The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Nao bagian 3



Tangan kiri pria itu, meraba wajah Tsuha dan mengembalikan koin itu dengan mendorong tangan kiri Tsuha untuk menyimpannya.


"Simpan uangmu baik-baik. Pergilah dari Negri ini sejauh mungkin,....Tep!" Tiba-tiba tangan lain memegang tangan pria tua itu.


Tsuha melihat wajah pemilik tangan itu. Tak lain dan tak bukan, Dia adalah Nao yang sedang mengendong kucing hitam milik Arthur.


"Nao, Apa yang sed...."


"HUAAH! KAU! MENYINGKIRLAH! LEPASKAN TANGANKU!" Pria itu tiba-tiba berteriak dan menarik tangannya yang ditarik oleh Nao.


Nao melepaskan tangan pria tua itu dan sontak, lelaki tua itu langsung terjatuh.


Tsuha sangat terkejut melihat Pria itu yang terjatuh.


"SIALAN! NAO! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Tsuha menolong Pria itu.


Sikut kiri pria itu terluka.


"Jauhi Nak....Jauhi...." Pria itu menepis tangan Tsuha dan langsung berdiri sendiri kemudian pergi dengan gerobaknya perlahan tanpa mengambil uang Tsuha.


Tsuha langsung berdiri kemudian, "Syuuut!!!" Ia lepaskan pukulan tangan kanannya pada Nao dan Nao menghindarinya dengan melangkah kesamping.


"Kenapa Kau marah?" Nao melihat Tsuha yang mengkernyitkan keningnya.


"Apa Kau selalu begitu pada orang Tua?"


"Tentu saja tidak. Aku tak sengaja. Dia memintaku melepaskannya dan Kau tau sendiri. Saat Aku melepaskan Dia, Dia terjatuh akibat ulahnya sendiri" Jelasnya.


Tsuha mendengus.


"Kau punya otak. Harusnya, Kau itu paham bagaimana caranya melepas orang itu tanpa membuatnya jatuh" Ketus Tsuha pada Nao.


Kucing bermata hijau itu melompat kearah Tsuha dan langsung naik dibahunya.


Nao terdiam ditempat.


"Dia hanya orang tua yang gila. Dia suka membual, Aku hanya ingin membantumu terlepas dari orang gila itu"


Raut wajah Tsuha tak berubah. Ia masih mengkernyitkan keningnya.


"Cih! Kau menggunakan cara yang salah Nao. Aku harus pergi. Sampai jumpa nanti" Tsuha meninggalkan Nao.


"TSUHA! APA KAU MEMBENCIKU?!" Nao bertanya dengan suara lantang pada Tsuha.


Tsuha berhenti ditempat dan menoleh kearah Nao.


"Tidak" Ia kembali melanjutkan jalannya menuju Nox setelah menjawab Nao.


Nao memutar balik jalannya, "Bohong"


...****************...


Tsuha pernah sedikit bercerita pada Arthur tentang Nao.


Ia berkata, dulu Nao hampir dibunuh oleh ayahnya sendiri.


Cerita itu berawal dari insiden enam tahun yang lalu atau tepatnya setelah insiden penyerangan De luce Arnold dan kawanan serigala sihir.


Nao dan anak-anak yang lain telah diungsikan untuk mendapatkan pemeriksaan trauma akibat insiden yang telah membunuh hampir 80% anggota guild pemberantas Iblis, 97 orang dari anggota guild yang lain dan kurang lebih 2500 jiwa penduduk Shinrin yang terluka (64% diantaranya tewas).


Nao dikatakan sehat dan tidak terdapat satu goresan pun pada kulitnya.


Ia dipertemukan oleh kedua orang tuanya yang selamat pada insiden itu.


Hari itu Nao, Tsuha, dan Tsuki sama-sama berusia 11 tahun.


Tsuha dan Tsuki, telah dibawa oleh Nox di markas pemberantas Iblis saat Ia baru saja digantikan oleh Nel menjadi Kapten Guild itu. Dan Nao, dibawa oleh kedua orang tuanya dirumah ungsian sementara selagi, anggota gabungan dari lima guild dan bala bantuan dari Kerajaan Aosora yang dipimpin oleh Naver untuk mengusir sisa Serigala sihir yang mengamuk.


Kalung batu sihir dikalungkan oleh Ibu Nao pada leher Nao.


"CTAAAASH! PRAK!!!" Batu mana itu, mengeluarkan cahaya putih dan pecah. Batu itu, tak kuat mengontrol mana milik Nao.


"Eh? Kok gini?" Ayah dan Ibunya Nao terkejut melihat batu mana yang pecah itu.


Batu mana akan pecah apabila penggunanya memiliki mana yang lebih besar dari batu itu.


"GREP!" Kedua orang tua Nao tiba-tiba memeluknya bersamaan.


"HEBAT! ANAKKU! HEBAT! SUATU HARI NANTI KAU AKAN MENJADI PRAJURIT BESAR!!!" Ibu Nao merasa sangat haru akan potensi yang masih belum Ia ketauhui dari Nao.


"DIA ANAKKU JUGA!" Ayah Nao sangat menyayangi Nao lebih dari apapun.


Kedua orang tua Nao adalah seorang rakyat biasa dan Mereka bekerja sebagai seorang petani seperti Ayah Tsuha.


Orang yang bisa memecahkan batu mana, hanyalah orang yang potensi mananya melebihi seorang Raja.


Nao, tak memiliki darah bangsawan.


Membuat batu mana pecah adalah sesuatu yang sangat tak mungkin bagi seorang rakyat biasa.


Nao, tak pernah belajar sihir sejak kecil. sama seperti Tsuki.


Lantas, Apa yang membuat batu itu pecah?


Apa batu itu sudah rusak?


Kemudian, Dua minggu setelah pecahnya batu mana itu. Ibu Nao, tiba-tiba jatuh sakit. Ia menjadi kesulitan bicara.


Sakitnya Ibu Nao, membuat hati kecil Nao dan ayahnya terpukul.


Seorang penyembuh berkata kalau Ibu Nao terkena penyakit misterius yang menyerang aliran mananya.


Sejak hari itu, Ibu Nao ketakutan padanya.


Nao menangis saat melihat ekspresi takut dari wajah ibunya itu.


Ayah Nao mendekap Nao dengan hangat.


"Tak apa. Maafkan Ibumu, Dia sedang sakit" Tangan kasarnya yang selalu bekerja keras, mengusap lembut rambut hitam Nao.


Empat hari setelahnya, Ibu Nao meninggal dalam keadaan mulut yang terngangah dan mata yang terbelalak seperti seorang yang telah tercekik.


Tak ada bekas cekikan ataupun mana orang lain ditubuh ibunya Nao.


Banyak orang menuduh Nao yang membunuhnya.


Hanya Ayahnya yang mempercayai bahwa Nao tak mungkin membunuh ibunya. Sebab, Nao seharian bermain dengan Tsuki dan Tsuha dirumah Nox yang telah pindah di ASJ.


Namun, Sampai Kapan Dia akan mempercayai Nao?


Dia adalah seorang suami yang akan mendengarkan ucapan Istrinya. Dan, Dia juga adalah seorang ayah yang akan selalu ada untuk anaknya.


Ayah Nao menemukan sebuah kertas yang dilipat kecil dibawah kasur Istrinya yang telah mati.


Kertas itu bertuliskan, Dia bukan anak Kita. Usir Dia, cari anak Kita yang hilang. Dia telah membuatku tak bisa ******


Malam itu, adalah malam gerhana bulan merah.


Nao menatap langit malam yang penuh dengan bintang di temani oleh Tsuha.


"Tsuha, Pulanglah..." Nao menyuruh Tsuha untuk pulang.


Mata cokelat Tsuha yang gelap saat malam hari, melirih Nao sambil memakan ubi bakar dari ayahnya Nao.


"Aku masih ingin bermain sihir" Jawab Tsuha sambil memakan ubi bakar itu.


"Besok saja. Sekarang, pulanglah" Nao berdiri dan menarik tangan kanan Tsuha.


Tsuha tetap teguh dan Ia kembali duduk setelah ditarik oleh Nao dengan paksa.


Nao tak ingin kalah dengan Tsuha. Ia menarik paksa Tsuha hingga Tsuha terjatuh dari tempat duduknya.


Ubi bakar Tsuha mengelinding dan berhenti disepasang kaki tanpa alas dan sebuah pedang besi yang hampir menyentuh tanah.


Tsuha mengangkat pandangannya dan Sepasang kaki itu adalah milik ayah Nao.


Tangan Tsuha ditarik oleh Ayah Nao untuk masuk kedalam rumahnya.


Wajah Ayah Nao, sangat tidak senang.


Ia mengunci pintu rumah itu yang didalamnya ada Tsuha.


Tsuha takut bertanya setelah melihat wajah Ayah Nao. Ia melihat ayah Nao dari jendela kayu yang bisa Ia lewati bila Ia melompatinya.


"SIAPA KAU SEBENARNYA?! SYUUUUNG!!!!" Tanya tegas ayah Nao sambil menebaskan pedangnya di depan mata Nao.


Nao tak menghindarinya Ia tetap berdiri didepan Ayahnya dan menatap mata Ayahnya yang melihatnya dengan pandangan tanpa kasih.


"Aku anakmu. Apa.... Ayah... lebih mempercayai ... ucapan orang lain?" Air mata menetes dari mata Nao saat mengatakannya.


"Apa Ayah membenciku?"