
Serigala sihir, memporak porandakan tanah Shinrin.
"TRASSSSH!!! CRAT!!!"
Pedang mana berwarna putih tulang memotong kepala serigala sihir yang keluar dari hutan. Nel berlari diantara kawanan serigala sihir itu dan menebas mereka tanpa pikir panjang, Ia membukakan jalan untuk Kanza agar bisa masuk kedalam hutan.
"GRRRR! GRRRRTTT!!!" Tiga serigala sihir milik Kanza menggerang dan mengigit serigala lain yang menghalangi jalan Kanza.
Tangan Kanza, memegang kening serigala sihir yang melintas kearahnya. "PRUAKKK!!!" Kepala serigala sihir itu, langsung meledak disaat yang bersamaan.
Wajah Kanza dengan tahi lalat kecil dibawah pipi kanannya, terlihat prihatin. "Apa yang membuat kalian seperti ini?" .
Kanza berhenti berlari setelah Ia tak lagi melihat serigala sihir disekitarnya. Ia menempelkan telinganya ditanah hutan sihir yang lembab. Ia memejamkan matanya untuk mendengar dan merasakan apa yang sendang terjadi. Kanza, bagai air yang terserap oleh akar pepohonan. Ia terhububg dengan alam.
"DRAP! TSUHA! Turunkan aku!"
Kanza membuka matanya dan langsung berlari kearah sisi kiri dimana ia berada.
...****************...
TRANGGGGGG!!!!!
Gabriel berusaha menghalangi Arnold yang sedang mengejar kedua putranya.
Arnold tidak terpengaruh oleh pergerakan Gabriel dan ia hanya fokus pada tujuannya yaitu, Tsuha dan Shinrin.
Arnold melupakan ancaman enam bulan yang lalu di Aosora.
"DAGH!!!! KREEAAAK!"
Dihutan terlarang yang tak bisa mengunakan sihir, karena diliputi oleh mana misterius dan kuat, Arnold hanya bisa mengandalkan seni beladirinya saja yang diajarkan oleh Ambareesh.
Tulang pengumpil lengan kanan Gabriel patah saat menahan dentakan kaki Arnold yang keras dan kencang kearahnya.
Tak berhenti disitu saja. Arnold mencekik leher Gabriel dengan satu tangannya. "Kau tak layak untuk melawanku".
Napas Gabriel sesak. Kerongkongannya dan matanya mulai memanas. Jantungnya, bedegup dengan kencang. "Aku, tak boleh menyerah! Bagaimana nasib kedua Putraku bila aku mati disini?"
Gabriel tak bisa mengeluarkan suaranya karena cekikan Arnold yang sangat kuat. Gabriel, mencengkram lengan kanan Arnold. Namun, sekuat apa cengkraman orang yang tercekik?
"KREAAAK!!!! BRUK!!!" Arnold melepaskan cekikannya saat melihat Gabriel telah menutup matanya. Ia menjatuhkan Gabriel begitu saja.
Arnold kembali mengejar Tsuha dan Tsuki.
...****************...
Ciel, menurunkan Arthur setelah beberapa saat berada di udara. "Apakah seru?" Tanya Ciel pada Arthur yang sangat girang.
"Tentu saja! Guru, Ayo pergi ke luar Arden sekarang! Aku ingin belajar sihir itu! Nanti, aku akan membawa ibu, ayah, dan Kak Bram terbang dilangit bersama!" Seru Arthur dengan semangat.
Ciel tersenyum dan mengusap-usap rambut Arthur yang berwarna lebih terang dari warna langit. "Anda istirahatlah dulu. Ini, sudah memasuki jam istirahat Anda. Jangan lupa mandi untuk acara malam nanti".
Ciel, menghiraukan ucapan Arthur. Ia pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu. Arthur kembali menatap langit gelap dan memerah diufuk timur.
Langit itu, diselimuti oleh awan lenticularis gelap. "Awannya seperti topi. Aku ingin lihat dari dekat" Arthur keluar dari kamarnya dan mendatangi Naver untuk melihat tempat dimana awan itu berasal.
Namun, saat ia menuju tempat dimana ayahnya dan pamannya (Agleer Linus) berada, disana tampak ada seorang berjubah abu-abu gelap dengan lambang tengkorak bertanduk dan anak panah yang menusuk tengkorak itu, sedang berbicara dengan mereka berdua. Dia adalah Zack dari Markas Pemberantas Iblis.
"Baginda, mohon izin atas menganggu waktu Anda dengan Raja Aosora. Saya, ingin menyampaikan sesuatu" Zack berlutut dihadapan Linus dan Naver.
Arthur menunggu Zack selesai berbicara dan Ia berniat meninggalkan tempat tersebut karena adap saat ada yang lebih tua berbicara, kita tidak boleh menguping pembicaraan. Namun, Zack melaporkan sesuatu yang membuat Arthur membelalakan matanya.
"....Segerombolan serigala sihir, memasuk i wilayah timur Shinrin. Kapten Nel dan anggota Pemberantas Iblis, sedang mengevakuasi warga, serta melakukan perlawanan terhadap serangan tersebut. Kedatangan saya yang tidak sopan ini, untuk melapor dan berniat meminta bala bantuan menuju ke lokasi".
Arthur melihat kearah Zack. "Serigala sihir? Menyerang? Tapi, kata guru Ciel, serigala sihir tidak akan menganggu orang. Pasti, ada penyebabnya kenapa serigala-serigala itu menyerang" Arthur tetap berada disana dan menguping pembicaraan.
Zack mengangkat pandangannya dan melihat Linus yang menjatuhkan beberapa kertas perjanjian ASJ dengan Shinrin dan Aosora.
Linus berdiri dengan raut wajah yang gusar. "Panggil semua Kapten dan suruh mereka untuk datang ke lokasi secepat mungkin. Terutama, Markas Penyidik".
Mendengar perintah itu dari Linus, Zack langsung melaksanakan perintah itu. "BAIK BAGINDA! WOSH!" Zack berteleport menuju Markas Penyidik terlebih dahulu.
Naver berdiri dan Ia mengeluarkan sihir miliknya untuk memantau perlindungan ASJ (Asj, lokasinya berdekatan dengan Hutan sihir dan hanya berjarak 2.5km dari bibir hutan).
"Baginda Linus, biarkan Saya ikut membantu Anda" Ucap Naver sambil menghilangkan sihir miliknya dihadapannya. Sihir tersebut, hanya dapat dilihat oleh Naver dan orang yang diizinkan oleh Naver.
"Tidak bisa. Anda adalah tamu disini"
Naver menatap mata hitam Linus dengan tajam dan ia memegang dada kirinya. "Ini, demi kelangsungan ASJ dan bila istri saya tau, dia pasti akan mendesak saya untuk membantu Anda". Itu, hanyalah alasan Naver agar dapat izin membantu.
"Emilly, Naver kau jangan selalu menuruti ucapan istrimu. Sesekali, jangan takut pada istrimu" Linus tiba-tiba merasa iba pada Naver.
Naver meringis pada Linus. "Kalau saya tidak menurut, saya tidak boleh tidur dikamar dan tidak akan diizinkan pulang ke Aosora".
Linus menepuk bahu kiri Naver. "Adikku tidak salah pilih-" Ia mengangguk beberapa kali.
"Ayah! Aku mau ikut membantu" Arthur tiba-tiba menyela perkataan Linus.
Linus dan Naver melihat kearah Arthur. "Tidak boleh" Ucap keduanya bersamaan.
"Ah!" Arthur terkejut mendengar dua orang itu mengatakan hal yang sama.
"Tapi, aku bisa menggunakan sihirku dihutan! Aku bisa membantu ayah! Aku ingin membantu! Aku janji! Gak bakalan nyusahin ayah!" Arthur memaksa.
Naver menghela napas dan memberi raut malas pada Arthur. "Kau ikut ke Shinrin saja sudah menyusahkan untukku dan prajuritku, Nak"
Naver harus ekstra sabar.
"Apa boleh buat. Bila putraku sudah berkata seperti demikian" Sebenarnya, Naver sangat mendukung Arthur disaat yang bersamaan.
Linus telah mengakui kemampuan Arthur. Ia juga tak bisa menolak ucapan Naver yang sudah memutuskan. "Kalau begitu, cukup bantu ditempat pengevakuasian. Naver, jadikan ASJ sebagai tempat perlindungan dan keamanan warga Shinrin sepenuhnya ku percayakan padamu. WOSH!" Linus langsung pergi ke tempat pembunyian Lonceng istana.
Sampai ditempat tersebut, Linus geleng-geleng kepala saat melihat prajuritnya yang tertidur di tempat pemantauan.
"Kenapa Aku mendapatkan prajurit-prajurit yang malas" Batin Linus sambil emngeluarkan sihir miliknya.
"DOOOOOONGGGGG!!!! DOOOONGGGGGG"
Suara lonceng yang di gerakkan dengan sihir milik Linus, membuat Dua prajurit yang memantau terbangun dari tidurnya.
"DIMANA! DIMANA ORANG ITU?!" Dua prajurit itu, langsung berdiri dan mengeluarkan pedang mananya dengan ancang waspada.
Keduanya melihat Linus yang menatap mereka dengan raut dingin.
"Ah?! BAGINDA!!! SRUK!" Mereka bersujud dihadapan Linus.
"BAGINDA! MAAFKAN KAMI! KAMI! BARU SAJA DISERANG OLEH SEORANG IBLIS BERAMBUT HITAM DENGAN SAYAP YANG BERJUMLAH ENAM!-"
Mendengar itu, Linus langsung mengekeryitkan keningnya. "Jangan berbicara omong kosong. Tak perlu berbohong bila kalian memang ketiduran" Linus sudah terlanjur kesal pada dua prajurit itu.
Salah satu dari prajurit itu, Ia memegang kaki Linus.
"Ini bukan omong kosong baginda. Saya sempat melihat Iblis itu datang kemari. Dan Kami, berniat membunyikan lonceng ini. Namun, Kami tak tau apa yang terjadi hingga lonceng ini dibunyikan oleh Anda"
Linus mundur beberapa langkah. Dan Ia mengepalkan telapak tangan kanannya.
"Lepas lambang Markas keprajuritan Shinrin dan bet Class Rank kalian. Berbicara hal yang sangat tidak masuk akal, sangat tidak mencerminkan jiwa keprajuritan kalian. WOSH!" Linus pergi begitu saja dihadapan dua prajurir yang tidak ia kenal siapa namanya.
.
.
.
.
.
.
BONUS:
SELAMAT UNTUK 100 CHAPTERNYA. TETEP SEMANGAT BERKARYA DAN SEMANGAT MEMBACA