The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
TAMAT



Darah terus keluar dari kedua lubang hidung dan lubang telinga Arthur. Pandangannya buram. Kini pendengarannya pun ikut memudar. Ia hanya bisa melihat ke depan. Dimana bayangan dua orang sedang saling menuding dan menunjuknya.


Sosok pria dengan tinggi yang sepantaran dengannya (Azuma) memegang kedua bahu Arthur untuk mendudukkannya. Ia menyelimuti Arthur dengan sihir hijau miliknya.


Ha nashi melihat tanda kutukan Arthur yang melebar di seluruh sisi kanan tubuh Arthur. Ia bahkan sempat melihat bola mata Arthur yang menghitam.


"WUUUUSHHHH" Dengan halus, mana milik Azuma dan Ha nashi terserap ke tubuh Arthur. Pandangan Arthur mengelap. Ia tak tau apakah ia dalam kondisi sadar atau tidak sadar.


"Syuuut" Sepasang tangan yang bercahaya, memeluk Arthur dari belakang hingga menutup sebagian wajahnya. Arthur membelalakan matanya dengan iris ice bluenya.


Ia melihat bayangannya pria pada kaca panjang didepannya. Satu tanduk hitam yang melintang di kepalanya serta enam batu mana yang melingkar di tanduk hitam di atas kepalanya itu. Membuat Arthur bergidik karena dia sosok yang paling menyeramkan yang pernah ia lihat.


Mata Arthur bergetar.


"Kau adalah aku dan aku adalah kau" Suara yang mengema keluar dari bibir sosok bertanduk yang memeluknya itu.


Sosok itu, mencengkram kedua pipi Arthur dengan tangan kirinya yang berkuku tajam dan pola kutukan yang sama persis dengan dia berwarna ungu.


"Ambil tubuhmu kembali dan pilihlah sesuatu yang benar menurutmu"


Tubuh Arthur bergetar mendengar suara pria itu yang menyeramkan. Hal ini, membuat Arthur tak bisa mengeluarkan suaranya.


"PUTRA MAHKOTA!" Arthur mendengar suara teriakan yang jauh. Ia tak asing dengan suara itu.


"Putra Mahkota?"


"ARTHUR!!"


DEGH! DEGH! SRAAAAAA!!!


Ia mendengar suara detakan jantung dan suara air yang mengalir di hadapannya. Sosok itu, melepaskan Arthur. "Jangan lengah...." Sosok itu menghilang seperti asap.


Arthur tidak pikir panjang lagi. Ia langsung berlari menuju tempat terang jauh di hadapannya, tempat yang memanggil namanya. Ia terus berlari. Cahaya itu, tidak semakin dekat. Itu malah semakin menjauh.


Sosok bayangan muncul dihadapan Arthur, saat ia berhenti di tengah jalan yang gelap itu. "Itu hanya akan membuatmu sakit. Berhentilah sekarang"


"Itu tidak benar!" Tegas Arthur di dalam batinnya.


Ia krmbali berlari menuju cahaya itu.


"BREB! BKUHK!" Arthur tersadar setelah pingsan beberapa menit dan langsung terbatuk menyemburkan darahnya kembali.


"Apa yang terjadi padaku" Arthur melihat Archie berada di sebelahnya dengan raut wajah yang tak pernah ia lihat.


"Teruslah sadar bocah! Wuuuussshhhh" Archie menyelimuti sekujur tubuh Arthur dengan sihir miliknya.


Azuma terlihat marah kepada Ha nashi. Ia menudingkan pedang mananya pada Ha nashi. "Kau tidak becus manusia" Ucap Azuma.


Azuma membantu Arthur untuk mengeluarkan Archie sementara. Archie hanya mampu berada diluar tubuh Arthur kurang dari 10 menit dengan sihirnya.


Sakit yang amat luar biasa dirasakan oleh Arthur. Mata Arthur berair menahannya. Bahkan, Arthur tak mampu mengeluarkan suaranya.


"Archie...." Arthur mengirim suaranya berupa telepati kepada Archie. Ia melihat Arthur yang menangis di hadapannya.


"Apa aku akan baik-baik saja"


Kondisi Arthur sangat buruk. Archie mengkatupkan gigi-giginya kemudian menunjukkan senyumannya untuk memberi semangat Arthur. "Ya! Kau pasti baik-baik saja. Aku disini membantumu sebisaku"


Archie tidak bisa membantu sedikitpun. Ia hanya merasa Arthur yang menyerap mananya. Sekujur tubuh Archie merasa nyeri. Ini juga dirasakan oleh Arthur.


"Archie.... Maafkan aku karena tak bisa membantumu sedikitpun" Arthur mulai menangis. Ia mendengar suara Azuma yang bertarung dengan Ha nashi.


"Diamlah dulu. Jangan memikirkan apapun! Dasar bodoh!"


"Mimisan biasanya terjadi padaku setelah aku keleahan karena terlalu banyak menggunakan mana. Tapi, ini.... Aku tidak tau ini apa"


Dada Arthur semakin sesak.


...****************...


Nox bersyukur karena keluar dari kamar mandi karena perutnya yang mulas dari pagi. Ia lega karena bisa mengeluarkannya.


Nox melihat sekelilingnya. Pintu ditutup rapat-rapat oleh semua pelayan istana. "Apa yang terjadi? Ini tidak sesuai skenario acara" Nox bertanya kepada salah satu pelayan disana.


"Kami hanya mengikuti perintah Putra Mahkota Aosora yang disampaikan melalui Putra Mahkota Agleer" Jawab pelayan itu sambil menarik tali gorden.


"Disampaikan? Memangnya, sesibuk apa Putra Mahkota Aosora?"


"Saya kurang mengerti"


Nox segera nemui Baal dan menanyakan Arthur. Baal menjawab, "Dia diluar"


Nox melihat arlojinya. sekarang pukul 21.58. "Sial! Kenapa Anda meninggalkan dia sendirian?! Nox menarik pintu keluar. Tak bisa dibuka.


"Anda tidak boleh keluar sebelum pukul 10 malam" Ucap Baal sambil menahan tangan kiri Nox. "Apa ini perintah Putra Mahkota Aosora? Kalau begitu, Anda bodoh karena mengikuti ucapan bocah yang sekarat! Wosh!" Nox menarik tangannya dari pegangan Baal dan bertelport keluar dari ruangan itu. Di hadapan Nox kini ada Tsuha dan Angel yang berusaha untuk masuk ke dalam ruangan.


"Guru, kau sudah-Grep!" "Ikut aku"


Nox langsung menarik tangan Tsuha dan membawa Tsuha berteleport pergi.


Angel bingung dengan apa yang terjadi.


Nox berdiri dihadapan Arthur ia langsung berjongkok. Sedangkan Tsuha, ia termenung ditempat. Ia membeku melihat kondisi Arthur yang berwajah pucat.


Arthur menyipitkan matanya yang berlinang karena ia tak kuat untuk menjawabnya.


20 detik lagi...


Nox memeluk perlahan tubuh Arthur, "Selamat atas kenaikan Anda sebagai Putra Mahkota Aosora dan selamat atas usia Anda yang ke tujuh belas"


"BRUUUUHK!" Darah menyembur kembali. Arthur membalas pelukan Nox. "Apa yang sedang terjadi dengan ku?" Ia menutup matanya perlahan dan membuang napas perlahan.


Tsuha melihat Archie yang transparan sedang mengkeryitkan keningnya. Tangan Arthur terjatuh lemas dari punggung Nox. Nox tidak tau bila Archie ada disebelahnya.


Archie membelalakan matanya melihat hal itu.


"Terima kasih, Anda baik sekali guru" Senyum hangat di keluarkan dari wajah Arthur yang penuh darah. Archie melihat mata Arthur yang kembali terbuka dan mata itu sedang melihat ke arah Ha nashi serta Azuma yang bertarung.


Sekarang Pukul 22.01


Nox melepaskan pelukkannya dan berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Arthur. Tsuha termenung ditempat. Ia masih berusaha untuk menerima hal yang terjadi di depannya.


Arthur berdiri sambil mengosok wajahnya.


"Putra Mahkota, sekali lagi.... saya ucapkan selamat atas kenaikan Anda. Kami akan pamit untuk kembali ke Shinrin pukul 11 nanti. Selamat malam" Nox sedikit membungkuk dan Arthur tidak sedikitpun melihat ke arahnya.


"Putra Mahkota, apa Anda baik-baik saja?" Tsuha melihat Arthur yang linglung.


Arthur melihat ke arahnya dengan mimik yang datar kemudian ia tersenyum. "Tentu saja, aku lebih dari baik-baik saja. Ctak!" Ia mematikkan jarinya dan tiba-tiba tubuh Archie dikelilingi dengan angin merah yang hangat.


Archie melihat kedua tanganya yang bercahaya kemudian cahaya itu berjalan keseluruh tubuhnya. "Apa yang terjadi?!" PATS!!! Cahaya merah itu berubah menjadi cahaya biru yang langsung melesat ke segala arah.


Tubuh Archie kini telihat jelas. Tsuha dan Archie melihat ke arah Arthur yang masih melihat ke depan (tempat Ha nashi dan Azuma bertarung).


"Kau jangan jauh-jauh dariku. Bila kau pergi melebihi jangkauan 3 Km dariku, tubuhmu akan melenyap dan kembali ke dalam sini" Ucap Arthur sambil memegang dada kirinya. Tsuha melihat dada kiri Arthur. Disana tanda kutukannya menghilang.


"Dan Tsuha, jangan lepaskan pandanganmu dari raja Akaiakuma yang membunuh ayahnya ini" lanjutnya sambil meninggalkan mereka berdua.


Tsuha melangkah ke samping di dekat Archie untuk membiarkan jalan Arthur. Kemudian, Tsuha melihat Nox. "Apa yang terjadi dengannya guru?"


Nox melihat langit yang kembali menurunkan saljunya. "Kita kembali ke Shinrin dan Biarkan Putra Mahkota Aosora disini"


"Aku ikut kalian ke Shinrin bersama Iblis itu" Arthur melirik Nox dan menunjuk Archie yang ada disebelah Tsuha.


"Baik. Kami akan mengurus barang bawaan An-"


"Tidak perlu. Cukup membawa sepasang pakaian saja" Selanya sambil berjalan ke arah Ha nashi dan Azuma.


BRUAAKKKKK!!!!! PATS!!!


Azuma melayang ke langit dan langsung menghentakkan kakinya dengan keras ke arah Ha nashi di bawahnya. Ha nashi membuka gerbang teleportasinya dan memindahkan Azuma jauh dari hadapannya.


"KRATAK!!!! PRUAKKKKK!!!!!! BAM!"


Azuma menghentakkan kakinya di tanah. Sekeliling Azuma langsung retak dan menghancurkan sekelilingnya. Baik itu tanah yang langsung berlubang dan pohon yang tumbang karena hempasan angin dari serangan Azuma.


Azuma berdiri dan mengikat rambutnya ke belakang. Ha nashi menghilangkan sihirnya yang ada diatas kepalanya berupa sihir gerbang teleportasi.


"Sungguh kenakan-kanakan!"


"Berisik, kau tak hanya membuat Putra Mahkota Aosora merasakan sakit yang luar biasa. Tapi, kau juga membuat tuanku merasakan hal yang sama dengan-"


"Azuma...." Ucap Arthur yang tiba-tiba muncul di belakang Azuma.


Azuma yang tengah memegang pedang mana, ia terkejut dengan suara halus yang bersuara dibelakangnya. Ia langsung menebaskan pedang mananya sangking terkejut karena tidak merasakan aura dibelakangnya.


"TRANKKKKK!!!"


Ha Nashi berteleport sebelum pedang mana itu mengenai mata Arthur. Ia menahan pedang mana Azuma.


Azuma melihat mata biru gelapnya. "Ah, Tuan.... Maafkan saya!" Azuma langsung menghilangkan pedang mananya. Ia langsung bersujud di kaki Arthur.


Arthur berjongkok di hadapan Azuma yang bersujud.


"Kalian berdua akrablah. Mari menuju Shinrin dan menyelesaikan misi terakhir sebagai Anggota Pasukan Pemberantas Iblis" Ia mengangkat Azuma.


Ha nashi merasa ada yang aneh.


"Ambareesh apa ada yang salah dengan dirimu?" Ha nashi menepuk bahunya.


Arthur melihat Ha nashi, ia menunjukkan matanya yang sipit saat meringis. "Oh, Tuan Ha nashi. Ku kira Anda siapa. Apa ada yang aneh dengan diriku?"


"Kau masih Arthur" Ha nashi mundur kebelakang.


...----------------○○○----------------...


...THE LAST INCARNATION...


...OF THE LAND OF ARDEN...


...I...


...ΩΩΩTAMATΩΩΩ...


...----------------○○○----------------...