menundukkan pandangannya. "Setidaknya, sampai Tsuki tau sendiri. Lagipula, Pangeran Aosora itu tidak ada hubungannya dengan kematian orang tua kami" Jelas Tsuha sambil mengangkat pandangannya kembali.
Nao melihat ke arah Tsuha. Tsuha tidak menunjukkan ekspresinya sedikitpun. "BUGH!!" Nao memukul punggung Tsuha dengan keras kemudian ia tertawa.
"Ya! Jangan memikirkan hal itu! Lalu, bagaimana dengan traumamu? Kau terakhir kali ke Aosora itu sekitar hampir 7 tahun yang lalu kan?" Nao mengacak-acak rambut bagian belakang Tsuha.
"Ya, aku ingin melawan rasa takutku. Setidaknya, aku tidak ingin membuang kesempatan emas ini. Kesempatan ini, tidak akan datang dua kali di hidupku" Ucap Tsuha sambil mengosok tengkuknya.
"Ya! kalau begitu, aku juga akan memotong poniku untuk mendukungmu!" Tegas Nao.
Tsuha langsung melihat Nao yang membela dua poni rambutnya yang panjang.
"Wah, itu bagus. Mau potong rambut kapan?"
"Sekarang? Ayo. Kau juga harus merapikan rambutmu" Saran Nao.
"Kalau itu tidak perlu. Aku hanya butuh gel rambut saja untuk merapikannya" Jawab Tsuha sambil berdiri dan membelakangkan rambutnya.
Sungkem pada jidat Tsuha 🛐
...****************...
KEMBALI DI TEMPAT ARTHUR
Arthur menyibukkan dirinya dan mulai membantu Shera memasak untuk makan siang.
Arthur memperhatikan tangan Razel yang lihai dalam memotong bombai dengan cepat dan tipis.
"Arthur istirahatlah dulu. Kau dari tadi sudah bantu-bantu. Jangan terlalu lelah. Tiga hari lagi kau harus melakukan perjalanan yang cukup jauh"
Razel mengkhawatirkan kondisi Arthur. Ia harus memperhatikan kondisinya untuk persiapannya kembali ke Aosora.
"Tak apa wakil. Saya tidak mengantuk" Jawab Arthur dengan wajah yang terlihat lelah.
"Sudah. Kembalilah ke kamarmu. Kami akan memanggilmu setelah makanannya matang" Sela Shera yang sedang memotongi sayuran di sebelah Razel.
Arthur tidak ingin membuat mereka berdua curiga. Ia langsung berdiri dan pamit kembali ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Sampai di kamarnya Arthur tidak langsung tidur di kasurnya.
Namun, rasa kantuk tiba-tiba muncul karena suasana kamarnya yang sunyi dan membosankan. Arthur mulai mengambil kertas dan tinta. Ia mulai mengambar untuk menemukan kesenangannya. Sayangnya dengan mengambar sesuatu yang abstrak. Arthur tertidur tanpa ia sadari.
...****************...
Pukul 13.30, Shera mengetuk pintu kamar Arthur. Ia tidak mendengar jawaban Arthur dan langsung membuka pintu kamar.
"Arthur,.... Eh! Maaf!"
Shera kembali menutup pintu setelah ia melihat Arthur yang sedang memakai pakaiannya bagian atas.
"Eh...? Tidak masalah kak! Ada apa? Cklak!" Arthur kembali membuka pintu kamarnya dan melihat Shera sedang memunggunginya.
"Makanannya sudah siap. Cepat pakai kancingmu dengan benar. Tsuha dan yang lainnya sudah menunggu" Jawab Shera tanpa melihat Arthur dan langsung turun dari tangga.
"Sialan! Aku beneran lemah sama perut yang memiliki pack!" Telinga Shera terlihat memerah.
"Oh! Baik kak!" Arthur langsung menutup pintu kamarnya dan mengikuti Shera sambil memasang kancing kemejanya nomor ke tiga hingga ke bawah.
Arthur melihat anggota guild telah menunggunya di meja dapur.
Arthur membungkuk sekilas pada mereka semua kemudian duduk disebelah Tsuha.
"Tumben dia memakai kemeja dan tidak mengancingnya sampai ke atas?" Tsuha menutup matanya sambil menikmati makanan di depannya.
"Anu, boleh kah aku mengambil ikan?" Arthur meminta izin untuk mengambil lauk ikan goreng di dekat Liebe.
"Oh silahkan. Tak perlu izin segala. Kek anak baru masuk aja" Ucap Liebe sambil mendorong piring yang berisi ikan goreng.
"Hehe, terima kasih kak. Kau tidak berubah sama sekali" Arthur mengambil satu potong ikan dan meletakkan di piringnya.
Liebe membelalakan matanya dan langsung melihat ke arah Arthur. Ia menyikut lengan Val dan berbisik, "Val, apanya yang tidak berubah dariku?"
"Cih, intonasimu itu pedes" Jawab lirih Val.
Liebe baru menyadarinya.
Makan malam telah usai. Arthur mulai membantu Shera mencuci piring.
"Kak setelah ini maukah berlatih pedang denganku?" Arthur melihat Shera dari samping sambil menunjukkan senyumannya.
Shera melihat Arthur. Ia langsung membuang pandangannya setelah teringat dengan bentuk pack perut Arthur.
"Ahahaha, Aku dominan pada ketangkasan bela diri. Kalau ingin berlatih pedang lebih baik dengan Val saja. Dia adalah pengguna dua pedang sihir" Jelas Shera sambil mempercepat tangannya dalam mencuci piring.
"Ugh, itu sedikit mengecewakan" Arthur menundukkan pandanganya dan melihat piring yang ia bilas.
Shera melirik Arthur yang lebih tinggi darinya. "Kalau kau bisa bela diri, ayo nyoba sparing?" Shera tidak kuat melihat raut Arthur yang nampak menyedihkan.
Arthur langsung melihat Shera dengan raut sumringah. "Ya! Aku juga bisa bela diri walau hanya sedikit. Mohon bantuannya setelah ini!" Tegas Arthur dengan nada yang antusias.
Razel tersenyum melihat Arthur yang bersemangat kemudian ia berjalan menuju Zack yang sedang membaca koran.
"Wakil, apa ada yang ingin kau sampaikan?" Zack melihat Razel yang duduk di depannya.
"Menurutmu, bagaimana perkembangan Arthur dan Tsuha?" Tanya Razel sambil memakan cemilan kering Zack.
Zack melipat koran yang ia baca.
"Mereka cukup tangkas dan peka. Tapi sayangnya, mereka berdua terlalu banyak bercanda saat menjalankan misi bersama. Tapi, disaat-saat genting mereka berdua dapat diandalkan" Jawab Zack denga lugas.
Ucapan Zack memang sama dengan pikiran Razel. Razel kembali memakan cemilan Zack.
"Zack, surat yang kau ajukan untuk mengangkat Issac ke dalam guild ini, aku menolaknya. Ini juga pertimbangan dari Kapten Nel" Razel mengeluarkan surat tulis tangan Zack dari saku celananya dan memberikan surat itu kepada Zack.
Zack menerima surat itu.
"Pertimbangan apa yang dikatakan oleh Kapten Nel?"
Razel melihat ke belakang untuk memastikan tak ada orang di dekatnya.
"Issac memiliki kemungkinan bila ia adalah salah satu mata-mata dari musuh. Penciuman Kapten Nel itu tajam. Dia tidak mempermasalahkan bila Issac itu adalah seorang Siluman. Namun, Kapten Nel sempat berkata bila Issac memiliki aroma dan aura yang berbeda. Tapi tenang saja, karena kau dan Issac sudah terikat dengan kontrak, Kapten Nel tetap mengizinkan Issac tinggal disini hingga kau sendiri melihat kebenaran atas firasat dan penciuman Kapten Nel" Jelas Razel sambil menatap mata Zack.
Zack tidak pernah mempermasalahkan ucapan Razel. Namun, harus di ingat bila Zack tau kalau Kapten Nel yang dibicarakan oleh Razel adalah De luce Arnold.
"Iya, terima kasih wakil. Aku sendiri tidak memaksa untuk membuat Issac tinggal disini. Kami bisa berkontrak walau berada di jarak yang jauh" Jelas Zack sambil memasukkan surat itu ke dalam kantungnya.
Razel membungkukkan posisi duduknya. "Bukan begitu. Ku harap kau tak salah paham Zack. Alasan mengapa Kapten Nel mengizinkan Issac tingga disini karena kontrak yang kau jalin itu, sangat merugikan dirimu" Jelas Razel.
...****************...
BONUS: