
Hampir satu tahun berlalu.
Tsuha, mulai mengenal sifat Arthur dari dalam dan luar. Termasuk, alasan Arthur kenapa Ia sangat membenci Bryan.
Bryan memiliki mulut yang buruk. Ia suka mengadu domba yang lainnya. Karena Bryan, Tsuha sering terkena masalah. Dan Ia (Tsuha) sangat membenci Bryan karena hal tersebut.
"Tsuha! Aku dengar, hari ini Kau berulang tahun ya?"
Arthur memberikan sebutir permen cokelat pada Tsuha.
Tsuha menerimanyanya "Iya, Terima kasih"
"Kata Ibu Glashya, umurmu sekarang 8 tahun. Berarti, Kita selisih 18 bulan. Haha, Apa Aku harus memanggilmu Kakak?" Arthur tertawa sambil menghitung jarinya.
"Ya, sekarang.... Kau mau kuberi hadiah apa? Aku akan mengabulkan semuanya!" Arthur sangat kekanak-kanakan. Ya, maklukmi saja karena Ia masih berusia hampir 7 tahun.
Tsuha teringat dengan Tsuki.
Ia (Tsuha) menatap langit siang yang mendung.
"Pangeran, Apa Saya masih bisa berada dibelakang Anda hingga Saya dewasa kelak?" Ucap Tsuha sambil memutar-mutar bungkus permen cokelat yang belum Ia buka.
"Hmmm?" Arthur memanyunkan bibirnya dan melihat Tsuha.
"Apa itu sebuah hadiah yang Kau inginkan?"
Itu, memang harapan Tsuha diulang tahunnya yang ke 8 tahun selain, ingin bertemu dengan Tsuki.
"Tidak. Itu hanya pertanyaan saja" Jawab Tsuha.
Arthur tiduran diatas rumput taman bunga milik Ibunya sambil menunjukkan mimik berfikir.
"Kita ini teman..."
"Teman?" Lirih tanya Tsuha.
"...Tentu saja Kita akan tetap berteman dan jangan jalan dibelakangku. Kau itu, bukan pengikutku!" Tegas Arthur sambil mengkernyitkan keningnya.
Mendengar itu, wajah Tsuha yang datar mengembangkan senyum cerianya. "BAIK!" Tegas Tsuha.
Arthur merasa aneh dengan Tsuha hari ini. "Memangnya, apa Dia tidak menganggapku sebagai temannya?. Mmmmm, Lalu hadiah apa yang cocok untuk Tsuha. Bagaimana dengan permen cokelat? Eh?! Tsuha tak terlalu suka makanan cokelat. Mmmm, Tanya ke Ibu saja deh!" Batin Arthur.
Hati Tsuha merasa senang karena Arthur menganggapnya sebagai teman. Sebab, itu sudah menjadi sebuah kebanggaan bagi Tsuha karena, Ia dianggap teman oleh sesorang berkelas Pangeran. Dan ditambah lagi, Arthur adalah sosok yang mampu mengeluarkan pedang sihir di usianya yang masih mengijak enam tahun (Lebih muda dibanding Bram yang mampu mengeluarkan pedang sihir di usianya yang ke 7 tahun dan harus berlatih selama hampir dua tahun untuk bisa mengeluarkan dan mengontrol kapasitas, serta kepadatan mana untuk pedang mana). Kebiasaan Arthur saat berlatih sihir ialah, Ia sering berteriak dan termangun ditempat. Tsuha sering menghiraukannya karena Nox berkata kalau itu adalah penyakit Arthur sejak kecil.
Petang hari, Tsuha kembali kekamar Ibunya (Glashya) untuk menerima ucapan selamat ulang tahun dari Ibunya yang terakhir kali terucap di bibir Ibunya tiga tahun yang lalu.
Disana, Tsuha melihat Glashya sudah memakai seragam pelayannya.
"Ibu..."
"Cup!" Glashya mengecup kening Tsuha.
"Ibu akan ke Pangeran Arthur. Tsuha bisa mandi sendiri kan?"
DEGH!
Hati kecil Tsuha, terasa teriris saat mendengar kalau Ibunya harus pergi.
Glashya mengusap kepala Tsuha lalu pergi dan menutup pintu kamarnya.
Tsuha memegang kepalanya yang sempat diusap halus oleh Ibunya.
"Selamat ulang tahun Tsuha, Ibu... menyayangimu...." Air mata Tsuha menetes saat mengatakannya sendiri sambil mengusap kepalanya.
Ia mengusap air matanya dan langsung menuju kamar mandi dan menuruti ucapan Ibunya. Ia merasa seperti sedang sendirian walau ada sosok Ibu yang dekat dengannya.
Malam hari telah tiba. Arthur berjalan perlahan dan sembunyi-sembunyi dari para penjaga menuju rumah para pelayan berada setelah makan malam. Tujuan Arthur, adalah untuk menemui Tsuha.
"Tok! Tok! Tok!" Arthur, bersembunyi dibelakang Vas bunga yang besar sambil mengetuk pintu kamar Glashya dengan tangan kirinya.
Tsuha sedang membaca buku sihir untuk besok mendengar suara ketukan pintu itu.
Ia membuka pintu dan tak ada siapapun didepan pintunya.
"Tsu.....hah........." Lirih Arthur sambil berjongkok dan menutup kepalanya dengan daun tanaman hias yang berukuran cukup lebar.
Tsuha melihat ke arah kanannya.
Ia sudah tidak terkejut dengan kejahilan Arthur yang selalu menimpanya.
"Pangeran, ada apa Anda kemari?" Tsuha langsung bertanya pada Arthur tanpa basa-basi.
Arthur melepas daun yang Ia gunakan untuk menutupi kepalanya.
"Main yuk!" Senyum ceria, terpampang jelas diwajah Arthur.
Tsuha menutup pintu, kemudian Ia berjongkok dan melihat kaki Arthur yang tak beralas.
"Apa, Anda kabur dari Ibu Saya?" Tanyanya.
Arthur mengaruk hidungnya. "Mana mungkin. Aku, tak pernah kabur dari Ibu Lashya" Lirih Arthur yang masih meringis pada Tsuha.
"Lalu, kenapa Anda tidak memakai alas kaki?" Tsuha menujuk Kaki Arthur dengan tangan kanannya.
Arthur maju mendekati Tsuha dan keluar dari belakang vas bunga besar itu.
"Aku, hanya penasaran rasa kaki saat menyentuh rumput yang berembun. Dibuku yang kubaca, katanya telapak kaki terasa tergelitik. Aku mau mencobanya"
Arthur, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Tsuha sendiri, tak bisa menolak kemauan Arthur. Ia, bersedia menemani Arthur bermain.
Arthur langsung berdiri dan menarik tangan Tsuha sambil berlari. Tsuha sangat senang bisa memiliki teman seperti Arthur. Namun, disaat yang sama Ia juga mengirikan Arthur karena Arthur dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.
Arthur berhenti berlari saat kakinya telah menginjak rumput di dekat taman Ibunya. Ia tak merasa senang sama sekali saat kakinya menginjak rumput. Ia termenung ditempat.
"PSSST!!!" Kepala Arthur tiba-tiba pusing.
Ia menutup matanya sejenak didepan Tsuha. Hawa panas mengeliling tubuh Arthur. Ia membuka matanya dan ada api serta gunungan es didepannya "CRAT! GLUDUNG!!!!" Sepintas Arthur melihat cahaya yang sangat terang dan kepala bertanduk menggelinding dikakinya.
DEGH!
"HUAH! BRUK!!!!" Arthur tiba-tiba menjerit dan terjatuh didepan Tsuha yang tengah melihat langit mendung.
Tsuha sangat terkejut. "Pangeran! Anda kenapa?!" Tsuha mendatangi Arthur dan tangan Arthur bergetar langsung memegang dengan erat lengan Tsuha yang diulurkan.
Arthur berkeringat dingin.
"Kenapa Aku mengalami hal-hal aneh, saat orang tuaku melarangku untuk melakukan sesuatu?"
Tsuha melihat mata Arthur yang terbelalak melihat rumput dengan tubuhnya yang gemetaran. Arthur memanjat lengan Tsuha dengan kedua tangannya.
"BOOOO! HAHA! KENA TIPU~" Arthur mengejutkan Tsuha yang terlihat khawatir padanya sambil menunjuk-nunjuk wajah Tsuha yang kembali datar setelah menunjukkan raut khawatirnya.
"Cih! Bruk!!!" Tsuha sangat jengkel dengan Arthur. Ia langsung mendorong tubuh Arthur hingga berguling di rumput.
"ANDA! MEMBUAT SAYA KHAWATIR! SUDAHLAH! SAYA MAU KEMBALI KE DALAM!!!" Mulut Tsuha comat-camit sambil meninggalkan Arthur.
Arthur tertawa dan Ia mengikuti Tsuha dari belakang sambil melihat tangannya yang gemetaran setelah kejadian barusan.
Arthur, membohongi Tsuha fan didirinya sendiri. Kejelekan Arthur adalah memendam segalanya sendirian. Setiap kali Ia dilarang oleh orang tuanya, Ia akan langsung penasaran dan mencobanya. Hasil yang Ia dapatkan adalah seperti tadi, melihat hal-hal aneh yang belum pernah Ia alami.
Diatas, sempat diceritakan kalau Tsuha, sering melihat Arthur bertingkah sama saat belajar sihir. Hal tersebut, dijelaskan oleh Nox kalau itu adalah kebiasaan Arthur sejak kecil. Yang sebenarnya terjadi adalah, Arthur melihat masa lalu yang belum Ia alami.
Saat pertama kali Ia belajar berpedang bersama Tsuha, Arthur memukul pungung Tsuha menggunakan pedang kayu dengan keras karena Ia melihat Cerberus besar berkepala lima dibelakang Tsuha. Reflek, Ia memukulnya akibat terkejut dan takut. Arthur, sering sekali dilarang oleh orang tuanya untuk tidak belajar sihir dari buku selain pada Nox. Namun, karena larangan adalah penimbul penasaran, Arthur mencari tau tentang sihir dan bagaimana menciptakan sihir tanpa lingkaran sihir. Hasilnya, Arthur mampu mengeluarkan mana dalam bentuk padatan tanpa lingkaran sihir yang pada saat percobaan pertama langsung mampu merusak kamarnya sendiri dan menimbukan gempa didalam Istana Aosora. Serta, Ia mampu mengaliri mana ke telapak tangan dan kakinya untuk memperkuat pukulan, dan tendangannya.
Kemudian, Arthur adalah seseorang yang mengajarkan Tsuha cara mengaliri mana ditangan dan kakinya. Lalu, Tsuha mengembangkannya dengan menggunakannya sebagai bentuk pertahanan dibagian vitalnya, seperti dada, leher, dan bagian lainnya yang mampu diserang musuh dengan mudah.
Dan itu, adalah hadiah ulang tahun dari Arthur yang sangat bermanfaat untuk Tsuha.
...****************...