
Kembali pada Arthur.
Pagi hari setelah kedatangan Arthur di hotel Lourency, Angel telah bersiap untuk mengantar Arthur ke panti asuhan dengan menggunakan sihir milik Luxe.
Tsuha ikut dalam perjalanan Arthur karena terpaksa. Ia benar-benar menjaga jarak dengan Angel. Tsuha mengikuti mereka dari belakang dan sesekali ia melihat disekililingnya untuk melihat kondisi sekitar.
Mata Tsuha kembali melihat ke arah depan. Ia melihat Angel mengenakan pakaian tipis dan terbuka di Aosora yang sedang mengalami cuaca ekstrim.
"Apa semua perempuan seperti itu? Mementingkan penampilan mereka daripada kenyamanan mereka?"
Tsuha melilitkan syal di lehernya hingga menutup mulutnya yang mengigil.
Arthur mulai masuk ke dalam ruangan kepala panti asuhan dan menyuruh Tsuha untuk menemani Angel. Tsuha seperti orang yang kikuk. Ia tidak bisa duduk di kursi panjang yang di duduki oleh Angel.
"Hei bocah" Angel melipat kedua lengannya di depan dada dan memanggil Tsuha yang membelakanginya sambil menatap langit pagi Aosora yang mendung.
"Estelle Tsuha!" Angel memanggil nama Tsuha. Ia berharap agar Tsuha melihat ke arahnya.
Tentu saja, Tsuha melirik perlahan ke arah Angel. Ia melihat Angel yang menyeringai padanya. "Apa kau tak ingin menyapaku? Aku akan membantumu merapikan rambutmu itu yang seperti perempuan".
Angel mencari cara agar Tsuha mau berbicara dengannya.
Tsuha mengkernyitkan keningnya. "Apa dia sungguhan?" Tsuha tak bisa membaca ekspresi Angel antara sungguhan atau bohongan.
Angel mengulurkan tangan kanannya pada Tsuha. "Mari kita mulai dari awal lagi, Tuan muda Estelle" Ucap Angel sambil tersenyum pada Tsuha.
Tsuha melihat ke arah Angel sepenuhnya. "Apa Anda tidak berbohong Kapten Penyidik Aosora?" Tsuha menurunkan syalnya saat berbicara dengan Angel.
"Suaranya, dia memang laki-laki" Angel sekilas menatap mata Tsuha yang sedang melihatnya.
"Ah, ten-tentu!" Angel tiba-tiba merasa bingung sendiri. Ia mengosok tengkuknya dengan tangan yang ia ulurkan pada Tsuha.
Tsuha membuang napas perlahan. "Ayo berusaha yang terbaik Tsuha!" Ia menyemangati dirinya sendiri dan didik di kursi tempat Angel duduk.
"Saya akan menunggu Kapten Penyidik Aosora menunjukkan skillnya dalam memotong rambut saya. Ini akan menghemat pengeluaran saya" Tsuha sangat formal pada Angel.
Angel masih mengosok tengkuknya dan melirik perlahan Tsuha yang diduk di sebelahnya. "Hoho! Tentu saja!" Angel mengeluarkan nada yang antusias.
Tsuha mengulurkan tangan kanannya pada Angel. "Apa Anda akan memaafkan saya atas kejadian yang dulu pernah terjadi?" Ia menunjukkan senyuman tipisnya pada Angel.
Angel melihat sekitar beberapa saat kemudian, ia menerima jabatan Tsuha.
"Dingin" Telapak tangan Angel begitu dingin saat menjabat tangan Tsuha.
"Tidak masalah, lagipula itu hanya ketidaksengajaan. Tapi, lain kali kau tidak boleh mengabaikanku! Okey~" Angel segera melepas jabatan tangan Tsuha yang terasa hangat.
"Tentu, maafkan saya" Jawab Tsuha sambil melihat lapangan di depan Tsuha yang mulai di selimuti kabut dingin.
Kabut tersebut turun karena cuaca ekstrime yang dialami oleh Aosora saat ini. Hujan telah menguyur kerajaan Aosora lebih dari seminggu sebelum kedatangan Arthur ke Aosora.
"Hei Tsuha, apa kau tak bisa bersikap lebih santai lagi?"
"Ini sudah santai"
"Cih, kau kaku sekali. Kalau kau seperti itu, kau akan kesulitan dapat teman" Celoteh Angel.
"Saya sudah memiliki dua teman. Itu sudah cukup"
"Hanya dua?!" Angel menunjukkan kedua jarinya pada Tsuha. Tsuha mengangguk.
"Untuk apa memiliki banyak teman yang tidak mengerti dengan kondisi saya? Saya memiliki teman bukan untuk bergaya-gaya" Jawab Tsuha sambil menyandarkan punggungnya di tembok.
"Mereka pasti beruntung memiliki teman sepertimu. Kalau boleh tau, siapa saja temanmu?"
"Tsuki dan Nao"
Mendengar jawaban tersebut Angel agak terkejut. "Bagaimana dengan Arthur?"
"Pangeran tidak lebih dari seorang partner kerja" Jawab singkat Tsuha.
Ia tau batasan. "Dekat belum berarti berteman"
"Lalu, bagaimana kriteria teman menurutmu?"
"Bisa saling melindungi"
"Ah, setidaknya aku paham dengan maksudnya. Apa dia masih terbayang dengan insiden itu?" Angel mengeser duduknya disebelah Tsuha. Ia duduk sangat dekat dan ia melihat wajah Tsuha dari bawah.
Tsuha melihat bibir Angel yang terlihat biru walau mengunakan lip gel. Ia membuang pandangannya dan melepas jubah Guild Pemberantas Iblis yang ia kenakan.
"Sruk!" Ia menjatuhkan jubah markasnya tepat di kepala Angel. "Terserah aku" Jawab Tsuha sambil kembali memakai syalnya dan meninggalkan Angel.
Angel menurunkan jubah milik Tsuha dan melihat Tsuha yang mengenakan turtleneck switer hitam yang pergi dari hadapannya.
"Dia ini..." Angel menunduk dan tersenyum tipis melihat jubah berwarna abu di tangannya kemudian, ia kembali melihat ke arah Tsuha. "Tsuha! Tunggu! Kau mau kemana?!" Angel berdiri dan menggunakan jubah tebal Tsuha.
"Keliling" Singkat Tsuha sambil melihat ke belakang. Ia melihat Angel berlari dengan atasan yang besar.
"Pfft. Ha..." Tsuha hampir menertawakannya namun ia segera membuang napas untuk berhenti.
Angel yang memiliki tinggi sekitar 160 cm, terlihat begitu pendek saat di samping Tsuha yang memiliki tinggi 176 cm.
“Kau makan apa Tsuha? Kenapa kau bisa setinggi ini?”
“Potong pagar tetangga untuk dijadikan camilan siang" Jawab Tsuha.
“Anj*r"
...****************...
Arthur kini duduk di depan kepala panti asuhan. Tepat di ruangan tamu.
“Kedatangan saya kemari untuk menyampaikan permohonan maaf saya. Saya mendengar bila salah satu adik disini terluka saat saya akan di pancung. Saya mohon maaf sebesar-besarnya"
Arthur membungkukkan kepalanya dalam posisi duduk pada pria yang menjadi kepala panti asuhan.
“Tak perlu Anda khawatirkan pangeran. Putri kami hanya terkena hempasan sihir Anda saja dan tidak mengalami cedera yang serius" Ucap kepala panti asuhan itu.
Arthur masih menundukkan pandangnya.
“Tolong jangan berbohong pada saya. Saya menerima semua data orang-orang yang menjadi korban”
“Korban yang mengalami cedera parah adalah adik dari panti asuhan ini. Dia hampir lumpuh karena saya. Bila mendapatkan izin, tolong perbolehkan saya untuk melihat kondisi adik"
Arthur benar-benar memohon pada pria itu. Ia tidak akan pergi setelah mendengar permintaan maafnya telah di terima oleh anak yang menjadi korban itu.
Kepala panti asuhan dapat melihat Arthur yang bersungguh-sungguh. Ia berdiri dan mengangkat kedua bahu Arthur.
“Pangeran, angkatlah pandangan Anda. Anda adalah calon pemimpin untuk Kerajaan Aosora. Tolong jangan membungkukkan tubuh Anda di hadapan orang seperti saya" Pria itu merendah.
Arthur mengangkat pandangannya. “Apa Anda bisa mengizinkan saya untuk menemui adik yang cedera karena saya? Saya kemari tidak hanya membawa tangan yang kosong" Arthur melepaskan ransel berisi boneka yang sempat Angel belikan untuk anak perempuan itu.
Kepala panti asuhan tersenyum. “Putri kami, akan menerimanya dengan senang hati”
Ini adalaha panti asuhan tempat Nel di besarkan. Kontribusi Naver dan Nox, sangat besar dan berpengaruh terhadap panti asuhan ini.
Arthur mengeluarkan sekantung emas peninggalan Naver yang sempat akan disumbangkan pada panti asuhan ini. Arthur memegang tangan pria itu dan menyelipkannya. “Ini dari ayah saya. Tolong gunakan untuk pembangunan panti asuhan yang perlu di perbaiki” Itu adalah amanah dari Naver.
Tak lama dari itu Arthur, Tsuha, dan Angel di bawa menuju kamar anak perempuan berusia 10 tahun yang mengalami cedera tulang ekor karena hempasan sihir Archie untuk menyelamatkan Arthur.
Anak tersebut membelalakan matanya melihat Arthur yang tersenyum dan berdiri di ambang pintu sambil menunjukkan boneka kelinci berukuran sedang pada gadis kecil itu.
“Ib! IBLIS!!! PERGI DARI SINI!!!”
Gadis kecil itu, menolak kehadiran Arthur ia melemparkan bantalnya kearah Arthur namun mengenai wajah Tsuha.
“Anu, adik Melia.... Kakak ink bukan Iblis. Lihatlah, mata kakak warna biru dan tidak ada tandukkan di kepala kakak?” Angel berusaha membantu Arthur. Angel menendang betis Tsuha agar ikut membantu.
Tsuha tidak tau bagaimana cara membujuk anak kecil. Dia menyesuaikan diri dengan yang Angel lakukan.
“Benar, lihatlah baik-baik. Bukankah dia terlihat bodoh dan aneh daripada disebut iblis?”
JLEB!
Ucapan Tsuha langsung menusuk Arthur. Angel melongo mendengar ucapan Tsuha. Walau begitu, anak perempuan itu langsung mendengar ucapan Tsuha dan melihat Arthur dengan teliti.
“Ta..tapi, dia itu pembunuh" Lirih gadis kecil itu dengan ragu.
“Pembunuh?” Tsuha langsung merangkul bahu Arthur. “Apa wajah tolol seperti ini bisa membunuh orang?” Ia menarik pipi Arthur.
Gadis itu mengeleng. Angel agak kaget dengan Tsuha yang mampu berbicara dengan anak kecil selancar itu dengan caranya sendiri.