
Razel menjahit bet kelas rank pada lengan kanan seragam mereka, tepat dibawah Nama kerajaan Shinrin.
"Besok, kalian berdua akan mendapatkan tugas baru dibawah pimpinanku langsung dan Kalian akan berlatih bersama Kapten Penyidik untuk masa training kalian. Tujuannya, untuk mengasah kemampuan dasar Kalian bersama 25 Anggota baru pasukan Penyidik" Jelas Razel.
"Oh, berarti, Kita akan bertemu dengan Nao disana" Lirih Tsuha.
Arthur melihat kearah Tsuha.
"Nao ? Dia masuk di Guild itu ?"
Tsuha mengangguk.
"Tentu saja. Sampai-sampai Dia juga mendapatkan tawaran langsung dari Putra Mahkota Agleer yang menontonnya dari kejauhan" Jawab Tsuha.
"Eh ? Sampai sebegitunya ?" Tanya Arthur yang sangat tidak mempercayainya.
"Tentu saja. Nao itu sangat hebat sekali. Dia bahkan pernah menantang Guru Nox dan Dia menang hanya dalam sekali serangan" Tsuha menyontohkan gerakan tangan Nao yang menebas dari atas kepalanya hingga kebawah.
"Serius ? Sekali serangan?" Sekali lagi, Arthur sangat tidak mempercayainya.
"Beneran! Dia mengeluarkan lingkaran sihir selebar 5 dan 2 meter dibelakang tubuhnya dan itu, membuat langit disekitar ASJ langsung mengelap. Saat itu, Nao benar-benar terlihat keren!" Tegas Tsuha dengan raut wajah gembira.
"Lingkaran sihir selebar 5 meter dan dua tingkatan ? Apa dia keturunan bangsawan ?" Arthur kagum dengan Nao dicerita Tsuha.
"Tidak. Nao itu, 100 persen keturunan warga biasa. Dan Orang tuanya, bekerja sebagai petani sama seperti orang tuaku" Jelasnya.
Razel ikut mendengarkan cerita mereka dan Ia merasa cukup disayangkan karena Nao menolak untuk masuk diguildnya.
"Kalau begitu! Besok! Aku akan minta ajar pada Nao tentang lingkaran sihirnya itu!" Tegas Arthur dengan mata yang sangat berbinar-binar.
Tsuha menyilangkan kedua tangannya didadanya.
"Dia tidak akan mau. Aku saja teman kecilnya ditolak mentah-mentah.
...****************...
Keesokan harinya ditempat Training...
"Tentu, Aku akan mengajarimu. Syaratnya, jadilah temanku" Ucap Nao sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kirinya pada Arthur.
"°○°" Tsuha melongo saat mendengar ucapan Nao yang mengiyakannya.
"Heh!!! Curang sekali!!!!!" Tsuha langsung menunjuk Nao.
"Grep!" Tsuha memegang jubah Nao bagian depan dan menarik-mendorongnya.
"CURANG SEKALI!!!! KENAPA KAU TIDAK MAU MENGAJARIKU JUGA!!!! SIALANNN!!!!"
"Ahahahaha...." Nao tertawa Riang.
"Itu, karena Aku memiliki tangung jawab" Jelas Nao.
"Tanggung jawab ?"
Tsuha bertanya dan tidak didengar oleh Nao.
Arthur menjabat tangan Nao.
"Aku mau jadi temanmu. Mari, berteman sekarang !" Tegas Arthur sambil mengayun-ngayunkannya.
Marsyal yang sedang melihat keakraban mereka bertiga, kembali berbincang dengan Razel.
"Kau yakin untuk tetap menjaga Pangeran Aosora Arthur di Guild kecil itu ?" Marsyal mengkhawatirkan tangung jawab yang sangat besar untuk Guild Pemberantas Iblis.
"Tentu, Kami sangat yakin dan Pangeran Aosora akan selalu dalam perlindungan Kami" Jawab tegas Razel.
Marsyal melihat disekelilingnya yang merupakan taman pelatihan Markasnya yang sangat luas dan penuh dengan pepohonan.
"Kalau merasa tangung jawab ini terlalu berat untuk kalian, Pintu Guil Penyidik yang ku Ketuai akan selalu terbuka untuk Kalian. Pemberantas Iblis" Ucap Marsyal.
"Terima Kasih. Untuk hari ini, Apa yang harus Aku lakukan ?" Tanya Razel.
Marsyal memberi gulungan kertas dari tas kecilnya pada Razel.
Razel langsung menerimanya.
"Ini adalah pelatihan Khusus untuk mereka. Mereka harus datang kesini secara rutin setiap harinya. Pelatihan Khusus ini memiliki tujuan untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki oleh setiap peserta. Terutama pada pemula seperti mereka" Jelas Marsyal.
Razel mendengarnya sambil membaca lembar kertas itu.
Ia merasa pelatihan ini terlalu berlebihan.
"Marsyal, bukankah ini terlalu memberatkan mereka ? Mengeluarkan Sihir yang mereka bisa i dengan meningkatkan setiap aliran mana dan memandatkannya setiap serangan. Bagaimana kalau tubuh mereka tidak kuat menahannya?" Tanya Razel.
Razel sangat memahami karena pernah merasakannya.
Marsyal kembali melihat Arthur.
"Tujuanku, tidak lebih dari meningkatkan skill mereka. Semakin mereka terlatih, maka semakin juga mereka bisa menjadi Prajurit yang handal" Jawab Marsyal.
"Lagi pula, menaikkan satu tingkatan sihir tidak akan memberatkan mereka yang sangat antusias untuk menjadi seorang kesatria. Dan untuk hari ini, mereka hanya berlatih cara mengeluarkan Lingkaran sihir untuk memperkuat efek disetiap serangan mereka" Lanjutnya.
Razel tau kalau itu akan sangat membantu para anggota baru. Tapi, dilihat dari sisi manapun, itu sama seperti menyakiti tubuh para anggota baru itu.
"Kalau Kau tak setuju, Bagaimana hal yang baik untukmu bila jadi Aku?" Tanya Marsyal sambil mengulurkan tangan kanannya pada Razel.
"Aku tak perlu menjadi dirimu karena Aku adalah Aku. Tujuan Kita sama. Hanya saja, jalan yang kita lalui berbeda. Kita coba saja bagaimana caramu untuk mengoptimalkan skill mereka. Bila itu tidak berhasil, Kita coba dengan caraku" Jelas Razel sambil mengulung kertas itu.
Marsyal tersenyum dan menangguk karena ucapan Razel benar.
"Kalau begitu, mari Kita mulai Trainingnya"
...****************...
Ia ingin sekali mencarinya tapi, Ia juga tak ingin melihat Arthur dan yang lain khawatir.
Semakin dirasa, semakin tak asing aura itu bagi Archie.
Ia juga merasakan aura yang sangat unik dari Nao.
Rasanya seperti sesuatu yang didambakan dan juga sesuatu yang hilang.
Archie ingin sekali bertukar tubuh dengan Arthur.
Tapi, Arthur sangat ingin belajar sihir.
Arthur mengikuti tahap sesuai arahan Marsyal.
Marsyal menyuruh mereka untuk mengeluarkan satu sihir yang paling disukai oleh mereka.
Arthur mengeluarkan sihir mirip bola-bola mana yang dipadatkan. Bola-bola itu, bisa menghantam musuh dengan cepat sesuai keinginan Arthur.
Sedangkan Tsuha, Dia kebingungan untuk mengeluarkan sihir yang ia sukai karena, semua sihir yang ia kuasai adalah sihir pergabungan dengan Tsuki.
Nao berpura-pura bingung untuk memilih salah satu sihir yang Ia kuasai.
"Sihir Gravitasi, apa boleh Kapten ?" Nao mengangkat tangan dan menanyakannya pada Marsyal.
Sihir Gravitasi paling minim berada ditingkat pertama dan hampir mendekati terlarang karena bisa berefek buruk bagi pengguna dan orang disekitarnya.
"Kalau bisa, sihir yang mampu untuk pertahanan disaat Kalian dalam posisi tersudutkan. Contohnya, tanah mengunduk seperti milik Pangeran Arthur saat seleksi saat itu atau, sihir perlindungan seperti milik Kapten Nel dari Pemberantas Iblis" Jelas Marsyal.
"Eh ?! Kalau yang semacam itu, bagaimana dengan mengendalikan akar tanaman seperti ini ? Apa ini bisa dilatih lagi ?" Tanya Tsuha sambil mengendalikan satu akar pohon yang melilit ke Nao.
"Eh ?!" Archie dan Marsyal cukup terkejut.
Marsyal menepuk kedua tangannya.
"Tentu! Itu sangat bisa ! Kau akan Ku latih secara Pribadi. Dan apa Kau mau pulang telat mulai hari ini ?!" Nada Marsyal terdengar sangat antusias.
"Hoh! Apa Kapten bisa sihir yang dibisai oleh keturunan ayah Saya ?!"
Tsuha mengepalkan kedua tangannya dan sedikit mencondongkan tubuhnya.
Marsyal tersenyum dan menepuk kepala Tsuha.
"Aku, masih memiliki hubungan dengan keluarga Estelle" Jawabnya.
Archie tau kalau sihir mengendalikan tanaman itu, bisa disebut dengan sihir turunan yang hanya bisa dimiliki oleh satu bangsa saja. Dan bangsa lain tidak akan bisa menirunya.
...****************...
SEPINTAS CERITA.....
"Kriuuuukkkkk" Mizel memakan kerupuk *rambak diatas pohon sambil melihat Arthur dari kejauhan dan Ia tidak sadar disampingnya ada Daeva yang ikutan mengambil rambaknya dari pelukannya.
* kerupuk yang terbuat dari kulit sapi atau kulit kerbau yang diolah dengan diberi bumbu rempah dan penambah rasa.
"Beli dimana ?" Daeva bertanya sambil mrngambil lagi rambak Mizel.
"Kriuuukkkk Hah ? Gak tau, dibeliin sama Tuan Ha Nashi"
Mizel belum sadar akan kehadiran Daeva.
Daeva mengambil kembali rambaknya.
Selang beberapa detik kemudian, Ia sadar setelah melihat rambut Daeva yang berambut putih dengan mata yang merah.
"Wosh!"
Mizel langsung berpindah tempat dan berdiri.
"Kau! Titisan kehancuran kan ?!"
Mizel langsung mengetahui kalau Daeva adalah seorang titisan.
Daeva berdiri.
"Kalau iya, memangnya, Kenapa?"
"Ada yang ingin ku tanyakan padamu"
Mizel menunjuk Daeva dengan rambaknya.
Daeva mengangkat salah satu alisnya.
"Apa ?"
Mizel memakan rambaknya dan mengunyahnya hingga halus kemudian, menelannya.
"Apa keluarga besar De luce memiliki hubungan darah denganmu ?"
"Tidak" Jawab Daeva dengan nada malas karena Ia mendapatkan pertanyaan bodoh.
"Kalau begitu, Kenapa Kau membantai desa Iblis berambut putih ?"
Daeva langsung melihat Mizel.
"Tak ada hubungannya denganmu. Wosh!"
Daeva menghilang setelah menjawabnya.
"Kriuuukkk" Mizel melanjutkan makannya dan melihat mereka berlatih dari kejauhan.