
Mata dan telinga Tsuha, ditutup oleh tangan Naver dan memeluk Tsuha membelakangi Arthur.
"Tsuha, apa yang sedang terjadi?" Suara pria yang terdengar halus ditelinga Tsuha, menyadarkannya dari lamunan.
Kenapa, Naver tak langsung mendatangi Arthur?
Air mata Tsuha menetes menendengar suara Naver yang khas dan menenangkan.
"Ma...maafkan Saya.... maafkan Saya maafkan Saya"
Permohonan maaf, terucapkan oleh bibir Tsuha secara berluang.
Naver menundukkan kepalanya. "Dia berada di posisi ini karena Arthur" Batin Naver sambil mengusap rambut Tsuha. "Apa yang harus Aku lakukan? Dia pasti trauma"
"GREPB! Punggung Naver dipeluk oleh Arthur dalam keadaan berdarah-darah dan satu tanduk yang sudah menghilang dari keningnya.
"Ayah, kenapa Kau tak menjagaku dengan benar? Bagaimana dengan perjanjian Kita?" Arthur memeluk hangat dan erat pinggang Naver.
Naver mengangkat kepalanya dan melepaskan pelukannya pada Tsuha untuk memeluk putranya.
Naver mengusap rambut Arthur yang hampir merah karena darah dikepalanya.
"Kau terluka, Apa ini sakit?" Naver mengusap lembut kepala Arthur.
"Tidak" Jawab Arthur tanpa melihat wajah ayahnya dan mengeleng dalam pelukannya.
"Maafkan Saya..... Pangeran"
Tsuha tak tau lagi apa yang harus Ia lakukan. Isi kepalanya hanya ada permintaan maaf.
"Hukum Saya saja. Jangan hukum Ibu. Ibu Saya, tidak ada hubungannya dengan ini"
Membuka mata untuk melihat Naver dan Arthur saja sudah tidak berani. Apalagi, mengangkat pandangannya.
Arthur mengintip kearah Tsuha sambil menujukkan senyumannya. Ia, melepas pelukan Naver dan berjalan kearah Tsuha.
"Pat! Pat!"
Rambut hitam Tsuha di pat-pat oleh Arthur.
"Ini bukan salahmu. Tidurlah"
DEGH?!
Mata Tsuha terasa berat dan "Bruk!" Ia sadar kalau tubuhnya jatuh ditangkap oleh Arthur. Kemudian, tubuh Tsuha digendong oleh Naver.
"Apa yang terjadi dengan Tsuha?" Lirih Naver sambil memegang tangan Arthur.
"Aku hanya membuatnya tertidur. Iblis tadi, akan selalu mengincar Dia. Oleh karena itu, jauhkanlah Dia dan keluarganya dari Aku. Apapun caranya"
Saat itu, Naver tidak banyak bertanya pada Arthur. Perubahan sikap Arthur, seperti sudah biasa dimata Naver.
Sebelum keluar dari hutan, Arthur naik di punggung Naver dan memberi raut kesakitan pada Bram dan prajurit yang lainnya.
Glashya, langsung mengambil putranya dari gendongan Aosora Naver sambil bersujud dihadapannya. Naver menyerahkan Arthur yang pura-pura pingsan pada tabib Istana dan langsung membawa Arthur ke kamarnya untuk di obati.
Naver menyuruh Glashya berdiri dan berkata, "Tak apa, ini bukan kesalahan Tsuha. Ini karena penjagaan pagar Kerajaan kurang diperketat"
Glashya, tidak bisa menerima kebaikkan Naver. Apapun itu, bagi Glashya, kecelakaan ini harusnya bisa dihindari bila Tsuha menjaga Arthur dengan benar.
Raut Glashya bisa dibaca oleh Naver. Naver sebenarnya tak ingin mengatakannya diwaktu ini.
"Nanti, setelah makan malam usai, kutunggu diruangan pribadiku"
Jantung Glashya langsung berdetak dengan kencang.
"Apa yang akan dibicarakan Raja Naver? Apa Beliau akan menghukum Tsuha?"
Glashya melihat punggung Naver yang menjauh dan mendatangi Istrinya yang menangis memeluk Bram.
Prajurit tadi yang dibanting oleh Arthur, mendatangi Naver untuk meminta maaf karena Ia sempat mengunci leher Arthur karena refleks setelah dikejutkan.
Naver tidak tau harus merasa kasihan pada Prajurit itu ataupun ingin menertawainya.
"Lalu, apa yang dilakukan oleh Arthur? Tidak mungkinkan kalau Dia tidak membalasnya?" Tanya Naver.
Prajurit itu menunduk sambil mengosok bet levelnya yang berkelas A. Ia ingin menjawab jujur namun, Ia takut dikatakan lemah karena terjatuh setelah tendangan Arthur yang menyerang rahang kirinya.
"Pangeran hanya menendang Saya. Tidak sampai jatuh"
Naver ingin mengelus dadannya dan berkata pada prajurit itu [Tak apa, jujur saja. Aku sudah memperhatikan Arthur sejak Ia menukar pakaiannya dengan Tsuha sampai Kau mengejarnya].
"Tep!" Naver, menepuk bahu Prajuritnya seraya bertanya. "Siapa namamu? dan berapa usiamu?"
"Zenvye Davind, 23 tahun"
Naver mengangguk beberapa kali, "Kalau begitu, Davind, mulai besok Kau...."
"Ah, Aku akan dicabut menjadi Prajurit"
Jantung Davind berdebar dengan kencang. Ia menutup matanya dan berusaha tegar akan keputusan Naver.
Seketika, Davind membelalakan matanya.
"A... Apa Anda tidak bercanda Ba...baginda?"
Naver mengusap sarung Hinoken yang kosong.
"Tentu saja. Besok pagi sesudah pukul 10 siang, antar data dirimu diruangan Pribadiku"
Hati kecil Davind sangat berbungah. "Mengapa, Anda memilih Saya? Bukankah masih ada Prajurit lain yang lebih baik dari Saya?"
Naver mengetuk beberapa kali jari telunjuknya pada sarung hinoken untuk berfikir sejenak. "Kau berani meminta maaf langsung kepadaku. Jarang ada orang yang meminta maaf pada orang tua anak yang mereka sakiti. Aku bangga padamu. Tetaplah seperti itu" Naver langsung meninggalkan Prajurit itu agar tidak panjang lebar lagi.
Davind langsung membungkukkan tubuhnya dalam-dalam sambil berseru, "BAIK! DEMI AOSORA! SAYA BERJANJI DENGAN NAMA SAYA DAN NYAWA SAYA!"
Naver tidak pemilih dalam menentukan siapa yang akan menjadi orang-orang penting dibawah perintahnya. Sifat itu, adalah lubang bunuh diri untuk Naver. Ia mudah mempercayai semua orang. Termasuk, mempercayai adik tirinya yang merupakan pembunuh keluarganya dimasa yang akan datang.
...****************...
Naver, mendatangi kamar Arthur dan berbicara dengan tabib yang menyembuhkan Arthur.
"Saya merasa aneh dengan tubuh Pangeran" Ucap tabib itu sambil mengosok batu mana yang bening berubah menjadi hitam sekali gosok.
Naver tertarik pada batu itu dan Ia hanya memperhatikan batunya daripada penjelasan tabib itu.
"Tubuh Pangeran Arthur, tidak bisa menerima sihir pengobatan milik Saya. Saya akan berusaha menggunakan cara tradisional untuk menyembuhkannya"
"Karena sihir pengobatan tak bisa memulihkan lukanya, Saya terpaksa melakukan jahitan di kulit kepalanya diatas telinga kiri Pangeran dan luka tusukan diperut kirinya. Total jahitan yang diterima Pangeran Arthur sebanyak 24 jahitan" Lanjut Tabib itu sambil menyembunyikan batu itu dari tangannya, karena Ia sadar kalau Naver salah satu pengkoleksi batu unik. Termasuk buku-buku kuno.
Naver sadar. Ia tak sedikitpun menunjukkan raut khawatir.
"Terima kasih. Arthur memang unik. Terima kasih karena telah meluangkan waktumu. Saat ini, Aku ingin mengobrol berdua dengan Putraku" Naver kembali mengosok sarung hinoken yang kosong
Mendengar itu, Tabib tersebut langsung mengundurkan diri dari kamar Arthur.
Mendengar suara pintu tertutup, mata Arthur yang terpejam langsung terbuka. Ia duduk diatas kasurnya yang empuk.
"Aosora Naver,..." Ia memanggil nama Ayahnya tanpa panggilan ayah.
Naver seperti sudah biasa. Ia berdiri disamping kasur itu.
"Aku, akan menghilangkan ingatan Arthur tentang bocah tadi itu. Dan katakan saja, siapa yang terlibat dengan bocah itu yang bisa membuat ingatan Arthur kembali"
Naver tidak setuju dengan keputusan itu. Akhir-akhir ini, Arthur sering bercerita tentang senang dan kesalnya Dia memiliki teman seperti Tsuha. Hingga, cita-cita Arthur untuk menjadikan Tsuha sebagai prajurit yang menjaganya kemana pun Ia berada saat dewasa nanti. Mengingat itu, air mata Naver menetes.
"Putraku, akan tetap bahagia walau Kau tidak membuang ingatannya. Ku harap, Kau paham bila berada diposisi orang tua" Jawab Naver.
Menurut sosok itu, ucapan Naver adalah sebuah keegoisan.
"Kalau begitu, apa Kau akan membiarkan Dua anak ini, tetap menerima trauma yang mereka alami barusan? Tak hanya bocah itu, Putramu juga memiliki Trauma. Dia bisa gila bila dibiarkan. Ya, ini terserah padamu, asalkan Kau tak lupa dengan perjanjian Kita sejak awal." Tutup Sosok itu.
Dari ucapan sosok itu, Naver memahami sesuatu. Dua anak itu, sama-sama mengalami trauma. Namun, yang paling nampak adalah Tsuha. Naver sendiri, tak ingin keduanya tak saling mengenal. Ia tak peduli lagi bila dikatakan egois oleh orang lain. Termasuk, kedua Putranya dan Istrinya.
"Kalau begitu, Aku akan membatalkan perjanjian Kita. Kau masuk terlalu dalam dikehidupan keluargaku" Ucap Naver sambil mengepalkan telapak kanannya.
Sosok itu, menujukkan jari telunjuknya pada Naver.
"BERLUTUT" Ucapnya.
"DAGH! BRAK!!!" Tubuh Naver bergerak dengan sendirinya.
"Wushhhhh" Tubuh Arthur yang kecil, tampak dari belakang menjadi tubuh yang dewasa.
Arthur duduk di ujung kasur tepat dihadapan Naver.
GREEEET!
Rambut biru langit Naver, dijambrak kebelakang oleh Arthur dan Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Naver.
"KAU MELANGGAR SUMPAHMU, KAU SAMA SAJA DENGAN MEMBUNUH DIRIMU DAN ISTRIMU"
Mata kanan Naver menutup karena menahan rasa sakit akibat jambrakan itu.
"AKU BERBAIK HATI PADAMU KARENA, KAU BERSUMPAH UNTUK MENYAYANGI PUTRAMU DAN MENJAGA HINOKEN KU. KATAKAN PADAKU, APA KAU BERSEDIA MATI SAAT INI DITANGAN PUTRAMU SENDIRI?"
Naver, belum siap untuk mati.
"Tidak. Setidaknya, biar takdirku yang membunuhku. Bila memang Putraku adalah takdir kematianku, Aku rela menerima kematianku" Jawab Naver.
Raut wajah itu, langsung berubah menjadi sayu.
"Aku akan menghilangkan ingatan Aosora Arthur walau tak dapat izin darimu. Untuk anak itu, Aku tidak akan peduli dengannya-" Wujud Arthur, kembali seperti semula dan "BRUK!" Tubuh Arthur terjatuh ditangkap oleh Naver.
Tubuh Arthur yang hangat, rasa sayang dan cinta Naver pada Putranya tak bisa dikalahkan oleh apapun itu.
Ia, memeluk erat putranya.
"Maafkan Ayah, Ayah gagal dalam menjagamu ataupun menjadi Ayah yang baik untukmu"