The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Cerita Archie



Rumah kayu yang ambruk dan terbakar berada sekeliling Arthur.


"Hosh! Sial! Hosh!" Arthur berlari dan napasnya terengah engah.


Disepanjang jalan Arthur berlari Ia melihat mayat yang bergeletakan dan terbakar.


"DUUUUUAAAARRRRRR!!!!!"


Terdengar suara ledakan besar dibelakang Arthur


"Wosh!!!! Brakkkk!!!!"


Ledakan itu menghasilkan angin keras yang menghempaskan tubuh Arthur hingga terjungkal kedepan.


Wajahnya menghantam sesuatu yang keras dan berbau anyir.


Ia mengangkat wajahnya.


DEGH!!!!


Seseorang berpakaian layaknya seorang prajurit penuh darah dan badannya terpisah menjadi dua bagian tepat berada didepan wajah Arthur.


"HUAHHH!!!! HOOEEEKKKK!!!"


Arthur langsung duduk dan mundur kemudian muntah karena melihat organ dalam prajurit itu yang berserakan.


"Sialan ! Apa yang terjadi !"


Kepala Arthur terasa pening dan Ia kembali berdiri melihat sekitarnya.


Tangan pucat anak kecil terlihat dimata Arthur dan tangan itu tertimpa batu dari sebuah bangunan disana.


Arthur tidak melihat seorang pun disana.


"ALEXXX!!!!!!!"


Tak lama dari itu, Arthur mendengar suara teriakan laki-laki jauh dibelakang Arthur dan suaranya sangat tak asing di telinga Arthur.


Karena Arthur mendengar suara seseorang, Ia langsung berlari menuju asal suara itu untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


Saat sampai dibelokan jalan asal suara itu berasal.


Betapa terkejutnya Arthur melihat dua bayangan hitam bertanduk dan bermata merah berada disana.


Arthur melihat Salah satu dari bayang disana dengan tanduk yang menghadap ke langit menodongkan pedang sihir berwarna merah kearah Iblis satunya dengan dua tanduk yang melingkar dikeningnya sedang berdiri membelakangi sosok bayangan lainnya yang samar terlihat wujudnya.


Bayangan samar itu, memiliki warna rambut yang berwarna biru langit.


Melihat posisi itu, Arthur sadar kalau Iblis yang membelakangi bayangan samar itu sedang melindungi bayangan samar tersebut.


Arthur yakin bayangan samar itu bukan dari bangsa Iblis.


Tiba-tiba Iblis yang memegang pedang sihir itu, melihat kearah Arthur dengan matanya yang merah menyala.


"HUAH!!!!"


Arthur langsung terbangun dari mimpinya.


Para Prajurit sangat terkejut dan langsung melihat kearah Arthur yang berteriak diposisi yang duduk itu.


"Ah....Sialan! Itu mimpi yang menyeramkan" Lirih Arthur sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


Prajurit-prajurit itu kembali menghadap kedepan.


"Sialan. Kau mengagetkanku Arthur !"


Arthur berdiri dari duduknya.


"Maafkan Aku, Kebiasaan mimpi burukku kembali lagi" Lirih Arthur dan mengelus dadanya yang masih bermaraton.


"Ayahku berkata, kalau bermimpi buruk, alangkah baiknya jangan diceritakan karena itu, suatu saat bisa benar-benar terjadi"


"Katakan saja dalam batin. Tidak akan ada yang bisa mendengarkannya selain Aku. Kan ngak ada yang tau kalau mimpimu itu sebuah pertanda"


Arthur menggeleng.


"Daripada pertanda, mimpiku itu sudah seperti bencana"


Arthur kembali duduk setelah cukup tenang.


"Bencana seperti apa ? Ledakan besar ? Kebakaran dimana-mana ? Jasad bergeletakan ?Teriakan ? Tangisan ?"


"Sejenis dengan itu. Eh ?! Apa itu pernah terjadi dijamanmu ?" Arthur terkejut karena ucapan Archie sama dengan mimpinya.


"Hal seperti itu sering terjadi dimasa ku. Yang paling parah dihari dimana tandukku ditumbuhkan secara paksa dengan buah sihir yang bisa meluapkan mana bangsa Iblis itu. Aku diusir dari Shinrin dan kalau tak ada Alex. Aku pasti sudah mati dihari itu" Archie mulai membuka masa lalunya.


"Jujur saja. Aku tak menyangka kalau semua hal itu direncanakan oleh ayahku. Kalau tidak salah, saat itu usiaku 18 tahun dan Aku sudah memiliki seorang tunangan. awalnya keluarga diam memang tak menerimaku. Berkat bantuan Alex, Aku bisa menyembuhkan kutukan gadis berusia 16 tahun itu dan Dia yang membuat keluarganya menerimaku. Nama gadis itu adalah Naya. Aku, Alex, dan Dia menjadi teman kemudian, Kami bersahabat. Dia benar-benar gadis yang berani walau dia selalu bersikap manja padaku. Dia menembakku duluan setelah dekat dengan Alex lebih dari dua bulan"


"PFFFTT..... HAHA... lucunya.... Dia berkata pada Alex kalau hanya mendekatinya untuk mengenalku..." Archie tertawa menceritakan itu.


Arthur mendengarkan cerita Archie karena Ia ingin tau hubungan Alex dengan Archie saat itu.


"Terus gimana sama Kakek buyut ?"


"Ya gitu.... Alex sempat punya perasaan sama si Naya. Tapi, karena Alex tau kalo Naya emang gak main-main. Dia maksa Aku untuk nerima si Naya. Alasan Alex kenapa Aku harus menerimanya, karena.... Dari sekian banyaknya gadis yang kutolong, hanya Naya yang masih mau berinteraksi denganku. Dan karena orang tuanya juga ndukung jadi ya. Kuterima"


"Kakek buyut.... Kau benar-benar Pria yang sejati!" Arthur memuji Alex sambil mengepalkan tangan kanannya dan menutup matanya.


"Kemudian, Tiga bulan setelah Kami berpacaran. Alex mendapatkan selembar brosur dan dua lebar kertas folmulir untuk menjadi Prajurit Shinrin. Itu adalah awal mulanya Aku membenci orang-orang Shinrin"


"Kau meninggalkan pacarmu ? Kapan Kau bertunangan ?"


Arthur mulai penasaran.


"Kami bertunangan saat sebelum Kami berangkat. Aku meninggalkan Tunanganku atas izin ayah dan Ibunya. Kedua orang tuanya menganggap Alex yang yatim piatu seperti anak mereka serta , mereka juga mengakuiku sebagai calon menantunya"


"Eh ? Kenapa Kakek bisa yatim piatu ?"


"Ayah Alex membantu ibuku yang merupakan saudari kandung dari Ibunya Alex melarikan diri setelah melahirkanku. Dan ayahku membunuh Ayahnya Alex saat Perang perebutan Greendarea atau Kerajaaan Elf. Ayahnya Alex masih keturunan Raja walau bukan resmi. Kemudian, Ibunya Alex meninggal saat Alex berusia 12 tahun dan Ibunya Alex sempat merawatku setelah terpisah dengannya selama 10 tahun" Jelas Archie.


"Eh ?! Kau... dan Kakek masih Saudara ! Sialan!! Kupikir Kalian cuma sahabatan!" Tegas Arthur.


"Aku sendiri tak menyangka akan hal itu. Kemudian, Aku diterima dari masa seleksi prajurit Shinrin. Aku dan Alex harus menjalani masa pelatihan kurang lebih 2 setengah tahun. Dimalam hari setelah upacara peresmian prajurit dan pengangkatan Prajurit, Raja Shinrin yang menjabat dimasa itu meninggal dalam keadaan dimutilasi. Malam itu, Aku sedang beristirahat setelah berjaga dengan Alex"


napas dulu ges...


"Dan saat kejadian itu, ada seorang prajurit yang melihat sosok mata merah mengorok leher raja itu. Ciri-cirinya merujuk padaku. Dia juga memiliki rambut berwarna putih dan mengenakan jubah yang menutup tanduknya yang menjulang keatas. Tanduk iblis itu menunjuk kelangit"


Arthur membelalakan matanya mendengar ciri-ciri Iblis itu.


Arthur masih Ingin tau kelanjutannya.


"Kemudian, Para prajurit langsung datang kekamarku dan membawaku kepenjara. Alex bersumpah kalau Dia bersamaku seharian. Tapi, tidak ada yang mempercayainya karena semua orang tau kalau Alex adalah sahabatku. Kemudian, ada satu Elf hijau yang baik padaku. Dia bernama Estelle, Dia memiliki marga yang sama dengan Tsuha. Dia membuka sihir teleportnya untuk menyuruhku kabur dan disana juga ada Alex. Tapi, Karena Aku tak bersalah, Aku tidak akan kabur"


"Estelle?" Arthur bergumam.


"Dipagi hari, orang-orang Shinrin itu membawaku keruang pengadilan. Mereka memberiku buah sihir yang bisa meluapkan mana Iblis dihadapanku. Bagi mereka, buah itu adalah buah yang bisa menunjukkan jati diri seorang Iblis yang bersembunyi. Kemudian, karena Aku tidak merasa diriku seorang Iblis Aku langsung memakannya"


"PFFFTT..." Arthur tiba-tiba keceplosan tertawa setelah mendengar kalimat terakhir Archie itu.


"Sialan ! Kenapa Kau tertawa!"


Archie tidak terima ditertawakan oleh Arthur karena ucapannya itu.


"Lalu, Kapan Kau sadar kalau Kau itu bangsa Iblis ?"


"Ya, Setelah makan buah itu. Rasanya yang aneh, sampai sekarang masih bisa kurasakan hanya dengan membayangkannnya saja. Kemudian, jantungku berdebar dengan kencang, kerongkonganku terasa panas, kepalaku sakit dan rasanya hampir meledak. Saat rasa itu menghilang, dari belakang kepalaku, keluar darah begitu banyak dan dua tanduk keluar bentuk melintang hingga di atas kedua alisku"