The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Alam Bawah Sadar



"BHAH! HAH! HAH!" Arthur membuka matanya dan langsung terengah-engah.


"Kau kembali lagi Aosora? Sebenarnya, apa untungnya dirimu masuk ke alam bawah sadarku? Kau tau kan? Ini bukan hal yang sopan"


Arthur melihat sosok berambut biru yang lebih muda dari warnal langit dan hampir memutih saat terkena cahaya dari ruangan gelap itu. Sosok itu, tengah duduk di sebuah kursi mirip singgahsana sambil tersenyum pada Arthur.



"Ah, aku tidak mengerti maksudmu!" Tegas Arthur sambil berdiri dan mundur kebelakang.


"Aosora Arthur, keturunan dari Aosora Alex yang memiliki kemampuan khusus berupa kemampuan untuk masuk ke dalam alam bawah sadar lawananya guna memperngaruhi lawan yang ia anggap sebagai musuh secara spontan. Apa kau menganggap aku musuhmu?" Pria itu turun dari tahtanya, ia berjalan mendekat ke arah Arthur.


Arthur tak tau apa yang terjadi, "Tubuhku, tak bisa bergerak?" Ia hanya mampu melihat dan berbicara saja.


Iblis bertanduk satu itu, mendekatkan wajahnya ke arah Arthur. Ia yang tinggi, sedikit membungkuk. "Apa kau sudah bahagia Aosora?" Pria itu, selalu menanyakan hal yang sama.


"Aku tak mengerti maksudmu! Kenapa kau selalu mengatakan hal yang sama?! Siapa kau sebenarnya?!" Arthur berteriak pada pria itu.


Pria itu, kembali berekspresi datar. "Entah lah, aku sendiri lupa dengan namaku" Jawab pria itu.


"Yang ku ingat hanya De luce, Belial Ken, Tuan Ha nashi..."


"Ha nashi? Tuan gagak itu? Dia mengenalnya?"


"...Azuma, Aosora Alex, Aosora Naver,..."


Mendengar dua nama itu disebut, Arthur kembali membelalakan matanya. "Kau! Darimana mengenal nama kakek buyutku dan Ayahku?!"


Pria itu menatap Arthur setelah ucapannya disela oleh pertanyaan Arthur.


Arthur langsung mengkatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Apa orang tuamu tidak pernah menceritakan sesuatu tentang dirimu?"


Arthur mengeleng.


Pria itu membuang wajahnya dan bergumam, "Pantas saja". Ia kembali melihat ke arah Arthur. "Lalu, apa yang kau inginkan? Tidak mungkin kau masuk ke dalam alam bawah sadarku tanpa sengaja kan?" Pria itu mematikkan jarinya dan Arthur tiba-tiba "BRUK!" Ia terjatuh.


Pria itu berjongkok dan menarik rambut gelap Arthur. "Jadi, katakan apa keinginanmu?". Ia berdiri dan mulai menyeret Arthur.


Arthur mengkatupkan giginya dengan erat untuk menahan sakit atas jambrakan pria itu. "Aku tidak menginginkan apapun" Jawab Arthur sambil menahan tangan kanan pria itu yang menarik kasar rambutnya.


Pria itu benar-benar menyiksa Arthur.


Arthur melihat lantai yang berubah menjadi es. Ia merasakan kulitnya yang dingin saat terseret di atas es itu.


"Apa-apaan sebenarnya dengan iblis ini?!" Arthur berusaha mengkaitkan pergelangan kakinya dengan es yang mengunduk di sana.


Pria itu melihat tubuh Arthur dalam bentuk bayangan berupa asap hitam. Pria itu, melepaskan Arthur.


"Jadi, kenapa kau tidak mengatakan sesuatu?" Pria itu membalik tubuh Arthur. Arthur melihat ke langit di atas pria itu yang selalu mendung.


"Apa hubunganmu dengan kakek buyutku?"


Pria itu, meninggikan salah satu alisnya. "Aku pemilik Hinoken yang kini ada di tangan keluarga Aosora. Aku adalah orang yang menyuruh kakek buyutmu untuk membantu putra Arnold dalam peristiwa pembunuhan Arnold itu. Dengan janji, untuk membantu putra Arnold menuju kebebasan dan membantunya dalam proses penyegelan di dalam hinoken" Jawab pria itu.


Dia gila. Ini adalah batin Arthur.


Arthur melihat pria itu seksama. "Lalu kenapa kau meniru rupaku?"


Sosok itu kembali mengangkat alis kanannya. "Kau gila? Kenapa kau beranggapan begitu?" Iblis bertanduk satu itu menarik kebelakang rambutnya dan tanduknya kini menghilang. Pakaian pria itu langsung berganti dan ia meringis karena mendengar ucapan Arthur tersebut.


Pria itu berdiri dengan tegak dan menundukkan pandangannya.



"Lucu sekali" Ucap pria itu.


Mata Arthur terbelalak. Ia dengan jelas melihat telinga elf milik pria itu. Di tangan kanan pria itu, mengeluarkan hinoken.


"Kau, sebenarnya bangsa apa?" Kini kepala Arthur dipenuhi dengan banyak pertanyaan.


"HUAH!!!!" Arthur berteriak dan memegang lehernya yang masih utuh.


"Astaga! Kau kenapa Arthur?!"


"KHUK KHOK!" Tsuha tersedak air karena terkejut dengan teriakan Arthur.


Arthur tersadar dan melihat sekelilingnya. Angel sedang melihatnya dengan raut khawatir. Arthur meraba lehernya kembali untuk memastikannya.


"Kak Angel. Ini, apa benar dirimu kak?" Arthur memegang tangan Angel yang memeriksa kening Arthur.


"Tentu saja! Kau mimpi buruk apa lagi Arthur?!" Angel sangat khawatir dengan Arthur. Tsuha melihat tangan Arthur yang bergetar hebat saat memegang tangan Angel.


"Tsuha, ambilkan Arthur air"


"Jangan menyuruhku" Tsuha telah membawa air sebelum disuruh oleh Angel.


Arthur melepas tangan Angel dan melihat kedua tangannya yang gemetar. "Apa yang terjadi? Bukankah tadi kepalaku terpenggal?"


Angel menyuruh Arthur untuk menenangkan diri kemudian minum. Tsuha duduk disebelah Angel sementara membiarkan Arthur untuk menenangkan dirinya.


"Kapten-"


"Kak Angel" Sela Angel.


"Ya, Kak Angel, perlukah kita membawa Pangeran Aosora untuk kembali ke istana?"


"Tak perlu. Arthur biasa seperti itu saat berada di tempat baru. Kita biarkan Arthur untuk menangkan dirinya" Angel mengulurkan buah jeruk yang ia kupas kepada Tsuha.


Tsuha menerima buah itu. "Apabila seperti ini terus, bukankah kondisi mental Pangeran Aosora akan semakin memburuk?"


"Arthur itu, lebih kuat dari yang kau kira loh. Oleh karena itu, beri dukungan saja untuk Arthur dan dengarkan saat dia bercerita. Walaupun Arthur itu orang yang berisik, dia itu bukan tipe orang yang mudah menceritakan perasaannya kepada orang lain kalau tidak ditanya terlebih dahulu" Ucap Angel sambil tersenyum pada Tsuha.


Tsuha membuang wajahnya dan melihat kepiting pasir yang masuk ke dalam lubang pasir didekat kaki Tsuha.


"Aku tau itu. Dia selalu kikuk untuk menceritakan dirinya sendiri" Jawab Tsuha sambil memeluk lututnya.


Angel memegang kepala Tsuha. Ia mengosok kepala Tsuha perlahan. "Mau pacaran denganku? Kau mengemaskan sekali"


Mendengar hal tersebut, Tsuha langsung melihat ke arah Angel. "Anda, suka sekali mempermainkan perasaan saya" Balas Tsuha.


"Apa tidak terbalik? Ini sungguhan"


"Anda dua tahun lebih tua dari saya. Anda suka dengan laki-laki yang lebih muda dari Anda?"


"Kebetulan karena kau adalah tipeku" Jawab Angel.


Tsuha menghela napas dan melihat ke lubang pasir tempat kepiting itu sembunyi. "Terserah" Jawabnya sambil menutup mata.


Angel tersenyum tipis melihat telinga Tsuha yang memerah. "Pikirkan dulu. Ini bukan pernyataan dariku untuk pertama kalinya kan?" Angel berdiri dan kembali mendatangi Arthur yang sedang berbicara dengan Archie.


Tsuha menutup telinganya yang panas. "Sialan" Makinya dengan nada lirih sambil melirik Angel yang mengulurkan tangan pada Angel.


["Arthur, apa kau bisa masuk juga ke dalam alam bawah sadar Alex?"]


Ini benar-benar pertanyaan Archie yang bodoh.


"Jangan aneh. Itu hanya perkiraan saja. Lagi pula, kakek buyutku itu sudah mati. Bila aku bisa melakukannya, aku pasti akan menemui ayah dan mencari kakakku" Gumam Arthur yang membuat Angel bingung.


"Arthur, bagaimana dengan perjalanannya?"


"Kita lanjut kak. Pengangkatanku akan dilaksanakan lusa. Di jadwal yang sudah dicatat, pukul empat sore nanti, akan ada penjahit yang akan mengukur tubuhku di penginapan kak Angel. Untuk sekarang, bolehkah aku meminta bantuan kak Angel menyelidiki sesuatu? Aku akan menunggu hasilnya hingga besok"


"Apa yang kau butuhkan Arthur?" Nada bicara Angel langsung berubah.


"Bisakah kakak menyelidiki hubungan Hinoken dengan Aosora Alex dan ayahku, Aosora Naver. Kemudian, tentang penyakit yang menjangkit diriku saat aku terlahir? Bisakah semuanya hasil penyelidikan kakak diserahkan padaku sebelum pengangkatanku? Kalau bisa, enam jam sebelum pengangkatanku" Pinta Arthur.


"Dua hari? Itu mungkin terlalu cepat Arthur. Tapi, aku akan berusaha semaksimal mungkin dan aku akan meminta anak markas untuk membantuku menyilidiki tentang asal Hinoken dan pemilik aslinya" Angel langsung memahami ucapan Arthur yang berbelit.


"Terima kasih kak. Aku sangat membutuhkan bantuan kakak" Arthur membungkukkan tubuhnya di depan Angel.