
Arthur sangat senang bisa menjadi salah satu Anggota guild pemberantas iblis. Sampai-sampai, Ia tak berhenti menatap seragam barunya itu dan senyum-senyum sendiri diatas kasurnya yang sekamar dengan Tsuha.
Sebelum itu terjadi,....
"Val, apa kamarnya sudah selesai ?"
Nel berdiri dan bertanya pada Val yang sedang meminum minuman buatan Lina dan memakai kaca mata milik Lina yang sedang pergi ke dapur untuk menambah minuman Nel.
"Sudah Kapten. Untuk kasurnya, sudah disiapkan dua oleh wakil Razel" Jawab Val dengan santai duduk disofa samping Tsuha.
"Kapten, Kami berada disatu kamar ?" Tsuha merasa tak nyaman sekamar dengan Arthur yang ada Jiwa Iblis.
"Tentu saja. Seragam Kalian pasti sudah ditata disana oleh Razel. Setelah Razel pulang, Kalian harus berterima kasih banyak padanya" Ucap Nel sambil tersenyum.
Tsuha melirik kearah Arthur yang senyum girang sambil melihatnya seolah mengajaknya untuk melihat kamar barunya dan seragam barunya itu.
"Ck!" Tsuha langsung mengalihkan pandangannya dan berdiri.
"Kamar Kalian ada di lantai dua, kamar paling ujung" Val memberi mereka dua kunci cadangan dan yang asli dipegang oleh Razel.
"Terima kasih!" Arthur langsung mengambilnya dari tangan Arthur dan ia mengikuti Tsuha yang berjalan didepannya.
Val melepas kacamata minus itu.
"Kapten, Anda yakin menerima Pangeran Aosora itu sebagai Anggota Kita ? Bukankah ini sama saja seperti berniat mencari masalah dengan Pasukan Penyidik dan Pasukan milik Putra Mahkota Baal ?" Val melirik Nel.
Nel mengehela napas dan menyandarkan pungungnya dikursi kayu yang Ia duduk i.
"Kau tau Val, Sebenarnya, Aku tidak ingin terlibat dengan mereka berdua. Tapi, bagaimana lagi ? Ini juga demi berjalannya Guild ini dan Aku cukup senang dengan kedatangan Anggota baru kita. Mulai hari ini, Markas Kita akan kembali ramai"
"Kapten, Aku kefikiran dengan ucapan Iblis tadi. Dia sempat mengatakan kalau Liebe itu Ibliskan ? Kapten, Liebe bukan seorang Iblis seperti Dia kan ?"
Val daritadi mengkhawatirkan itu. Sebab, Ia sudah tinggal berdua bersama Liebe sejak usianya 12 tahun.
"Untuk apa Kau pikirkan ? Mungkin, ada hawa Iblis yang sengaja ditempelkan pada Liebe untuk membuat Kita terpecah belah"
Mata Val terlihat sayu.
"Saat kecil, Liebe mengidap penyakit keturunan yang langkah. Setiap kali Dia menggunakan mananya untuk mengeluarkan sihir, Dia akan langsung terbaring selama beberapa hari. Dia menolongku saat Aku diamuk masa setelah mengambil roti tawar yang mereka jual. Aku sangat kelaparan saat itu. Hari-hari, Aku selalu melihat wajah Liebe yang pucat namun, ia selalu ceria sama seperti sekarang. Diam-diam, Ia mengumpulkan uang hasil menjual kayu bakar yang ia kumpulkan dihutan untuk membeli anting mana ini. Yang katanya, bisa mengurangi rasa sakitnya" Val memegang anting hitam ditelinga kirinya.
"Aku mulai mengantikannya mencari kayu dan menjualnya sambil berlatih sihir. Aku berlatih sihir karena, Aku melihat buku catatannya yang berisi banyak mantra sihir termasuk sihir yang kubisa i semua berasal dari buku miliknya itu. Di usiaku yang menginjak 13 tahun, Liebe sudah tak bisa bangkit dari ranjangnya setelah mempraktekkan sihir yang Ia dapatkan dan mempelarinya dengan diam-diam. Terakhir kali, Dia sempat mengatakan hal-hal yang aneh dan membuatku menanggis. Aku tidak bisa melupakan senyum ceriannya itu dan Ia meneteskan Air matanya sambil memberi anting kirinya. Tapi, Itu hanya firasatku saja yang mengatakan kalau Liebe itu sudah mati. Aku senang sekali saat Liebe bisa bangun lagi dari ranjang setelah Lima hari ia demam"
Nel menunjukkan senyumannya pada Val.
"Ini pertama kalinya Kau menceritakan tentang hidupmu. Aku senang mendengarnya. Untuk sekarang, Kau pasti merasa lega bukan melihat Liebe masih bisa menganggumu dan menggoda Lina ?" Tanya Nel untuk mencairkan suasana.
"Dia memang Iblis bila dilihat dari sisi itu. Entahlah, Aku sampai mengelus dada saat Dia menganggu Lina. Aku benar-benar kasihan pada Lina yang selalu Dia jahili" Val kembali memakai kaca mata milik Lina yang berbentuk lingkaran dan besar itu.
Dibelakang Val, Nel melihat Liebe yang berjalan perlahan dan memberi kode untuk diam.
Nel hanya melihatnya.
Liebe menarik napas dan mendekatkan mulutnya ditelinga Val.
"PUNGGGGGGGGGG!!!!!!!"
Liebe membuang napas dengan keras dan mengatakan pung ditelinga Val hingga meninggalkan gema dan ngilu.
"*NJING!!!!!!!" Val langsung memaki dan mengosok-gosok telinganya itu sambil memukul kepala Liebe dengan tangan kirinya.
"Jangan gibahin Aku lah Val..... Jadi malu akunya~" Liebe mengatakannya sambil menepelkan pipinya dipipi Val.
"*NJINGGG!!!! NAJIS COKKKK!!!!! DUAGHHHH!!!!!" Val memaki lagi dan menyikut dada Liebe dengan sikut kanannya.
*jangan ditiru ya teman-teman
"Akh!!! Ak..ku... gak.. bi...sa nap....pas....." Dada Liebe sesak.
"Dih. Palingan caper sama Lina" Gumam Val yang melihat Lina berdiri diambang pintu tak jauh dari Liebe.
Lina melewati Liebe yang pura-pura kesakitan dan langsung duduk di depan Nel atau di samping Val sambil mengambil kaca matanya yang masih dipakai oleh Val.
"PFFFT" Val menahan tawanya melihat Lina yang tidak peduli pada Liebe.
...****************...
Kembali ke Arthur.
Ia menggosok perlahan seragamnya berwarna abu-abu muda yang mirip seperti jubah namun hanya sebatas lutut dan terdapat simbol Guild pemberantas Iblis yang bersimbol siluet tengkorak dengan dua tanduk yang menjulang keatas dengan blok merah dibelakang jubahnya.
Arthur berulang kali mencium aroma seragam baru yang Khas seperti baru dijahit itu.
Memang benar kalau itu baru dijahit Empat hari yang lalu oleh Razel dan Dia sudah memperkirakan segalanya.
Razel memang Cowok impian. Wokawokawokawok
Ia ingin cepat-cepat bertukar tubuh dan kembali tidur.
"Arthur. Hentikan tindakan bodohmu itu. Apa Kau tidak malu dengan Tsuha yang merapikan bawaannya ?" Tanya Archie.
"Diamlah sebentar. Akan ku lakukan sekarang"
Arthur menuruti ucapan Archie dan langsung menata barang bawaannya dari Bram.
Barang bawaannya itu, berisi segalanya keperluan Arthur dari pakaian, mantel gulung, sepatu, dll.
Arthur melirik barang bawaan Tsuha yang sedikit.
Ia melihat Tsuha hanya membawa Lima lembar pakaian, empat lembar celana, Dua pedang besi berukuran kecil dan beberapa buku.
Tsuha yang merasa diperhatikan langsung melihat Arthur dan bertanya.
"Kau butuh apa ?" Pikir Tsuha, Arthur membutuhkan bantuannya dan malu untuk meminta bantuan. Oleh karena itu, Tsuha langsung menawarkan dirinya.
"Ah, tidak. Aku sedikit penasaran kenapa Kau membawa pakaian yang sedikit. Apa itu cukup ?" Tanya Arthur.
Tsuha menepuk pakaiannya yang telah tertata.
"Setelahku pakai, akan langsung ku cuci. Dan Aku tak ingin membawa barang yang banyak karena itu menyusahkan" Singkat Tsuha.
"Anu Tsuha. Kalau Kau butuh apa-apa. Katakan saja pada Aku dan Archie. Kami berdua tidak keberatan bila Kau butuh bantuan"
"Cih! Sembarang sekali Kau Arthur!!! Tentu saja Aku akan sangat keberatan !" Tegas Archie.
Arthur tidak mendengarkan ucapan Archie.
"Butuh bantuan ?"
Tsuha, selama ini selakukan semuanya dengan sendirian. Sebab, ayah dan ibunya sangat membutuhkannya. Serta Tsuha selalu merasa ia tak pantas mendapatkan bantuan karena Ia bisa melakukannya semuanya asal bukan tugas kelompok. Adapun tugas kelompok di ASJ selalu ia kerjakan sendirian karena teman-temannya tak pernah fokus untuk mengerjakannya dengan benar.
"Iya, bantuan apapun. Kau juga, boleh meminjam pakaianku bila Pakaianmu belum kering"
Pikiran Arthur begitu sederhana.
Tsuha tidak menunjukkan ekspresi senang. Ia hanya memberi raut datar pada Arthur karena tidak tau harus menjawab apa.
Sedangkan Arthur sendiri merasa kalau Tsuha marah padanya karena ucapannya yang mungkin saja terdengar merendahkan Tsuha.
Arthur mengaruk tengkuknya karena cangung.
"Tentu, Kau juga harus begitu sebaliknya padaku. Jangan dipendam sendirian dan jangan terlalu baik jadi orang. Sesekali, jangan jadi sosok yang penurut. Kalau Kau terus begitu, kebaikanmu itu akan menjadi sebuah masalah untukmu"
Tsuha mengingatkan Arthur untuk tidak mengikuti semua ucapan orang yang memerintah Arthur.
Tsuha mengenal Arthur.
Arthur adalah tipe orang yang lebih memilih untuk mendengarkan keinginan orang lain daripada memberitahu keinginannya sendiri.
Arthur berkedip beberapa kali.
"PFFFT!!!! AHAHAHAHHA!!! Kau berbicara begitu, seperti sudah lama kenal denganku. Apa dulu Kita lebih dekat dari yang sekarang ?" Arthur ingin mendengar cerita Tsuha.
Tsuha mengalihkan pandangannya.
"Dasar bodoh. Apa untungnya untukku menjawab pertanyaan bodoh. Sang Pangeran yang terkurung ini ?" Tanya Tsuha.
"Hah ?! Aku bukan Pangeran yang terkurung !!!" Tegas Arthur sambil berdiri.
"Lalu, Pangeran Jiwa Iblis ? Pffft" Tsuha menertawakan Arthur yang sudah jelas kalau Ia sangat tau kenapa Ia diberi julukan itu.
"Ck! Untuk itu, mulai hari ini. Jangan panggil Aku Pangeran, panggillah Aku Arthur. Kita harus akrab karena Kita ini adalah rekan"
"Rekan? Kau bukan rekan ku. Iblis itulah yang rekanku" Jawab Tsuha.
"Sialan! Padahal Aku yang memilih masuk di guild ini ! Archie itu bukan anggota guild ini tau !! Archie sudah berkata kalau Dia pemilik tubuh ini. Dia pasti memilih Guild penyidik itu dari pada Guild ini !" Tegas Arthur.
"Aku tidak merasa berkata seperti itu" Ucap Archie.
"Dasar Iblis Sialan ! Diam saja Kau disana!" Tegas Arthue sambil melihat kesamping padahal tidak ada apa-apa.
"Kau itu sangat penurut. Mana mungkin Kau akan berjalan sendiri dan bertolakkan dengan keinginan Iblis itu"
Arthur memberi ekspresi kesal pada Archie.
"Thor. Kasih tutor cara membunuh Tsuha!" Tegas Arthur.
"Nanti Kalo Tsuha mati, Nangesss ???"