
Luxe mulai menjalankan aksinya. Ia menyuruh empat temannya untuk mengalihkan perhatian Nao dan Verza dengan cara membantu mereka mencari sesuatu yang mereka butuhkan selama 15 menit waktu yang telah di janjikan oleh Luxe.
Luxe menyembunyikan auranya dan sedang memantau Arthur dan Tsuha yang bertikai.
"Mereka ngobrolin apa?"
Luxe menunggu Arthur yang sedang berpakaian dan mencari waktu yang tepat saat Arthur dan Tsuha lengah.
Ia membuka lubang sihir di dekat kaki kirinya dan membuka lubang sihir lainnya dari sebelah kanan Arthur tepat di belakang tas pinggang Arthur berada.
Luxe mulai memasukkan tangannya ke dalam lubang teleport itu kemudian, tangan Luxe keluar perlahan dari lubang teleport tersebut.
Tsuha dan Arthur yang membelakangi tas tersebut masih belum sadar bila ada tangan yang berusaha meraih tas itu.
"Tsuha, akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan diriku" Arthur maju dan berjongkok di sebelah Tsuha.
Tsuha memeras pakaian Arthur sambil melirik ke arah Arthur yang sedang melihat bayangannya sendiri di air sungai yang tenang.
"Aneh bagaimana?"
"Plung!" Arthur melepar batu kecil ke air.
"Aku merasa aku seperti ingin berlama-lama disini. Eh? Maksudnya uh, ingin di Shinrin dalam jangka waktu yang lama gitu" Arthur tiba-tiba gelagapan.
Luxe masih berusaha mengangkat tas Arthur yang cukup berat.
"Apa maksudmu?" Tsuha tidak paham sedikitpun dengan ucapan Arthur.
"Gimana ya jelasinnya. Kau tau dengan dongeng anak-anak yang menceritakan seseorang di kuasai oleh monster jahat?" Tanya Arthur sambil menunjukkan jari telunjuknya.
Tsuha menundukkan kepala sambil menghela napas. "Semua dongeng anak-anak yang bergenre supernatural, banyak sekali yang memiliki alur di rasuki oleh roh jahat" Jawab Tsuha.
Arthur meringis tipis, ia sadar bila sudah banyak dongeng yang ia dengar memiliki alur yang sama dengan itu. "Gini loh Tsuha, kau tau dengan sosok yang lebih menyeramkam dari iblis dengan rupa bak malaikat?"
Luxe terdiam di tempat saat mendengar ucapan Arthur.
"Cerita Kapten Marsyal yang mana yang kau bicarakan?" Tanya Tsuha dengan santai sambil memeras pakaian Arthur yang lainnya.
Arthur mengaruk pipi kirinya dengan jari telunjukknya. "Sebenarnya, aku ingin cerita tentang hal yang ku alami saat aku bermimpi. Aku ingin kau mendengarnya" Ucap Arthur untuk mempertegas maksudnya.
Tsuha melihat ke arah Arthur. "Kau tipe orang yang percaya mimpi?" Tsuha tidak menduganya.
Arthur langsung melihat ke langit dan mengosok tengkuknya. "Ahahaha, tentu saja tidak. Tapi, bila mimpi bertemu dengan orang yang sama tentunya kau akan mulai penasaran kan?" Tanya Arthur sambil menepuk-nepuk punggung Tsuha.
Tsuha mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu, bagaimana dengan ceritamu?" Tsuha berdiri dan mengibaskan kemeja Arthur yang basah.
Luxe bergegas mengambil tas Arthur. Tas Arthur berhasil masuk ke dalam lubang teleport Luxe.
Luxe tidak langsung pergi dari tempat itu. Ia mendengarkan cerita Arthur terlebih dahulu.
"Itu, aku bertemu dengan orang yang mirip denganku. Tapi, dia itu sosok yang dewasa. Dia menghajarku di dalam mimpi. Tapi untung saja, aku bisa bangun. Ya,... walau di mimpi ke dua aku kesulitan untuk menyadarkan diriku"
Tsuha tidak bisa mempercayai ucapan Arthur. Cerita Arthur terlalu cepat. Begitu pula dengan Luxe, ia tidak paham maksud Arthur sambil memegang lengan kirinya bagian atas.
"Lalu, kenapa dia menyerangmu?" Tsuha berusaha mencari topik agar cerita Arthur tidak berhenti di sana.
"Oh! Benar juga! Dia marah karena aku masuk di alam bawah sadarnya. Eh! Tapi, kurasa....ini bukan pertama kalinya. Aku juga sempat bertemu dengan orang yang menyamar menjadi orang tuaku dan dia berkata bisa meniru semua orang yang pernah mati..."
"DEGH!"
Luxe membelalakan matanya dan melirik kebelakang.
"Mau kau apakan tas Arthur?" Nao muncul tiba-tiba di belakang Luxe. Ia menyeringai lebar pada Luxe.
GREB! PATSSSS!!!
Nao mengambil tas Arthur kemudian menendangkan kakinya pada Luxe yang menyilangkan kedua tangannya di dada "BAMMM!! BRUK!"
Entah sihir apa yang digunakan oleh Nao hingga membuat suara tendangan seperti roda yang meletus. Tubuh Luxe terhantam kebelakang dan menabrak Arthur yang berdiri hingga Arthur menjatuhi Luxe.
Kedua lengan Luxe bergetar dan mengeluarkan asap. Mata Luxe bergetar melihat senyum seringai Nao. "Senyuman dan mata itu" Luxe teringat sesuatu dengan model senyuman dan cara menatap Nao.
"Kau berniat membunuh dia?" Tsuha menatap tajam mata Nao yang terfokus pada Luxe.
Nao melihat ke arah Tsuha sambil menunjukkan senyumannya. "Mereka dulu yang berniat membunuhku. Ctak!" Nao mematikkan jari tangan kanannya.
"BRUK!" Empat remaja yang tidak sadarkan diri tiba-tiba terjatuh dan entah muncul dari mana.
Tsuha masih melihat Nao. "Nao, skala sihirmu berbeda dari mereka. Harusnya, lakukan saja sewajarnya. Kau membuat urusan Pangeran Aosora semakin rumit. Tendangan yang kau hantamkan tadi, itu tendanganmu saat kau menghancurkan gerbang ASJ kan?" Tanya Tsuha yang melihat sepatu yang digunakan oleh Nao yang hancur.
Nao mengangkat kedua bahunya, "Lagipula, tendangan itu tidak akan mematahkan satupun jarinya" Ucap Nao sambil menunjuk Luxe yang sedang berusaha melihat jiwa Nao yang terselimuti kabut hitam.
Tsuha melihat ke arah Luxe. Ia terkejut melihat tangan Luxe yang masih utuh.
"Apa? Gerbang saja hancur semudah itu dengan tendangan Nao, dia bagaimana bisa menangkalnya?" Batin Tsuha yang sangat terkejut melihat Luxe yang sedang menatap wajah Nao.
Nao berjalan melewati Tsuha dan menarik tangan Arthur untuk berdiri, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Luxe. "Kau tidak hanya mengincar emas itu sajakan?" Tanya Nao sambil tersenyum padanya.
Luxe refleks memundurkan wajahnya. "Kami hanya ingin makan. Kami tidak ada niatan untuk mencelakai Pangeran Aosora" Ucap Luxe sambil mendorong bahu Nao kemudian ia berdiri dan membersihkan pakaian dan celananya yang penuh dengan daun dan ranting kering.
Arthur melihat remaja laki-laki itu (Luxe) dari bawah hingga ke atas. Ia memang terlihat seperti orang yang tidak punya. Luxe melakukan hal yang sama. Ia melihat Arthur dari atas hingga ke bawah.
Arthur merasa prihatin dengan Luxe. "Mau makan bersama kami?" Arthur langsung menawarkan hal tersebut kepada Luxe.
Luxe membuang pandangannya, "Aku tidak keberatan kalau kau memaksa" Jawab Luxe.
Tsuha menarik kera baju Nao. "Kenapa aku merasa kesal pada dia?" Lirih Tsuha pada Nao.
Nao melihat ke arah Tsuha dan menepuk punggung Tsuha. "Kau kesal dengan dia karena sifat dia mirip denganmu atau kau kesal dengan dia karena Arthur?" Tanya balik Nao pada Tsuha.
"Cih!" Tsuha langsung membuang wajahnya.
...****************...
Verza memanaskan makanan kering yang ada di dalam tas ransel yang dibawa oleh Tsuha. Arthur sedang bercerita kepada Nao bila ia tidak boleh melukai satupun orang Aosora karena perjanjian yang bersifat mengikat dengan dia. Nao meringis dan mengangguk-angguk senang mendengar semua ceramah Arthur. Sedangkan Tsuha, ia menjaga tas Arthur dari Luxe.
Luxe masih ingin mengambil tas itu kemudian kabur dengan teman-temannya yang baru sadar.
"Luxe, maafkan kami. Kami tidak sengaja ketahuan saat kami membagi tugas untuk apa yang akan kami lakukan berikutnya" Lirih salah satu dari anak buah Luxe.
Luxe tiduran di atas rumput dan melihat ke langit malam yang sangat berawan.
"Kalian memang bodoh. Harusnya, bila tidak bisa melakukan hal semudah itu lebih baik katakan saja dari awal. Aku sudah berulang kali memperingatkan kalian untuk tidak membicarakan hal yang akan kita lakukan diluar. Apa telinga kalian tuli?" Luxe melirik wajah tiga temannya yang menunduk.
Remaja yang lebih tua dari Luxe mengkeryitkan keningnya, "GREP!" Ia menarik pakaian Luxe hingga terbuka lebar dan hampir sobek.
Luxe duduk dalam keadaan di tarik oleh remaja yang paling tua itu. "Apa kau buta Luxe? Mereka sudah berjuang untuk kita semua. Mereka hanya ingin memperjel-". "Memperjelas apa?! Kalian itu bodoh! Apa kalian tidak melihat situasi di sekeliling kalian?!" Luxe menaikkan pengintonasian suaranya. Hal ini, membuat Nao, Tsuha, Arthur, dan Verza melihat ke arah mereka.
"Kalian bisa saja mati karena hal itu! Kalian boleh memperjelas tugas kalian! Tapi lihatlah sekeliling kalian!" Niat Luxe sebenarnya baik. Namun, mereka adalah remaja yang masih berfikiran dengan labil.
"Luxe, kurasa kau tidak pantas menjadi pemimpin kami" Remaja yang lebih tua itu menarik ban lengan yang ada di lengan kiri Luxe.
Tato putih melintang yang di tutupi dengan ban lengan itu terlihat samar di mata Nao. Nao menyeringai lebar di sebelah Arthur. "PLAK!" Tsuha langsung menutup mulut Nao yang menyeringai. Nao melirik Tsuha dengan mimik kesalnya.
"Apa yang terjadi?" Lirih Arthur pada Nao.
"Dengarkan dan lihat saja" Balas lirih Tsuha yang menutup mulut Nao.
Luxe melihat teman-temannya yang berdiri. "Mulai hari ini, aku yang akan memimpin mereka. Luxe tidak ada hal lagi yang pantas di perjuangkan untuk manusia sepertimu" Mereka meninggalkan Luxe yang duduk disana.
Arthur berdiri dan menghadang mereka berempat. "Hei, jangan seperti ini. Ayo makan dulu dan mari berbicara dengan tenang" Ucap Arthur sambil meringis pada mereka.
Verza melihat Arthur sambil mengipas api di depannya.
Remaja yang lebih tua dari Arthur menatap mata Arthur dengan raut yang kesal. "Orang sepertimu, tau apa dengan dunia kami?" Mereka melewati Arthur begitu saja.
"Kau yang hidup dalam serba kecukupan dan bahagia dengan harta yang melimpah, mendingan diam saja" Lanjut remaja itu.
Arthur mengepalkan kedua tangannya. "Orang sepertimu yang selalu memandang orang lain tanpa melihat sudut pandang mereka, tau apa dengan kehidupan orang yang kau katakan dalam serba kecukupan?!" Arthur merasa kesal. Ia selalu mendengar ucapan itu berulang kali.