The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
PERSIDANGAN 1



Enam prajurit mulai membawa Arthur diruang pengadilan.


Arthur memasuki ruangan yang bertembok putih dan tempat itu sangat sunyi walau ada banyak orang didalamnya.


Mereka yang hadir adalah petinggi Aosora, Meganstria, dan Narai, Seluruh Kapten dari


Dua puluh Guild yang ada di Narai, Shinrin, Aosora dan, Meganstria.


Arthur duduk dikursi kayu didalam sihir pelindungan yang berbentuk persegi dan terdapat buah seperti apel berwarna hitam diatas mejanya.


"Buah itu...."


Archie sangat tak asing dengan buah itu.


Itu adalah buah sihir yang pernah diceritakan Archie pada Arthur.


"Archie, buah apa ini ?"


Arthur melihat buah itu dan kedua tangannya dilepas dari borgolan tapi, tidak dengan rantai dilehernya.


"Apapun yang terjadi, jangan makan itu. Aku khawatir manaku akan meluap dan akan membuatmu kesusahan. Bila Kau memakannya ada kemungkinan kecil tandukku akan keluar dari tubuhmu. Tapi, itu juga tidak mungkin karena Kau bukan keturunan Iblis. Intinya, matamu pasti akan merah karena manaku" Archie menjelaskannya dengan singkat.


Arthur menelan ludahnya.


Ia melihat kesegala arah. Hampir semuanya menatap Arthur dengan ekspresi kebencian.


"Archie, menurutmu apa Aku bisa selamat ?"


"Berdoalah. Aku akan mengikuti seluruh ucapan dua kapten Guild yang bersedia menolongmu"


"Semoga, mereka tidak memanfaatkan Kita saat Kita terbebas"


Linus dan Barron (adik angkat Naver) mulai memasuki ruangan tersebut.


Pengadilan dimulai.


Palu pengadilan mulai dibunyikan tiga kali untuk memulainya.


Hakim pengadilan ini berasal dari Shinrin karena Dia adalah hakim terbaik dinegri ini yang tidak memihak siapapun termasuk rajanya sendiri.


"Pengadilan telah dimulai. Dihadapan Kita semua ada Pangeran Aosora Arthur. Seperti yang Kits dengar, dua minggu yang lalu, Beliau dikatakan telah membunuh Keluarganya dengan sadis dan dikatakan didalam tubuhnya ada jiwa Iblis. Diantara Kita semua, tidak ada yang tau apakah dua pernyataan itu betul semua"


"Hakim! " Barron berdiri dari duduknya.


"Saya belum selesai berbicara. Pernyataan Anda akan Saya dengar setelah semua ucapan Saya usai"


Arthur meringis sambil melihat paman tirinya itu.


"Kemudian, didepan meja itu ada buah sihir yang bisa membuat bangsa Iblis menunjukkan keberadaannya ditubuh orang yang mereka rasuki. Bisakah Anda, Pangeran Aosora memakannya untuk membuktikan pernyataan kedua apakah itu benar atau tidak"


Hakim itu menyuruh Arthur untuk memakan buah sihir itu.


"Anda tidak keberatankan ?" Hakim itu mengetuk lebaran kertas bermap cokelat diatas meja.


"Semua belum tentu benar walau ada bukti ditangan Saya" Lanjutnya.


Arthur membelalakan matanya saat mendengar ucapan Hakim itu.


"Saya mohon Izin untuk berbicara, " Arthur melihat wajah Hakim itu.


rambut putih hakim itu yang panjang menunjukkan seolah menunjukkan kalau usianya sudah diatas 50 tahun.


"Diizinkan. TOK!" Hakim itu mengetukkan palunya.


"Apa ?! Tadi Aku tak diberi izin untuk bicara ! Hakim apa itu ?! Kenaoa Dia tidak adil ?!" Barron tidak terima.


"Didalam tubuh Saya memang ada Iblis Archie. Bolehkah Saya menolak untuk memakan buah sihir itu ? Bagaimana bila kepala Saya mengeluarkan tanduk dan tidak bisa kembali normal ?" Jujur Arthur.


"Itu adalah konsekuensinya. Kami menginginkan bukti yang sesuai dengan faktanya. Saya akui kejujuran Anda saat ini. Itu adalah hal yang hebat. Anda paham maksud Saya bukan ?"


Hakim itu bertanya dengan nada yang lembut dan menggerakkan tangan kanannya agar Arthur memakan buah itu.


"Archie, Kau yakin Aku tidak akan mati karena memakannya kan ?" Arthur hanya ingin memastikannya.


"Kau akan tetap hidup. Kalau Kau mati sekarang, Aku juga pasti akan mati"


Arthur sangat mempercayai ucapan Archie dan Ia mengambil buah itu.


"Bentuknya seperti apel tapi, ini sangat hitam dan tidak ada bau apelnya" Arthur mengendusnya.


"Cih ! Kenapa Kau malah memberi penilaian bodoh !?"


Arthur menghela napas karena mendengar ucapan Archie.


Ia menutup matanya dan mulai memakan buah itu.


"KLAK!!" Rasanya hambar dan seperti ada yang tertinggal.


Itu beda sekali dengan rasa yang dikatakan oleh Archie.


Arthur menilainya dari raut wajahnya dan raut itu mengatakan kalau rasanya aneh.


"Rasanya gimana Arthur ?! Apa Kau baik-baik saja ?!"


"Rasanya hambar..." Lirih Arthur sambil melihat ketanah dan memakannya sampai habis.


Semua orang menunggu.


Marsyal menghitungnya dalam hitungan mundur.


"Empat....."


"Arthur, Kau baik- baik saja ?" Archie sangat khawatir sebab, Ia tidak merasakan apa-apa.


"Dua...."


"DEGH!!" Sekejap dada Arthur terasa sakit.


Arthur sedikit membelalakan matanya tapi, rasa sakit itu menghilang seketika.


Marsyal mulai mencatat.


Arthur memegang dada kirinya.


"NYYUUUUUUUT!!!!! DEGH! DEGH!"


Jantung Arthur berdetak dengan kencang itu membuat Arthur sangat kesakitan.


"Bruk!!!" Tubuh Arthur terjatuh.


Para hadirin hanya melihati mereka.


Ketua Guild Penyidik Aosora langsung berdiri.


"Akhh!!!" Jiwa Archie merasa sakit seperti akan meledak karena mananya meluap.


Arthur berusaha menahan rasa sakit yang dirasakan oleh Archie.


Panas dan sesak. Rasanya Arthur ingin mengelupas kulitnya itu.


"Akhh!!!" Kepala bagian kanan Arthur dibelakang atas telinga sangat kesakitan.


Rasanya seperti ditusuk oleh pedang.


Arthur meringkuk dilantai dan memegang kepalanya dan telinganya itu.


telinga Arthur mulai meruncing seperti elf.


Tangan Arthur berkeringat dingin, kemudian, sesuatu yang hangat mengalir dari kepalanya itu.


Arthur melihat tangannya yang gemetar.


"Darah" Pandangan Arthur sangat kabur dan Ia hanya bisa melihat warna merah ditanganya itu.


"Nyuuutttt" Kepala Arthur sangat nyeri.


Arthur kembali memegang kepalanya itu dan sesuatu yang lancip keluar perlahan.


"Apa ini ?......" Arthur tak bisa mengeluarkan suaranya.


"Arthur! ada apa ?!!!!" Archie berusaha mencari tau apa yang dirasakan oleh Arthur.


Arthur tidak meresponnya.


Kepala Arthur sangat pusing. Ia mendengar suar yang harusnya tidak ada.


"Ayah membuatkanmu Ikan. Apa Kau suka ? Maafkan Aku... Apa... Aku Ayah yang buruk ? Kau membunuh ayahmu! Aku membencimu ! Harusnya Kau tak terlahir didunia ini ! Dia bukan Kakakmu!"


"Hentikan...." Arthur tidak tau itu suara siapa. Suaranya begitu banyak.


Hidung Arthur mulai mimisan.


"207 Kau adalah produk gagal. Bawa Dia diruangan putih!"


Suara-suara itu memenuhi kepala Arthur.


"Larilah kebarat. Kau harus hidup. Kakak sangat keren ! Jadilah guruku ! Adikmu ? Dia sudah mati. Bukankah Kau yang membunuhnya ? Maafkan Aku, Aku adalah Kakak yang buruk. Ambareesh, Berjanjilah Kau akan kembali padaku"


"Arthur !!!!!"


"A.... ayah.... BRUKKKK!!!!!"


Arthur tak sadarkan diri dan Archie langsung berpindah tempat secara paksa akibat mana Arthur yang terkuras.


"BKHAKKKK!!!!" Archie memuntahkan darah Arthur.


Kemudian ia memegang kepalanya yang mengeluarkan tanduk.


Hanya satu tanduk yang melintang dari atas belakang telinga kanannya hingga atas belakang telinga kirinya.


"Tanduk....? Ini... bukan tandukku. Ini tanduk milik Arthur ?" Archie melihat bayangannya dari lantai keramik.


Darah dari kepalanya itu mengalir hingga dipungungnya dan merembes di seragam yang masih dikenakan oleh Arthur.


Nel membelalakan matanya melihat tanduk itu dan semua orang juga sama. Mereka sangat terkejut saat melihatnya.


Mata Archie yang merah melihat kearah Marsyal yang sedang menulis sesuatu dibuku catatannya.


"Sudah terbuktikan ! Didalam dirinya memang ada iblisnya !!! Aku ingin Dia dimusnahkan ! Dia bisa mengancam nyawa semua orang!!!" Barron berdiri dan mengatakan hal itu dengan lantang.


"Kami setuju!!!!" Sorak yang lain.


"B*njingan!!! Dia adalah satu-satunya pewaris Aosora yang selamat !!! Aku berani memengal lehermu bila Kau membunuhnya !" Nox berdiri dan membatahnya


"TAK! TAK! Mohon tenang !" Hakim mengetukkan palunya dengan keras.


Nox membetulkan dasinya dan duduk kembali dengan tenang.


Hakim itu membuka map cokelat ditangannya.


"Disini, Saya mendapatkan beberapa surat bukti yang berbeda. Disalah satu lembar ini, mengatakan kalau Pangeran Aosora tidak bersalah, ini adalah pembunuhan berencana dan ada seseorang yang sengaja memanipulasi kejadian ini"


"DEGH!" Suara jantung Barron.


Marsyal sangat terkejut mendengar itu, sebab, Ia belum memberikan lembar hasilnya introgasi kemarin.


Sedangkan para Kapten dari Empat Guild Shinrin melihat Marsyal dan mereka pikir itu adalah ulah Marsyal.


Archie berdiri sendiri dan kembali duduk dikursi itu dalam keadaan penuh darah.


Archie menahan rasa sakitnya.


Hakim itu mengambil lembar yang lain.


"Kemudian, dilembar yang lain mengatakan kalau ini memang pembunuhan yang terjadi dan dilakukan oleh Iblis Archie karena keinginan De luce Archie untuk membalas dendam pada Raja Aosora pertama" Lanjutnya.


"Cih ! Itu tidak benar !!" Lirih Archie.


Hakim itu melihat mata Archie dan mereka saling melihat.


Hakim itu terlihat tersenyum.


"Jadi, Apa kedua lembar ini sama salahnya ? Salah satu dari lembar ini tak ada nama pengirimnya. Dilembar pertama, Menjelaskan kronologi bagaimana kejadian tersebut dan disini tertulis kalau, De luce Archie bangkit setelah pembunuhan itu terjadi. Tapi, dikertas yang lain tertulis kalau, Penasehat Barron melihat Pangeran Aosora telah berdiri disana dan mengeluarkan lingkaran sihir yang cukup besar dengan tatapan mata yang dingin. Disini, juga tertulis kalau Pangeran Aosora menunjukkan mata merahnya setelah berada dipenjara Aosora"


Archie membelalakan matanya karena tidak tau dengan hal itu.


"Itu memang benar. Saya berani bersumpah atas nyawa Saya. Pangeran Arthur saat itu berniat membunuh Saya. Tapi, matanya tidak merah, melainkan biru" Pengakuan Barron.


Marsyal mengerutkan keningnya.


Nel menggerakkan lima jarinya di meja. Dia berfikir.


Marsyal mengangkat tangan kanannya.


"Kapten Penyidik. Silahkan berbicara" Hakim itu melihat Masyal dan langsung mengizinkannya.


Masyal berdiri.


"Bukankah dengan isi surat kedua tersebut secara tak langsung mengatakan kalau De luce Archie tidak bersalah dan Pangeran Aosoralah yang bersalah ?" Tanya Marsyal.


Itu adalah pernyataan yang benar.


"Pangeran Aosora bisakah Anda menjelaskannya ?" Hakim melempar pertanyaan tersebut pada Arthur.


Archie menarik napas panjang dan berdiri