The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Surat Untuk Baal



Sosok remaja laki-laki berambut biru gelap dengan iris berwarna ice blue sedang berjalan di sepanjang hamparan rumput ekor kucing yang luas.


Ia memiliki perawakan tinggi sekitar 171 cm dengan warna kulit kuning langsat dan memakai pakaian ketat berwarna hitam dengan jubah gelap mirip bayangan.


Ia melihat ke rumput yang memiliki tali merah terikat disana.


"Sial!! Kenapa aku terus-terusan melewati jalan ini!!!" Ia mendang rumput itu karena merasa kesal.


"Aku melewati ini sudah sebanyak 143.151 kali. Sialan!!! Apa salahku!!!!! Dan kenapa langitnya tetap mendung tapi tidak hujan dan tidak malam?! APA KAU MENGUTUKKU IBLIS TANDUK SATU SIALAN!!!!!"


Ia memaki sambil menunjuk langit.


"Hah...." Remaja itu membuang napas kesalnya.


"LIHAT SAJA! AKU PASTI AKAN BISA KELUAR DARI SINI!!!!" Tegasnya.


...****************...


ISTANA KERAJAAN SHINRIN


RUMAH KE II - Ruangan Baal


Baal menatap foto di bingkai kecil dengan lima orang di dalamnya. Di dalam foto itu, ada Aosora Bram, aosora Arthur, dirinya sendiri, dan remaja laki laki, serta remaja perempuan berbangsa malaikat.


"Bram. Cepatlah kembali. Arthur disini sendirian. Apa kau tidak mengkhawatirkan adik kecilmu yang san00⁰gat kau sayangi itu?" Ucap Baal sambil memegang surat laporan lainnya yang berisi kabar tentang pasukan gabungan dalam pencarian Aosora Bram.


"TOCK! TOCK! TOCK!"


Suara ketukan pintu terdengar tiga kali.


"Putra Mahkota. Anda mendapatkan surat dari Kerajaan Meganstria. Ini dari Putri Irene" Suara pelayan laki-laki yang biasanya mengantarkan surat untuk Baal.


"Masuklah" Ucap Baal sambil merapikan mejanya.


Pelayan itu masuk dan memberikan surat dari Meganstria.


Ini bukan surat resmi karena tidak ada stempel Meganstria. Surat ini adalah surat pribadi yang dikirim oleh tunangan Baal.


Isi surat itu:


Tanggal 03, Bulan Pertama, Tahun 1092


*Kepada: Putra Mahkota Baal


Putra Mahkota lama tak berjumpa Anda. Apa Anda sehat disana? Saya ingin bertemu dengan Anda dan ingin berbincang sambil minum teh di taman bunga istana.


Hari ini, Dokter kerajaan datang dan memeriksa saya. Dokter berbicara berdua dengan ayah saya untuk memberikan hasil pemeriksaan. Ayah saya, tiba-tiba datang menemui saya dengan raut yang tak bisa saya deskripsikan melalui tulisan.


Beliau berkata kepada saya untuk memajukan pernikahan kita. Ini karena kondisi saya.


Putra Mahkota, saya ingin membatalkan pertunangan ini. Saya ingin Anda mendapatkan sesuatu yang layak. Anda berhak bahagia dengan seorang perempuan yang Anda cintai dan mencintai Anda.


Saya menunggu Anda untuk membatalkan pertunangan ini*.


Tertanda tangan


Irine


Membaca surat itu, Baal langsung membelalakan matanya dan bergegas keluar sambil membawa jas birunya.


Pelayan yang membawakan surat Baal melihat Baal yang datang ke arahnya.


"Siapkan kapal untukku. Tiga puluh menit lagi aku akan kapalnya harus sudah siap. Tidak perlu menyiapkan apapun untukku" Ucap Baal dengan buru-buru.


"Tunggu, Putra Mahkota. Bagaimana dengan pendampingan Pangeran Aosora Arthur?" Tanya Pelayan itu.


"Berikan itu pada Dera, aku mempercayakannya. Aku akan datang ke Aosora saat Upacara pengangkatan Arthur" Jawab Baal sambil setengah berlari dan memakai jasnya.


Baal mendatangi Linus (Ayahnya) yang ada di ruangan pribadinya.


Baal mengetuk pintu kemudian masuk setelah diizinkan.


"Ayah, Aku meminta izin untuk ke Meganstria. Maafkan aku karena tidak bisa mengantar Arthur menuju Aosora. Namun, Aku sudah menyerahkannya kepada anggota guildku yang ku percaya" Ucap Baal dengan buru-buru.


Linus melihat putranya yang bahkan belum duduk.


"Baal, duduklah dulu dan bicaralah dengan pelan-pelan. Apa yang sedang terjadi?" Tanya Linus dengan pelan.


Baal membelalakan matanya kemudian menurunkan pandangannya.


"Ayah, maaf karen aku tidak sopan" Baal menarik kursi kemudian ia duduk dan menenangkan napasnya terlebih dahulu.


Linus tersenyum tipis sambil menyuruh pelayan yang ada didalam ruangan itu untuk keluar.


"Ayah, Putri Irene tiba-tiba ingin membatalkan pertunangan" Ucap Baal dengan nada yang tenang.


Linus menutup dokumen yang sedang ia tanda tangani.


"Kenapa tiba-tiba? Apa yang terjadi dengan Putri Meganstria?" Pertunangan Baal dengan Irene sudah berjalan hampir tiga tahun. Mereka berdua sudah ada niatan untuk menikah di dua tahun lagi setelah usia Irene menginjak dua puluh tahun dan sudah menyelesaikan masa pendidikannya.


"Ayah, dia bercerita kalau ayahnya ingin mengajukan pernikahan karena kondisi Putri Irene. Dia menyarankan kepadaku untuk membatalkan pertunangan ini dan menyuruhku untuk mencari pengantinya. Ayah, tolong beri aku izin untuk ke Meganstria dan menenangkan Putri Irene. Aku tidak ingin hubungan ini putus secara sepihak" Jelas Baal sambil memegang keningnya.


"Baal, apa kau benar-benar mencintai Irene?" Tanya Linus dengan nada dan raut serius.


"Tentu ayah"


"Bukan karena kasihan padanya? Kerajaan Meganstria-lah yang mengajukan pertunangan untukmu dan kau menerimanya begitu saja tanpa pertimbangan tiga tahun yang lalu" Linus ingin mendapatkan keyakinan dari Baal.


"Tentu ayah. Aku sangat mencintai Irene. Aku mencintai Irene sejak pertemuan kami yang berulang kali di Akademi Meganstria. Apa lagi yang harus ku buktikan kepada Ayah kalau aku memang mencintainya tanpa paksaan?" Balas tanya Baal dengan wajah yang menahan air matanya.


Linus tersenyum tipis pada Baal.


"Kalau begitu, pergilah. Ayah akan menyusul besok ke Meganstria untuk mengurus tanggal pernikahan kalian berdua" Ucap Linus sambil berdiri dan mendekat ke Putranya yang matanya berair.


Linus menggusap kepala Baal. Ia merasa terakhir kali melihat Baal menangis saat meninggalkan Baal di Asrama Meganstria 14 tahun yang lalu.


"Kau sudah besar nak. Bila ini memang pilihan yang terbaik menurutmu, maka lakukanlah. Ayah selalu mendukungmu" Ucap Linus sambil menepuk punggung Baal untuk menenangkannya.


"Aku tidak tau harus berkata apa lagi ayah. Tapi, terima kasih banyak karena memberiku kesempatan" Baal mengusap matanya.


...****************...


Baal merasa tenang setelah bercerita kepada Raja Linus. Ia menemui orang yang bernama Dera yang ia percaya untuk mengantikannya pengantaran Arthur.


"Apa? Tunggu Putra Mahkota! Kenapa harus saya?!" Tanya laki-laki dewasa muda di depan Baal sambil menyodorkan kembali tas perlengkapan yang diberikan oleh Shinrin untuk perwakilan yang ingin mengantarkan Arthur.


Pria itu memiliki kulit sawo matang dengan rambut kecokelatan dan iris mata berwarna hazel.


"Kau anggotaku yang ku percaya Dera" Jawab Baal.


"Tapi, kenapa bukan wakil saja yang Anda gunakan?" Tanya Dera.


Baal mencari sesuatu yang sangat di inginkan oleh Dera agar ia mau menerima permintaannya.


"Ya, karena aku lebih mempercayaimu dan Aku akan memberimu 15 koin emas sebagai uang jajan disana, serta aku akan memberimu libur selama seminggu untuk tidak menjalankan misi, tapi kau akan tetap dapat uang 5 koin emas perharinya di Minggu itu" Baal mencari sesuatu untuk memancing Dera agar ia mau.


Senyuman mengembang di bibir Dera.


"Apa saya perlu menyiapkan materai untuk Anda tanda tangani Putra Mahkota?" Tanya Dera sambil meringis.


"Astaga" Batin Baal dengan senang.