
David mengizinkan Arthur dan rombongannya untuk berjalan kaki menuju Istana Aosora. Ia menunjuk salah satu prajuritnya untuk mengawal mereka agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Mereka telah sampai di gerbang Istana Aosora.
Arthur menatap rumah kaca milik ibunya yang ditumbuhi oleh rumput liar. "Dimana tukang kebun yang menangani rumah kaca?" Arthur bertanya pada prajurit yang mengawalnya.
"Mereka telah berhenti" Jawaban tersebut, sangat mengejutkan untuk Arthur. "Mengapa? Lalu, dimana Guru Ciel?" Tanya Arthur lagi.
"Beliau menghilang sejak kepergian Anda" Jawab Prajurit itu.
Arthur tidak tau apa yang terjadi dengan istananya. Ia langsung berjalan menuju rumah kedua. "Anu, Pangeran. Anda seharusnya menemui Raja Barron terlebih dahulu" Prajurit itu, mengingatkan Arthur.
Tujuh orang yang ada dibelakang Arthur hanya diam melihat Arthur yang berbeda.
"Raja? Sejak kapan Aosora jatuh ditangan orang itu?" Arthur masuk ke rumah ke dua. Ia sangat membenci Barron karena ia mendengar bila Barronlah dalang dibalik kematian orang tuanya dan hilangnya Putra Mahkota Aosora yang sebenarnya.
"Biar aku yang mengurus. Verza, datangilah Penasehat Barron bersama anak-anak. Katakan bila Arthur akan segera menemuinya saat jam sarapan" Ucap Nox sambil menepuk punggung Verza.
"Ha'a kalian ayo" Ajak Verza.
...****************...
Arthur berjalan di lorong rumah ke dua yang kini menjadi rumah bagi para pelayan. Jam dinding ada pada pukul 4 dini hari.
"Ini merindukan" Arthur mengusap air matanya dan melewati lorong rumah ke dua yang langsung menuju pada rumah utama.
Nox mengikuti Arthur dari belakang. "Naver, apa yang akan kau lakukan saat putra keduamu akan berusia 17 tahun?" Nox bertanya dalam batin saat melihat lukisan keluarga Naver ada di dinding yang ia lewati.
"Menikah adalah hal yang merepotkan. Kau selalu mengatakan hal tersebut. Tapi, kau sendiri menyukai anak-anak. Naver, apa kau akan menyuruhku memeluk putramu yang menangis dihadapanku?" Nox kasihan kepada Arthur. Rentetan kejadian selalu mengikuti langkah Arthur di sepanjang jalan.
"Tep!" Ha nashi yang menjadi gagak, bertengger pada bahu Nox. Nox melihat gagak itu. "Apa-apaan gagak ini?" Ia menepis gagak itu untuk menjauh darinya.
Arthur terus berjalan menuju rumah utama dan masuk ke kamarnya.
Arthur masih terbayang dengan kejadian yang telah menimpa keluarganya. Wajah Bram yang penuh darah, tubuh ayahnya yang tertusuk pedang besi, dan jasad ibunya yang terpisah dengan kepalanya.
"Bruk!" Arthur menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang rapi dan bersih.
"TOCK! TOCK!" Nox mengetuk pintu kamar Arthur yang terbuka.
Arthur melihat ke arah pintu kamarnya dengan mata yang berair.
"Pangeran, bolehkah aku masuk?"
Arthur duduk dan mempersilahkan Nox untuk masuk.
Gagak Ha nashi dan anak kucing hitam yang dibawa oleh Arthur masuk ke dalam kamar Arthur dan naik ke kasur Arthur.
Nox menurunkan mereka berdua.
"Pangeran, hal yang Anda lakukan ini, sangat bertolakan dengan etika yang di ajarkan di Aosora. Katakan kepadaku, apa alasanmu bersikap seperti ini?" Nox membelakangi Arthur yang tiduran.
"Saya tau guru" Arthur menjawabnya sambil menutup wajahnya di kasurnya.
"Lalu apa alasanmu?"
"Tidak ada. Tolong beri saya waktu untuk sendirian. Saya sangat lelah" Ucap Arthur yang tak berani melihat Nox duduk di sebelahnya.
Nox berdiri setelah mendengar jawaban Arthur. "Satu jam lagi, aku akan kemari" Nox meninggalkan Arthur di kamar itu.
Arthur melihat Nox yang sudah pergi dari kamarnya langsung menutup pintu kamarnya.
Arthur mengusap mengusap matanya yang berair. "Archie! Ayo mari kita coba untuk membebaskanmu" Arthur mengeser ranjang kasurnya untuk mencari tempat ia menyembunyikan hinoken.
"Bagus Arthur! Setelah ini,... Kau akan terbebas dan hidup dengan nyaman" Ucap Archie.
"Benar! Setelah ini, orang-orang tidak perlu takut denganku lagi!" Arthur merabakan telapak tangannya di lantai kayu di bawah ranjang yang telah ia dorong.
Senyum mengembang di bibir Arthur. Ia menarik kayu yanh mencuat keluar itu dengan kedua tangannya.
"BWOSH!" Ha nashi kembali ke wujud manusianya dan memberikan Arthur alat pengungkit yang ia temukan dari atas lemari pakaian Arthur.
"Terima kasih" Arthur mulai mengungkit lantai kayu itu. "KRAK!" Sinar biru keluar saat Arthur berhasil membuka kayu tersebut.
"Ini akan sia-sia" Batin Ha nashi sambil duduk di atas kasur Arthur.
Arthur Hinoken itu dipegang oleh Arthur. "Wusht!" Angin sejuk keluar dari pedang sihir tersebut dan membuat rambut halus Arthur tersepoi.
"Selanjutnya, apa yang harus aku lakukan Archie?" Arthur tidak tau cara dia melepaskan segel yang mengurung Archie.
"BREB! Kau membawa buku catatan Alex kan?" Tanya Archie yang tiba-tiba bertukar tempat dengan Arthur.
Ha nashi melihat mata Arthur yang merah.
Archie mencari buku catatan Alex yang ada di tas Arthur kemudian ia meletakkan buku itu di lantai bersamaan dengan hinoken itu.
Ia melukai ujung jari telunjuk kanan Arthur
"Arthur, ingatlah pola yang ku buat ini" Archie menggambarkan lingkaran sihir dengan darah dari tubuh yang ia gunakan.
"Kemudian, letakkan namamu dalam huruf penulisan kuno di akhir lingkaran sihir" Archie menuliskan nama Aosora Arthur disana.
"Sekarang tugasmu meneteskan darahmu sepenuh hatimu dan ucapkan mantra pelepasannya" Ucap Archie yang kembali bertukar tempat dengan Arthur.
"Huuumph" Arthur menutup matanya sambil menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya perlahan. Ia meneteskan darahnya beberapa kali diantara hinoken.
Warna hinoken menjadi lebih biru dari sebelumnya.
"Aku, Aosora Arthur, keturunan dari Aosora Alex melepas segel yang mengurung tubuh De luce Archie" Ucap Arthur.
Angin berpusar si sekeliling Arthur. Ha nashi dan kucing kecil itu hanya memandangi Arthur yang rambutnya berkibas.
Arthur membuka mata kanannya untuk melihat apa yang terjadi. Tidak ada perubahan yang terjadi.
Ha nashi dan kucing itu saling pandang kemudian melihat ke arah Arthur lagi.
"Eh? Kenapa tidak berhasil?" Arthur melihat wajah Ha nashi yang hanya memandangnya saja.
"Apa jangan-jangan aku bukan keturunan Aosora?" Arthur memegang kepalanya dan mengacak rambutnya yang lebih putih dari sebelumnya.
Ha nashi berdiri dan memegang kedua benda itu. Hinoken berubah menjadi warna merah saat di tangan Ha nashi.
"Eh?" Arthur terkejut melihat ada orang lain yang mampu memegang hinoken tanpa mengeluarkan percikan listrik.
"Tidak perlu ada yang di cemaskan. Kau adalah keturunan Aosora Alex. Tapi tidak dengan darah itu. Wuush" Ha nashi menghilangkan hinoken itu untuk ia jaga.
"Tuan gagak, tolong kembalikan Hinoken itu. Itu, satu-satunya peninggalan keluargaku" Arthur menyetuh kaki Ha nashi. Ia memohon padanya.
Kucing itu, menghinggap di bahu Ha nashi.
"Kami hanya menjaganya saja. Kami akan mengembalikan padamu saat kau membutuhkannya" Ucap Ha nashi sambil melepas tangan Arthur dari kakinya.
"Kenapa? Sebenarnya apa aku ini?" Tanya Arthur pada Ha nashi.
Archie tidak bisa berkutik dengan apa yang terjadi. "Kenapa Arthur tidak mampu membebaskanku?".
Ha nashi menyuruh Arthur untuk berdiri dan duduk di atas tempat tidurnya. "Pangeran, Anda adalah Aosora. Dan Aosora tetaplah Aosora. Jiwamu adalah Aosora, tapi tidak dengan darah yang mengalir di tubuhmu ini. Istirahatlah. Kami akan segera kembali. Wosh!" Ha nashi menghilang dari hadapam Arthur bersama dengan kucing Azuma itu.
"Archie maaf. Aku....aku tidak bisa..." Arthur melihat ke lantai kayu yang terdapat darahnya yangasih terukir disana.
"Bocah, tenanglah. Jangan menangis, Tuan Ha nashi tidak akan membawanya pergi. Dia adalah penjaga Hinoken itu. Dia pasti akan kembali"
Arthur tidak mengkhawatirkan itu. Yang ia khawatirkan adalah statusnya sebagai keturunan Aosora Alex.