The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
HINOKEN, MILIK AMBAREESH



Arnold, tidak bisa dengan mudah belajar ilmu sihir tingkat lanjutan.


"Padahal, Kau belajar dasar-dasar sihir dalam waktu sebulan sudah hampir semuanya kau kuasa dengan mudah. Sihir tingkat lanjutan hanya menggunakan daya imajimu saja. Apa sulitnya?" Tanya Ambareesh pada Arnold sambil memegang tangan kanan Arnold yang penuh dengan lecet.


Ambareesh memperban luka ditangan Arnold karena tidak bisa disembuhkan oleh sihir penyembuhan.


Kemudian, Ia melihat mata Arnold yang menunduk karena Arnold tidak menjawab pertanyaannya.


"Kenapa? Apa Kau takut dengan sihir? Apa yang Kau takutkan ?"


Ambareesh bertanya dengan pelan sambil memajukan wajahnya kearah Arnold yang menunduk.


"Angkat pandanganmu. Kau adalah calon orang yang hebat. Tak baik untukmu bila terus-menerus menundukkan kepala"


Arnold menanggis karena takut.


"Hah....."


Ambareesh mengehela napas sambil berdiri dengan tegak dan melipat tangannya didadanya.


"Kenapa menanggis, Arnold ?"


Ambareesh tidak terbiasa menghadapi anak kecil.


"Hiks....Ak...hikssss...... Aku takut guru !!! Hikssss...." Arnold terus menanggis dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Ambareesh melihat Arnold seperti melihat dirinya sendiri waktu kecil.


"Tap ! Tap!"


Ia menepuk-nepuk kepala Arnold yang berambut putih.


"Mau istirahat dulu ? Apa Kau suka ikan ?"


Ambareesh selalu menawarkan ikan karena Ia tidak tau apa yang disukai oleh anak kecil seusia Arnold.


"Hiks... Aku hiks...bukan kucing guru.... Hiks..."


Arnold berusaha tenang agar tidak menanggis.


"Aku tau kalau Kau bukan kucing. Kalau Kau kucing, Aku pasti akan membencimu sejak dulu"


Ambareesh sangat membenci seekor kucing.


Arnold sebenarnya takut untuk memberitahu Ambareesh tentang ketakukannya.


Sebenarnya, Ambareesh sudah tau kenapa Arnold bisa takut dengan sihir. Itu, karena Arvold, Pangeran pertama.


Ha Nashi yang memberitahu semuanya tentang kondisi istana Akaiakuma pada Ambareesh.


Kenapa seperti itu ? Sebab, Ambareesh menjanjikan suatu kebebasan yang bersifat belum pasti pada Ha Nashi.


"Aku, Akan membebaskan Bangsa non Iblis dan non Siluman dari kekuasaan tangan Akaiakuma"


Itu, adalah janji Ambareesh setelah ditolong oleh Ha Nashi.


Ambareesh menunggu Arnold tenang kemudian mengajarkan sihir pada Arnold dengan cara lain yang lebih menyenangkan.


Ambareesh cukup lama memikirkannya.


"Sekarang, Apa Kau sudah tenang ?"


Ambareesh mengelus pungung Arnold dan Arnold masih terisak.


"Hari ini, lihat dulu bagaimana caraku mengeluarkan sihir pedang mana dan sihir perpindahan"


"Sihir pedang mana adalah sihir tingkat lanjutan setelah Kau berhasil mengontrol manamu. Lihatlah, Kau hanya perlu mengalirkan manamu ditelapak tanganmu dan telapak tanganmu ini adalah terminal untuk mengumpulkan mana dari tubuhmu atau mana dari alam disekitarmu"


Mana berwarna biru muda yang berbentuk seperti pusaran air berada diatas tangan Ambareesh


Arnold sedikit takut melihat mana yang berkumpul itu. Ia takut kalau mana itu akan membeku dan langsung meledak seperti serpihan kaca.


"Kemudian, setelah terbentuk pusaran seperti ini, Katupkan kedua tanganmu sambil pejamkan matamu"


Ambareesh mempraktekkannya pada Arnold.


Arnold melihat bulu mata Ambareesh yang lentik.


Ambareesh membuka matanya saat Arnold melihatnya.


"Lihat tanganku, jangan malah liat wajahku" Ucap Ambareesh.


Arnold langsung menunduk.


"Baik !" Kemudian, Arnold kembali fokus pada kedua dengan Ambareesh yang di katupkan.


"Setelah Kau memejamkan matamu, bayangkan kalau kedua telapak tanganmu adalah sebuah wadah berbentuk pedang"


Ambareesh tidak menutup matanya karena Ia tidak percaya pada Arnold.


"Dan mana tadi, bayangkan saja seperti air yang Kau kumpulkan. Air yang kau kumpulkan itu, tuangkan secara perlahan hingga memenuhi wadah berbentuk pedang itu. Aliri secara terus menerus dan tarik dengan pelan"


Ambareesh menarik kedua telapaknya berlawanan arah.


Arnold mulai melihat pedang mana berwarna biru langit dari sela kedua telapak tangan Ambareesh yang mulai terbuka.


Matanya terbelalak saat melihatnya.


Ambareesh terus menarik dengan perlahan hingga pedang mana sepanjang 75 cm siap dipakai untuk bertarung.


Ambareesh memberikan pedang mana itu pada Arnold.


Arnold hanya melihatnya karena ia tau kalau pedang mana akan menghilang saat disentuh oleh orang lain.


"Tentu saja tidak. Kau butuh konsentrasi yang tinggi saat membuatnya. Sekarang, pegang ini"


Ambareesh memaksa Arnold untuk memegang pedang mananya.


Arnold berfikir "Apa Dia mau membodoh i ku ?"


Arnold langsung memegang pedang mana itu dan Ambareesh melepaskan tangannya dari pedang mananya.


"Wushhhh....." Perlahan, pedang mana Ambareesh berubah menjadi merah.


"Apa ?!"


Arnold sangat terkejut melihat pedang mana milik orang lain yang bisa ia pegang.


"Bagaimana bisa ? Apa ini sebuah trik ?"


Ambareesh ingin membuat sesuatu yang bisa membuat Arnold tertarik untuk belajar.


"Tentu saja tidak. Yang Kau pegang itu adalah pedang sihir buatanku sendiri yang terus ku aliri mana tanpa menyentuhnya. Bila berhenti mengalirinya mana, pedang sihir itu, akan melenyap begitu saja. Aku menamainya Hinoken"


Arnold memegang pemegang pedang itu yang terdapat ukiran awan.


Kemudian, Arnold melihat jari manis Ambareesh yang terdapat cincin dengan ukiran bunga teratai ditengahnya.


Arnold menunjuknya.


"Bagaimana dengan cincin itu ? Apa guru sendiri yang membuatnya ?"


Ambareesh melihat cincinnya.


"Tentu saja tidak. Ini sudah ada dijariku sejak Aku terlahir dan ~ Aku tidak bisa melepasnya sampai sekarang" Jawabnya.


Arnold tidak percaya.


"Bagaimana bisa ? Kalau dari lahir harusnya cincin itu sangat sempit dijari guru!" Tegas Arnold.


Ambareesh tertawa.


"Lihatlah, Kau benar benar sangat tidak mempercayainya yah"


Ambareesh menarik cincinnya hingga ke ujung jarinya.


"Nah ! Itu bi....sa ????"


Arnold melihatnya saat cincin itu hampir terlepas dari jari Ambareesh langsung kembali lagi ketempat asalnya.


"Hah ?! Bagaimana bisa ?!!! Ini pasti tipuan !!! Pasti tipuan !!!" Tegas Arnold sambil menarik tangan kiri Ambareesh dan berusaha menarik cincin itu berulang kali dan tetap kembali ditempat yang sama.


"Ini Keren sekali Guru !!! Ajari Aku sihir ini !!!!!" Tegas Arnold.


"Ahahaha..... setelah Kau berhasil menguasai semua sihir yang ku bisa"


Ambareesh menyembunyikan kebohonganya dibalik tawanya.


"Baik!!!"


Arnold kecil, bersemangat setelah mendengar ucapan Ambareesh.


Tapi, sampai kapan Arnold harus menunggu Ambareesh mengajarkannya membuat cincin yang Ambareesh juga tidak tau asalnya darimana.


Hingga, Empat tahun kemudian,....


Ambareesh tiba-tiba menghilang dari hadapan Arnold setelah mengajarkan hampir 200 macam sihir dari berbagai tingkat pada Arnold.


Arnold mendatangi rumah Ambareesh yang sudah tak berpenghuni dan pakaian Ambareesh masih tertinggal banyak dilemarinya.


Ambareesh pergi tanpa membawa apapun selain koin emas yang ia simpan.


Arnold masih berumur 12 tahun, mendesak Ayahnya untuk menemukan gurunya.


Raja kesembilan menyuruh beberapa prajurit untuk mencari Ambareesh.


Para prajurit itu, mencari Ambareesh tanpa istirahat selama satu bulan dan hanya beristirahat selama dua jam setiap harinya.


Namun, tetap saja. Mereka tidak bisa menemukan Ambareesh yang tiba-tiba menghilang.


Kemudian, Raja kesembilan memberhentikan pencarian itu dan harus fokus pada kenaikan Arvold (Pangeran pertama) sebagai Putra Mahkota Akaiakuma.


...*****************...


Dimalam purnama yang sangat menerangi gelapnya malam.


Ha Nashi berjalan dan membawa Arnold diam-diam menuju tengah hutan sihir. Tepatnya, berada didanau pusat dari mata air sungai yang mengaliri Negri Arden.


Ha Nashi, menyembunyikan semuanya dari Kerajaan Akaiakuma dan menemui Ambareesh yang membakar Ikan tangkapannya disana.


Arnold bersembunyi tak jauh dari tempat Ambareesh duduk


Ha Nashi melihat angka 227 yang tertato dilengan kiri bagian atas Ambareesh.


"Ambareesh, Aku datang. Sesuai janjiku dimalam purnama dan membawa data Prajurit yang Kau cari. Belial Ken...."


Ha Nashi mengulurkan gulungan kertas pada Ambareesh.