
Archie lelah menunggu dan Ia langsung bertukar tempat secara paksa dengan Arthur.
"Hei Pak Tua! cepat terima Aosora Arthur untuk sekolah disini"
Mata Arthur yang biru berubah menjadi merah karena pertukaran itu.
Mereka berdua langsung membelalakan mata mereka saat melihat mata Arthur yang merah dan perubahan nada bicara Arthur yang terdengar tidak formal.
...***...
Arthur masih dalam keadaan sadar tapi tak bisa mengerakkan tubuhnya sesuai keinginannya.
Arthur tak bisa berbicara seleluasa Archie dan Ia juga tak bisa berpindah tempat dengan Archie.
Arthur hanya bisa mendengar dan melihat mereka yang tengah terkejut.
Nox dan Kepala Akademi itu langsung berdiri dan mengeluarkan lingkaran sihir mereka disekitar Archie yang menggunakan tubuh Arthur.
Arthur ingin mengatakan 'Sialan! Iblis sialan!'
Archie mengangkat salah satu lututnya.
"Aku bersedia melakukan perjanjian dengan Kalian. Dan itu, bila Kalian bersedia membiarkan Arthur hidup disini Serta, merahasiakan keberadaan Kami dari telinga petinggi Shinrin"
Archie menawarkan perjanjian pada mereka.
"Ini adalah cara mengobrol orang dewasa. Dengarkan baik baik, Buyut Alex" Batin Archie.
"Dari pada cara obrolan orang dewasa, ini lebih mirip dengan ancaman" **^**
"Kami berniat melakukan itu dan ingin mengajak perjanjian pada Pangeran Aosora. Tak disangka, De luce Archie lah yang akan menemui Kami terlebih dahulu" Ucap Kepala Akademi yang menghilangkan lingkaran sihirnya, kemudian duduk, dan melepas kaca matanya.
"Perjanjian apa yang Kau inginkan?"
Archie bertanya tanpa basa basi.
"Hanya dua hal. Berjanjilah untuk tidak melukai warga ASJ dan berjanjilah untuk tidak menggunakan kekuatan Iblis" Jawab Kepala Akademi.
Itu, bukan perjanjian yang sulit.
"Aku akan memenuhi yang pertama dan tidak dengan yang kedua"
"Apa Alasannya?"
"Sebab, Arthur menggunakan Mana ku seenaknya dan Dia masih belum bisa menyaring tiga mana yang berbeda dari dalam dirinya" Jawab Archie tanpa banyak menunggu.
"Tiga? Siapa yang satunya?"
Kepala Akademi mengusap kaca lensanya yang mengembun.
Nox terdiam dan menunggu jawaban Archie.
"Tidak tau. Itu terasa samar dan itu yang menghisap mana milikku" jawab Archie.
"Maksudmu, Hinoken?" Tanya kembali Kepala Akademi untuk memastikan.
Hinoken disini adalah pedang sihir yang turun temurun dijaga oleh Keluarga Aosora sejak Aosora Alex dan pedang sihir itu, hanya bisa dipegang oleh keturunan Alex, De luce Archie serta Raja Akaiakum ke X (De luce Arnold).
"Hinoken tidak menyerap mana pemegangnya" Ujar Archie.
"Tidak bisakah Kita berfokus pada Perjanjian ini?"
Archie bertanya akan hal itu karena Ia mulai muak bila ada orang lain bertanya tentang sesuatu yang menyangkut masa lalunya.
"Baiklah, Kami memaklumi mengenai persyatan yang kedua. Nox... Apa Kau sudah menyiapkan perjanjiannya?"
Kepala akademi mencoel sikut Nox yang tengah melamun memikirkan ucapan Archie.
"EH! Sudah. Sekarang bersumpahlah diatas kertas ini dengan darahmu"
Nox membuka gulungan Kertas yang telah Ia siapkan saat Arthur mandi.
"Yang benar saja?! Aku ini menggunakan tubuh Arthur. Kalau begini caranya, bukan Aku yang bersumpah tapi Arthur" Ucap Archie yang tidak terfikirkan oleh mereka berdua.
Nox dan Kepala Akademi saling melihat.
"Benar juga" Nox meringis pada Kepala Akademi.
"Maafkan Saya. Kalau begitu, bagaimana dengan perjanjian pengikatan jiwa?" Tanya Kepala Akademi.
Perjanjian pengikatan jiwa adalah perjanjian tingkat terlarang yang sangat membahayakan orang yang berjanji.
"Aku tidak mau menerimanya. Itu adalah perjanjian terlarang. Bisa-bisa, Aku akan kehilangan jiwaku bila tak sengaja menabrak murid mu hingga terluka"
Archie menolaknya secara langsung karena jiwanya lebih penting dari pada rasa penasaran Arthur yang ingin masuk ASJ.
"Katakan saja bila Kalian tak ingin menerima Arthur. Kami akan pergi dari sini"
Mendengar ucapan Archie, Arthur percaya kalau tak semua orang bisa menerimanya.
"Kami tetap akan membuka pintu ASJ lebar lebar untuk keluarga Aosora. Kami juga bersedia menyembunyikan Pangeran Aosora dari petinggi Shinrin asal Anda tidak melukai warga ASJ" Jelas Kepala Akademi.
Padahal, Kepala akademi adalah salah satu petinggi Shinrin.
"Kalau begitu. Kenapa tidak langsung saja Kalian terima saja?! . Kalian sama saja seperti mempermainkan perasaan bocah jujur ini. Akan ku katakan, Aku tidak tertarik untuk mencelakai orang orang Shinrin. Tapi ingatlah, Aku akan mencelakai mereka yang menganggu Keluarga Aosora. Keluarga Alex adalah Keluargaku juga!"
Archie mengatakan hal itu dengan tegas dan Ia memang tidak tertarik pada orang Shinrin yang menurutnya menyebalkan.
"Kepala Akademi, Bisakah Anda mengizinkannya tanpa perjanjian terlarang ini? Paling tidak secara tertulis itu sudah cukup. Saya yang akan bertangung jawab penuh atas Pangeran Aosora"
Nox memohon pada Kepala Akademi.
Kepala Akademi kembali memakai kacamatanya.
Ia tak bisa berkutik bila Nox yang memohon.
Mendengar itu, Archie full senyum lalu,....
BREB!
Archie berpindah tempat setelah mendengar keputusan Kepala Akademi.
Arthur membuka mata birunya dan menggerakkan jari jarinya yang telah terkontrol.
Ia langsung bersujud di hadapan Kepala Akademi dan Nox yang duduk.
"Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih!"
Arthur senang sekali mendapatkan Izin tersebut.
"Pangeran angkat kepala Anda. Anda tidak seharusnya begini pada Kami"
Kepala Akademi tidak enak menerima kesopanan Arthur yang drajatnya lebih tinggi darinya dengan mudah bersujud di hadapannya.
Arthur mengangkat kepalanya.
"Karena Anda berada disini. Ubah identitas Anda. Walau murid dan guru-guru disini tak pernah melihat Anda, Ini untuk berjaga-jaga" Saran Kepala Akademi.
"Benar juga. Kalau tidak salah, Tsuki tadi memperkenalkan Anda dengan nama Alex pada Saya" Nox bertanya pada Arthur.
Arthur sedikit malu.
"Iya, Saya menggunakan nama Alex. Tolong kerja samanya" Ucap Arthur yang kini suasana hatinya sangat berbunga.
Perasaan Arthur mudah sekali berubah dalam waktu yang singkat.
Maklum, usianya masih labil.
"Baiklah.... Alex, selamat bergabung dengan warga ASJ dan nanti Anda akan ditempatkan dikelasnya Nox agar Anda selalu terawasi. Anak anak disini suka jahil dengan orang baru"
Kepala Akademi menjabat tangan kanan Arthur.
"Berarti.... Aku akan sekelas dengan Tsuki?"
"Jangan senang dulu Arthur. Tetaplah mewaspadai mereka. Dari tadi Aku merasa ada yang mengawasi Kita"
Archie merasakan hawa samar namun, tidak memiliki aura yang mengancam.
"Mengawasi?"
"Alex, Anda bisa masuk mulai hari ini. Saya meminta maaf karena harus pergi sekarang. Nox Aku percayakan padamu. Jam sembilan ini Aku ada rapat di *** (Akademi Sihir Shinrin). Mengenai identitasnya, Kau bisakan membuat surat palsu untuknya? Tulis saja Alex adalah kerabat jauhmu"
Kepala ASJ benar-benar orang yang baik.
Ia berdiri sambil memberi bungkukkan pada Arthur. Kemudian, berdiri tegak melihat Nox.
**** adalah Akademi Sihir yang berisikan para siswa yang telah terpilih, berbakat, dan banyak dari mereka yang memiliki status yang tinggi.
"Tentu, akan Saya selesaikan dengan cepat. Terima kasih atas waktu yang Anda berikan Kepala Akademi"
Nox menjabat tangan Kepala Akademi dan memberikan bungkukan hormat padanya.
"Sama-sama. Saya pamit undur diri. Wosh!" Kepala Akademi itu langsung menghilang dengan sihir teleport.
"Ha......." Arthur langsung bernapas dengan lega.
Nox duduk didepan Arthur.
"Jadi Alex. Selesaikan makannya dan segera kekelas bersama" Nox mengatakannya sambil memberikan senyuman pada Arthur.
Arthur mengangguk dan melanjutkan makannya yang tertunda tadi.
...***...
Tak jauh dari rumah Nox, sosok berjubah maron dengan mata merah mengawasi Arthur dari kejauhan.
"Jadi.... Dia masih hidup? Hebat juga. Tak lama lagi.... Aku akan menyelesaikannya...." Ucap sosok berjubah itu dengan suara laki laki.
Salah satu siswa ASJ melihat kearah pria berjubah itu.
Ia berbet 2-1 dan berponi hitam yang sedikit menutupi matanya.
"Hei! Apa yang Kau lakukan disana?!"
Siswa itu bertanya pada sosok berjubah diatas dahan pohon.
Pria berjubah itu melihat papan nama diseragam siswa itu.
Papan nama itu tertulis Nao.
Pria berjubah itu memperhatikan wajah murid bernama Nao tersebut.
"Jangan pernah kemari lagi, atau Aku akan membun*hmu.... Titisan Pertama"
Siswa itu menyeringai pada sosok berjubah yang Ia panggil Titisan Pertama.
DEGH !
"Apa?! Wosh !"
Pria berjubah itu langsung menghilang begitu saja.
"Kenapa orang itu kesini? Apa karena kedatangan Dia?"
Siswa bernama Nao itu melihat kearah rumah Nox dan Ia melihat Arthur serta Nox yang keluar dari rumahnya.
"Oh,... Benar rupanya.... Haha! Aku tak menyangka Dia akan datang secepat ini...."
Siswa itu berjalan menjauh dan kembali kekelasnya yang berada di kelas 2-1 tak jauh dari pohon itu.