
"BAAMMMMMMM!!!!!!!"
Suara ledakan dari penolakan sihir milik anggota pelatihan disini.
Arthur memilih salah satu sihir yang sangat Ia kuasai yaitu, sihir pedang.
"Njir ! Itu sihir penyerangan coy" ucap Nao sambil menendang lutut bagian belakang Arthur.
"BRUK!!!"
Arthur langsung tersungkur karenanya.
Archie menghela napas karena Arthur ini bodoh. Tapi, Arthur ini juga pintar diwaktu yang tepat.
"Archie.... Aku butuh saranmu...."
Arthur berkaca-kaca saat mengatakannya.
Arthur adalah sosok yang tipe penyerang, dan Ia tak pernah memikirkan untuk belatih bertahan. Intinya bagi Arthur, selama ia bisa menyerang, untuk apa lama-lama bertahan.
Arthur juga, tidak bisa mengeluarkan sihir dalam jumlah banyak setiap harinya. Tapi, walau begitu, Arthur mudah sekali mempelajari sesuatu. Dalam kurung waktu seminggu, Ia bisa menguasai dua jenis sihir tingkat atas.
"Tanyakan pada pelatihmu. Jangan padaku" Ucap Archie.
Nao duduk disebelah Arthur yang belum berdiri dari tersungkurnya.
"Bagaimana dengan sihir yang bisa menyerap mana seseorang ? Itu juga, bisa digunakan untuk sihir pertahanankan ?"
Nao menyarankan sihir yang belum pernah dikuasai oleh Arthur.
Arthur mendongakkan wajahnya dan melihat ke Nao.
"Sihir seperti apa itu ?" Tanya Arthur.
"Seperti Hinoken yang bisa menyerap mana orang lain. Kau pasti bisa melakukannya" Ujar Nao.
Itu, terdengar sangat menarik ditelinga Arthur.
Arthur langsung duduk dari tersungkurnya.
"Bagaimana cara melakukannya?"
Arthur ingin belajar sihir itu.
Nao menyeringai.
Archie kesal karena selalu melihat seringaian aneh dari Nao yang seolah-olah, Nao seperti akan memanfaatkan kepolosan Arthur.
"Karena Kita teman, Aku jelaskan sedikit. Semua sihirmu yang Kau kuasai dengan mudah berasal dari sini"
Nao menunjuk dada kiri Arthur, tepatnya ditanda milik Arthur itu.
"Dari jantung ?"
"Ha ?"
Seringaian Nao langsung menghilang dalam sekejap.
"Dari inti mana ?" Tanya Arthur sekali lagi.
Nao menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Baiklah, anggap saja begitu. Lalu, itu akan kau serap melewati aliran mana diseluruh tubuhmu menuju, tempat yang Kau namai jantung dan inti mana"
"Lalu, bagaimana cara menyerapnya?"
Nao mengambil tangan kanan Arthur dan membalik telapak tangan kanannya keatas.
Tangan Nao terasa hangat.
"Perhatikan dan ingat sensasinya" Ucap Nao sambil menatap mata Arthur dari balik poninya.
Tsuha melihat mereka berdua dan membiarkannya.
Arthur mengangguk beberapa kali.
Telapak tangan kiri Nao mengeluarkan cahaya diatas telapak tangan kanan Arthur.
Arthur membelalakannya karena baru pertama kali ini melihat mana sebersih dan semurni itu.
"Nao, sebenarnya, Kau dari bangsa apa ?"
Mana milik bangsa manusia tidak akan sebersih itu.
"Tutup matamu, dan ingat bagaimana rasanya menghisap mana ini"
Nao tidak menjawab pertanyaan Arthur.
Arthur penurut, Ia menutup matanya sesuai suruhan Nao.
Ia merasakan hawa dingin dari Mana Nao,
Harusnya, mana itu terasa hangat.
Arthur sedikit bingung karena merasakan hawa yang berbeda dan itu sangat unik.
Arthur merasa mana Nao itu, seperti kekosongan dan itu juga terasa seperti kebohongan.
Arthur tetap berusaha fokus pada sensasinya.
Aliran mana Nao memang terasa seperti ia hisap, tapi itu samar.
DEGH!!!!!
Jantung Arthur tiba-tiba berdegup kencang.
Semakin ia rasakan, semakin kencang pula jantung Arthur berdegup.
Nao melihat Arthur yang menarungkan kedua alisnya saat menutup mata.
Tanda didada Arthur yang menurut Arthur adalah sebuah kutukan, mengeluarkan tato seperti akar yang menjalar keleher kiri Arthur hingga, rahang kiri bagian bawahnya.
Arthur, mulai merasakan kesakitan didada kirinya karena itu.
Seolah-olah, Nao tau segalanya dan Ia tidak menunjukkan ekspresi terkejut saat melihat tanda milik Arthur menyebar.
Tanda seperti akar yang menjalar itu, menghilang begitu saja saat Arthur membuka matanya.
Arthur bekeringat dingin karena menahan sakitnya.
"Bagaimana ?" Nao bertanya dengan wajah yang ceria pada Arthur.
"Ah...," Arthur tidak bisa menjawabnya dengan jujur setelah melihat ekspresi itu dari wajah sosok yang telah membantunya.
"Itu, seperti ada air yang mengalir dari telapak tangan menuju inti mana" Jelas singkat Arthur.
"Apa Kau tidak merasa sakit disini?"
Nao menyentuh dada kiri Arthur.
Arthur meringis.
"Sedikit" jawabnya.
"Latihlah itu, Dimasa depan, Kau adalah orang yang sangat berpengaruh"
Pikir Archie, Nao berkata kalau Arthur akan menjadi raja.
"Benarkah?! Apa Aku akan menjadi Raja yang hebat ?!" Arthur kembali bersemangat.
"Lebih dari Raja yang hebat !" Tegas Nao.
"Oleh karena itu, saat hari itu tiba, Ku harap Kau berada dipihakku" Lanjut lirihnya.
"Kenapa Kau bisa seyakin itu ?"
Arthur sedikit mencurigai Nao, Ia pikir, Nao hanya ingin membuatnya untuk bersemangat belajar sihir.
"Tuk!"
Nao mengetuk kepala Arthur yang bertanduk dengan tangan kirinya.
"Aduh!"
"Apa Kau lupa kalau Aku adalah, seorang peramal dan penyair dadakan ?" Tanya balik Nao sambil meringis.
......******************......
Pukul 18.30, Arthur dan Tsuha baru pulang dari tempat pelatihan.
Itu dikarenakan, Arthur menunggu Tsuha yang sedang belajar sihir.
Arthur sepanjang jalan hanya bengong karena tak ada satu sihirpun yang berhasil ia latih.
Tsuha hanya melihat Arthur beberapa kali.
"Tidak apa-apa Arthur. Masih ada besok, Kau pasti akan menemukan sihir yang cocok untuk Kau latih"
Archie berusaha untuk menghibur Arthur.
Arthur menghela napas.
"Archie, Apa Kau sendiri memiliki sihir pertahanan ?"
Arthur mengobrol sendiri dan Ia sudah tidak peduli dengan kehadiran Tsuha.
"Tentu saja. Punya"
"Sihir pertahananku, biasanya ku gunakan saat-saat genting terkadang, kugunakan untuk kabur bila berada disituasi yang tak bisa ku baca dan ku kendalikan" Lanjutnya.
"Menurutku, Kau belajarlah sihir perlindungan. Tapi, sihir yang ditunjukkan oleh temanmu itu juga bagus. Manamu, tidak menunjukkan penolakan terhadap mananya" Saran Archie.
"Ck! Aliran manaku memang tidak menunjukkan penolakan. Tapi, tubuh ini, tidak bisa menerimanya. Itu membuatku kesakitan!" Tegas Arthur.
Tsuha melihat kearah Arthur yang menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Sialan ! Itu adalah saranku! Kalau Kau tidak mau mengikuti saranku, Ya sudah! Untuk apa Kau marah padaku?!"
Archie kesal.
"Maafkan Aku karena menyela pembicaraan mu" Tsuha menepuk bahu Arthur disaat Archie berbicara.
Arthur melihat ke Tsuha dengan raut wajah kesal dan matanya yang merah.
Dia adalah Archie yang sengaja bertukar tempat dengan Arthur tanpa permisi.
"Eh!" Tsuha menarik kembali tangannya yang menepuk bahu Archie yang ia pikir adalah Arthur.
"Katakan. Kau mau bilang apa ? Buat Arthur sadar. Harusnya Dia mendengarkan saranku dan bila Dia tidak menerimanya lebih baik diam saja. Dia membuatku kesal"
Archie membelakangkan poni Arthur yang menganggu pandangannya.
Tsuha langsung diam dan ia lupa ingin berbicara apa.
"Apa yang ingin Kau sampaikan ?" Tanya Archie kembali.
Tsuha menggaruk tengkuknya kemudian melihat tanduk di kening Arthur.
"Kenapa, tubuhnya keluar tanduk ? Padahal, yang miliki tubuh itu adalah Pangeran Arthur. Walau ada jiwa Iblis didalamnya, harusnya tidak sampai mengeluarkan tandukkan ?" Tanya Tsuha yang sembarangan.
Archie memang berfikir tentang itu sejak dulu.
"Mungkin, keturunan Alex ada yang menikah dengan bangsa campuran" Jawab Archie
"Itu tidak benar !" Tegas Arthur.
"Raja kedua, Putra tunggal dari Raja Aosora Alex, menikah dengan wanita berbangsa Malaikat non campuran. Lalu, Raja Aosora Naver, menikah dengan adik Raja Agleer Linus, raja Shinrin. Ratu Aosora Emilly adalah keturunan bangsa manusia non campuran" Jelas Tsuha.
"Hah ? Ya sudah, berarti Arthur ini anak buangan yang ditolong oleh keluarga Aosora" Singkat Archie sambil berjalan menuju markasnya.
"HUSH!!!! JANGAN ASAL NGOMONG!!!!! AKU INI ANAK KANDUNG AYAH DAN IBUKU!!!!" Tegas Arthur.
Suara Arthur menggema hingga membuat telinga Archie berdengung.
"Siapa yang tau ya kan, Dilihat dari manapun, wajahmu berbeda sekali dengan wajah Alex" Sela Archie.
Tsuha mengangguk karena itu benar.