The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Sarapan dan Surat



Sarapan pembuka kedatangan Arthur telah dimulai. Ia duduk di kursi depan jauh dari hadapan Barron. Arthur hanya bisa tersenyum tipis saat melihat istri Barron yang tak berani menatap mata Arthur.


"Kenapa Te? Apa Tante tidak merindukan wajah keponakanmu ini?" Arthur menuangkan air di gelasnya kemudian mengangkatnya untuk mempersilahkan tiga orang disana untuk menyantap sajian yang telah di sediakan.


Di ruangan itu, hanya ada Arthur, Barron, Bryan, dan istri Barron.


Barron mengangkat wine-nya.


"Paman, apa kau tidak terlalu pagi untuk meminum wine? Ah, benar juga. Bukankah paman tidak biasa meminum itu bila ada ayahku?" Arthur mengoyang dan memutar perlahan gelas yang berisi air sambil melihat Barron yang meletakkan wine-nya perlahan di atas meja.


Barron menghela napas "Arthur, tidqk bisakah dirimu makan dengan tenang?" Tanya Barron yang mulai merasa tak nyaman dengan kehadiran Arthur.


"Kalau begitu, bisakah kalian tidak duduk di tempat duduk keluargaku?" Arthur benar-bebar menguji kesabaran Barron.


"BRAK!" Barron memukul meja makan dengan keras hingga ia tidak sengaja menumpahkan wine miliknya.


"Menjadi Raja harusnya Anda bisa mampu mengendalikan diri Anda yang mulia" Arthur mengejek Barron sambil melihat ke arah tangan Bryan yang di kepalkan.


"Cukup Arth-". "Panggil aku Pangeran Aosora" Sahut Arthur pada Bryan yang ingin mengatakan sesuatu pada Arthur.


Arthur merasa senang melakukan hal ini kepada mereka. "Mari kita lanjutkan sarapannya" Ucap Arthur sambil tersenyum lebar pada mereka.


"Brak!" Barron membelakangkan kursinya. "Aku sudah selesai makan" Barron berdiri dan menatap Arthur dengan raut kesal.


Arthur memotong sayuran yang menjadi sarapannya.


"Paman, di luar sana banyak sekali orang yang kelaparan. Aku harap, paman kembali duduk dan memakan hidangan itu hingga habis" Ucap Arthur sambil melihat Barron yang sedang menatapnya dengan tajam.


Jantung Arthur terus berdebar dan jari tangan kanannya mengetuk-ngetuk perlahan bagian samping piring makannya. Sebenarnya, Arthur takut.


"PFFT, ahahahaha" Arthur tertawa disana. "Kenapa suasananya cangung sekali? Ayolah, jangan kaku, mari makan bersama" Arthur mengibas-ngibas tangan dan berlanjut makan.


Arthur sangat tidak nyaman dengan tempat makan itu. Perutnya terasa berputar saat mengingat bila orang-orang disekitarnya adalah penyebab kematian keluargannya.


"Sialan!" Arthur memaki dalam batin. Ia ingin sekali pergi menjauh dari ruang makan ini.


Namun, rasa ingin melukai mereka masih ada di benak Arthur. Sayangnya, ia lebih memilih untuk tidak melukai mereka secara fisik.


"Aku dengar, kau menjadi anggota Guild Pemberantas Iblis Shinrin. Apa kau makan dengan layak disana?" Barron berusaha menjalin komunikasi dengan Arthur.


"Memuakkan!"


Arthur melihat Barron sambil menunjukkan senyumannya. "Iya, makanan disana sangat sesuai dengan lidahku" Jawab Arthur kemudian ia kembali memakan sarapannya.


"Art ouch-Pangeran" Bryan hampir memanggil Arthur tanpa sebutan pangeran. Namun, Ibunya tiba-tiba menendang kakinya.


Arthur melihat ke arah Bryan sambil mengunyah makanannya.


"Apa Iblis di dalam tubuhmu masih ada?" Bryan melontarkan pertanyaan yang ingin diketahui oleh dua orang lainnya disana.


"Tentu saja. Archie masih ada di dalam sini" Arthur menunjuk kepalanya yang agak teleng ke kiri dengan tangan kanannya yang ia tumpu pada atas meja makan.


Bryan menelan ludah. "Jaga itu dengan hati-hati dan jangan menggunakan sihirmu selama disini" Ucap Bryan yang diangguki oleh kedua orang tuanya.


"Sampai kapan?" Pertanyaan itu, keluar begitu saja dari mulut Arthur. Ia tidak sadar melontarkannya.


Bryan menatap ayahnya untuk menjawab pertanyaan itu. "Sampai kapan pun" Jawab Barron.


Arthur mengangkat pandangannya dan melihat Barron yang menjawab pertanyaannya yang keluar tanpa sadar.


Barron mencoel sikut istrinya. Wanita itu mengangguk dan mengeluarkan surat berstampel Aosora dengan nama Naver disana.


"Sejak kapan, orang-orang ini memiliki stampel ayah yang selalu di letakkam di tempat tersembunyi?"


Stampel kerajaan adalah benda yang sangat penting bagi kerajaan yang memilikinya. Surat yang berstampel adalah surat yang sangat penting. Sehingga, tidak semua orang mampu menerima surat tersebut.


Arthur menerima surat itu dan membacanya perlahan.


Pada atas surat itu, bertuliskan:


SURAT UNTUK KONFIRMASI PENGALIHAN HAK AHLI WARIS


Nama Aosora Bram terdapat disana. Namun, nama Aosora Arthur yang harusnya menjadi penganti Bram di surat itu tertulis nama Aosora Bryan.


Mata Arthur terbelalak.


"Apa maksud dari surat ini?" Arthur meletakkan surat itu di atas meja.


Archie ikut membaca surat itu dan ia merasa kesal terhadap Barron dan keluarganya.


"Paman tau yang terbaik untukmu...."


"Janc*k! Apanya yang terbaik?!!" Archie ingin bertukar tempat dengan Arthur dan ingin menyadarkan Aosora Barron.


"....ini juga untuk Aosora. Orang-orang disini, tidak akan ada yang mau bila kau yang merupakan wadah iblis menjadi pemimpin Kerajaan ini" Barron berkata dengan nada halus pada Arthur.


Arthur menundukkan pandangannya dan ia mengigitkan gerahamnya dengan kuat.


"Orang-orang telah mengakui Bryan sebagai penerus Raja sebelum-"


"Kalian tidak memiliki darah Aosora. Kalian tidak memiliki hak untuk mengeserku" Ucap Arthur sambil mengepalkan tangan kanannya yang sedang memegang pisau makan.


Ha nashi menonton drama itu dari angin-angin jendela.


"Tapi Arth-" "Panggil aku pangeran!" Tegas Arthur pada Bryan sambil menatap wajah Bryan. "Ada baiknya kau tutup mulut atau pergi dari ruangan ini Bryan" Arthur menahan dirinya.


"Sampai kapanpun. Penerus Aosora hanya akan untuk darah Aosora. Kau hanya kakak tiri ayahku yang mendapatkan marga karena ibumu yang janda menikahi Aosora Aiden" Ucap Arthur sambil meletakkan pisau yang ia pegang.


Kaki kanan Arthur mulai tremor. Ia menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan sihir ataupun auranya sedikitpun.


"Tapi Arthur, dikondisi seperti ini, Tiga kerajaan sahabat yang sudah menandatangi atas kenaikanmu, mereka tidak akan segan untuk mengangkat Bryan menjadi Putra Mahkota Aosora yang baru. Bryan terpandang baik di mata Masyrakat" Jelas istri Barron.


"Apa hal ini akan sama bila mereka tau kalau Aosora Naver dibunuh atas rencana saudara tirinya? Haha, Aku ingin sekali melihat ekspresi orang-orang saat melihat Bryan setelah mengetahui itu"- "SYUUUT!" Pedang sihir berwarna biru yang berjumlah lebih dari 10 melayang mengelilingi Arthur.


Arthur mendongakkan kepala karena salah satu pedang mana itu, telah menggores leher Arthur hingga berdarah. Arthur menyeringai disana. "Apa sekarang paman mau membunuhku juga? Kau tau kan? Kalau lukaku akan langsung mengering saat tergores. Bagaimana bila aku menonaktifkan bakat itu untuk membuatmu jera? Ku rasa, ini cukup untuk bisa mengusir kalian dari Negri ini" Ucap Arthur sambil mengusap dan melihat tiga jarinya yang terdapat darah dari lehernya.


"Kasus percobaan pembunuhan terhadap calon pewaris kerajaan" Arthur melipat surat itu dan memasukkan ke dalam saku jubahnya kemudian, ia mengangkat kedua tangannya.


"3-2-" Arthur tiba-tiba menghitung mundur dan tersenyum licik pada Barron yang sedang mengkeritkan keningnya.


"1"


"HUAAAH!! PRAJURIT!!! TOLONG AKUU!!!" Arthur berteriak dengan histeris dengan tiba-tiba. Barron, Bryan, dan Istri Barron terkejut melihat ulah Arthur.


BRAK!!


Tiga prajurit langsung mendobrak pintu dan mereka menarik pedang besi mereka. "Apa...Apa maksudnya ini?!" Prajurit itu, langsung mendatangi Arthur yang sedang menutup lehernya setelah melihat pedang mana biru yang banyak dan melayang di sekeliling Arthur.