The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Perjalanan ke Aosora [Posko Pemantauan]



Arthur dan tujuh orang lainnya melanjutkan perjalanan mereka menuju Aosora bersama Ha nash yang menyamar menjadi gagak dan kucing kecil Arthur yang diberi nama Cemeng atau Azuma.


Enam tas yang berisi barang-barang Arthur dibawa oleh satu kuda yang masih bisa berjalan.


Nao berjalan di sebelah Arthur seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Ia tidak melepaskan pandangannya dari Arthur.


Mereka sampai di sungai yang dikatakan oleh Tsuha.


Sungai itu berasal dari danau harapan yang mengalir keseluruh Negri Arden menuju laut lepas. Sungai itu, seluas hampir tiga desa kecil Shinrin bila dihitung secara menyeluruh.


Mereka menghentikan perjalanan karena sungai itu tidak bisa di sebrangi. Arusnya terlalu kuat.


"Bagaimana ini?" Perwakilan Guild penelitian melemparkan ranting yang langsung terseret arus jauh.


Nao berjongkok dan menyentuh air sungai itu yang penuh dengan sihir. "Aku mendengar suaramu. Tunggulah sebentar lagi" Nao berdiri sambil melihat ke arah Tsuha.


"Tsuha-"


Tsuha membuang mukanya. "Aku tau. Menyingkirlah sebentar" Tsuha menyentuh tanah dengan kedua tangannya kemudian ia menutup matanya.


Dari tanah yang di pegang oleh Tsuha mulai keluar akar menjalar dan akar-akar itu digunakan oleh Tsuha untuk membuat jembatan penghubung antara batas bibir sungai yang berjarak 9 meter.


Perwakilan Guild Penelitian terkejut melihat sihir yang di keluarkan oleh Tsuha. "Tsuha, apa kau ini keturunan elf?" Ia langsung bertanya pada intinya.


Tsuha langsung membuka matanya dan melihat remaja laki-laki seumurannya itu.


"Apa maksudmu? Apa aku terlihat seperti elf? Cih! Ini hanya sihir yang diturunkan oleh ayahku. Jangan berharap banyak karena ini mirip dengan sihir Bangsa Elf" Tsuha tidak suka dengan pertanyaan yang selalu dilontarkan untuk sihir yang ia kuasai.


Nox menepuk punggung Tsuha agar ia tidak ketus saat mendapatkan pertanyaan itu berulang kali. "Kita adalah tim untuk saat ini. Jadi, jangan membuat pertengkaran Tsuha" Ingat Nox sambil mengusap punggung perwakilan Guild Penelitian.


"Hah! Iya!" Ucap Tsuha yang kembali fokus dengan sihirnya.


Jembatan dari lilitan akar pohon telah jadi. Tubuh Tsuha lemas karena mengeluarkan energinya untuk membuat jembatan.


Mereka melewati jembatan itu satu per satu. Arthur ikut melewati jembatan itu terlebih dahulu. Walaupun ia masih bisa menggunakan sihirnya di dalam hutan, ia hanya diperbolehkan menggunakan pedang sihir saja dengan dasar untuk melindungi diri.


"Benar-benar menyusahkan. Mengapa orang-orang itu mempersulit Arthur?" Daeva ikut menggunakan jembatan ciptaan Tsuha itu setelah golongan Arthur melewatinya.


...****************...


Lima belas menit perjalanan mereka telah berlalu. Tenda posko penjagaan perbatasan Aosora telah terlihat. Verza mengeluarkan surat izin yang telah ditanda tangani oleh empat kerajaan. Yakni; Shinrin, Aosora, Meganstria, dan Narai sebelum mendekati posko.


Nao menarik jubah Arthur untuk membisikkan sesuatu. "Diantara mereka, apa kau sadar bila ada iblis yang memotong tanduknya dan menganti bola matanya sendiri untuk bisa bertemu denganmu secara langsung?" Mendengar bisikan Nao, Arthur sangat terkejut.


"Apa maksudmu Nao?" Arthur sangat terkejut dan ia membalas menarik bahu Nao yang mau pergi darinya.


Arthur melihat wajah Nao yang tersenyum serta kedua matanya yang menyipit. "Mereka bukan iblis jahat" Jawab Nao.


Archie merasa curiga dengan Nao. Nao lebih peka dari Archie sendiri.


Arthur mengkeryitkan keningnya. "Ada berapa iblis?" Arthur melihat tajam ke arah delapan prajurit yang berjaga.


Dua jadi ditunjukkan oleh Nao tanpa melihat Arthur. Arthur melepaskan Nao setelahnya.


"Archie, apa kau bisa menemukan mereka?" Tanya Arthur dengan lirih. Arthur merasa khawatir dengan keberadaan iblis yang bisa lolos masuk ke Aosora.


"Aku tidak bisa memastikannya dengan pasti. Bujuklah Nao agar dia mau mengatakan mereka yang mana" Jawab Archie.


Arthur merasa tidak berdaya. Nox melambaikan tangan pada Arthur yang berdiri di belakang sendirian agar tidak memisahkan diri dari pandangannya.


Arthur mendatangi Nox dan mencurigai delapan prajurit yang ada disana.


Tsuha menjaga jarak dengan prajurit itu. Ia tersenyum. "Maaf, Anda siapa?" Tanya Tsuha sambil mengaruk telinga bagian belakangnya.


"Ahaha, kurasa kau sudah lupa. Aku David yang dulu hampir membanting Pangeran Aosora yang menyelinap. Apa kau lupa? Sekarang, aku sudah menjadi kepala prajurit Aosora. Aku sangat khawatir dengan hilangnya Pangeran Arthur, untung saja bila kau yang menjaganya Tsuh-Plak!" Nao tiba-tiba datang dan menepis tangan prajurit itu yang akan memegang bahu Tsuha.


Wajah Nao terlihat kesal. Senyuman David menghilang dari bibirnya. "Apa ada yang salah?" Tanya David sambil mengosok punggung tangannya yang ditepis oleh Nao.


Nao berdiri di sebelahnya dan mendekatkan bibirnya pada telinga David. "Cukup jalankan peranmu dan jangan sentuh dia" Ucap lirih Nao sambil menunjukkan seringaiannya.


Tsuha menarik kera Nao untuk mundur setelah melihat mata David yang membelalak. "Sialan! Jangan memancing pertengkaran dengan prajurit! Apa lagi dia itu kepala keprajuritan Aosora! Apa kau mau kelasmu turun?!" Tegas lirih Tsuha sambil membelakangi David.


"Terserah aku" Jawab Nao sambil melihat ke arah air kemasan yang dipegang oleh Tsuha kemudian ia mengambilnya dan membawa air itu lari ke arah kuda di belakang Nox.


"Eh!" Tsuha menepuk jidatnya. "Dia benar-benar menjengkelkan. Tuan, tolong maafkan Nao" Ucap Tsuha sambil melihat ke arah David dan mengosok tengkuknya.


Air dalam kemasan yang di pegang oleh Nao berubah menjadi merah. "Kau berniat membunuhnya terlebih dulu? Kau benar-benar iblis yang pengertian" Nao membuka penutup botol itu kemudian membuangnya ke tanah sambil terkekeh ringan.


Surat yang di bawa oleh Verza mendapatkan izin untuk memasuki Aosora.


"Ngomong-ngomong, mengapa Anda dan Pangeran Aosora datang tanpa membawa kereta kuda?" Tanya salah satu prajurit disana sambil mengembalikan surat izin tersebut kepada Verza.


Nox menepuk punggung Verza. Nox menjawab pertanyaan tersebut, "Kereta kuda kami mengalami kecelakaan yang tidak di duga. Bisakah kalian memangil bantuan untuk mengirimkan kereta kuda untuk kami?" Nox tersenyum pada tujuh prajurit yang ada dihadapannya.


"Kecelakaan?" Mereka melihat satu sama lain.


Mereka mengangguk bersamaan. "Kalian istirahatlah di tenda. Kami akan-"


"Tidak kami akan jalan kaki saja" Arthur memotong pembicaraan mereka. Arthur tidak bisa berdiam diri di tempat yang terdapat iblis seperti yang di ucapkan oleh Nao. Ia takut diantara salah satu iblis itu adalah De luce Arnold.


"Apa maksudmu Pangeran? Setelah ini, perjalananmu masih panjang. Kau hanya memiliki waktu empat jam untuk istirahat sebelum kegiatanmu yang berikutnya" Nox sedikit kesal dengan keputusan Arthur yang sepihak.


"Guru, kumohon. Aku tidak kerasan berada didalam hutan. Aku tau jalan pintas menuju gerbang pembatas Istana Aosora dengan hutan hanya berjarak 2 Km dari sini. 30 menit kita akan sampai bila kita berjalan kaki santai" Ucap Arthur sambil mendatangi Nox.


Nao mengangkat tanganya tinggi-tinggi "Aku setuju dengan ucapan Arthur. Guru, pikirkanlah Tsuha juga. Dia tidak bisa berlama-lama di hutan sihir!" Tegas Nao sambil mengalungkan tangan kanannya pada bahu Tsuha.


Tsuha menghela napas. "Kenapa kau selalu membawa-bawa namaku?".


"Karena kau peduli denganku. Lagipula, kita ini teman" Lirih Nao sambil meringis pada Tsuha.


Tsuha memutar bola matanya "Terserah"


Dera menatap tajam David yang selalu melihat ke arah Arthur. "Apa-apaan orang itu?"


.


.


.


.


...****************...


**BONUS


Ilustrasi chara Nao**