
Pagi hari yang cerah. Kicauan burung yang bernyanyi, menemani Arthur yang sedang berlatih sendirian di halaman belakang Markas Pemberantas Iblis.
"Hari ini sungguh tenang. Apa ini yang dinamakan kedamaian?" Arthur mengatakannya sambil pull up pada dahan pohon yang digunakan Ha nashi untuk bertenger.
"Ini masih belum damai. Hanya saja, suasana ini adalah suasana yang diciptakan oleh aturan Shinrin. Cobalah berjalan menuju tempat yang terpelosok. Di luar sana, masih banyak pelaku perilaku yang menyimpang. Pelaku yang paling banyak adalah kisaran usia remaja hingga usia 25 tahun" Jelas Ha nashi.
Arthur mengangkat tubuhnya ke atas dan menahannya kemudian ia turun secara perlahan.
"Perilaku penyimpangan seperti apa?"
Arthur mengambil napas.
"Remaja di daerah pelosok banyak sekali yang berpindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Namun, karena ketidakpuasannya terhadap pekerjaan yang mereka peroleh, mereka memilih jalan lain dengan menjadi anak jalanan, pecopet, pengedar obat terlarang, hingga pembunuhan yang mereka lakukan demi mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan" Jelas Ha nashi.
Arthur duduk di dahan tersebut untuk beristirahat sejenak.
"Bukankah hal itu memang biasa? Sejak dulu, budaya itu tidak akan bisa berubah dengan mudah. Mereka melakukan pembunuhan karena dua hal, yang pertama karena terpaksa akan keadaan mereka dan yang ke dua, hanya demi kepuasan mereka sendiri. Aku sudah melepaskan Shinrin. Aku tidak berniat berurusan lagi dengan Shinrin. Bila semua ini sudah selesai, aku akan kembali pada tujuanku yang belum terselesaikan" Ucapnya sambil mengusap keringat di dagunya.
Azuma berubah menjadi gagak dan bergabung dengan perbincangan kecil mereka.
"Tuan, Anda harus kembali ke dalam. Sarapan akan dimulai 15 menit lagi" Ucap Azuma.
Arthur memgambil Azuma yang bertengger di sebelah Ha nashi.
"Ya, aku akan kesana. Tuan Ha nashi, tolong tetaplah berada di sekitarku hingga aku mengizinkanmu. Jangan kembali ke Akaiakuma sebelum aku yang memerintahkan ini padamu" Ucap Arthur sambil turun dari dahan pohon itu.
"Tentu. Sebelum itu, dimana Pangeran Aosora dan Baginda Archie berada?" Tanya Ha nashi.
"Mereka ku buat tertidur. Biarkan Arthur menemukan jalannya sendiri hingga dia bisa terbangun" Ucapnya sambil berjalan dan meletakkan Azuma pada bahu kirinya.
Azuma mendempet hingga dekat dengan telinga Arthur.
"Tuan, apa Anda bisa mempercayai manusia itu?" Tanya Azuma sambil melihat Ha nashi yang masih bertengger di sana.
Arthur berhenti tepat di depan pintu dapur dan memegang pegangan pintu.
"Tentu saja. Dia adalah orang yang sangat mempercayaiku luar dalam. Dia juga sudah banyak membantuku. Mana mungkin aku tidak mempercayainya" Ia memasang wajah sumringah dan langsung masuk ke dalam dapur.
"Kak Shera. Ada yang bisa ku bantu?" Arthur langsung mengambil piring dari tangan Shera.
"Tidak perlu, biar aku saja yang melakukannya. Sekarang, Arthur pakailah pakaianmu. 15 menit lagi Wakil Razel akan datang dan mari makan setelah kepulangan wakil Razel" Jawab Shera dengan cepat sambil kembali mengambil piring itu dan langsung menghilang dari hadapan Arthur.
Arthur dan Azuma saling melihat.
"Kenapa orang itu pergi begitu cepatnya? Biasanya, dia paling senang kalau dibantu oleh orang" Tanya Arthur sambil menunjuk Shera.
Azuma melihat ke arah pintu perginya Shera.
"Mungkin Anda bau keringat?" Balas tanya Azuma.
Arthur langsung mengangkat kedua alisnya. Kemudian, ia menurunkan alis kirinya "Benarkah?" Ia langsung mengendus bahu kanannya. "Kurasa iya" Arthur menjawab sendiri. Lalu, ia pergi ke kamarnya untuk mandi.
...****************...
Arthur keluar dari kamar mandi dan melihat Tsuha yang sedang berkaca. Tsuha melihat Arthur dan langsung keluar dari kamar.
"Apa dia menghindariku?" Tanya Arthur pada Azuma yang berwujud kucing kecil.
Azuma menutup matanya. "Itu karena ucapan Anda kemarin malam" Batin Azuma sambil mengaruk telinga bagian belakangnya yang gatal.
"Padahal rupaku tak ada yang aneh sedikitpun. Ah, jangan-jangan! AZUMA!" Arthur langsung duduk dihadapan Azuma.
Azuma melihat ke arah Arthur dan mengubah wujudnya menjadi gagak hitam.
"Apa mereka menyadari bila aku bukan Aosora Arthur?" Tanya lirih Arthur sambil membelalakan matanya.
"Tidak. Mereka masih belum menyadarinya" Jawab Azuma.
"Lalu kenapa mereka menghindariku?" Tanya Arthur.
"Anda harus berhenti mengatakan hal yang ambigu dan coba berpakaian seperti Arthur" Jawab Azuma yang mendengar Shera membicarakan bentuk tubuh Arthur pada Lina.
Mereka berdua adalah pecinta roti sobek dan mereka berdua main jodoh-jodohan. Mereka berdua membicarakan sesuatu tentang Tsuha dan Arthur yang di dengar oleh Tsuha hingga membuat Tsuha menghindari Arthur.
"Ambigu dan cara berpakaian? Kenapa ribet sekali?" Tanya Arthur sambil berdiri dan melihat lemari pakaian Arthur yang hanya berisi kemeja dengan warna dominan biru.
"Dia ini, maniak kemeja biru atau memang suka warna biru?"
Azuma memberikan pakaian kaos lengan panjang di bawah kasur Arthur dan memberikannya padanya.
"Nah, ini terlihat lebih santai" Arthur langsung memakainya dan segera keluar dari kamarnya untuk turun ke bawah.
Mata Arthur dan Tsuha saling berkontak. Tsuha langsung mengalihkan padangannya dan pergi.
Arthur mengerutkan keningnya.
"Azuma, apa bocah itu membenciku? Biarlah, aku juga tidak peduli dengannya" Ucap Arthur sambil turun dari tangga dan berjalan ke arah meja makan.
Razel yang baru datang melihat keduanya yang tidak seperti biasanya. Mereka biasanya paling berisik setiap pagi hari. Razel membuang napas ringan dan tersenyum sambil mendatangi Tsuha yang sedang memberi makan tiga serigala sihir.
"Tsuha, apa diantara kalian berdua telah terjadi sesuatu? Jangan lama-lama bila kalian bertengkar. Cepatlah berbaikkan. Kita semua adalah keluarga dan tim" Jelas Razel sambil berjongkok di sebelah Tsuha dan mengusap salah satu kepala serigala sihir.
Tsuha memasang wajah jijik. "Kami tidak bertengkar. Saya hanya merasa tidak nyaman didekatnya. Dia membuat saya waspada hingga saya tidak bisa tidur" Jawab Tsuha.
"Apa Arthur mengeluarkan energi sihirnya saat tidur?" Tanya Razel.
"Bukan wakil. Ini sangat memalukan. Dia berkata bila aku ini cantik. Tolonglah, saya ini laki-laki" Jelas Tsuha sambil menutup wajahnya.
"Ha? PFFFT! PBUAHAHHAHAHA!" Razel langsung terbahak-bahak.
"Astaga. Karena hal itu?" Tanya Razel yang masih tertawa.
"Sialan.... jangan tertawa. Aku benar-benar malu. Di tambah lagi, Kak Shera dan Kak Lina yang main jodohkan saya dengan Pangeran Aosora. Astaga. Apa tidak ada perempuan lagi di dunia ini?" Tsuha menunduk malu sambil memukul-mukul tanah.
Tawa Razel langsung meledak.
"Mereka berdua memang biasa seperti itu. Astaga! Puahahhaa.... Aku juga sering mendengar mereka berbincang seperti itu. Mereka berdua memasangkan semua anggota guild laki-laki disini. Tak perlu dianggap serius. Mereka berdua memang suka bercanda" Jelas Razel yang sudah menjadi korban dari dua perempuan itu.
Tsuha menyipitkan kedua matanya. "Apa semua perempuan suka seperti itu?"
"Tidak, hanya beberapa saja" Jawab Razel sambil menepuk punggung Tsuha untuk tetap sabar
...****************...