The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
EPILOG BAB 2 (Nao bagian 4 dan Janji Tsuki)



"SIAPA KAU SEBENARNYA?! SYUUUUNG!!!!" Tanya tegas ayah Nao sambil menebaskan pedangnya di depan mata Nao.


Nao tak menghindarinya Ia tetap berdiri didepan Ayahnya dan menatap mata Ayahnya yang melihatnya dengan pandangan tanpa kasih.


"Aku anakmu. Apa.... Ayah... lebih mempercayai ... ucapan orang lain?" Air mata menetes dari mata Nao saat mengatakannya.


"Apa Ayah membenciku?"


...****************...


"JANGAN MENGGUNAKAN WAJAH ANAKKU! SIAPA DIRIMU?!" Ujung pedang menunjuk pada mata hitam Nao.


Mata Nao bergetar.


Air mata Nao terus bercucuran.


"Aku Nao! Anak ayah! anak ibu! teman Tsuha! teman Tsuki!" Nao menutup matanya.


Hati kecil Nao terasa terkoyak.


Ayahnya tak mempercayainya.


"Kalau Kau anakku, Kau harus bersedia mati ditanganku"


Telinga Tsuha berdenyut mendengar itu.


Tsuha tak tau apa yang terjadi.


"Apa?...Apa yang ayah ucapkan?" Kornea mata Nao bergetar dan Ia tak bisa mempercayai apa yang diucapkan oleh ayahnya itu.


Pedang besi telah diarahkan tepat didada Nao.


Tangan kanan Nao diulurkan kearah Tsuha.


Tsuha pikir, Nao menginginkan pertolongan darinya. Namun, Itu salah. "BZZZZT! BRUUUKKKKKK!" Sihir berwarna terang melesat kearah Tsuha. Dan, sihir itu mengenai kepala Tsuha dan membuatnya tak sadarkan diri disana.


Ayah Nao tak bisa berpikiran jernih. Ia salah paham.


Di sudut pandangnya, perbuatan Nao itu sama seperti sebuah pembunuhan.


"JLEB! Khuk!" Ia mendorong pedang besinya dan Nao memutahkan darahnya saat pedang itu menusuknya.


"Khuk!" Ia beruntung, karena pedang besi itu tak mengenai jantungnya.


Nao meletakkan tangan kanannya diperut ayahnya tepat dipusarnya dengan perlahan.


Mata Ayah Nao mengeluarkan air matanya saat melihat darah keluar dari hidung dan mulut Nao.


Seringaian, terlihat mengembang dibibir Nao.


Wajahnya yang murung dan sedikit menunduk membuat poni rambutnya terjatuh menutup matanya.


"Harusnya, Kau membunuhku.... seperti ini...."


Matanya terbelalak mendengar ucapan putranya dengan Nada suara yang tak lagi gemetar dan Ia merasakan perutnya mulai terasa panas kemudian,... "BLLLAAAAATTTT!!!!! PRAAAAKKKK!!! CRAAAATTT!!!!"


Perutnya seperti diledakan oleh sebuah kembang api yang tak sengaja termakan. Seisi perutnya, meledak dan berhamburan kemana-mana. Wajah dan tangan Nao, telah bermandikan darah.


Salah seorang prajurit, melihat kejadian itu dari awal sejak Ayah Nao berkata kalau Ia akan membunuh Nao.


Nao melihat Prajurit itu dan mengusap wajahnya dengan lengan kirinya yang masih bersih.


Nao bersimpuh sambil memeluk sebagian tubuh ayahnya yang tersisa bagian bahu hingga kepala.


"Aku menyayangimu...."


Prajurit itu, mendatangi Nao dan Ia sebenarnya, tak tau kenapa tubuh Ayah Nao tiba-tiba meledak seperti itu.


"Anak kecil sepertinya, tidak mungkin bisa menggunakan sihir dalam seperti itu"


Nao terlindungi atas kata anak kecil.


Tak ada seorang pun yang bisa mengusut bagaimana cara meledaknya tubuh ayah Nao yang seperti diberi petasan didalam perut itu.


Dan, didalam tubuhnya juga, tak ditemukan tanda-tanda adanya mana milik orang lain.


Setelah kejadian itu, Nao dibebaskan dari pusat pemberdayaan anak-anak dan dirawat oleh Nox. Ia memberi marganya pada Nao. Namun, Nao menolaknya karena Ia menyayangi keluarganya.


Nao adalah anak yang baik dan Ia bukanlah anak yang susah diatur.


Karena hal itu, Nox percaya pada Nao dan Ia menumbuhkan Nao dengan memberi kasih sayang serta memberikan kepercayaan yang tinggi pada Nao melebihi kedua orang tua aslinya.


Oleh Karena itu, Nao sangat mudah mempercayai orang lain dan Ia tak ingin membuat orang lain menjadi marah atau membencinya seperti ayahnya.


Ia tak ingin Tsuha seperti ayahnya. Bagi Nao, Tsuha itu sama seperti seorang keluarga dan Nao, tak bisa membaca isi pikiran Tsuha karena Ia jarang menunjukkan ekspresinya pada orang seperti Nao yang suka mengusilinya.


...****************...


...Kembali disaat Tsuha mencari Nox di ASJ...


Pada saat kakinya melangkahi batas pagar ASJ, Seluruh siswa yang sedang dihukum melihat Tsuha yang telah mengenakan seragam Guild pemberantas Iblis.


Mereka berdiri dan membelalakan matanya.


Mata Tsuha tertuju pada salah seorang siswa yang sedang dihukum berjongkok didepannya (Dia adalah Tsuki yang sedang membelakanginya dan diberi ketegasan oleh Nox.


"Hah...." Ia menghela napas panjang saat sadar kalau itu Tsuki.


Tsuki, satu-satunya siswa yang menjadi langanan dihukum oleh guru-guru padahal, Dia bukan berandalan sekolah.


Nox melihat kearah siswa-siswa yang berdiri dan ia menengangahkan mulutnya saat melihat Tsuha berjalan kearahnya dengan rasa percaya diri yang tinggi.


Tsuha berdiri dihadapan Tsuki yang membelalakan matanya melihat Kakaknya dihadapannya itu.


"Minggir" Ucap Tsuha dengan datar pada Tsuki.


"Hah? disebelahku masih banyak jal.... Bruk!"


Nox maju dan mendorong Tsuki kesamping hingga Ia hampir menabrak tiang bendera didekatnya.


Tsuki mendengus pada Tsuha.


Kemudian, Ia melihat kekepala Tsuha yang terdapat kucing di kepalanya itu.


"PFFFT!" Ia menahan tawa sendirian.


Tsuha menyadarinya dan Ia tetap sengaja membiarkannya.


"Guru, Apa Kau sibuk?" Tsuha menatap mata Nox yang tiba-tiba berbinar mendengar pertanyaan yang jarang diucapan oleh Tsuha itu


Nox menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Tsuha memundurkan kepalanya dan melihat kearah siswa yang lain.


Kemudian, Ia mendekatkan mulutnya didekat telinga Nox untuk membisikkan sesuatu.


Raut Nox, berubah saat mendengar bisikkan Tsuha.


"Dimana sekarang?"


"Akan kukatakan dijalan. Jadi, apa Kau sibuk?" Tsuha bertanya sekali lagi padanya.


Tsuki mengkernyitkan keningnya. Tsuha sudah main rahasia-rahasiaan darinya.


"Tidak. Tunggulah sebentar, berbincanglah dengan Tsuki selama menungguku membubarkan barisan murid-murid itu"


Siswa disana mendengar ucapan Nox akan membubarkan mereka. Sontak, mereka semua langsung bersorak "HOOOORRRREEE!!!!!!" Dengan suara yang lantang.


Tsuha dan Nox melihat siswa-siswa yang bersorak itu.


"SSSST! DIAM!!!" Tegas Tsuki pada Mereka.


Mereka semua langsung terdiam mendengar bentakan Tsuki.


Nox menyuruh Tsuki untuk menemani Tsuha sementara waktu dan Ia tetap akan mendapatkan hukuman 2X lebih berat dari siswa-siswa yang lainnya karena Ia adalah seorang Provokator.


"HUUUUUUUUU!" Siswa-siswa itu menyorak i Nox karena akan menghukum mereka.


Tsuki telah membawa Tsuha duduk dikursi depan salah satu kelas yang dekat dari lapangan.


Tsuki meringgis pada Tsuha. Ia senang sekali bisa melihat Tsuha setelah Event pencarian anggota dari Lima Guild Shinrin.


"Jadi, bagaimana kabarmu Tsuha?"


CTAKK!!!


Tsuha memukul kepala Tsuki.


"Panggillah Aku Kakak"


"Cuih! najis!" Ejek lirih Tsuki.


"Jangan menyusahkan guru Nox. Dia membesarkan Kita dengan sulit dan Kenapa Kau dihukum olehnya?"


Mendengar ocehan Tsuha, Tsuki memanyunkan mulutnya. "Kami hanya ingin mengunjungi mu, Sena, Alex, dan Nao. Salahkah?"


Tsuha sedikit membelalakan matanya saat Tsuki menyebutkan nama Alex.


"Hah?" Tsuha tak percaya mendengar jawaban Tsuki.


Ia melipat lengannya didadanya.


"Dasar bodoh. Kau ingin membawa orang sebanyak itu untuk mengunjungi Kami? Orang-orang diluar sana, pasti akan berfikir kalau Kalian akan tawuran. Tak!" Tsuha kembali menengetuk kepala Tsuki.


"Ck!" Tsuki membuang wajahnya.


"Kau sendiri tak berkaca. Membawa kucing dikepala mu itu, memperlihatkan mu seperti orang bodoh. Kau kan bukan pecinta hewan" Lirih Tsuki.


Sebenarnya, Tsuki tak berani berkata seperti itu pada Tsuha.


Tsuha mengangkat kucing kecil itu.


"Ini bukan hanya seekor kucing biasa. Ini hewan sihir, mereka memang suka begini padaku. Kalau Kau tau, ada tiga serigala sihir yang selalu menempel padaku saat Aku berada di Markas. Kapan-kapan berkunjunglah bersama Guru Nox. Dia pasti akan mengizinkanmu bila hanya berdua saja" Ucap Tsuha.


"?? Hewan sihir? Sekecil ini?" Tsuki menggosok kepala kucing itu yang ada dikepala Tsuha.


"Jangan tertipu dengan wujudnya. Hewan sihir ini, memiliki sihir yang lebih besar dan kuat darimu" Ucap Tsuha sambil menepis tangan Tsuki.


"Lebih kuat dariku? Ck! Berarti, Kau juga lebih lemah darinya" ejek Tsuki pada Tsuha sambil meringis padanya.


"Terserah apa maumu" Tsuha merogoh sakunya untuk mengambil batu mana hijau itu.


Kucing sihir itu melihat batu mana tersebut langsung melompat dan berniat merebutnya dari tangan Tsuha.


Tsuha menutup tangannya yang berisi batu itu sebelum kucing itu melompat kearah tangannya itu.


Tsuha mencicing kucing itu dan Ia letakkan lagi diatas kepalanya.


"Simpan ini baik-baik. Ini untukmu, cepatlah menyusulku" Tsuha memberi batu itu pada Tsuki.


Warna batu yang cantik itu membuat Tsuki terbelalak.


"Sial! Ini batu mana! I.... ini... mahal kan? Kenapa Kau membuang-buang uangmu untukku?"


Tsuki, tak bisa menerimanya. Batu itu, terlihat sangat cantik dan batu itu adalah batu yang mahal dimatanya.


"Kalau begitu, jangan buang-buang waktumu untuk bermain-main seperti ini!" Tegas Tsuha.


Tsuki menunduk dan Ia tau kalau sudah berbuat salah.


"Aku sudah ada kemajuan loh, Aku sudah bisa menggunakan sihir teleport. Apa Kau tak ingin memberiku ucapan selamat?" Tsuki menggaruk tengkuknya dan wajahnya terlihat sedikit memerah.


"Sihir teleport? Ka... Kau.... bisa ber.. teleport?!" Itu adalah suatu hal yang tak terduga dihidup Tsuha.


Tsuki meringis dan menggaruk pipi kirinya.


Senyum lebar nampak pada wajah Tsuha.


"Haha, Ku tunggu di event berikutnya. Dan terima ini sebagai hadiahmu dariku" Tsuha memasukkannya kedalam saku seragam Tsuki.


Tsuki tersenyum.


"Saat Aku punya uang nanti, Aku akan mengantinya. Dan, Aku akan berjalan disampingmu dengan bet kelas rank yang sama denganmu. Kau harus mau menungguku Tsuha" Tsuki sangat senang saat menangatakannya dan Ia sangat bersungguh-sungguh.


"Ya, jangan lama-lama. Kalau Kau sudah berkeliling nanti, bawa Aku dengan sihir teleportmu itu. Janji?"


Hati kecil Tsuha ngilu. Ia, teringat ucapan pria tua itu.


Tsuki menunjukkan jari kelingkingnya pada Tsuha.


"Aku akan mendapatkan Guild dalam jangka waktu setahun" Janji Tsuki.


...****************...


"Guru, Pangeran Aosora kembali seperti enam tahun yang Lalu. Dia memintamu untuk segera menemuinya"


Mendengar ucapan Tsuha, hati Nox tak bisa tenang.


Ia segera membubarkan barisan siswanya yang membandel itu.


"Baginda Naver, Saya akan melakukan Apapun untuk Putra Anda. Saya, tak ingin Insiden Enam tahun yang lalu terulang lagi. Nyawa ku adalah Milik Aosora Arthur"