The Last Incarnation Of The Land Of Arden

The Last Incarnation Of The Land Of Arden
Kepribadian ganda atau Anak orang lain



Yang terjadi sebelumnya,


"Siapa Dia?"


Archie melihat tatapan matanya yang dingin dan berbeda dengan Arthur.


Ia mengulurkan tangannya pada Archie.


Mata Archie bertemu dengan matanya.


"Kau mirip sekali dengannya" Ucapnya.


Archie tak ingin memegang uluran tangan itu dan Ia menurunkan pandangannya melihat tanda kutukan di dada Arthur yang sedikit terlihat menjalar dileher kiri Arthur.


"Itu, membuatku muak"


Mendengar ucapan itu, Archie langsung melihat mulut Arthur.


Archie, baru menyadari kalau Arthur miliki taring atas yang cukup panjang.


Zack tak tau apa yang terjadi.


Tapi, Ia menyadari kalau dihadapannya ini, bukan kepribadian Arthur yang biasanya.


Zack berusaha bersikap senormal mungkin.


"Pangeran, kalau Kau lelah lebih baik tidur dikamarmu. Tidak baik kalau tidur diluar seperti tadi" Ucap Zack.


"Kamar?"


Arthur menurunkan tangannya dan langsung melihat Zack.


"Iya, Apa Kau lupa? Kau adalah salah satu anggota dari Guild pemberantas Iblis"


Raut Arthur berubah dalam sekejap.


"Benar juga!"


Seketika, Arthur kembali seperti Arthur yang biasanya.


"Eh?" Zack dan Archie saling melihat.


"Maafkan Aku. Kupikir, Kau adalah seorang musuh"


Ia menunjuk Zack sambil menghilangkan sihir pengikat itu.


"Tak apa-apa. Orang baru bangun tidur pasti akan seperti itu"


Zack mengeluarkan senyum tipuannya.


Archie berdiri dan menutup retsleting jubah Arthur yang Ia pakai.


Wajah Arthur, terlihat seperti orang linglung.


Lina mendatangi Arthur untuk bertanya keadaannya dan membawakan air untuknya.


"Arthur, Kau tidak apa-apa?"


Wajah Arthur berkeringat.


Ia melihat kearah Lina kemudian,.....


"Syuuut! Bruk!" Tubuh Arthur terjatuh tepat didepan Lina.


"Arthur!"


Panggil mereka yang syok tiba-tiba Arthur pingsan seperti itu.


Zack mengangkat Arthur kemudian, meletakkan tubuh Arthur diatas Salah satu serigala sihir yang berbadan lebih besar diantara yang lain.


"Sher, buatin minuman hangat untuk Arthur" Pinta Zack.


Setelah itu, mereka menunggu kurang lebih lima menitan hingga Arthur tersadar.


Mereka yang melihat kejadian ini, Berjanji untuk merahasiakannya pada Arthur.


Dan Archie, mulai merasa tak nyaman bila berada didalam tubuh Arthur.


Ditambah lagi, Ia semakin yakin kalau Arthur bukan keturunan dari Alex.


Jadi, Siapa sebenarnya Arthur ini?


...****************...


Razel dan Arnold telah sampai di Markas setelah rapat dadakan itu usai.


"Ar...Archie...." Arnold membelalakan matanya.


Mereka terkejut melihat Archie telah duduk menunggu kehadiran Mereka berdua diruang tamu.


Archie berdiri dan berkata, "Selamat datang Kapten. Aku, Archie"


"Bruk!" Arnold menjatuhkan seikat buku yang Ia bawa.


Archie mendatangi Arnold yang Ia pikir Nel dan mengambil selusin buku itu kemudian meletakkan buku itu diatas meja.


"Ba...bagaimana bisa?" Arnold tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Apa yang sedang terjadi?" Tanya Razel pada Archie.


Archie melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Bisakah, Kita mengobrol bertiga, ah, berempat bersama Zack" Pinta Archie sambil menunjuk Zack yang sedang berbicara dengan Arthur.


"Dikamarku saja, mari bicara disana. Shera, bolehkah Aku minta bantuanmu?" Arnold mendatangi Shera sambil membawa buku yang Archie letakkan diatas meja.


Arnold memberikan selusin buku itu pada Shera.


"Tulisanmu baguskan? Tolong, isikan nama lengkap anggota Kita dan berikan padaku, sebelum makan malam"


"Baik Kapten" Shera menerima buku itu.


"Terima kasih"


Arnold, Razel, Archie, dan Zack berjalan menuju kamar milik Ketua dan wakil Markas.


Didalam kamar sana, Archie duduk dikasur tempat Arnold tidur.


"Aku tak tau apa yang terjadi. Yang pasti, Arthur itu,..."


"Berkepribadian ganda" Zack menyela ucapan Archie.


Archie langsung melihat Zack karena menurut Archie, Arthur itu bukan berkepribadian ganda.


Sebenarnya, bukan itu yang ingin dikatakan oleh Archie.


"Berkepripadian ganda? Tak mungkin, Pangeran Aosora selama diIstana Aosora tak pernah memiliki tanda-tanda seperti itu. Dan berkepribadian ganda, sangat tidak bagus bila dimiliki oleh seorang bangsawan" Tolak Razel.


Arnold melihat kearah Archie.


Arnold mengenal Archie dan Ia bisa membaca raut Archie yang samar mengatakan kalau itu, bukan yang ingin Ia katakan.


Tanpa Archie beritahu, Arnold tau apa yang terjadi.


"Kalau begitu, jangan beri Pangeran Arthur misi selama beberapa hari ini setelah memastikannya dengan benar. Razel, berjanjilah walau Ia meminta, tolaklah dengan tegas" Ucap Arnold.


"Maaf Kapten, Saya sudah bersumpah untuk bersikap adil pada Pangeran Aosora dan memberinya jadwal, serta mendapatkan izinnya selaku anggota guild untuk ketidakikutsertaannya dalam menjalankan misi" Jawab Razel sambil memegang dada kirinya.


Sumpah yang Razel ucapkan, adalah sumpah yang mengikat jantungnya atas permintaan Baal.


Baal, tak ingin terdapat perbedaan sosial yang terjadi terhadap Arthur.


"Pasti ulah Baal?" Tanya Arnold.


Razel menutup matanya dan mengangguk.


"Saya pasti akan melakukan hal yang sama apabila, Saya memiliki seorang adik" Jawab Razel.


Arnold memegang keningnya.


"Kalau begitu, Kau harus ada didekatnya selama Aku melakukan penyusupan ke Akaiakuma untuk pencarian Putra Mahkota Aosora. Kau harus benar-benar menjaganya dan jangan membuat kekacauan" Ucap Arnold pada Razel.


"Tentu saja. Percayakan semuanya pada Kami"


"Penyusupan Ke Akaiakuma? Bukankah itu terlalu berbahaya untuk manusia?" Archie masih saja tak menyadarinya.


"Lalu, Bagaimana Kau bisa keluar dari tubuh Pangeran Arthur?" Tanya Arnold sambil duduk diambang jendela.


Archie memainkan jarinya.


"Aku tidak tau, Tiba-tiba Aku merasa manaku terhisap oleh sesuatu yang kuat. Kemudian, Aku muncul begitu saja dihadapan Arthur dan Dia" Archie menunjuk Zack.


"Aku sempat melihatnya memetikkan jarinya dan mengusap keningnya yang bertanduk kemudian, tanduknya hilang begitu saja. Sebelum kemunculan Iblis ini" Balas Zack.


"Mengusap keningnya?" Arnold teringat dengan seseorang.


"Kurasa, Dia mengenal ayahku. Sebab Ia, memanggilku Putra Arnold" Lanjut Lirih Archie.


DEGH!


Arnold membelalakan matanya saat ia mendengar lirihan Archie.


"Ya, Aku sempat mendengarnya juga kalau, Dia muak melihat wajah Iblis ini karena mirip dengannya. Aku tidak tau maksud kata 'nya' Yang Ia katakan. Sekarang, tak perlu Kau tutup-tutup i. Kalau ada yang ingin Kau katakan maka, katakan saja" Zack mengatakannya pada Archie.


"Kupikir, Arthur itu memiliki jiwa Iblis yang lain selain diriku"


Archie menyadarinya.


Razel, melihat raut Arnold yang berubah.


"I..itu tak mungkin kan?" Tanya Arnold.


"Kalau mengatakan tak mungkin sepertinya, tak bisa dikatakan seperti itu. Saat Aku didalam tubuh Arthur, Aku merasakan ada aura lain yang sangat tipis. Kalau aura itu milik Iblis, maka Arthur pantas memiliki tanduk seperti itu. Seperti yang Kau lihat, tandukku ada dua dan berbentuk seperti ini. Ini, beda jauh dengan tanduk Arthur yang cuma ada satu" Nalar Archie.


"Kapten, perlukah Kita melaporkannya pada Baginda Agleer?" Tanya Razel.


"Jangan dulu. Masalah kematian Keluarga Aosora akan memakin memanas bila mengetahui hal ini. Dan, apa yang akan Mereka pikirkan jika ada jiwa Iblis selain Archie ditubuh itu?" Tanya Arnold.


Masalah Kematian Keluarga Aosora baru saja mereda.


"Kalau begitu, Aku akan melaporkannya pada Guru Nox" Pinta Razel.


"Aku akan menemuinya sekarang" Ucap Arnold.


"Biarkan Aku saja Kapten. Sekalian melaporkannya. Nanti malam, Kau harus pergi untuk menjalankan misimu. Jadi, Istirahatlah. WOSH!" Razel langsung pergi setelah mengatakannya.


"Lalu, selain itu apa lagi?" Tanya Arnold.


"Kau paham maksudku kalau itu bukan kepribadian gandakan?" Tanya Archie sambil melihat Zack.


"Itu, hanya dugaanku dan Daniel" Jawab Zack.


"Ku pikir, ada baiknya bila Kita mengusut hubungan Arthur dengan keluarganya. Bisa saja, Arthur itu bukan keturunan Aosora. Aku, masih ingat saat Kau mengatakan kalau Arthur tak bisa menggunakan darahnya untuk membebaskanku. Sebenarnya, Kau tau kan siapa itu Arthur?"


Archie menatap tajam Nel (Arnold)


Arnold membelalakan matanya.