The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Kembali



Tsuha mulai membantu Arthur untuk menata barang milik Arthur untuk dibawa ke Aosora.


"Tsuha, menurutmu aku orang seperti apa?" Arthur tiba-tiba bertanya seperti itu kepada Tsuha sambil melipat kemeja-kemejanya.


Tsuha melihat Arthur dan kembali fokus pada tugasnya.


"Kau orang yang sembrono" Jawab Tsuha dengan singkat.


"Itu saja?"


"Kau juga bodoh" Jawab Tsuha sekali lagi.


Arthur melihat Azuma yang mengangguk.


"Begitukah?" Tanya lirih Arthur.


Tsuha membuang napas "Kenapa baru sadar?".


"Tsuha, aku ingin minta tolong padamu" Nada suara Arthur tiba-tiba serius sambil melihat sinopsis Novel buatan Marsyal.


"Apa yang kau perlukan?" Tanya Tsuha.


Arthur melihat ke arah Tsuha. "Tolong lindungi aku saat aku sembrono di Aosora. Disana, kita akan bertemu dengan banyak sekali karakter orang yang berbeda. Tidak sedikit dari warga Aosora yang akan membenciku karena ada jiwa iblis di dalam tubuhku" Ucap Arthur sambil meletakkan buku itu di atas kasurnya dan menata barangnya yang lain.


Tsuha melirik Arthur sekilas lalu ia menutup resleting tas untuk barang Arthur.


"Iya. Kau tenang saja. Kami bertujuh akan melindungi mu melebihi melindungi nyawa kami sendiri" Ucap Tsuha sambil memegang dada kirinya seperti sumpah yang telah ia ucapkan.


Arthur mengangguk kecil beberapa kali. "Kalau begitu, terima kasih. Gunakan waktumu dengan baik hingga upacara pengangkatan usai. Sekarang, biarlah aku melanjutkan ini sendiri" Arthur menyuruh Tsuha keluar dari kamar secara perlahan.


Tsuha mengangkat salah satu alisnya.


"Kau menyuruhku keluar dari sini?"


"Iya sebentar saja. Ada yang harus aku lakukan sebentar. Kembalilah 15 menit lagi" Jawab Arthur sambil mengangkat tas miliknya dan memindahkannya dibawah kasur.


Tsuha mengaruk tengkuknya. "Oh, baiklah" Ia langsung berdiri dan keluar dari kamar tersebut.


Tsuha merasa aneh dengan Arthur akhir-akhir ini. Dia lebih sering sendirian daripada menemani Lina melakukan aktivitasnya.


Tsuha menuruni tangga dan melihat ke sisi kanannya. Razel sedang duduk dan membaca surat yang baru datang. Tsuha mendatangi Razel karena ada minuman dingin disana.


Razel melihat Tsuha yang duduk kemudian meminum air es. "Bagaimana dengan beres- beresnya? Apa sudah usai?" Tanya Razel sambil memasukkan surat dengan amplop putih berkop rumah sakit.


Tsuha pura-pura tidak melihatnya. Ia menutup matanya sambil meletakkan gelas di atas meja.


"Dia menyuruhku untuk istirahat sebentar" Jawab Tsuha dengan singkat.


Razel meminum air dingin kemudian mengangguk. "Sesekali, bersikaplah santai Tsuha. Nadamu selalu terdengar kaku" Ucap Razel.


Tsuha menghela napas lemah. "Ini aku sudah santai wakil. Hanya saja, aku tidak pandai mengatur nada bicaraku. Kalau aku ngegas sedikit saja, dikira aku marah" Jawab Tsuha.


Razel tersenyum kaku. "Ini sudah santai? Coba ubah sedikit-sedikit cara pengintonasianmu. Val pernah mengeluh padaku karena ia pikir kau membencinya. Maksudnya begini, wajahmu itu membuat Val kesulitan dalam membedakan kau yang marah dan kau yang senang. Dia sampai tidak berani untuk memberimu lelucon saat dia ingin menghibur" Kata Razel.


Tsuha menggaruk keningnya.


"Aku tidak seperti Pangeran Aosora yang mampu mengekspresikan diriku melalui pengintonasian suara ataupun mengekspresian wajah. Tapi, akan ku coba" Jawab Tsuha sambil menutup bibirnya dengan tangan kanannya.


...****************...


KAMAR ARTHUR


"Kau sangat menyedihkan Aosora. Aku sampai kasihan mendengarmu berteriak terus menerus"


Arthur menyeringai kemudian menutup matanya.


BRUK!!


Tubuh Arthur terjatuh ke atas kasur.


BLINK!


Ia tiba-tiba membuka matanya dan langsung berdiri. Arthur melihat kedua tangannya dan langsung berkaca di cermin.


"HAH! Kan! Aku bisa kembali dengan mud-BRUK!" Arthur tiba-tiba pingsan karena kelelahan.


Tsuha kembali ke kamar setelah 15 menit berlalu. Ia melihat Arthur yang tengkurap di atas kasur.


"Astaga. Kenapa dia malah tiduran di kondisi seperti ini?" Tsuha menepuk jidatnya kemudian langsung mengusap wajahnya.


Tsuha melanjutkan tugas Arthur untuk mengemasi barang-barang Arthur.


...****************...


Arthur di panggil oleh Raja Linus untuk menghadap. Agleer Linus, memberi Arthur selembar kertas tentang apa yang harus dilakukan oleh Arthur selama persiapannya sebelum upacara pengangkatannya. Saat itu juga, Linus meminta maaf kepada Arthur karena Baal tidak dapat mengantarkannya menuju Aosora.


Arthur tidak masalah karena ia tau Baal adalah orang yang sibuk.


Arthur tidak langsung kembali ke markas setelah mendapatkan selembar kertas itu. Arthur mengajak Tsuha dan Zack mampir di tempat makan yang pernah ia kunjungi bersama Nao. Tsuha dan Zack sedang melakukan pengawalan terhadap Arthur.


Zack adalah orang yang sangat mempercayai firasat. Zack tiba-tiba merasakan firasat yang tidak enak saat memasuki tempat makan itu.


Warung makan itu, sangat ramai.


"Arthur. Aku akan memasakkan makanan yang sama dengan warung itu. Jadi, ayo langsung kembali ke markas" Zack sudah siap mengeluarkan pedang mananya dan berdiri di depan Arthur. Zack memberi kode Tsuha untuk menjaga bagian belakang Arthur.


Tsuha tidak sepeka firasat Zack. Namun dari pergerakan Zack, Tsuha dapat mengetahui bila tempat ini tidak aman.


"Kenapa Kak Zack? Beuh, disini beneran loh! Nasi gorengnya enak. Aku akan mentraktir Kak Zack untuk hari ini. Tapi, Tsuha bayar sendiri yak" Arthur meringis pada Tsuha yang ada dibelakangnya.


"Cih!" Tsuha membuang mukanya.


["Arthur, lebih baik dengarkan ucapan dia. Disini, hawanya berbeda. Hawa disini terasa seperti kompor besar yang panas"] Jelas Archie.


Arthur langsung melihat ke sekililingnya. Semua orang, menatap Arthur yang masih berdiri di depan pintu. "Archie, orang mana yang paling kau curigai?" Arthur mulai mewaspadai tempat ini. Ia merasakan aura dari Siluman.


"Arthur ayo kembali ke markas. Wakil Razel sudah menunggu" Zack mencari sebuah alasan yang tepat untuk meyakinkan Arthur agar pulang.


Mata Tsuha mengelilingi sekitar tempat itu.


Tsuha melihat ke arah lantai dua. Tepat pada dua orang yang sedang berbicara sambil melirik ke arah mereka.


["Ini bukan dari Iblis. Aura ini, terasa seperti aura kuno. Arthur! Cepat keluar dari sini! Mereka menyadari keberadaanmu!"] Archie memaksa Arthur untuk segera pergi dari tempat itu.


"*Mereka? Berapa orang?"


["Kurasa dua? Mereka tidak jauh"]


"Kalau begitu, aku akan keluar setelah mengevakuasi warga yang ada disini*" Ucap batin Arthur.


["Dasar bodoh! Kau keluarlah terlebih dulu! Biar mereka pergi dengan sendirinya!"] Tegas Archie.


Tsuha, melihat warna aura mereka yang abu-abu. "TEP!" Tsuha langsung menarik pergelangan tangan Arthur yang termenung.


"Pangeran, dengarkan ucapan Kak Zack. Ayo kita masak sendiri saja" Tsuha mengalungkan lengan kanannya pada bahu Arthur dan mengangguk pada Zack.


"Tapi Tsuha...."


"Apa kau sangat ingin makan disini Arthur? Aku akan membelikanmu nasi gorengnya. Jadi, kembalilah ke markas" Zack tersenyum pada Arthur sambil memegang bahu kanannya sendiri lalu memutarkan lengan kanannya itu.


["Jangan biarkan dia tetap disini Arthur. Aura yang ku rasa ini adalah aura kuno. Bila kita tidak menggusik mereka, mereka tidak akan menyerang kita. Kurasa, aura kuno itu merasa tidak nyaman karena keberadaanmu. Cepat pergi dari sini bersama-sama"]


Archie tidak ingin Zack mencari masalah dengan mereka pemilik aura kuno itu.


Arthur tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.


"Kak Zack. Ayo kembali bersama. Tolong ajari aku memasak nasi goreng yang enak" Arthur mendorong punggung Zack dan keluar dari tempat itu.


"Eh? Arthur, aku akan tetap disini. Kau kembalilah dulu" Zack melepaskan tangan Arthur dari punggungnya dan melihat ke arah Tsuha untuk segera membawa Arthur pergi.


"TAK!" Tsuha menjelentikan jari tengahnya dengan ibu jarinya pada kening Arthur.


"Dasar keras kepala. Ayo kita pulang ke markas. Ngomong-ngomong, apa persiapan yang harus dilakukan sebelum upacaramu?" Tsuha membawa Arthur pergi dan mengubah topik pembicaraan.


Arthur berjalan mengikuti langkah Tsuha dan melihat ke arah Zack yang melambaikan tangannya.


"Tsuha, apa Kak Zack akan baik-baik saja?" Arthur melihat ke depan dan melepas lengan Tsuha yang berada di bahunya.


Tsuha melirik Arthur. "Tentu apa yang perlu di khawatirkan? Dia hanya membeli nasi goreng" Jawab Tsuha sambil menatap ke depan.


...****************...


Seorang pria dan perempuan yang memakai topi hitam yang selaras dengan pakaian pelayan kembali melihat makanannya.


"Jadi, dia orang yang Ratu cari?" Tanya perempuan yang memakai pakaian pelayan itu pada pria yang sedang makan di depannya.


Pria itu, menahan garpu yang terdapat daging disana sebelum masuk ke mulutnya. "Iya. Namun, sebisa mungkin kita harus menjaga jarak dengan mereka, Aneria. Bersikaplah dengan normal. Dia mendatangi kita" Pria itu melahap makanannya dengan perlahan.


Zack mendatangi dua orang yang berpakaian pelayan.


"Permisi, Tuan dan Nyonya. Saya Zack dari Guild Pemberantas Iblis. Bolehkah, saya duduk disini?" Zack tersenyum sambil meletakkan tangan kanannya pada dada kirinya.


Dua orang itu melihat Zack, "Tentu" Jawab mereka dengan bersamaan.