
“Apa wajah tolol seperti ini bisa membunuh orang?” Ia menarik pipi Arthur.
Gadis itu mengeleng. “Benarkan. Perkenalkan, dia Pangeran Aosora Arthur. Pangeran bodoh yang punya hobi membaca cerita fantasi dan membuat orang lain jengkel padanya"
“WOEI! AKWUH BWISHA NGHWOWONG SENDWIWI!” [Hei aku bisa ngomong sendiri]
Tsuha melepaskan pipi Arthur. Arthur mengosok pipinya yang merah dan terasa penuh.
“Maaf ya adik, Dia hanya bercanda. Aku tidak bodoh kok. Apa kakak boleh ngobrol dengan adik?” Arthur bertindak sopan pada anak itu.
Anak itu, turun dari kasur dan berjalan perlahan ke arah Angel. “Kak Angel, apa Iblis di dalam tubuh Pangeran sudah hilang?” Bisik gadis kecil itu pada Angel.
Tsuha dan Arthur mengangguk saat melihat Angel.
“Itu benar. Iblis jahat itu, sudah dibinasakan oleh Raja Shinrin. Bukankah itu hebat?” Jawab Angel sambil berbisik balik pada gadis kecil itu.
“Woah! JADI! SEKARANG HANYA ADA PANGERAN AOSORA?!” Gadis itu menatap Angel dengan mata yang berbinar.
“TENTU!” Balas Angel dengan antusias.
Gadis itu melihat Arthur dengan mata yang berbinar. Gadis itu, sangat menyukai Arthur. “Apa aku boleh memeluk Pangeran Aosora?” Bisik gadis kecil itu pada Angel.
“Tentu! MELIA BANTING JUGA BOLEH!” Tegas Angel sambil tersenyum jahat.
“Apa? GREP!!!” Gadis kecil yang berbangsa malaikat dengan tinggi 132 cm memeluk pingang Arthur.
Mata Arthur terbelalak dan ia membeku di tempat.
“Pangeran! Apa pangeran benar Pangeran Arthur?!”
Angel menarik baju bagian belakang Tsuha untuk keluar dari sana dan membiarkan Arthur berbicara dengan Melia.
“Ya, itu benar...”
BRAK!
Pintu kamar ditutup oleh Angel. Tsuha membuang napas lega karena Angel mampu mengambil hati anak kecil itu. Ia sedikit bersyukur karena Angel ikut dalam perjalanan Arthur ini.
Tsuha melangkah melihat ke arah luar jendela. Salju mulai turun di tanah Aosora.
“Apa bulan pertama di tahun ini, memang waktunya salju turun di Aosora?” Ia bertanya kepada Angel.
Angel berdiri di sebelah Tsuha dan melihat langit gelap yang menurunkan saljunya.
“Tidak. Harusnya salju turun pada akhir bulan pertama. Salju ini, turun lebih cepat sebelum waktunya. Apa ini jenis serangan musuh?” Angel membuka jendela itu.
“BWOOOSHHHH!!!!” Angin kencang langsung mernepa mereka berdua. Syal Tsuha langsung terangkat karena angin itu.
“BRAK!” Angel kembali menutup jendela. “Ini bukan musuh, kurasa akan ada badai yang akan menyerang wilayah ini. Kita harus segera pulang sebelum badainya datang" Angel melihat ke arah Tsuha.
Rambut Tsuha berantakan karena angin itu. “PFFTT! PUAHAHAHAHA! RAMBUTMU BERANTAKAN!!!” Angel tertawa sambil menunjuk Tsuha.
Tsuha merapikan rambutnya dan menunjuk rambut Angel. “Kau pun sama" Jawab Tsuha dengan nada dan raut datar.
...****************...
Disisi lain, tempat Ha nashi dan Azuma berada.
“Hei gagak, kau yakin dengan pelaku penyerangan itu?” Azuma berubah di wujud Elfnya sambil memegang hinoken yang mereka ambil dari Arthur.
“Tentu saja cerberus. Kau pasti sangat tak asing dengan auranya karena kau telah hidup hampir 1000 tahun" Ha nashi mengambil kembali hinoken itu dari tangan Azuma.
Azuma mengeleng. “Ini baru usia ke-720 tahun. Aku jauh lebih muda dari perkiraanmu" Jawab Azuma.
“Sialan, itu sama saja. Kau masih ngaku muda?” Gumam Ha nashi.
“Berbicara tentang aura itu, kau salah besar gagak. Aku sendiri tidak pernah tau aura yang kau maksud itu" Jawab Azuma.
“Aku tidak suka berada di sekitarnya" Azuma langsung menjawab pertanyaan itu. Ha nashi juga, merasa tidak nyaman dengan kehadiran Nao.
“Kenapa kau tidak menyukainya?”
“Dia, memiliki sisi yang menyeramkan. Aku mengatakan ini bukan hanya sekedar firasat. Dia berbeda dari yang lain”
“Siapapun yang menyentuhku, aku dapat melihat sekilas masa depan yang akan terjadi pada lima menit yang akan datang. Saat dia menyentuhku, penglihatanku berubah seperti asap gelap yang menutupi pandanganku" Jawab Azuma.
“Apa kau keturunan titisan?” Ha nashi tiba-tiba melontarkan pertanyaan aneh pada Azuma.
Sontak, Azuma langsung melihat ke arah Ha nashi. “Apa kau pernah mendengar kalau Titisan Elf itu mati dengan meninggalkan istri dan anaknya?” Balas tanya Azuma.
“Tentu tidak"
“Ya sudah. Padahal kau sangat tau dengan hal itu. Aku hanya muridnya yang di beri tangung jawab untuk menjaga anting ini. Padahal, Beliau itu sudah bangkit. Namun, ia tidak ingin mengambil pusakanya ini sebelum kelahiran titisan terakhir. Menurutmu, siapa orangnya ya?” Azuma membuka buku catatan Alex di dekatnya.
Ha nashi menyandarkan punggungnya pada batang pohon terdekat.
“Kau berkata Titisan Elf telah bangkit? Kau tau dengan orangnya?”
“Tentu saja, dia bukan orang yang jauh. Kau sering bertemu dengannya. Terakhir kali aku bertemu dengannya, beliau benar-benar marah padaku" Sambat Azuma.
"Sering bertemu denganku? Apa maksudnya?"
"Apa Titisan Elf berada di Akaiakuma?"
"Beliau sedang di Shinrin. Lalu, beliau menyuruhku untuk terus berada di sekitar Tsuha. Aku tidak tau mengapa bocah itu bisa di anggap penting oleh seorang Titisan" Celoteh Azuma sambil memanyunkan bibirnya.
"Owh, jadi ini alasanmu selalu bersama Tsuha kemana-mana daripada pada Tuanmu?"
Azuma mengangguk.
...****************...
Kembali ke Arthur.
Melia adalah gadis berusia 10 tahun yang terluka karena terkena hempasan sihir milik Archie saat membebaskan Arthur sebelum leher Arthur terpancung.
Arthur mengusap kening Melia yang telah tertidur setelah bercerita banyak kepada Arthur.
["Arthur, kau baik-baik saja?"]
Arthur keluar dari kamar Melia.
"Tentu, aku tak pernah sesenang ini" Jawab batin Arthur sambil melihat Tsuha dan Angel yang sedang menunggunya.
Tsuha dan Angel melihat ke arah Arthur bersamaan. "Sekarang, mau lanjut kemana?" Tsuha melipat lengannya didada.
"Kita akan menuju rumah terakhir. Sebab, aku mendengar kabar bila satu rumah lainnya telah di tinggal oleh penunggunya dan ikut anaknya di Kerajaan Narai" Jawab Arthur sambil memberikan ransel yang ia bawa ke Tsuha.
Tsuha mengenakan ransel tersebut. "Kalau begitu, ayo bergegas sebelum badainya datang" Tsuha menunjuk jendela yang mulai mengembun karena hawa dingin.
"Tunjukkan lokasinya padaku. Aku akan membawa kalian berteleport" Angel menawarkan dirinya untuk membantu mempercepat tugas Arthur hari ini.
Arthur segera menunjukkan lokasi rumah terakhir sambil mendatangi kepala pengurus panti asuhan untuk pamit.
Angel memegang tangan Tsuha dan Arthur untuk berteleport di desa sebelah bagian ujung utara Aosora yang merupakan bagian laut.
Di sana, hawanya lebih hangat dari daerah Selatan Aosora yang sedang mengalami cuaca ekstrim hingga mengakibatkan fenomena turunnya salju.
ini adalah pertama kalinya bagi Arthur menginjakkan kakinya ke area berpasir. Arthur membelalakan matanya. CTASH! BRUK!
Arthur tiba-tiba tidak sadarkan diri dan jatuh menimpa punggung Tsuha yang berdiri di hadapannya.