
"Akaiakuma.... Kau akan membayar semua yang telah dilakukan oleh Alfarellza Adelio De luce. Aku, tak akan pernah memaafkan Keturunanmu, De luce" Sosok Pria berambut putih dengan mata berwarna kuning keemasan bergumam di sebuah dataran tinggi dan menatap matahari terbit diufuk timur.
"Dia yang mengawali perpecahan ini, Dia yang membantai seluruh bangsaku, Dia yang merebut tahtah Kerajaan Alfarellza. Keturunanmu, adalah musuhku"
Hawa kebencian menyelimuti sosok siluman rubah putih itu. Disetiap langkah kakinya, meninggalkan jejak berupa tapak kaki es.
Ia, berjalan kearah Timur laut menuju Kerajaan Akaiakuma.
...****************...
"cuit, cuit! cuit!"
Pagi hari yang cerah, nyanyian burung terdengar ditelinga Arthur yang sedang menjalankan misi keduanya bersama Zack dan Lina.
Misi ini adalah misi tingkat C-3 atau bisa disebut misi dasar yang digunakan kelas D agar naik perlahan ketingkat C.
Disini, tugas Zack yang berkelas A dan Lina yang berkelas B+ yaitu, membantu Arthur yang pemula untuk misi kali ini.
Misi Arthur adalah menangkap kuda liar yang mengamuk.
"Hah?! Aku dari Guild pemberantas Iblis bukan dari Guild keamanan Masyarakat!"
Arthur mengetahuinya saat ditengah jalan dan Ia tak membaca misinya terlebih dulu. Ia hanya langsung menerimanya dari Razel.
Lina dan Zack yang sudah tau, menahan tawa dibelakang Arthur.
"Hah...." Arthur menghela napasnya dengan pajang dan menurunkan kedua bahunya hingga Ia terlihat sedikit bungkuk.
"Padahal, Aku ingin misi yang sekelas dengan Tsuha. Aku juga ingin mencari Kak Ram" Lirihnya sambil menendang batu kerikil.
Zack mengalungkan lengan kirinya pada bahu kanan Arthur.
"Kita awali dulu dari nol. Kau adalah Pangeran Aosora, kalau Kau ikutan mencari Putra Mahkota Aosora dan menghilang sama sepertinya, Kami semua akan kerepotan" Jelas Zack.
"Benar. Kita harus berjalan dari tangga bagian bawah. Tak mungkin Kita akan langsung berada diatas. Misi ini sudah dipertimbangankan oleh Para Kapten disetiap Guild untukmu" Lanjut Lina sambil berjalan disamping Arthur dan mendongakkan Kepalanya untuk melihat Arthur sebab, Tinggi Lina hanya sebahu Arthur.
Senyum tipis terlihat dari bibir Arthur.
"Baik Kak. Ngomong-ngomong, Apa Aku boleh tanya sesuatu Kak Lina?" Arthur melepas lengan Zack dari bahu kanannya.
"Tentu boleh, mau tanya apa?"
Zack merasa tenang karena Ia bisa meyakinkan Arthur tentang bahayanya Dia disetiap Misi.
"Apa Aku boleh menyukai Kakak?" Tanya Arthur sambil meringis kepada Lina dan membelakangi Zack.
"Hah?!" Zack tidak menyangka Arthur akan bertanya seperti itu.
"Tentu boleh. Selagi Arthur masih ingat dengan batasan-batasannya dan kelas rankmu harus lebih tinggi dengan ku" Jawab Lina sambil memberi senyuman pada Arthur.
"Hah?!" Zack membelalakan matanya mendengar jawaban Lina.
"Tep!" Zack melihat Arthur memegang kedua bahu Lina.
"Sebenarnya, kelas rank ku sudah A+. Demi Kak Lina Aku akan menaikkan kelas Rankku dari D hingga S dalam jangka kurang dari setahun. Setelah itu, Kak mau jadi pacarku?" Tanya Arthur dengan malu-malu.
Lina membelalakan matanya.
"Ah.... Dia... menanggapi dengan serius...." Batin Lina sambil melirik Zack yang memelongohkan mulutnya.
Lina memegang tangan kanan Arthur.
"Tentu, akan kutunggu" Jawab Lina sambil mengangguk.
"Val.... Bersabarlah.... Ku harap Kau tak pernah mendengar ini" Zack menutup kedua matanya dan mengepalkan tangan kirinya.
"Baiklah! Ayo Kak Zack! Dimana lokasi misi ini?!"
Arthur kembali bersemangat dan melihat Zack yang membuka gulungan misi itu.
...****************...
"Plak!" Daeva memukul keningnya saat melihat dan mendengar ucapan Arthur itu pada Lina.
Ia yang malu.
Alder Ren disebelah Daeva menutup telinga elfnya dan terkekeh mendengarnya.
"Terserah Arthurlah. Kau ini, lucu sekali! Pffft!" Alder masih terkekeh.
"Pergilah dari sini! Kenapa Kau selalu ada disampingku setiap Aku berada didekat Arthur?" Daeva menatap kesal Alder disampingnya yang memakai cadar.
Alder melihat Arrhur kembali berjalan dengan timnya itu.
"Aku sama sepertimu, menjalankan tugasku dari Sang Cahaya. Menurutmu, berapa lama lagi, Alfarellza akan terbangun?" Tanya Alder.
"Cih! Kalau Kau sudah tau, Apa gunanya bertanya padaku"
Alder bisa melihat masa depan, oleh karena itu Daeva menjawabnya dengan ketus.
"Masa depan bisa saja berubah. Sosok yang bisa mengubah setiap tatanan masa depan adalah Ruri, Kau, dan Lingga. Walau Kau dan Lingga hanya memiliki satu kesempatan, bila Kau gunakan dengan benar, semua pasti akan berubah. Kenapa Kau tak mengubah masalalumu agar namamu tidak seburuk pada zaman ini?" Tanya Alder.
"Mengubah masalalu? Bukankah, itu sama saja dengan menyesali sesuatu yang telah ku perbuat? Lucu sekali, Apa Kau masih menganggap semua ini kesalahanku?" Daeva menyeringai dan memberi tatapan merendahkan pada Alder.
Alder menatap balik Daeva.
"Membunuh satu desa bangsamu sendiri dan mengatakan seolah-olah itu bukan kesalahanmu, Apa insiden itu adalah ulah Ruri? Apa Kau tidak dihantui oleh rasa bersalahmu yang telah membunuh anak-anak hingga wanita yang sedang hamil?"
"Setidaknya, Katakan alasanmu mengapa Kau melakukan itu pada Kami. Kami pasti ak.."
"SIALAN! KAU PIKIR SEMUANYA AKAN MENDENGAR ALASAN KU?! Kenapa Kau tak mengatakan ini sejak dulu? Apa yang Kau lakukan saat itu? Bukankah, Kau mengusirku hanya demi Ruri yang menyamar sebagai wanita?!" Daeva kesal dengan ucapan Alder dan seolah-oleh Alder menyalakan Daeva atas insiden yang terjadi dimasa lampau itu.
Alder terdiam, "Maaf, Untuk kehidupanku yang kali ini, Aku akan memperbaiki semuanya. Termasuk, membuat Alfarellza ingat tentang dirinya" Alder menundukkan kepalanya dan Ia menjawabnya dengan penuh penyesalan.
Ia mengatakannya dengan jujur dan Ia ingin mengembalikan kepercayaan Daeva padanya.
Daeva melirik Alder. Dia, tak bisa menerima ucapan Alder secara mentah-mentah.
"Buktikan. Jangan hanya memberi harapan. Aku sudah lelah dengan semuanya," "Tep!" Daeva turun dari pohon tempatnya memantau Arthur dari kejauhan.
Alder tau, kepercayaan seseorang itu sangat sulit untuk diraih. Apa lagi, seseorang yang pernah di khianati.
Ia membuang napas secara perlahan.
"Dimasa depan, Kau akan kehilangan Dia. Apa Kau hanya akan memantaunya dari jauh?" Alder turun dari pohon tersebut dan berjalan dibelakang Daeva yang berhenti setelah mendengarnya.
"Apa maksudmu?" Daeva, membuka tudung jubahnya di jalan yang sepi itu.
Alder membuka cadarnya.
"Aosora Arthur telah bertemu Ruri. Kau fokuslah untuk pencarian Ruri. Aku akan mencari tiga titisan lainnya. Saat ini keberadaan titisan lain yang ku tau hanyalah Lingga. Kalau Kau tau keberadaan Ranu dan Dean, katakan padaku. Aku akan menjemput mereka" Alder membuka tudung jubah hitamnya dan berhenti disamping Daeva untuk mengatakan hal itu.
Daeva membuang wajah.
"Dean ada di Kerajaan Aosora. Dia saat ini, beringkarnasi sebagai seorang bocah seumuran Arthur dan tinggal di Pantiasuhan. Tak perlu Kau jemput, Dia akan datang dengan sendirinya"
Alder terlihat tersenyum.
"Ha~ Ternyata, Kau memantau orang lain selain Arthur" Alder kembali terkekeh setelah mendengarnya.
"Cih! Aku hanya tak sengaja melihat penampilannya dari kejauhan diacara adopsi besar-besaran yang diselengarakan satu tahun yang lalu"
Dean, adalah seorang Titisan berbangsa manusia dan Ia memiliki tugas untuk mendamaikan Negri Arden bersama titisan yang lainnya.
Dean dulunya adalah Murid dari Daeva dan Dean 'Pernah' menganggap Daeva seperti Kakaknya sendiri.
"Dia diadopsi?"
"Mana ku tau?!" Ketus Daeva sambil kembali memakai tudungnya dan menyusul Arthur.
Alder berhenti ditempat. "Hah.... Kapan sifatnya akan berubah?"
"BANG! BANG!.....BANG!!!" Suara jam sihir berbunyi sebanyak delapan kali.
Itu menandakan saat ini, jam Shinrin menunjuk pada pukul delapan pagi.
"Saatnya bekerja. Dan, sudah saatnya memberikan itu padanya" Lirih Alder seraya menatap langit yang mulai berawan.