
."..AGLEER LINUS!!!!"
Arnold tiba-tiba memanggil nama Linus.
Marsyal langsung berdiri di hadapan Linus dan menutupi pandangan Arnold.
"AKU! MEMINTAMU SECARA HALUS UNTUK MENGEMBALIKAN PUSAKA YANG KAU KENAKAN DI JARI MANIS MU ITU!" Tegas Arnold dari kejauhan.
Marsyal tau ini akan buruk bila menghadapi Arnold sendirian. Ia melirik Linus dibelakangnya. "Baginda, cepatlah. Saya akan mengulur waktu untuk Anda" Ucap Marsyal.
"Wosh!" Linus langsung berteleport ketempat Naver berada.
"HOSH! NAVER!....."
...****************...
"Apa?..."
Sekejap tawa girang para pejuang insiden ini menghilang. Nel menatap langit yang mengelap.
"Kapan ini akan berakhir? Aku masih belum sempat merayakan kenaikan ku sebagai Kapten Guild ini. Teman-teman tunggulah sebentar. Setelah kalahnya De luce Arnold, aku akan meminta Guru Nox untuk ikut di perayaan kecil-ku"
WOSH!!
Semua orang yang masih kuat untuk bertarung langsung menuju ketempat dimana De luce Arnold dan Marsyal berada.
"CTASSH! WOSH! DUAGHHH! BRUAKKK!!!!"
"Wow"
Marsyal hanya berdiri dan menonton pertarungan sengit yang terjadi didepannya.
Beberapa menit yang lalu saat perginya Linus.
"HE'? KABUR? APA RAJA ZAMAN SEKARANG KERJAANNYA KABUR SEPERTI IT-"
Telinga Marsyal yang beranting hitam tiba-tiba bergerak beberapa kali.
"CTASSSSHH!"
Kilatan hijau tiba-tiba melesat dengan cepat dari samping Marsyal berdiri. Angin dari kilatan itu membuat rambut Marsyal bagian belakang berkembang. Tangan kanan Marsyal langsung menutup tengkuknya.
"BRUAKKKK!!!!!"
Kilatan hijau itu, menyerang Arnold dengan brutal. Tubuh Arnold langsung terhempas kebelakang dan mematahkan pohon kering dibelakangnya.
Sesosok Elf dengan rambut panjang berwarna hijau yang dikucir kuda dan mengenakan pakaian serba hitam layaknya ninja tanpa cadar berdiri ditempat Arnold berdiri sebelumnya.
Elf itu, melihat kearah Marsyal dan menundukkan kepalanya perlahan. Elf itu memiliki lekukan tubuh yang indah bak gitar Spanyol dan dengan wajah yang rupawan. Elf itu, memiliki tahi lalat di pipi kanannya. Serta, Elf itu memiliki tanda segitiga hijau dibawah garis matanya.
Dia pengguna sihir terlarang.
Sepertinya, ini hari kesialan bagi Arnold.
"Elf hijau?" Lirih tanya Marsyal yang berdiri disana.
"KRAK!"
Arnold bangkit perlahan dari posisi ia terhempaskan. "Sial! Lagi-lagi Elf hijau. Kenapa mereka banyak sekali jumlahnya di Shinrin?".
Tangan kanan Arnold mulai mengambil batang kayu yang patah di dekatnya. Makin lama Arnold semakin kesal.
WOSH!
Arnold melempar batang kayu itu kearah Elf wanita yang masih berdiri disana. "Dasar serangga penganggu! Mengapa kalian tak ada habisnya!!"
Telinga wanita itu bergerak dan langsung melihat kearah Arnold. WUSSH!. Wanita itu mengepalkan tangan kanannya sekuat tenaga dan mengaliri mana ke arah ujung tangannya dan-
Batang kayu kering itu, langsung hancur sekali pukulan. Namun, WOSH!. Arnold tiba-tiba berteleport di titik buta Elf itu. Ia tersenyum lebar saat Elf itu melesatkan pukulan tangannya dan tubuh Arnold berputar di udara sebelum Elf itu melesatkan pukulannya. Di titik dimana wanita itu tidak dapat melemparkan pukulannya lagi, kaki Arnold langsung "DAGHHH!" Menghantamkan dengan keras pada punggung wanita itu hingga "BRAKKK!!!!" wanita itu jatuh ditanah dengan keras.
Arnold berdiri disamping Elf itu. "Aku tak peduli kau itu wanita atau bukan. Bagiku, yang ada dihadapanku, kalian semua adalah pengang-"
"SYUUUT! DAGH!!!"
Elf itu tak menyerah disana. Ia menghentakkan kedua lengannya dan melesatkan tendangan di kakinya yang bersepatu hitam tepat pada rahang kanan Arnold.
Arnold kehilangan keseimbangan karena tendangan wanita itu. Ia mundur beberapa langkah dari posisi Ia berdiri.
Wanita itu, berdiri dan melebarkan kakinya selebar bahu dan mengeluarkan pedang mananya bersiap untuk menyerang.
Arnold memegang rahangnya yang bergeser dan "KRAK!" Ia mengembalikan keposisi semula.
"Kau istri Elf hijau yang dihutan itu? Dan kau pasti ibu dari anak kembar itu-kan?"
Arnold mengeluarkan pedang mananya kembali dan merileks-kan tubuhnya dengan melompat beberapa kali.
"Apa bangsa Iblis saat ini suka berbasa-basi? DRAP!" Tanya balik Elf itu dan diikuti dengan berlari kearah Arnold untuk menyerang.
Arnold masih saja tersenyum lebar. "Tentu saja tidak. Aku hanya terkejut ada wanita lain yang lebih kuat dan lebih cantik dari istriku. TRANGG!!!! TAP!" Jawab Arnold sambil menahan hentakan pedang mana wanita Elf itu.
Keduanya melompat kebelakang bersamaan untuk mengambil napas.
"Oh? Begitukah? Sayangnya, ini bukan pertama kalinya aku mendengar kata itu. SET!"
Wanita Elf mengibaskan pedangnya yang mengeluarkan darah. Arnold membelalakan matanya melihat Zirah besi yang Ia kenakan terkoyak.
"Haha" Arnold tertawa melihat luka yang diberikan Elf itu cukup dalam. "Katakan padaku, berapa banyak jumlah Elf hijau yang tersisa sekarang?" Arnold mulai bersiap kembali. Ia meregangkan kedua bahunya.
"Setidaknya, bila dihitung dengan sesuatu yang tidak bangsa kalian ketahui jumlahnya hampir setara dengan jumlah rakyat Kerajaan Aosora"
Wanita Elf itu, berdiri dengan tegak dan memfokuskan pungung pedang di tengah wajahnya dan mengarahkannya pada Arnold.
Arnold menelengkan kepalanya kekiri. "Bila di izinkan, Aku ingin tau nama Nyonya Elf yang akan mati ditanganku. Ini akan menjadi kehormatan bagimu karena namamu akan dikenang oleh Raja De luce ke-10" Arnold mengulurkan tangan kirinya dan meletakkan tangan kanannya kebelakang tubuhnya.
Elf itu, tersenyum dan meletakkan tangan kirinya didada. "Sungguh kehormatan bagi Elf sederhana ini akan dikenang oleh Raja De luce Arnold yang serakah. Nama saya adalah Estelle Glashya dan saya adalah hambatan bagi Anda untuk mengambil dua pusaka milik Raja Ambareesh. CTASSSS!!!!"
Glashya langsung melesat kearah Arnold.
Waktu berhenti seketika disekitar Marsyal. "Eh?" Ia terkejut melihat daun yang masih melayang di udara dan tak bergerak.
"TEP!"
Sosok pria berambut putih dengan syal merah tiba-tiba muncul ditengah Glashya yang melesat ke arah Arnold yang membelalakan matanya.
"Aosora Arthur, aku datang untuk menemuimu. Wosh"
Sosok itu menghilang begitu saja.
"TRANKKKK" Dua pedang mana saling beradu.
Arnold menahan hantaman keras dari pedang Glashya. "Katakan! Sebenarnya kau ini siapa?! Mengapa kau tau tentang pusaka itu!?" Arnold sangat kesal pada Glashya yang mengetahui tentang pusaka Ambareesh.
Glashya mendengus dan tersenyum. "Aku hanya suruhan seseorang yang berjasa di hidup kami. Hidup dan mati kami berdua hanya untuk Ratu Bianca. De luce Arnold, kau hanya benalu bagi Raja Ambareesh. Dan hanya mereka berdua yang kami akui sebagai Raja dan Ratu. DUAGHHHH!" Glashya langsung menendang perut Arnold dengan keras.
Lagi-lagi Arnold terhempas. "Aku pernah mendengar nama itu. Tapi, dimana?" Arnold mengunakan telapak tangannya yang bersarung tangan sebagai alas rem.
Ia berdiri dengan tegak dan bersiap kembali menyerang. "Wanita dihadapanku ini, sudah jelas bila dia bukan orang bawaan Shinrin. Dia menyebutkan nama Bianca. Lalu, Elf yang kedua sempat mengatakan nama Adelio dan Adelino. Mengapa semua Elf suka sekali membuatku berfikir kebelakang?"
WOSH!
Arnold mulai serius menghadapi Glashya. Ia berteleport ke arah titik buta jarak pandang Glashya. Arnold sangat paham tentang Elf yang sangat unggul pada kecepatan namun, tidak dengan jarak pandang dan mana. Arnold sengaja membuat Glashya menyerangnya terus menerus dengan tujuan membuat Glashya lelah.