
"Krauk! Krauk!"
Arthur, Zack, dan Lina mendengar suara kunyahan didekat mereka.
Mereka bertiga langsung membentuk formasi sesuai arahan Zack.
"Krauk!" Suara itu, terlalu besar untuk seekor kuda yang makan rumput.
Zack berjongkok dibalik bongkahan rumah warga yang ambruk dan yang lainnya, mengikutinya.
Cairan merah terlihat mengalir dibawah kuda itu berada.
Zack membelalakan matanya dan ingin memastikan dengan benar.
Ia melihat kebawah hingga kepalanya menyentuh tanah.
Tangan pucat, terlihat sedang berusaha meraih kayu didekatnya.
"Sial!" Zack kembali keposisinya dan langsung melihat Lina serta, Arthur yang menunggu perintahnya.
"Itu, bukan kuda yang mengamuk. Kuda itu, menyerang seseorang. Aku akan menjadi umpan untuk kuda itu dan Kalian, secepatnya bawa korbannya ke tempat penyembuhan yang terdekat. Sebelum itu, Aku akan menggunakan sihirku untuk menghentikan pendarahannya. WOSH!" Zack menjelaskannya sesingkat-singkat mungkin lalu, Ia berteleport didepan kuda itu.
Arthur mengintipnya.
"DUAGHHHH!!!!" Zack melesatkan tendangannya setelah berteleport disana. Hingga, "BRUUAKKKK!!!!" Kuda itu, terjatuh.
Arthur melihat situasi.
"BRRRRRRR KHHHHIIIIIIIIIIKKKKKKK!!!!!!!!" Kuda itu berdiri dan mengibas-gibaskan batang kayu yang menusuk kepalanya.
Mulut kuda itu, mengeluarkan liur dan busa.
Zack melihat tubuh dari pemilik tangan itu.
Dia adalah seorang wanita muda dan wanita itu, kehilangan sebagian bahu kirinya. Mata wanita itu, berwarna kuning pucat.
wajahnya terlihat putih pucat dan rambut hitam panjangnya sudah penuh dengan darah.
"Gtttt! Crat!" Zack mengigit ibu jarinya dan darahnya menetes pada mulut wanita itu.
"Ini adalah kontrak. menelan artinya menerima, Terimalah bila Kau ingin selamat. Aku hanya akan menjadi pemilikmu" Ucap Zack sambil menutupi tubuh wanita muda itu dengan seragam jubahnya.
Mata wanita itu berair, mulutnya terlihat seperti mengucapkan sesuatu. Kemudian, Ia menelan darah Zack yang diteteskan kemulutnya.
"WOSH!" Lingkaran sihir muncul dibawah wanita itu.
Luka kecil di Ibu jari Zack mulai menyucurkan darahnya.
"Gdebuk! Gdebuk!" Kuda itu kembali mengamuk dan berlari kearah Zack.
Zack langsung berdiri dan menjauh dari tempat itu.
Kuda itu, mengejar Zack.
"Arthur! Ayo cepat!" Lina berancang berdiri dan memegang bahu kiri Arthur.
"Clink!" Sesuatu yang mengkilat terlihat dimata Arthur jauh dihadapannya dan dekat dengan pepohonan.
"Wosh!" Panah melesat kearah Arthur dan Lina.
Untuk menghindarinya, Arthur mendorong Lina tanpa banyak bicara.
"Bruk! JLEB!" Lina terjatuh dan bersamaan, anak panah itu menancap di sebelah kiri Arthur dekat dengan telinganya.
"Aduh.... Arthur, kenapa Kau malah mend..." Lina membuka matanya lebar-lebar.
DEGH!
Ia, melihat sosok Elf telah berdiri dihadapan Arthur.
"Yang mulia, Saya menjemput Anda. Ctash!!!!" Elf itu menghilang bersamaan dengan Arthur hanya dengan sekali kedipan mata.
Mata Lina terbelalak.
"ARTHUR!!!!" Ia melihat kesegala arah.
Tak ada siapapun selain Dia dan wanita itu.
Lina berancang menolong wanita itu terlebih dahulu dan langsung membawanya kepusat kesehatan sambil mentelepati Zack.
"ZACK! KAU DIMANA?!" Lina menyerahkan wanita itu pada penyembuh.
"Aku kehilangan jejak kuda itu didalam hutan. Saat ini, Aku menuju ketempatmu" Jawab Telepati Zack.
"Lupakan tentang kuda itu! Kuda itu, hanya pancingan! " Lina menandatangi Folmulir pasien. Kemudian, Ia segera keluar dari tempat itu.
"Apa Maksudmu?!"
"Ada Elf yang menculik Arthur!"
"HAH?! BAGAIMANA BISA?! KAU NGAPAIN SAJA KOK BISA KEHILANGAN DIA?!"
Mata Lina berair, "Cep..cepatlah kemarkas.... Aku akan menjelaskannya...."
"DIMANA KAU SEKARANG?!"
"Jangan menanggis. Aku akan kesana. wosh!" Zack muncul dihadapan Lina.
"GREB!" Lina melihat Zack dan langsung memeluknya.
"Maafkan Aku! Maafkan Aku!" Lina menggelengkan kepalanya didada Zack.
Zack menurunkan kedua Alisnya yang sempat Ia tarungkan.
"Ssst... Apa yang terjadi tadi?" Ia mengusap halus rambut lina yang di kuncir.
"Ada seseorang yang melesatkan anak panah pada Kami saat Kuda itu mengejarmu. Lalu, Arthur mendorongku hingga terjatuh. Sa...saat Aku membuka mataku..... ada Elf ya..yang berjongkok dihadapan Arthur. Dan Mereka menghilang dengan cepat. Zack! Bantu Aku!" Lina benar-benar menanggis.
"Kau melihat kemana Ia pergi?" Zack memegang wajah Lina dan mendongakkannya.
Lina menutup kedua matanya.
"Tidak. Mereka menghilang begitu saja. Aku tak bisa berteleport ke tempat Arthur" Jelas Lina sambil membuka matanya.
Zack melepaskan kacamata Lina.
"Kita ke markas dulu. Kita jelaskan secara perlahan pada Wakil Razel.
...****************...
"CTTTASSHHHH!!!!!! BRUAKKKK!!!!!"
Elf yang membawa Arthur, tiba-tiba terjatuh didalam hutan sihir.
Arthur dan Elf itu, terjungkal didalam hutan.
"Apa yang Kau lakukan pada Pangeran Aosora?" Marsyal berada didalam hutan dan Ia yang membuat Elf itu terjungkal.
Daeva, menonton mereka dari atas dahan pohon didekat Marsyal.
Arthur mendongakkan Kepalanya.
"Kapten Marsyal!" Arthur sangat senang melihat Marsyal didepan nya.
"Kutanya, Apa Yang Kau lakukan pada Pangeran Aosora?" Masyal terlihat sangat Murka pada Elf itu.
Elf itu hanya berani melihat Marsyal sebatas lehernya.
"Beliau, bukan Pangeran Aosora" Jawab Elf itu.
Elf itu bermata hijau dan memiliki tanda dua segitiga kecil dibawah matanya sama seperti Haraya dulu.
"Auramu tidak asing. Siapa namamu?" Marsyal menarik jubah Arthur untuk berdiri dibelakangnya.
Arthur hanya mengikutinya.
"Gabriel" Jawabnya dan semakin menundukkan pandangannya.
Marsyal tak pernah mendengar nama itu. Tapi, Ia merasa tak asing dengan auranya.
"Siapa yang menyuruhmu menculik Pangeran Aosora?" Marsyal kembali bertanya dan Daeva masih memperhatikan mereka dari atas sambil meletakkan pipinya ditelapak tangan kanannya.
"Beliau bukan Aosora Arthur"
"Aku bukan Aosora Arthur? Apa Dia melihatku sebagai Archie?"
"Saya menjemput Baginda Raja atas perintah Ratu saya"
"Ahahaha.... Dia pasti salah orang"
Marsyal melirik Arthur kemudian, kembali melihat ke Gabriel.
"Dari Kerajaan mana Kau berasal?"
"Alba"
"Ha?..." Daeva terkejut mendengarnya. Matanya terbelalak dan Senyum seringaiannya nampak lebar setelah mendengar nama Kerajaan itu.
Marsyal hanya membelalakan matanya.
"Kerajaan Apa itu? Aku tak pernah tau dengan nama kerajaan itu dibuku" Arthur sedikit mengintip Gabriel.
"Itu kerajaan siluman yang mitosnya, sudah tenggelam sejak tahun 994 hitungan Akaiakuma. Atau, sepuluh tahun sebelum Shinrin, Meganstria, dan Narai terbebas dari tangan Akaiakuma" Jelas Marsyal pada Arthur.
"Oh, tapi, kenapa sejarah itu tak pernah ada dibuku?" Lirih Arthur.
"Itu, Karena keserakah seorang teman yang membunuh temannya sendiri untuk mendapatkan tahtah Shinrin. Sejarah itu, dihapus oleh tiga kerajaan itu" Nao tiba-tiba muncul dibalik semak belakang Gabriel.
Nao memegang pedang besi dan ujung lancip pedang itu, sudah berada leher Gabriel.
Gabriel, membelalakan matanya. Ia tak sadar akan kehadiran Nao dibelakanhnya.
Gabriel melirik Nao.
"Kapten, apa perlu ku bunuh Elf yang menculik Arthur ini?" Nao tersenyum melihat Elf itu yang matanya bergetar.
"Apa Kau masih mengenalku, Pa~man?" bisik Nao pada Gabriel.