
Aosora Arthur adalah seorang Putra kedua dari Raja ke III Aosora Naver dengan Aosora Emilly yang merupakan adik dari Agleer Linus selaku Raja Shinrin.
Aosora Arthur memiliki seorang Kakak laki laki yang menjadi Putra Mahkota Aosora dan Ia bernama Aosora Bram.
Aosora Bram dan Arthur hanya selisih empat tahun dan kini usia Arthur 16 tahun, kurang sebulan akan berusia tepat 17 tahun.
Arthur sendiri terkenal sebagai, "Pangeran Terkurung" Arthur jauh dari kata terpenuhi.
Itu karena Arthur sendiri yang selalu berfikir dua kali saat akan meminta sesuatu pada kedua orang tuanya yang selalu sibuk.
Dia tidak memiliki teman dua tahun terakhir ini,kecuali teman-teman Bram yang berkunjung dan Mereka terkadang bersikap usil pada Arthur.
Namun, Arthur sendiri berfikir kalau Dia memiliki banyak teman, termasuk menganggap Prajurit dan Pelayan Istana sebagai temannya.
Oleh karena itu, Arthur sering menganggu para Prajurit dan Pelayan hingga Arthur dikira penyusup dan dikejar oleh semua Prajurit Aosora yang berjaga. Namun, Ia beruntung karena menabrak Kakaknya sendiri, Aosora Bram.
Arthur sangat menyukai kehidupannya yang seperti itu.
Walau, terkadang Mereka menjelekkan Arthur yang beasumsi kalau Arthur itu, memiliki kutukan yang menular,bukan anak Raja Aosora, kalau Arthur sebenarnya adalah anak berkebutuhan Khusus dan banyak lainnya.
Ia tak pernah mendengarkan ucapan para Prajurit dan Pelayan itu.
Sebab, Itu tidak benar.
Arthur tau dan Ia pura-pura tak dengar. Ia hanya melewati mereka yang menjelekkan dirinya itu.
Arthur tidak mengeluh pada siapapun termasuk, pada Aosora Bram.
Aosora Bram mengetahui semua itu dan ia langsung memecat pelayan dan prajurit itu yang hampir berjumlah 20 orang.
Bram tidak mengatakannya dengan pasti saat Naver dan Emilly bertanya kenapa memecat orang sebanyak itu.
Kemudian, Arthur menempuh pendidikan secara privat sejak usianya menginjak sebelas tahun dan dengan bantuan enam guru yang berbeda dan berasal dari Kerajaan Meganstria yang merupakan Kerajaan dengan tingkat pendidikan yang sangat tinggi dan maju.
Arthur diusia yang masih segitu, tentu saja penasaran dengan dunia luar itu seperti apa. Tapi, saat berada diluar Istana bersama dengan Naver, Ia merasa tak nyaman dan sesak saat melihat sekumpulan orang yang berkumpul.
Setelah hari itu, Arthur menyadari kalau Istananya adalah satu-satunya tempat ternyaman.
Tapi, Sampai kapan Istana itu akan menjadi tempat ternyaman untuk Arthur ?
Hari itu telah tiba, Hari dimana saat Keluarga Arthur kedatangan tamu yang tak diundang.
Arthur sangat tak menyangka hari itu akan tiba.
Malam itu, tangan kiri dan dada Arthur serasa sesak setelah menyelesaikan makan malam.
Arthur biasanya merasakan rasa sakit ditangan kirinya saat berada disekitar Linus tapi, kali ini Dia tam tahan dengan rasa sakitnya itu hingga ia mengalami demam.
Hari itu, Ia merasakan banyak aura yang berkumpul disekitarnya dan itu, membuat terlihat seperti bola gangsing yang berputar dilangit-langit kamarnya.
Kepalanya pusing dan ia mulai melihat kabut asap yang keluar dari sela-sela pintunya.
Pikir Arthur, itu hanya ilusinya termasuk teriakan Ibunya yang kencang dan suara kaca yang pecah.
Hingga Arthur tersadar kalau itu bukan ilusinya, saat Bram, Kakaknya mengedor pintu kamarnya dengan kecang.
Arthur langsung berdiri dengan tubuhnya yang gemetar.
Saat membuka pintu, Ia terkejut melihat Bram yang berkeringat dan ada seorang laki-laki dengan tatapan mata yang kosong dibelakang Bram serta, menyeringainya.
Arthur berteriak dan berusaha menarik Kakaknya itu saat sosok itu mengangkat pemukul dari kayu dibelakang Bram.
Sayangnya, itu terlambat.
Kepala Bram terpukul oleh pemukul kayu itu.
Waktu berjalan begitu cepat hingga Arthur tidak sadarkan diri dan digantikan oleh Archie.
Sebelumnya, Archie berada dialam bawah sadar yang hampa dan gelap.
Archie tak bisa merasakan dasar dari alam bawah sadarnya itu yang seolah tak memiliki dasar.
Archie merasa seperti melayang.
Hingga.....
Setitik cahaya biru yang sangat terang berada didepan Archie.
Archie pikir itu adalah kunang-kunang.
Saat ia sentuh cahaya biru itu, cahaya tersebut langsung bersinar dengan terang.
Archie menutup matanya karena cahaya itu menyilaukan.
Dari balik cahaya itu, muncullah sosok berambut biru lebih muda dari warna langit yang cerah.
Archie tak bisa melihat wajah orang itu yang buram dan terhalang cahaya yang menyolaukan itu.
"Putra Arnold....." Suara sosok itu adalah suara Pria yang halus dan seolah suaranya itu terdengar seperti hutan yang gelap dan nyilu ditelinga.
"Alex ? Apa itu Kau ?"
Archie tak bisa mengeluarkan suaranya.
"Waktumu sudah tiba. Jagalah tubuh ini dengan baik. Aku mempercayakan ini padamu"
Cahaya biru terang itu, seolah menelan Archie.
Tiba-tiba, tubuh Archie terasa berat dan Ia merasakan Rasa yang lama sekali tak ia rasakan.
Rasa dingin, rasa sakit, pusing, dan tubuh yang remuk menjadi satu.
Archie membuka matanya yang merah.
Ia melihat sepasang kaki yang berdiri didepannya itu dan banyak bekas darah disepatunya itu.
Archie langsung melihat keatas dan itu adalah sosok laki-laki dengan tatapan mata yang kosong.
"TRASSSH!!!!!"
Pria dihadapannya itu langsung menebaskan pedang besinya kearah Archie yang baru menempati tubuh Arthur.
Archie sangat terkejut.
Ia kesulitan menggerakkan tubuhnya dan Ia langsung berguling kesamping sambil melesatkan sihir api kearah sosok itu namun sihir itu dinetralkan olehnya.
Archie membelalakan matanya yang masih setengah buram.
Ia berusaha bangkit dan itu cukup sulit.
"BRUUUAAAKKKKKKK!!!!!" Archie dibating oleh sosok itu hingga menghantam lemari kaca didekatnya.
Lengan dan pungung tubuh yang digunakan oleh Archie langsung terluka karena terkena pecahan kaca lemari itu.
Bayangan tubuh itu, terlihat dimata merah Archie.
Rambut biru yang lebih muda dari warna langit siang berbeda sekali dengan wajah Alex.
Archie tau kalau tubuh yang ia gunakan ini masih keturunan Alex.
"Syuuuut! Wosh!!!"
Archie berteleport saat ia melihat pedang besi yang hampir menebas kepalanya itu.
"BRUUUKKK!!! DAGGGHHH!!!"
Archie tersandung sesuatu hingga keningnya terhantuk lantai dengan keras.
Saat Archie mengangkat kepala, betapa terkejutnya dia melihat sosok berwajah seperti Alex dan dadanya tertusuk oleh pedang besi.
Archie membelalakan matanya.
"SIALANNNNN APA YANG KAU LAKUKAN ??!!!!"
Archie bisa berteriak dan mengeluarkan suaranya.
Sosok itu menodongkan pedang besinya tepat dimata kanan Archie.
"Kau adalah De luce Archie. Menyusahkan sekali"
Itu adalah kata-kata yang pertama kali ia dengar dari tubuh tersebut.
"Apa Kau ingin Aosora Arthur mati seperti keluarganya ini ? Aku tidak tertarik pada Hinoken" Ucap pria itu.
DEGH!!!
Archie untuk pertama kalinya ia merasakan suara jantungnya.
"Dengan membunuh Aosora Arthur, itu akan mempermudahkan Tujuanku dan Demi kedamaian Negri ini"
Archie tidak mendengarkan ucapan pria itu dan ia langsung.
"Wussh... WOSH !!!!"
Archie melesatkan pedang mananya dengan diam-diam dan langsung melesatkannya.
"JLEEEB !"
Pedang mana milik Archie itu, menusuk tenggorokan pria itu.
"Krkkkkkhhhhh!!!!" Leher pria itu tidak mengeluarkan darah.
Archie tau kalau sosok didepannya itu adalah mayat yang dirasuki.
Dan sontak,
"Wosh!!!! Trashhhhh!!!!!"
Archie berteleport dibelakang Pria itu dan langsung menebasnya dengan cepat.
"Gbruk !!!! glundung......."
Kepala Pria itu terjatuh dan langsung mengelinding.
Tubuh Pria itu seketika mengeluarkan aroma busuk yang sangat menyengat.
Dari balik pintu, Archie mendengar suara dan bayangan seseorang.
Saat pintu itu terbuka, ternyata itu adalah Barron. Paman Arthur.
...****************...
Disisi lain......
"HUAH!!!!! HOSH! HOSH !!!" Sosok iblis tanpa tanduk berteriak dan memegang lehernya sambil duduk.
Ia berkeringat dingin.
"Mengejutkan sekali. Sialan! untung saja Aku bisa kembali ke tubuhku dengan cepat"
Dia adalah Daeva Nerezza sosok titisan dari bangsa Iblis yang memiliki tugas untuk membunuh Aosora Arthur.
"Ah! Apa Aku menyerah saja ? Bruk!!"
Daeva menjatuhkan tubuhnya yang telanjang dada itu diatas kasur yang berselimut dan disampingnya ada sosok wanita yang duduk langsung membelalakan matanya karena terkejut dengan Daeva.
"Mimpi buruk?" Tanya Wanita itu sambil menyentuh pungung Daeva yang lebar.
Daeva melihat perempuan disebelahnya itu dan langsung merapikan rambut putihnya yang sedikit berantakan dengan tangannya yang selalu bersarung tangan.
"Aku harus pergi"
Daeva kembali duduk dan beracang berdiri dari kasurnya itu.
"Kalau butuh apa-apa jangan malu untuk menghubungiku, Liam"
Wanita itu, tidak tau kalau Daeva adalah seorang titisan.
"Aku tak akan pernah kembali kemari. Ini hari terakhirku di Akaiakuma"
Daeva mengenakan kembali kemeja abu-abunya.
"Kenapa ? Dan akan kemana Kau akan pergi ? Aku akan mengunjungimu saat Aku tak memiliki Klien" Ucap wanita itu sambil duduk dan melipat selimut itu.
"Itu bukan urusanmu. Bersikaplah profesional. Selamat tinggal. Wosh!"
Daeva mengambil jubah maronnya diatas ranjang dan langsung berteleport.
Wanita itu memanyunkan mulutnya.
"Ah..., padahal Aku senang sekali memiliki Klien seperti Dia"
...****************...
Daeva kini berpindah tempat diperbatasan hutan sihir.
Ia meneleng-nelengkan lehernya yang sedikit lega.
"Kreeetekkkk" Pungungnya berbunyi saat ia meregangkan kedua tangannya.
"Ah, padahal.... Aku baru saja dipijatnya. Jadi, menyesal mengucapkan selamat tinggal padanya" Batin Daeva sambil memutar-mutar lengannya setelah diurut oleh wanita tadi.
...****************...
Hayo.... mikirin apa ? @^@