
Pertempuran yang di mulai oleh Arnold berakhir dengan pertumpahan darah yang memiliki korban hampir 1500 orang dengan menewaskan kurang dari 80% dari jumlahnya.
Pertempuran itu, adalah kekalahan mutlak Arnold.
Nel dalam kondisi kritis dan langsung dilarikan menuju pusat penyembuhan Kerajaan Shinrin bersama Anggota pasukan lainnya dan rakyat yang dalam kondisi sekarat.
Zack telah ditemukan dipinggiran hutan dalam kondisi kehabisan darah jauh di batas lokasi penyerangan Arnold.
Marsyal masih tidak sadarkan diri. Ia dibawa bersama Tsuha dan Arthur oleh Nox menuju tempat pengungsian warga.
Naver mendatangi Arthur setelah melihat Nox kembali.
Isak tangis terdengar dimana-mana. Terutama tangisan paling kencang dikeluarkan oleh Tsuki yang melihat kondisi jasad ibunya yang sudah tidak dalam keadaan yang normal.
Tulang-tulang Glashya remuk dengan dada yang berlubang.
"IBUUUUU!!!!" Tsuki histeris melihat kondisi ibunya. Tsuki memeluk jasad ibunya yang penuh darah. Tsuha termenung ditempat.
"Orang tuaku, mati semua. Aku dan Tsuki bagaimana? Rumah kami juga hancur"
BRUK!
Tsuki memukul perut Tsuha dengan keras. Ia menangis dan menatap Tsuha dengan raut penuh kebencian. "TSUHA!!! APA YANG KAU LAKUKAN SIALAN!!!! KENAPA IBU SEPERTI INI!?"
Tsuki memukul tubuh Tsuha dengan brutal. Air mata menetes dari mata Tsuha. "DAGHHHH!" Tsuha menendang perut Tsuki hingga terhempas ke belakang.
"AKU SENDIRI TIDAK TAU SIALAN! JANGAN MENYALAHKAN AKU TERUS!!! GREEP!!!" Tsuha memberontak pada Tsuki dan ia langsung menarik kera kaos Tsuki.
"Aku sendiri! Tidak ingin ini terjadi! Aku! Masih ingin merasakan kasih sayang ibu dan ayah!" Tegas Tsuha pada Tsuki.
Pertengkaran dua anak itu, membuat semua pandangan orang-orang tertuju pada mereka.
Arthur selesai berbincang dengan Naver langsung berjalan kearah Tsuha dan Tsuki.
Naver datang ke arah Nox yang sibuk membantu tenaga medis mengangkut orang yang terluka.
"Nox, apa kau masih membenci anak-anak?" Naver melemparkan pertanyaan kepada Nox.
Nox melihat ke arah Naver dengan raut datarnya.
"Katakan saja intinya Baginda" Ucap Nox.
"Rawatlah Tsuha dan adiknya"
Nox sudah menduganya. Ia menghela napas panjang dan membuang pandangannya.
"Naver, kau taukan perbedaan merawat dengan menjaga seorang anak? Anak angkatku, sekarang dalam keadaan sekarat. Kenapa aku harus memikirkan dua bocah itu?" Ucap Nox.
Naver memegang bahu Nox.
"Nox, mereka berdua itu...." Naver membisikkan sesuatu pada telinga kiri Nox. Mata Nox, terbelalak saat mendengar bisikan itu.
"Jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda. Ini memang kenyataannya. Aku harap, kau bisa menjaga dua anak itu. Tak perlu bingung pasal biaya hidup mereka. Aku akan menyiapkan biaya hidup mereka hingga mereka menyelesaikan masa pendidikannya. Setidaknya, hingga mereka berusia 19 tahun. Ini adalah permintaan Arthur" Ucap Naver sambil tersenyum tipis pada Nox.
Nox menepis tangan Naver.
"Naver. Kau adalah satu-satunya Aosora yang tidak bisa ku benci"
Naver terkekeh ringan.
"Lagi pula, tolong jangan seperti itu. Biarkan Tsuha dan adiknya tinggal saja di asrama ASJ. Permasalah biayanya, biar aku yang mengurusinya sendiri. Tsuha itu, murid terbaikku. Dia memiliki kemampuan untuk menyempurnakan sihir yang belum sempurna" Jawab Nox.
...****************...
"SSSSTTHHHHH"
Arthur menempelkan jari telunjukknya pada bibirnya sendiri di hadapan Tsuki yang akan menyerang Tsuha.
"Orang sepertimu, hanya akan menjadi beban orang lain didalam pertarungannya. Sekarang, ingat ucapanku. Ibu dan ayahmu mati karena Iblis. Tep!" Arthur langsung menempelkan ujung jari telunjuknya pada kening Tsuki.
"Ha? BRUK!"
Tubuh Tsuki langsung terjatuh setelah Arthur menempelkan ibu jarinya pada kening Tsuki. Arthur menahan tubuh Tsuki yang lebih besar darinya.
"Ugh, Tsuha. Apa Kau tak bisa membantuku?" Arthur mengeluarkan suara seperti orang menahan berat.
"Hanya membuatnya tidur. Mulai hari ini, bersikaplah seolah kau dan aku tidak pernah bertemu. Bersikaplah seperti orang asing bila kau tak ingin diganggu oleh Bangsa Iblis. Ku harap, kau mengerti ucapan ku ini, Estelle Tsuha"
Sejak Arthur mengatakan hal itu pada Tsuha. Tsuha tidak pernah melihat Arthur dan selalu pergi menjauh disaat Arthur dan keluarga Aosora lainnya bertamu ke Shinrin.
Tsuha, menjaga ucapan Arthur saat itu demi dirinya dan Tsuki agar tidak diganggu oleh bangsa Iblis.
...****************...
Kembali pada zaman sekarang di Markas Pemberantas Iblis.
"Namun, tiba-tiba kau muncul bersama Tsuki. Aku mendengar kau telah menyelamatkannya dari serigala sihir. Aku benar-benar senang saat itu. Tapi, aku teringat dengan hal yang pernah berlalu. Itu membuatku khawatir denganmu dan orang sekitarku"
Tsuha berkata dengan lirih sambil melihat Arthur yang sedang mendengar ceritanya.
"Mungkin, ucapan maaf saja tidak cukup untuk menebus kelalaianku sebagai pelayan kecilmu dan partner belajar sihirmu" Nada suara Tsuha terdengar halus dari biasanya. Arthur merasa cangung dengan situasi ini. Ia bingung harus mengatakan apa.
"Pangeran Aosora, aku sangat berterimakasih padamu karena telah menolong Tsuki. Kau tidak perlu menyembunyikan jati dirimu dihadapanku. Bila kau dalam masalah, aku akan membantumu sebisaku" Tsuha berjalan menuju kasur Arthur dan duduk disebelahnya.
"Tsuha. Sebenarnya, aku merasa kurang nyaman karena kau tiba-tiba berubah seperti ini. Apa kepalamu habis terbentur?"
Arthur menunjukkan giginya dan meringis lebar sambil memegang kepalanya sendiri.
Tsuha membungkukkan posisi duduknya di sebelah Arthur.
"Kau lebih menyukai sifatku yang bodoh amat padamu?" Tsuha bertanya dan terkekeh ringan sambil tiduran diatas kasur Arthur.
Arthur membelalakan matanya dan langsung mengelak.
"Ngak! Bukan gitu maksudku! Kau yang sekarang ini! Tidak cocok dengan karaktermu dan model wajahmu!" Tegas Arthur sambil berdiri.
"Mengapa tidak cocok?" Tsuha melirik Arthur yang duduk di kursi belajar.
"Ya, intinya begitu! Lagipula, aku tidak percaya dengan ceritamu itu! Kau tidak cocok dengan karakter anak yang penakut!" Tegas Arthur sambil menunjuk Tsuha.
Tsuha membuang napas panjang dan duduk.
"Kau sendiri, tidak cocok dengan model pangeran yang penurut. Kau itu, adalah pangeran yang menyebalkan yang pernah ku temui" Ucap Tsuha sambil melipat kedua tangan didadanya.
"Kemudian, mengenai De luce Arnold. Aku yakin bila dia masih hidup" Tsuha memiliki argumentasi tentang Arnold.
Arthur mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
"Kenapa kau beranggapan seperti itu?"
Arthur melanjutkan pertanyaan Archie yang Archie tanyakan.
"Ya, karena dia mudah merasuk ke dalam jasad orang. De luce Arnold dengan Archie memiliki banyak perbedaan"
"BHAH! TENTU SAJA BERBEDA! JANGAN MENYAMAKAN AKU DENGAN IBLIS SIALAN ITU!" Tegas Archie yang puas.
Telinga Arthur mendengung karen suara Archie yang mengema.
"Perbedaan pertama, De luce Arnold memiliki aliran mana abstrak. Dia masih keturunan Titisan. Kalau Archie, aliran mananya tergolong kuat tapi tidak se-mengintimidasi seperti milik De luce Arnold. Mana milik De luce Arnold sulit di prediksi keberadaannya yang berbeda dengan milik Archie yang pekat. Dari jarak 1 KM saja, aku bisa tau keberadaanmu bila kau menghilang Archie" Ucap Tsuha.
"Hah, pantas dia langsung menemukanku di dalam hutan" Lirih Archie di dalam Arthur.
Arthur cukup tertarik dengan ucapan Tsuha.
"Apa maksudmu dengan aliran mana abstrak? Bagaimana dengan aliran mana milikku?" Arthur menunjuk dirinya sendiri sambil meringis pada Tsuha.
Tsuha mengaruk tengkuknya.
"Aku tidak tau. Manamu aneh. Hampir seperti milik Nao. Kalau bisa jujur, bila kau hilang dari sini. Aku tidak akan bisa menemukanmu"
.
.
.
...****************...
Bonus: