
Arthur mulai menunjukkan lokasi penginapan Lourency yang ada di desa ujung utara Aosora. Desa tersebut adalah batas utara Aosora dengan laut lepas Kerajaan Narai.
Narai adalah kerajaan yang di pimpin dan penduduknya adalah dari Bangsa Manusia. Kerajaan Narai memiliki luas sepertiga wilayah Aosora. Walau Demikian, Narai adalah Kerajaan maju dan memusatkan perekonomian mereka pada bidang tambang dan peternakan.
Lepas dari penjelasan tentang Narai, Luxe mulai membuka sihir lubang teleportasinya yang keluar dari telapak tangan kirinya kemudian ia lepaskan di hadapannya.
"Ini akan membawa kalian langsung menuju Hotel Laurency" Luxe mempersilahkan mereka masuk ke dalam lingkaran sihir yang berwarna putih terang seperti lampu.
Nao langsung masuk ke dalam sana tanpa pikir panjang.
"Tunggu Nao!" Tsuha menarik lengan Nao yang sebagian tubuh Nao sudah masuk ke dalam lingkaran sihir teleport Luxe.
Nao berhenti di tengah-tengah Lingkaran sihir telport itu.
"Nao keluarlah dulu, bila kau berdiri di sana dan tidak sengaja sihirnya tertutup, tubuhmu bisa terpotong" Tsuha menarik Nao hingga keluar dari sana.
Verza sulit untuk menerima kabaikan Luxe.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku percaya kalau Luxe berniat baik pada kita" Arthur langsung melewati Tsuha dan Nao masuk ke dalam lingkaran sihir itu.
Luxe masuk setelah Arthur pada lubang teleportasi tersebut. Mereka bertiga saling melihat, kemudian mereka masuk bergantian.
Verza membelalakan matanya saat melihat bangunan mewah di depannya. Bangunan berlantai empat dengan cahaya yang berkilau.
"Ini.... beneran Penginapan?"
Akal Verza sulit menerima hal tersebut. Penginapan atau hotel itu, terlihat lebih mewah dari yang ia duga.
"Hei Luxe, apa di dalam sana ada wanita yang seindah burung Phoenix putih?"
Nao meringis jahil pada Luxe sambil menyenderkan punggunya pada bahu kiri Luxe. Luxe mendorong Nao.
"Mungkin, wanita yang kau sebut itu Kapten dari Guild Penyidik Aosora" Luxe menunjuk wanita yang berlari ke arah mereka.
"ARTHUUUUR!!!! GREP!"
Pelukan hangat di berikan oleh wanita itu kepada Arthur yang melapangkan ke dua tangannya.
"Akhhh! Pangeran kecil ini, sudah lebih tinggi dariku" Wanita itu adalah keturunan dari bangsa Malaikat asli dan non campuran. Ia memeluk Arthur hingga tubuh Arthur terangkat ke atas.
Arthur mengusap rambut biru langit wanita itu. "Ahahaha Kak Angel, badanmu semakin mirip wanita" Arthur berkata seperti itu karena sesuatu yang lebut berada di bawah dadanya saat di peluk oleh wanita bernama Angel itu.
"Ahahaha!"
Angel tertawa sambil melepas pelukannya. Ia meletakkan kedua tangannya di pingangnya sendiri.
Tsuha membelalakan matanya kemudian ia terlihat seperti orang yang bingung.
"Arthur kau tambah tidak mirip sekali dengan ayah dan ibumu" Balas Angel sambil menepuk bahu Arthur dengan keras hingga Arthur hampir jatuh.
Arthur tertawa sambil menepuk bahunya yang sakit. Mata Arthur melihat Angel dari atas hingga ke bawah. Angel hanya memakai atasan singlet dengan belahan dada yang terlihat dan celana pendek.
"Kak, gak dingin?" Tanya Arthur sambil melepas jas yang ia gunakan dan memberikannya kepada Angel.
Angel melihat jas biru dengan tanda Aosora. "Aih~ Apa ini~ Adik kecil satu ini mau menjadi pria yang perhatian?~" Angel melihat Arthur dengan tatapan mengejek.
Sebenarnya, Angel baru selesai membersihkan kamar untuk Arthur hingga ia tidak sadar belum membersihkan dirinya.
Arthur melihat ke arah lain dan langsung mengenakan jas itu pada Angel. "Di belakangku, banyak laki-laki yang mesum kak. Mending langsung izinkan aku saja untuk masuk ke penginapan Kakak" Arthur membalik tubuh Angel.
Angel sempat melihat Tsuha kemudian, Tsuha langsung bersembunyi di belakang Verza. Angel gemas melihat laki-laki yang pemalu. "Dia pasti menyembunyikan sesuatu" Ia langsung melepas Arthur dan berpindah di depan Tsuha yang bersembunyi di belakang Verza.
"Hai kau tinggi sek-" Angel terkejut melihat wajah Tsuha. Mata mereka saling bertemu.
"Kau cantik sekali!!! Akkkkh! Berapa usiamu?! Siapa namamu?! Apa kau sudah bergabung dengan salah satu Guild?! Ugghh, apa kau mau belanja denganku setelah jam istirahat besok?!!! Akhh! Gak sabar pengen liat kamu pakai gaun rancanganku!!!!!" Angel sangat antusias dan ia langsung memeluk Tsuha yang ia kira seorang perempuan.
Tsuha melihat Angel yang menempel pada dirinya. Ia melihat ke bawah kemudian langsung mengangkat pandangannya karena melihat belahan dada Angel.
"Aaa.... Aku... laki-laki...." Tsuha gelagapan berbicara dengan seorang wanita di jarak sedekat ini. Pandangan Tsuha seperti berputar-putar.
Angel membelalakan matanya dan langsung melepaskan pelukannya. Ia melihat wajah Tsuha yang sangat merah padam saat menundukkan pandangannya dan memejamkan matanya.
"Laki-laki?" Angel melihat ke arah Arthur dengan mata yang masih terbelalak.
"Aaaaa....." Wajah Angel langsung memerah karena malu, namun ia masih berusaha terlihat tegar di depan Arthur dan yang lain.
"Owh, pantas kau tidan memiliki ini. Pitcnnnn" Nada suara Angel langsung mendatar dan ia menekan p*t*ng Tsuha.
"IlIHKKK!!" Tsuha langsung membelalakan matanya karena dadanya di pencet oleh Angel.
Tsuha langsung menyilangkan kedua tangannya menutup kedua dadanya. "Sialan! Kau kapten macam apa! Ini pelecehan tau!!" Tsuha pergi dari depan Angel dan langsung berjalan ke arah Nao.
Nao, Luxe, dan Verza menahan tawa mereka hingga tubuh mereka bergetar.
...****************...
45 menit setelah waktu istirahat di penginapan itu. Arthur dan empat orang lainnya di panggil untuk ajakan makan malam bersama.
"Makan malam ini, sudah di persiapkan dengan baik. Orang-orang dapur, sudah mempersiapkannya dejam matahari terbenam tadi. Ku harap, kau dan yang lain menikmati makan malamnya. Aku akan menunggumu di bawah dan ajak yang lain juga".
Angel berkata demikian. Arthur tidak bisa berkata bila mereka telah makan.
Arthur datang dan masuk ke kamar tamu.
Arthur melihat Nao yang sedang mengejek Tsuha yang menutup hidungnya dengan tisu.
"Apa yang sedang terjadi?"
Ia mendekat ke arah Tsuha yang sedang mendorong punggung Nao dengan kaki kanannya.
"Gak ada!" Tegas Tsuha sambil mendorong Nao dengan penuh.
Nao terjatuh dan ia melihat ke arah Arthur yang mengulurkan tangannya pada Nao.
Nao tersenyum sambil menyipitkan matanya.
"Arthur, apa kau akan selalu mengulurkan tanganmu untukku?" Nao duduk dan belum menerima uluran tangan Arthur.
"Tentu saja. Kalau kau terjatuh, aku akan menolongmu sebisaku" Jawab Arthur sambil menjabat tangan Nao dan menariknya untuk berdiri.
Nao merapikan pakaiannya.
"Arthur, bagaimana dengan orang yang kau anggap sebagai musuh? Apa kau akan mengulurkan tanganmu pada mereka yang ke susahan?"
Mendengar pertanyaan Nao. Tsuha dan Luxe fokus pada mereka.
Arthur tak paham dengan maksud Nao.
"Tergantung. Mereka melakukan suatu hal pasti ada penyebabnya kan?" Balas tanya Arthur pada Nao.
Luxe membuang pandangannya ke arah jendela.
"Orang yang berfikiran sepertimu, biasanya akan mati di usia muda" Ucap Luxe dengan lirih.
Nao mendengar lirihan Luxe. Ia menyeringai.
"Itu benar. Namun, itu adalah sebuah keistimewaan yang tidak akan di temukan dalam pikiran semua orang" Jawab Nao sambil melihat ke arah Luxe.
Luxe sadar bila ucapan itu ditujukan pada dirinya.
"Menjadi orang yang naif lebih baik dari pada orang yang meniru perilaku orang yang mereka benci. Kau tau, itu sama seperti munafik" Lanjut Nao sambil mendekat ke arah Luxe.
Tsuha baru pertama kalinya melihat Nao berkata seperti itu. Ia memperhatikan Nao dari tempat duduknya.
Nao mengengam lengan kiri Luxe yang memiliki tato unik dan melintang. "Tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu. Aku sudah tau siapa dirimu. CTASSHHH!!!!"
Percikan eletromagnetik keluar dari tangan dan lengan Luxe.
Dari percikan itu, terlihat pola seperti akar yang langsung menjalar ke tangan kiri Luxe. "GREP! WUTTTS!" Jalaran tato itu menghilang saat Luxe mencengkram leher Nao.
"Nao, siapa kau ini?"
Senyum seringai terpampang jelas di wajah Nao. "Tebaklah" Luxe melihat dua gigi taring bagian Nao yang lebih lancip dari gigi orang normal saat ia berbicara di jarak sedekat itu.