The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Gagak Pencuri



Tsuha dan Arthur mengobrol hingga tengah malam.


"Bagaimana dengan rusukmu? Apa itu sakit?"


Tulang rusuk bagian kiri Arthur patah setelah mendapatkan perlawan dari salah satu anggota guild saat ia kehilangan kendali atas sihirnya.


"Ini sudah membaik. Ngomong-ngomong, tentang hubungan saat masa kecil. Bagaimana pandanganmu terhadapku?" Arthur kembali berbincang santai dengan Tsuha sambil mengusap bulu halus anak kucing miliknya.


"Hah? Kau itu menyebalkan. Kau selalu menjahiliku di hari pertama bertemu dan di hari terakhir aku di Aosora. Tapi, kenapa kau mananyakannya?" Tsuha melirik Arthur yang tidur membelakanginya.


"Aku hanya penasaran dengan masa kecilku. Ku pikir, aku anak yang selalu manja kepada orang tuaku"


"Tidak. Kau jauh dari kata manja!" Tegas Tsuha dengan cepat.


"Ahahaha" Arthur tertawa ringan sambil melihat ke arah Tsuha. Kemudian, tawanya tiba-tiba berhenti.


"Ingatanku telah dihilangkan lebih dari 5 kali. Semua orang yang berhubungan denganku tak bisa ku ingat. Orang lain yang bisa ku ingat setelah ingatanku dihilangkan hanyalah Guru Ciel dan keluargaku. Terkadang, aku bertemu dengan orang menyeramkan dimimpiku. Apa aku boleh cerita Tsuha?" Arthur tiba-tiba berhenti bercerita dan mananyakannya terlebih dahulu pada Tsuha.


Tsuha menutup buku bacaannya.


"Ceritalah, aku akan mendengarkanmu" Ucap Tsuha sambil duduk.


Arthur duduk di atas ranjangnya sambil melipat kedua kakinya.


"Aku bermimpi aneh. Kurasa, mimpiku tadi ada hubungannya dengan kejadian sore tadi" Ucap Arthur.


"Aku bertemu dengan orang yang bisa meniru wujud orang yang sudah mati. Aku tidak ingat dengan namanya. Dia meletakkan teratai ungu diatas dadaku. Ah, kurasa ini hanya mimpi biasa. Tapi, mengenai tadi terima kasih karena membantuku menenangkan diriku" Ucap Arthur sambil meringis menunjukkan giginya pada Tsuha.


Tsuha membuang mukanya. "Lama-lama, kau bisa jadi duta pasta gigi Pangeran. Berhentilah meringis seperti itu. Itu membuatku merinding" Ucap Tsuha sambil kembali membaca bukunya.


...****************...


Keesokan harinya....


Arthur kembali demam. Arthur dirawat oleh Issac dan Lina. Mereka berdua, bergantian memeriksa kondisi Arthur per 15 menit.


Anggota Guild yang lain, mulai mewaspadai Arthur. Tsuha dipanggil oleh Razel di lapangan belakang Guild mereka.


Razel membicarakan kondisi Arthur dan Razel menyarankan pada Tsuha untuk jangan sampai kehilangan Arthur.


Maksud dari ucapan Razel adalah jangan sampai misi yang akan datang menjadi misi terakhir Arthur. Bagaimanapun caranya. Arthur harus tetap menjadi anggota markas pemberantas iblis.


Tsuha melihat Razel yang sedang duduk di batang kayu panjang.


"Wakil, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu" Ucap Tsuha.


Mendengar penolakan Tsuha, Razel langsung mengangkat wajahnya dan menatap mata Tsuha.


"Kenapa? Bukankah, ini juga adalah keinginan Guru Nox?"


Tsuha membuang pandangannya.


"Kalau itu memang keinginan Guru Nox, apa peduliku. Ini adalah kehidupan Pangeran bodoh itu. Kenapa aku harus ikut campur kedalam kehidupannya? Aku sendiri, sudah merasa cukup senang menjadi partner di guild ini" Cetus Tsuha.


Razel langsung berdiri dan memegang kepala Tsuha.


"Bocah ini, kenapa bebal sekali? Ini juga untuk melindungi Aosora dari campur tangan petinggi lain" Razel mengosok kasar rambut hitam Tsuha hingga berantakan.


"Apa maksud wakil?"


"Empat hari lagi, kau akan ikut dalam persiapan Pangeran Arthur menuju Aosora. Kapten Nel, menjadikanmu sebagai perwakilan guild ini untuk menjaga Pangeran Aosora Arthur selama tiga hari disana dan kembali ke Shinrin sebelum misimu di perbatasan bagian Barat Shinrin. Misi itu, kurang 10 hari lagi. Jadi, kau kembali sehari setelah acara penobatan Putra Mahkota Aosora usai" Jelas Razel sambil menepuk bahu Tsuha.


Tsuha membelalakan matanya.


"Mengapa Kapten Nel mempercayaiku untuk menjadi perwakilan Guild dalam penjagaan Pangeran Aosora?"


"Aku dengar juga, Markas penyidik mengutus Nao untuk membantumu" Lanjut Razel.


Tsuha langsung tersadar. "Nao?"


"Iya, dia memiliki kelas rank tertinggi diantara anggota yang baru masuk ke guild. Dia memiliki kesempatan besar untuk mengantikan Pashe (Wakil Markas Penyidik)" Jawab Razel sambil menunjukkan nama Nao di lembar kertas yang ia bawa.


Tsuha melihat Nama Nao yang berurutan ke 13 diantara semua pasukan Shinrin. Ia melihat Kelas Rank Nao yang kini menjadi B+.


"Ini gila" Ucap Tsuha.


"Ya begitulah, aku sedikit merasa kecewa karena dia menolak permintaan Kapten untuk menjadi anggota baru bersama mu dan Pangeran Arthur" Lirih Razel pada Tsuha yang fokus dengan kertas yang ia pegang.


"Tapi wakil, kenapa kelas rank Nao bisa naik setinggi ini? Padahal, untuk mendapatkan kelas B dari kelas D, butuh waktu paling cepat 3-2 setengah tahun" Tsuha sendiri tercengang melihatnya.


"Ya, itu karena ada pengajuan dari Kapten atau Wakil Kapten Guild untuk mendapatkan kelas rank yang layak bagi anggotanya. Untuk mendapatkan persetujuan dari para petinggi Shinrin, Nao pasti sudah memenuhi tahapan yang telah diberikan. Tapi, jarang-jarang ada pengajuan kelas rank dengan imbuhan +. Temanmu itu, berambisi sekali" Puji Razel.


Gagak berwarna hitam terbang menuju Tsuha dan mengambil kertas yang dipegang oleh Tsuha dengan cepat.


Razel dan Tsuha melihat gagak yang terbang ke arah hutan.


"Ah, maaf. Wakil, perlukah saya kejar?"


"Tidak perlu, aku sudah membuat salinannya" Jawab Razel sambil menunjukkan buku kecil di sakunya.


"Gagak itu, kenapa mengambil kertas? Bukankah gagak itu, lebih tertarik dengan benda yang berkilau?" Tsuha melihat tangan kanannya yang terdapat salah satu bulu gagak yang lepas.


"Gagak itu salah satu spesies burung yang pintar. Aku tidak akan terkejut dengan gagak satu itu. Dia sering sekali masuk ke markas dan mengambil surat penting markas serta surat pribadi Kapten Nel. Tapi, kata Kapten Nel, gagak itu tidak berniat buruk. Dia akan mengembalikan kertas itu tengah malam nanti. Coba tunggulah, gagak itu pasti akan kertas itu diatas kayu ini. Dia akan meletakkan bulunya dan batu mana ukuran kecil" Razel menunjuk tempat duduk dari batang kayu yang hanya dipotong menjadi dua bagian.


"Iya kah?" Tsuha penasaran.


Dan ia membuktikan kebenaran atas ucapan Razel. Ia menunggu gagak itu dari jendela dapur hingga pukul hampir setengah satu malam.


Gagak itu, tidak kunjung kembali.


"Ini sia-sia saja. Lagipula, gagak itu tetaplah burung yang suka mencuri barang" Tsuha berancang berdiri dan ia berniat untuk tidur di kamarnya.


Namun, sesuatu yang telah ditunggu-tunggu oleh Tsuha muncul.


Gagak itu, sengaja menunggu Tsuha pergi dari jendela dapur. Ia langsung meletakkan surat itu sesuai dengan ucapan Razel dan pergi dari sana menuju kamar Arthur.


"TOCK! Tock! Tock!" Gagak itu, mengetuk kaca jendela dengan paruhnya dan membukanya perlahan.


Gagak itu, berhasil masuk ke jendela yang tidak tertutup rapat.


Tsuha baru masuk ke dalam kamar dan melihat gagak itu di depan jendela tempat Arthur tidur.


"Heh! Kau!" Tsuha langsung menunjuk gagak itu dan langsung menutup jendela dan pintu dengan sihir tali mana miliknya.


Gagak itu, tidak tau bila Arthur sekamar dengan Tsuha. Ia langsung terbang ke segala arah untuk keluar dari kamar itu dan berhenti untuk bertenger di atas lemari pakaian Arthur.


"HAH! Kau benar-benar cerdik sialan!" Tegas Tsuha sambil melihat gagak itu yang sedang melihat ke arahnya.


Paruh gagak itu, terlihat bergerak seperti tengah mengucapkan sesuatu.


Anak kucing sihir milik Arthur yang tidur diatas lemari terbangun dan "GRAP!" Ia langsung menerkam gagak itu hingga jatuh.


Tsuha gercep.


Ia langsung menangkap keduanya hingga "DAGHH! GDBRUKK!" kepala Tsuha terhantuk lemari kayu dengan keras.


"Ah, sialan sakit" Tsuha langsung duduk dan memisahkan kedua hewan itu. Kemudian, Tsuha melihat anak kucing itu yang menjilat ibu jarinya. "Dih? SYUUUUNG!" Ia melempar anak kucing itu ke kasurnya dan memegang gagak itu dengan kedua tangannya.


KWAKKK! KWAKKKK! KWAAKKKKKK!!!!!


Gagak itu berteriak dengan kencang hingga membuat Arthur terbangun setelah demamnya baru turun.


Tsuha menutup paru gagak itu yang berteriak.


"Gagak sialan! Diamlah! Atau kau lempar pada serigala sihir dibawah!" Mendengar ancaman Tsuha, gagak itu langsung diam.


Arthur mengosok matanya dan berfikir sejenak. Ia melihat Tsuha yang sedang membentangkan salah satu sayap gagak itu untuk melihat apakah terluka atau tidak setelah diterkam oleh kucing Arthur.


"Mau di masak?" Arthur tiba-tiba bertanya demikian pada Tsuha. Tsuha dan gagak itu langsung melihat Arthur.


"GAK!/KWAK!" Keduanya, berteriak bersamaan. Tsuha dan gagak itu saling melihat.


Tsuha membelalakan matanya. "Hei! Kau! Gagak jadi-jadian kan?!" Tsuha memegang erat gagak itu dengan kedua tangannya.


Gagal itu membuang wajahnya.


"Sial! Kau gagak jadi-jadian! Apa kau mata-mata dari Akaiakuma!?" Tsuha langsung menebak.


"Daripada mata-mata, aku ini hanya penjaga" Gagak itu berbicara.


Tsuha dan Arthur langsung membelalakan mata mereka.


"SIAL!!! SYUUUNG! BWOSH!"


Tsuha langsung melempar gagak itu dengan kencang. Cahaya putih menyelimuti gagak itu dengan diikuti oleh angin yang memporak-porandakam seisi kamar Tsuha dan Arthur.


Rambut putih dengan gaya mulet terlihat dimata Tsuha dan Arthur.


"Eh! Hakim Shinrin!?" Tsuha dan Arthur mengeluarkan suara mereka bersamaan.


"Yo" Ha Nashi menyapa keduanya dengan mengangkat telapak tangan kanannya.