
Arthur sudah pernah menjelaskannya sekali. Tapi, menurut Archie, alasan itu seperti dibuat-buat.
Kalau ini adalah sebuah kutukan, yang pasti Arthur akan merasakan kesakitan tiap harinya. Tapi, Arthur tak pernah merasa tersiksa karena tanda ini"
"Apa Kau yakin, orang itu bukan Titisan ? Tidur panjang selama 17 tahun, Apa Dia orang gila ?" Tanya Archie.
Arthur tidak menjawab ucapan Archie, sebab orang yang dikatakan gila oleh Archie adalah orang yang menolongnya saat Ia akan mati. Dan bila Arthur mati, Arthur pasti tak akan bisa merasakan rasa senang dan susah keluarganya.
...****************...
Disisi lain, ada satu iblis berambut putih dengan potongan rambut dibelah dan memiliki dua tanduk menghadap ke atas sedang menunggu Archie tak jauh ruangan penjara khusus itu berada.
"Tuan Ha Nashi, bagaimana dengan hasil sidangnya ? Apa berjalan dengan benar dan sesuai dengan rencana ?" Iblis itu bertanya pada hakim yang memimpin sidang hari ini.
Dia adalah Ha Nashi, sosok yang sangat bijaksana dari Kerajaan Akaiakuma dan sekaligus, Ia adalah penasehat Raja Akaiakuma sejak Raja ke XII menjabat atau bisa disebut Kakek Archie.
Dia berbangsa manusia asli non campuran dan Ha Nashi adalah sosok yang dikutuk oleh seseorang untuk selalu panjang umur hingga seseorang yang mengutuknya datang untuk mengambil pusaka yang Ha Nashi jaga.
Ha Nashi mengikat rambut putihnya yang panjang.
"Yang Mulia Mizel. Anda yakin Yang Mulia Archie tidak akan marah pada Anda ?"
Mizel adalah adik kembaran Archie (Mereka tak seiras) yang dikutuk oleh ayahnya sendiri karena membantu Archie dan Alex untuk membunuh De luce Arnold (Ayah Mizel dan Archie).
Mizel memegang dagunya.
"Buah itu memang rencanaku. Tapi, ini demi kebaikan Dia agar cepat mau pulang ke istana. Aku lelah jadi Raja. Mengurusi urusan kerajaan, menanda tangani dokumen kerajaan, mengatasi perang, ah itu benar-benar bukan seperti sosok yang ku inginkan. Intinya, cepat sadarkan Kakakku itu. Tapi, harusnya Aosora Arthur tidak mengeluarkan tanduk bukan ? Dia adalah keturunan asli dari Alex. Apa ibunya Dia masih memiliki darah Iblis ? Jadi keingetan sesuatu tentang Iblis abnormal tanduk satu itu yang jadi guru ayah. Siapa namanya ?"
"Ambareesh ?"
"Nah ! Bener ! Ayah selalu menceritakan tentang iblis itu dan Ia sangat mengaguminya" Mizel mengangguk angguk dan memutar kursi duduk Ha Nashi.
Ha Nashi mendengarkan ucapan Rajanya itu.
"Baginda, Anda pulanglah, Anda ini sedang sakit. Dan bagaimana bila Istana ada yang menyerang ?" Ha Nashi menghentika Rajanya yang bertindak kekanak-kanakan itu.
"Kan ada Tuan Ha Nashi. Kau sangat Kuandalkan untuk urusan istana. Kalau ada penyusup, Kau tinggal berteleport dan berubah menjadi gagak. Aku akan duduk manis dan menunggu Kakakku sampai Dia sadar akan keberadaanku" Mizel kembali memutar-mutar tempat duduknya.
"Hah....." Ha Nashi menghela napas pajang.
Mizel telah menganggap Ha Nashi sebagai keluarganya dan Ha Nashi lah yang merawat serta menjadi guru untuk Mizel sejak kecil.
Mizel tidak pernah merasakan rasa kasih sayang dari seorang Ibu.
Ha Nashi membuka lembar bukti yang merupakan miliknya sendiri.
Ha Nashi melakukannya dengan jujur dan tanpa menambahkan atau mengurangkan bukti yang ada. Sebab, Ia memiliki kelebihan untuk bisa melihat apa yang terjadi dari mata lawan bicaranya dan Ha Nashi juga bisa menunjukkan sesuatu yang telah Ia lihat.
Ha Nashi duduk dikursi depan meja kerjanya itu.
"Saya akan berhenti menjadi hakim Shinrin setelah Yang Mulia Archie kembali. Tapi, izinkan Saya tetap mengawasi Aosora Arthur" Ucap Ha Nashi sambil menyoret beberapa bukti yang tidak benar dilembar milik Aosora Barron.
"Ada apa dengan Aosora Arthur ? Dia hanyalah Seorang Aosora yang bernasip naas. Tapi, Dia sangat beruntung karena ada Kakakku disana"
Mizel sangat mengagumi Archie.
"Bukan karena itu. Aosora Arthur itu sedikit istimewa. Apa Anda tak bisa melihatnya bagaimana cara Dia hampir menemukan kita di Akademi sihir itu ? Andai saja Saya tidak berubah menjadi gagak dan membuatnya kehilangan fokusnya, Mungkin Anda akan langsung ditemukan olehnya. Dan jangan lupa dengan sosok Iblis rambut putih tak bertanduk dengan jubah maronnya yang selalu mengikutinya itu. Apa Anda tidak penasaran kenapa Iblis itu mengikutinya?" Tanya Ha Nashi.
Raut Mizel langsung serius dan Ia melihat kearah jendela yang gordennya tertutup.
"Iblis itu adalah sosok Titisan yang telah menghancurkan desanya sendirikan ? Dia masih memiliki hubungan darah dengan Raja-raja Akaiakuma terdahulu. Rambut putih dan tak memiliki tanduk walau telah memakan buah sihir itu. Dia adalah Titisan kehancuran bukan ? Titisan Iblis, bukanlah Dia. Titisan Iblis yang sebenarnya tidak bisa menggunakan sihir dengan baik dan tak bisa menggunakan pedang mana selayaknya orang-orang pada umumnya. Itu, sama seperti ayah tapi, Titisan Iblis itu berambut hitam dan ayahku berambut putih"
"Ah, Mereka sama karena masih ada hubungan darah. Leluhur keluarga De luce masih memiliki hubungan darah dengan Titisan malaikat karena Titisan malaikat itu adalah ayah dari Raja pertama yang menikah dengan putri kedua Titisan Iblis" Jelas Ha Nashi pada Mizel yang mencoret-coret kertas karena tidak ada kerjaan.
"Hebat sekali. Tapi, Titisan Malaikat itu pilih kasih pada anaknya dan lebih mengutamakan anaknya dari Istri keduanya itu yang berbangsa siluman rubah atau putrinya titisan siluman itu. Ck! benar-benar untung banyak sisialan itu!" Mizel kesal sendiri saat mengingat buku cerita yang pernah Ia baca itu.
"Di buku itu, Kenapa harus Iblis yang disalahkan ? Padahal menurutku, yang salah itu adalah titisan Malaikat itu yang hendak menjadikan anak keduanya menjadi Raja. Padahal anak pertamanya juga belajar dengan keras mengenai sihir. Anak pertamanya itu, benar-benar mirip dengan ayah. Sama-sama tak bisa mengontrol sihir yang dikeluarkan. Dan.... Kenapa Aku juga seperti itu. Ah.... Jadi iri dengan Si Archie sialan itu" Celoteh Mizel.
Ha Nashi menutup matanya dan membuang napas panjang.
"Ya Tuan Ha Nashi, menurutmu apa Bangsa Iblis memang pantas disalahkan ? Padahal Aku ingin jalan-jalan dinegri ini dengan bebas tanpa harus melihat bangsa mereka. Aku juga, penah menyukai Elf. Ah.... Ayah B*ngsat! Kenapa Kau membunuh pacarku!!! Tak!" Mizel menjatuhkan keningnya dimeja itu dan membuat Ha Nashi kecoret saat menulis.
"Baginda Arnold sangat menyayangi Anda melebihi siapapun itu. Anda adalah Putranya yang sangat dibanggakan. Dimanapun Ia berada, Ia selalu berkata 'Harusnya Aku mengajak Mizel kemari' Dia tidak seburuk dengan apa yang Anda pikirkan. Dia memiliki maksud untuk setiap hal yang Ia lakukan. Hanya saja, beberapa orang ada yang salah paham dengan tindakan Yang mulia Arnold" Jelas Ha Nashi.
Mizel melihat Ha Nashi yang masih menulis.
"Kalau Dia menyayangiku, Kenapa Dia mengutukku untuk hidup terus hingga Kakakku bersedia menjadi Raja dan Kenapa Dia mengutukku lebih berat dari Kakakku ? Setiap harinya, Aku harus merasakan rasa sakit didada dan dikepalaku. Untuk apa Dia menyayangiku ? Walaupun Dia terlah dibangkitkan oleh seseorang, Aku tak akan pernah memaafkannya sekalipun. Dia telah membuatku menderita selama ini" Jelas Mizel yang kembali menutup kepalanya dimeja.
Ha Nashi berhenti menulis dan Ia memegang kepala Baginda besarnya itu.
Ha Nashi mengelusnya.
"Baginda, Yang Mulia Arnold hanya menginginkan Anda untuk akrab dengan Yang mulia Archie. Itu adalah keinginan terbesarnya. Dia sangat senang saat Anda dekat. Dan Ia sangat sedih saat melihat kedekatan Anda berdua hanya untuk mengancurkannya saja. Ia tau kalau Ia akan dibunuh oleh putra-putranya. Tapi, apa yang Baginda Arnold lakukan ? Ia hanya berkata, 'Ya sudah. Mau gimana lagi ?' beliau memang santai saat mejawabnya. Terkadang Ia mengigau saat tertidur mengerjakan dokumen yang harus cepat Ia kirimkan. Anda Tau beliau mengigau apa ?" Tanya Ha Nashi yang masih mengelus kepala Rajanya itu.
"Katakan"
Sebenarnya, Mizel sangat malas untuk mengetahuinya. Tapi, Ha Nashi adalah sosok terpenting dihidupnya.
"Apakah Aku Ayah yang buruk ?"
DEGH!!!
Mizel membelalakan matanya.
"Beliau mengigau dan bertanya seperti itu pada Saya sebelum kematiannya. Apa menurut Anda Baginda Arnold ayah yang buruk?" Ha Nashi bertanya pada Mizel.
Mizel melepaskan tangan Ha Nashi dan mengangkat kepalanya untuk melihat Ha Nashi.
"Dia, bukanlah Ayah yang buruk" Jawab Mizel.